Bab [2]

Tatapan Adrian Pratama seketika berubah sedingin es.

Ia baru saja kembali dari luar, hawa dingin malam masih menempel di tubuhnya.

Namun, suhu di matanya jauh lebih beku daripada udara yang ia bawa. Joanna Wijaya tanpa sadar menggigil, tetapi ia tetap mengangkat dagunya dengan keras kepala, menatap lurus ke arah suaminya.

Adrian Pratama membalas dengan tatapan tajam. "Ulangi sekali lagi."

Joanna Wijaya menatapnya lekat-lekat, mengulang setiap kata dengan jelas dan tegas, "Aku bilang, kita cerai."

Ia sudah muak dengan kehidupan seperti ini.

Usianya masih muda, masa depannya masih panjang dan cerah.

Untuk apa ia terus-menerus menjadi duri dalam daging di antara Adrian Pratama dan Dewi Setiawan?

Seulas senyum sinis terukir di bibir Adrian Pratama, tatapannya merendahkan.

"Ini trik barumu lagi? Pura-pura jual mahal?"

Matanya menyorot dingin. "Aku tidak punya banyak waktu dan kesabaran untuk meladeni permainan konyolmu ini."

Joanna Wijaya mengepalkan tangannya erat-erat.

Memang benar, dulu ia sering membuat keributan setiap kali Adrian menunjukkan perhatiannya pada Dewi Setiawan.

Tapi semua itu hanyalah drama sepihak.

Adrian tidak pernah peduli pada sakit hati dan keluhannya. Ia hanya menatapnya dengan jengkel dan memperingatkannya untuk tidak membuat masalah.

Bahkan sekarang, saat ia meminta cerai, di mata Adrian...

...itu hanyalah salah satu cara ia merajuk.

Ia menatap manik mata Adrian yang sekelam malam dan melihat bayangan dirinya sendiri di sana.

Sangat kuyu, sangat lelah, sama sekali tidak terlihat seperti wanita berusia dua puluhan.

Mata Adrian menajam, lalu ia berkata dengan nada pelan dan penuh perhitungan, "Kita punya perjanjian pranikah. Kalau kamu menceraikanku, kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun."

Tatapan matanya penuh cemoohan.

"Saat kita menikah dulu, keluarga Wijaya sudah di ambang kebangkrutan. Akulah yang turun tangan memberikan proyek pada mereka. Sekarang, setelah Grup Wijaya pulih, kamu mau menceraikanku. Joanna Wijaya, tidakkah kamu merasa caramu ini terlalu memalukan?"

Joanna Wijaya terdiam, tak bisa berkata-kata.

Pernikahan mereka pada dasarnya adalah sebuah pernikahan politik.

Ayahnya dulu kalang kabut karena perusahaan hampir bangkrut, hingga akhirnya, atas saran ibu tirinya, ia dikirim ke ranjang Adrian Pratama.

Cara itu memang berisiko, tetapi pada akhirnya mereka menang. Grup Wijaya berhasil diselamatkan.

Tanpa sadar, kuku Joanna telah menancap dalam di telapak tangannya.

Keberanian yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun lenyap seketika di bawah tatapan sinis Adrian.

Suaranya bergetar di akhir kalimat.

"Apa kamu tidak merasa hubungan pernikahan kita ini sangat bermasalah? Suami-istri mana yang seperti kita, tidak ada komunikasi sama sekali selain di ranjang?"

Ia mengangkat wajahnya menatap Adrian, menahan rasa sakit yang menusuk di dada.

"Adrian Pratama, aku ini istrimu, tapi kamu sama sekali tidak menghargaiku. Kamu seolah hanya menganggapku pajangan, diletakkan di rumah untuk menutupi pandangan orang luar dan menenangkan keluargamu. Bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan."

Alasan Adrian menikahinya dulu bukan hanya karena insiden itu, tetapi juga karena keluarganya terus mendesaknya untuk menikah, membuatnya muak.

"Hargai?"

Sudut bibir Adrian terangkat membentuk senyum dingin.

Rasa jijik di matanya nyaris meluap.

"Apa kamu lupa bagaimana pernikahan ini berawal? Atau mungkin kamu bisa kembali melihat perjanjian pranikah yang ada di laci nakas."

Ia melangkah mendekati Joanna.

Aura dominasinya yang kuat membuat Joanna merasa sesak napas.

Tubuhnya menegang tanpa sadar.

"Dalam permainan ini, hanya aku yang berhak mengakhirinya."

Ia berkata dengan enteng, "Kamu tidak pantas."

Tiga kata itu menghantam jantung Joanna dengan keras.

Ia menekan rasa sakit yang merobek-robek hatinya.

"Menjalani hidup sebagai boneka dengan status suami-istri seperti ini, apa kamu benar-benar tidak merasa jenuh dan bosan? Apa kamu tidak ingin memberikan status yang pantas untuk Dewi Setiawan?"

Suara Joanna terdengar dingin, ia melanjutkan dengan nada tak terima.

"Sekarang aku berinisiatif mundur untuk memberimu jalan bersatu dengan Ibu Setiawan, apa kamu masih tidak puas?"

"Aku tidak butuh restumu. Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri."

Kata-kata Adrian begitu kejam, sekali lagi merobek-robek sisa harga diri Joanna.

Rasa pahit menyebar dari hatinya.

Joanna menarik sudut bibirnya dengan getir.

Benar juga.

Ia tidak perlu memberinya jalan. Jika suatu hari nanti Dewi benar-benar menginginkan posisi Nyonya Pratama, bahkan jika ia menolak bercerai, Adrian punya seribu satu cara untuk memaksanya.

Adrian tidak lagi memandang Joanna, ia langsung melangkah ke kamar mandi.

Tak lama kemudian, ia keluar dan langsung menuju ruang kerja.

Joanna duduk sendirian di sofa, memeluk tubuhnya erat-erat.

Rasa tak berdaya dan lelah menyelimutinya dengan pekat.

Ia benar-benar lelah.

Keesokan paginya, ia pergi bekerja seperti biasa.

Profesi Joanna adalah desainer interior.

Meskipun setelah menikah dengan Adrian ia bisa memilih menjadi nyonya rumah tangga yang hidup tanpa beban, ia tetap memilih untuk bekerja.

Ia tidak mau menjadi benalu yang menempel di pohon besar. Jika suatu saat Adrian mencampakkannya, ia bahkan tidak punya kemampuan untuk mandiri.

Pekerjaan yang rumit dan menyibukkan sepanjang hari membuat kepala Joanna pusing.

Ia memanfaatkan kesempatan untuk menyantap beberapa potong roti demi mengatasi hipoglikemia.

Tepat saat ia hendak berbalik kembali ke ruangannya, suara obrolan rekan kerjanya membuatnya berhenti melangkah.

"Eh, kalian lihat berita utama sekarang, nggak? Pak Pratama rela menghabiskan puluhan miliar rupiah di acara lelang demi seorang wanita, cuma buat beli kalung dan langsung dikasihin di depan umum."

"Pak Pratama yang mana?"

"Memangnya di seluruh Jakarta ini, siapa lagi yang pantas dipanggil Pak Pratama selain Adrian Pratama?"

Seluruh tubuh Joanna terasa membeku di tempatnya berdiri.

Hari ini adalah hari libur Adrian.

Ia tidak memilih untuk beristirahat di rumah, melainkan menemani Dewi Setiawan ke acara lelang.

Joanna menggigit bibirnya, kembali ke mejanya, lalu membuka berita yang sedang tren itu.

Dari sepuluh topik teratas, semuanya didominasi oleh Adrian Pratama dan Dewi Setiawan.

Di bawah sorotan kamera.

Dengan tatapan penuh kelembutan, Adrian memakaikan kalung zamrud yang baru saja ia menangkan ke leher Dewi. Kelembutan dan kasih sayang di matanya nyaris meluap.

Sementara itu, wajah Dewi dihiasi senyum malu-malu seorang gadis muda. Mereka berdua terlihat sangat serasi.

Komentar di bawahnya pun serempak mengatakan betapa mereka adalah pasangan yang diciptakan satu sama lain, bahkan ada yang menyebutnya kisah cinta CEO yang menjadi kenyataan.

Namun, tatapan Joanna hanya terpaku pada zamrud itu.

Dulu, saat berjalan-jalan di mal, ia pernah menyukai sebuah kalung, hanya saja kualitas dan modelnya jauh di bawah milik Dewi.

Ia ingin membelinya, tetapi merasa sayang dengan harganya.

Adrian, yang berada di sisinya, berkata dengan acuh tak acuh, untuk apa membeli barang seperti itu.

Perhiasannya sudah lebih dari cukup.

Tapi sekarang, kalung zamrud yang tidak ia dapatkan itu, kini melingkar di leher Dewi dengan harga berkali-kali lipat.

Joanna menekan rasa sakit dan kecewa yang bergejolak di hatinya.

Sore harinya, ia harus pergi bersama tim dari kantornya untuk meninjau sebuah vila, merancang tata letak desain interior secara keseluruhan.

Namun, saat tiba di lokasi, ia justru melihat Dewi Setiawan berdiri berdampingan dengan Adrian Pratama.

Keterkejutan melintas di mata Joanna. Jangan-jangan, vila ini milik Dewi?

Ia mengatupkan bibirnya, lalu melangkah maju untuk menyapa, "Adrian, kenapa kamu ada di sini?"

Ekspresi Adrian datar, ia menjawab sekenanya, "Menemani Dewi melihat sketsa desain interior."

Dewi.

Panggilan yang begitu akrab.

Mereka sudah menikah tiga tahun, tapi Adrian masih memanggilnya dengan nama lengkap, apalagi mengharapkan panggilan mesra seperti 'sayang'.

Dewi Setiawan berdiri tegak di samping Adrian. Namun, yang lebih menarik perhatian daripada pakaiannya yang elegan adalah kalung zamrud yang indah itu.

Adrian biasanya sangat sibuk bekerja, dan waktu liburnya yang langka ia habiskan seluruhnya untuk menemani Dewi Setiawan.

Dewi melangkah maju, tersenyum.

"Ibu Desainer Wijaya, rumah saya ini saya serahkan padamu, ya. Ini tipe rumah yang sudah lama sekali saya tunggu-tunggu, jadi jangan sampai saya kecewa."

Joanna mengerutkan kening, sebuah keraguan tiba-tiba muncul di benaknya.

Seingatnya, klien secara khusus memintanya untuk mendesain rumah ini.

"Kamu sengaja memilihku untuk mendesain rumahmu?"

Dewi Setiawan mengakuinya dengan terus terang, "Tentu saja. Kudengar selera Ibu Desainer Wijaya sangat bagus. Kebetulan sekali, ya, barang yang kamu suka, aku juga suka. Ingat, ya, dekorasi rumah ini dengan gaya yang hangat dan manis. Adrian akan sering berkunjung, dia juga suka gaya seperti itu."

Kilatan dingin melintas di mata Joanna. Ia menatap Dewi dengan senyum yang sulit diartikan.

"Apa kamu tidak tahu hubunganku dengan Adrian Pratama?"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya