Bab [1]:
Lagi, satu ronde percintaan yang panas baru saja berakhir.
Joanna Wijaya mengenakan gaun tidur sutra tipis. Rambutnya yang panjang dan bergelombang bagai rumput laut tergerai acak, sementara rona kemerahan sisa gairah masih menghiasi wajahnya yang putih bersih.
Meskipun lelah hingga tak sanggup mengangkat jari, ia tak lupa membelakangi kepala ranjang, menyandarkan kedua kakinya yang jenjang lurus ke dinding, dengan bantal menopang pinggangnya.
Ini adalah posisi yang ia pelajari dari dokter, katanya bisa membantu kehamilan.
Sambil memejamkan mata, ia diam-diam menghitung masa suburnya.
Mereka sudah menikah selama tiga tahun, sudah saatnya memiliki seorang anak.
Keluarga Pratama terus mendesak, terutama Ibu Pratama yang bahkan memberinya target: akhir tahun ini, bagaimanapun caranya, harus ada kabar baik.
Adrian Pratama keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi. Pemandangan itulah yang menyambutnya.
Dengan tangan kanan mengeringkan rambut pendeknya, fitur wajahnya yang tegas dan dalam tampak begitu sempurna bak pahatan patung. Tatapan dinginnya menyapu Joanna Wijaya.
"Sedang apa kamu?"
"Biar cepat hamil."
Joanna Wijaya membuka matanya, menatap lurus ke arah suaminya.
"Kita sudah menikah begitu lama, sudah waktunya melangkah ke tahap selanjutnya."
Sebelum bertemu Adrian Pratama, ia adalah seorang penganut prinsip tidak akan menikah.
Namun, ketika Adrian Pratama yang muda, tampan, cakap, dan penuh pesona muncul di hadapannya, hati Joanna Wijaya tak bisa menahan getarannya.
Ia bahkan rela menerima syarat pernikahan mereka yang harus dirahasiakan.
Mata Adrian Pratama tampak begitu dalam dan dingin. Ia berjalan ke laci nakas di samping tempat tidur, mengambil sebotol obat, lalu melemparkannya ke arah Joanna Wijaya.
"Sekarang bukan waktunya."
Suaranya terdengar kaku dan dingin, seolah sedang memberi perintah.
Joanna Wijaya menatapnya tajam, mengerutkan kening. "Ini bukan keputusan yang aku buat sendiri. Keluarga kamu juga mendesak. Apa kamu mau menjelaskannya pada mereka?"
Wajah Adrian Pratama mengeras. "Tidak usah pedulikan mereka. Urusanku tidak perlu dicampuri orang lain."
Joanna Wijaya mengepalkan tangannya dalam diam.
Menunda kehamilan adalah kesepakatan tak terucap di antara mereka.
Tapi sudah tiga tahun berlalu, kenapa masih belum boleh juga?
Joanna Wijaya menurunkan kakinya, menatap Adrian sejajar. "Kalau begitu, katakan padaku kapan waktunya? Apa kamu sebenci itu pada anak-anak?"
Kening Adrian Pratama berkerut, menyiratkan ketidaksabaran. "Aku tidak suka."
Bibir Joanna Wijaya terkatup rapat.
Ia pernah melihat Adrian bersikap begitu lembut saat bersama keponakannya. Ia dengan sabar menemani anak kecil itu bermain permainan yang kekanak-kanakan.
Dia sama sekali tidak membenci anak-anak. Dia hanya tidak menginginkan anak darinya.
Kesimpulan itu menusuk hati Joanna Wijaya seperti pisau tak kasat mata.
Sebenarnya, ia sadar, meskipun telah bersama selama bertahun-tahun, ia tidak pernah benar-benar masuk ke dalam hati Adrian Pratama.
Satu-satunya momen kelembutan yang suaminya berikan padanya mungkin hanyalah di atas ranjang.
Keduanya saling bertatapan, suasana menjadi kaku dan canggung.
Pada akhirnya, Joanna Wijaya yang mengalah.
Adrian memiliki sifat yang agak diktator, dan hal yang paling ia benci adalah penolakan dari Joanna.
Ia tidak ingin merusak malam yang tenang ini.
Joanna meraih botol obat itu, menuangkan dua butir, lalu menelannya dengan bantuan air hangat.
"Nanti, ingat jelaskan pada keluargamu. Jangan biarkan aku yang menanggung akibatnya."
Adrian meliriknya sekilas tanpa bicara, lalu berbalik hendak berjalan keluar pintu.
Joanna menatap langkahnya, buru-buru bertanya, "Kamu mau ke mana?"
"Malam ini aku tidur di ruang kerja."
Adrian menjawab tanpa menoleh sedikit pun.
Kepalan tangan Joanna di telapaknya semakin erat.
Setiap kali setelah mereka melakukan hal seperti ini, Adrian selalu tidur di ruang kerja.
Selama tiga tahun ini, saat-saat mereka tidur di ranjang yang sama bahkan bisa dihitung dengan jari.
Api kemarahan mulai menyala di mata Joanna.
Dianggap apa dirinya ini?
Sebuah alat untuk melampiaskan nafsu, yang selalu siap sedia kapan pun dipanggil?
Sebelum ia sempat membuka mulut, ponsel di saku Adrian berdering.
Ia langsung mengangkatnya. Raut wajahnya yang sedingin es seketika melembut.
"Ada apa?"
Itu adalah kelembutan yang belum pernah Joanna dapatkan.
Dan dalam sekejap, ia tahu siapa peneleponnya.
Dewi Setiawan.
Cinta monokrom Adrian Pratama.
Mereka pernah berpacaran selama tiga tahun, namun akhirnya terpaksa berpisah karena alasan keluarga dan perbedaan prinsip.
Dewi memilih pergi ke luar negeri, tapi bulan lalu… dia tiba-tiba kembali.
Dan panggilan telepon ini memang benar darinya.
Meskipun Adrian tidak menyalakan pengeras suara, Joanna masih bisa mendengar dengan jelas isak tangis lirih seorang wanita.
"Adrian, sepertinya aku dengar ada suara berisik di luar. Aku sendirian di rumah, takut sekali. Bisakah kamu datang menemaniku?"
Wajah Adrian mengeras, ia menenangkan dengan suara dingin, "Kamu sembunyi saja di kamar, aku segera ke sana."
"Baik."
Telepon ditutup.
Adrian bergegas mengambil jaketnya, hendak pergi.
Ia yang biasanya selalu tenang dan tak menunjukkan ekspresi, hanya akan sepanik ini jika menyangkut urusan Dewi Setiawan.
Joanna menghalangi jalannya, menatapnya tajam. "Sekarang sudah jam tiga pagi, apa pantas kamu menemuinya? Kalaupun ada bahaya, apa dia tidak bisa menelepon polisi? Apa dia tidak punya teman lain?"
Joanna sudah benar-benar muak.
Sejak Dewi kembali, selalu saja ada berbagai macam masalah yang merepotkan Adrian.
Hari ini pipa air pecah, besok jarinya tergores, atau lusa mimpi buruk.
Selalu ada saja alasan untuk menelepon di tengah malam buta.
Adrian yang begitu dingin padanya, di hadapan Dewi, seolah menjadi penjaga setia yang siaga dua puluh empat jam.
Kilatan tajam melintas di mata Adrian, ia berkata dengan dingin, "Apa kamu tidak dengar dia mungkin dalam bahaya?"
"Kalau ada apa-apa, cari polisi. Kenapa harus selalu mencarimu?" Kemarahan Joanna sudah tersulut.
"Waktu itu aku demam tinggi tiga hari di rumah sakit, aku meneleponmu berharap kamu bisa datang menemaniku, tapi kamu malah menyuruhku jangan mengganggumu. Dan sekarang, satu telepon darinya di tengah malam buta, kamu langsung bergegas ke sana? Apa kamu lupa siapa istrimu?"
Semakin banyak bicara, Joanna semakin merasa sesak. Rasa sakit hati mulai memenuhi matanya.
Ia pikir setelah menikah, ia akan menemukan sebuah pelabuhan yang aman.
Ternyata, badai dan angin kencang itu justru dibawa oleh suaminya sendiri.
Tatapan Adrian menjadi gelap, mengunci Joanna dengan dingin.
Ia membentak keras.
"Minggir!"
"Aku tidak mau!"
Joanna menatapnya lekat, tubuhnya menghalangi pintu.
"Kalau kamu mau pergi, boleh! Aku ikut denganmu!"
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Adrian yang sudah kehilangan kesabaran langsung mendorongnya.
Tubuh Joanna terhuyung sejenak, nyaris menabrak dinding di sampingnya.
Ketika ia berhasil berdiri tegak, sosok Adrian sudah tidak ada lagi di dalam kamar. Hanya suara mesin mobil yang terdengar dari halaman.
Wajah Joanna pucat pasi, tubuhnya gemetar tak terkendali.
Pada saat itu, dadanya seolah berlubang besar, dan angin dingin menderu-deru di dalamnya.
Setelah kesadarannya pulih, ia mengambil kunci mobil yang lain dan mengejarnya.
Tempat tinggal Dewi sekarang adalah salah satu properti milik Adrian.
Sebuah vila pribadi di kawasan elit yang harganya selangit.
Semua perlakuan istimewa itu membuatnya tampak seperti wanita simpanan Adrian.
Joanna menginjak pedal gas dalam-dalam sepanjang jalan, tapi tetap tidak bisa menyusul Adrian.
Ia duduk di dalam mobil, menatap lampu di lantai dua yang menyala.
Tak lama kemudian, semua lampu itu padam.
Adrian tidak pernah keluar.
Joanna lupa bagaimana caranya ia pulang ke rumah.
Pikirannya kosong dan kacau.
Ia bersandar di sofa, melamun. Tiba-tiba, notifikasi pesan baru muncul di ponselnya.
Sebuah akun tanpa nama baru saja mengikutinya.
Ia membuka akun itu dan menemukan bahwa satu menit yang lalu, akun tersebut baru saja mengunggah sebuah status.
Fotonya menunjukkan seorang pria berpiyama sedang sibuk di dapur, sementara di sudut kanan bawah gambar terlihat sepasang kaki jenjang seorang wanita.
Foto yang diambil diam-diam itu tidak disensor sama sekali.
Wajah dingin Adrian, di bawah cahaya lampu dapur yang hangat, tampak begitu lembut.
Seluruh tata ruang kamar itu terasa hangat dan indah, seperti sarang cinta mereka.
Joanna memejamkan matanya kuat-kuat.
Ia tiba-tiba teringat saat baru menikah dengan Adrian. Ia juga pernah membeli banyak sekali boneka lucu dan dekorasi lembut untuk membuat rumah mereka terasa hangat.
Tapi Adrian malah bilang ia kekanak-kanakan, dan membuang semua boneka yang dibelinya.
Setelah itu, Joanna tidak pernah membelinya lagi. Vila ini, ia sudah tinggal di dalamnya selama tiga tahun, namun tetap saja didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu, lebih mirip rumah seorang pria lajang.
Semua yang dibenci Adrian, seolah menjadi pengecualian di hadapan Dewi Setiawan.
Ketika Joanna membuka matanya kembali, tatapannya sudah jernih.
Sudah saatnya melepaskan. Pasir yang tak bisa digenggam, lebih baik dilepaskan saja.
Hingga pukul lima pagi, Adrian akhirnya pulang.
Melihat Joanna yang duduk di sofa dengan wajah pucat, ia tanpa sadar mengerutkan kening.
"Aku lelah sekali sekarang, tidak ada tenaga untuk bertengkar denganmu."
Joanna menekan rasa perih di hatinya, menatapnya dengan tenang.
"Kita cerai saja."
