Bab [3]

Dewi Setiawan itu sengaja jadi orang ketiga.

Dia tahu persis Adrian Pratama sudah menikah, tapi masih saja terus bermain api dengannya, berlindung di balik kedok persahabatan.

Dan sekarang, Adrian menunjuknya untuk mendesain interior rumah?

Apa dia pikir Joanna, sebagai istri sah, mau mendekorasi sarang cinta mereka?

Konyol sekali.

Joanna Wijaya melirik Adrian Pratama tanpa ekspresi.

Yang lebih konyol lagi, Adrian sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan semua ini.

Menghadapi tatapan Joanna yang seolah sedang memergoki seorang pelakor, Dewi Setiawan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, ia mengangkat alisnya dengan nada menantang.

"Hubunganku dan Adrian itu bersih. Apa persahabatan kami yang sudah bertahun-tahun ini harus berakhir hanya karena dia sudah menikah?"

Nada suaranya semakin congkak.

"Ibu Desainer Wijaya, saya tahu setelah memiliki suami sehebat Adrian, Anda jadi semakin minder dan takut dia direbut orang. Tapi tolong, jangan menatap saya seolah saya ini pelakor. Kalau Anda merasa tidak pantas untuk Adrian, lebih baik pergi saja. Kenapa harus menyiksa diri jadi perempuan berpikiran sempit yang kerjaannya hanya cemburu?"

Kilat dingin melintas di mata Joanna Wijaya. Dengan tenang, ia membalas, "Ibu Setiawan ini memang mulutnya manis sekali, ya. Yang hitam pun bisa jadi putih."

Kalau ia memang pencemburu, sudah sejak hari pertama Dewi Setiawan kembali ke Indonesia ia akan memberinya pelajaran.

Kalau dipikir-pikir, tindakannya selama ini memang terkesan lemah, hanya bisa pasrah melihat si pelakor menari-nari di depan matanya.

Dewi Setiawan mengalihkan pandangannya ke Adrian Pratama, nadanya tiba-tiba melunak.

"Adrian, Ibu Wijaya salah paham dengan hubungan kita. Kamu nggak mau jelaskan padanya? Kalau dia masih keberatan, aku bisa kok kembali lagi ke luar negeri."

Perubahan raut wajah Dewi Setiawan terjadi dalam sekejap mata. Nada bicaranya yang tadi sombong kini berubah menjadi penuh kepiluan dan iba.

Orang asing yang melihat adegan ini mungkin akan benar-benar percaya bahwa Joanna-lah yang cemburu buta dan menuduhnya tanpa alasan.

Ekspresi Adrian Pratama tetap dingin seperti biasa. Ia melirik Joanna dengan acuh tak acuh.

"Tidak perlu menjelaskan apa pun pada orang yang tidak penting. Kamu fokus saja memikirkan desain interior rumah ini."

Orang yang tidak penting.

Tanpa sadar, Joanna Wijaya mengepalkan tangannya. Rasa sakit menusuk hatinya.

Demi menyenangkan Dewi Setiawan, Adrian tega menjatuhkan harga dirinya.

Tiga tahun pernikahan hanya berbuah kalimat "orang yang tidak penting". Seolah semua pengorbanannya selama ini hanyalah lelucon.

Joanna selalu berpikir hatinya sudah cukup hancur oleh perlakuan Adrian.

Tapi ternyata, pria itu selalu bisa menemukan cara untuk melukainya lebih dalam lagi dengan kalimat berikutnya.

Sikap Adrian yang memihak membuat senyum kemenangan di wajah Dewi Setiawan semakin lebar.

Ia melangkah maju, menggelayut manja di lengan Adrian.

"Ini kan hadiah ulang tahun darimu untukku. Aku pasti akan menatanya dengan sepenuh hati."

"Hm," sahut Adrian singkat.

Sejak awal hingga akhir, ia hanya memberi Joanna satu tatapan, tatapan yang biasa ia berikan pada orang asing.

Joanna datang ke rumah itu hari ini hanya untuk melihat tata letak dan struktur bangunan, agar lebih mudah membuat gambar desain sesuai selera kliennya nanti.

Ia buru-buru mengambil beberapa foto struktur lalu segera pergi.

Ia benar-benar tidak sanggup lagi berhadapan dengan mereka berdua.

Sore itu adalah waktu luang bagi Joanna.

Ia mengendarai mobilnya ke rumah sakit.

Beberapa hari ini, perutnya terasa tidak nyaman, seperti ada jarum-jarum kecil yang menusuk.

Dokter yang menanganinya adalah sahabatnya sendiri, Jenni Kusuma.

Jenni menatap laporan hasil pemeriksaan dengan wajah serius.

Duduk di seberangnya, Joanna tiba-tiba merasa gugup.

"Kenapa? Apa lambungku parah sekali?"

Dengan ekspresi rumit, Jenni meletakkan laporan itu dan menatap Joanna lekat-lekat.

"Lambungmu sudah luka parah. Kalau dibiarkan terus, bisa-bisa jadi perforasi. Sesibuk apa pun kamu, makan itu harus tepat waktu."

Joanna bersandar di kursi, satu tangannya menekan perut. "Kamu tahu sendiri bagaimana pekerjaanku. Kalau lagi sibuk, minum air saja tidak sempat, apalagi makan."

"Mulai sekarang, kamu harus makan tiga kali sehari sampai kenyang. Luka lambung bukan masalah sepele, apalagi untuk kasus sepertimu yang sudah menundanya begitu lama baru ke rumah sakit."

Sambil berbicara, Jenni menuangkan segelas air hangat untuk Joanna dan melirik ke arah pintu.

"Kenapa kamu datang sendirian? Adrian Pratama mana?"

Joanna menggenggam gelas di tangannya lebih erat, mencari-cari alasan. "Dia sibuk kerja."

Melihat kesedihan yang tersembunyi di mata Joanna, Jenni menghela napas.

Gosip tentang Adrian dan Dewi Setiawan sudah ramai sekali di internet, dan ia sudah melihat semuanya.

"Seperti apa pun kelakuan suamimu, ingat untuk selalu menjaga dirimu sendiri. Di dunia ini, semuanya fana, hanya tubuhmu yang benar-benar milikmu," nasihat Jenni dengan sungguh-sungguh.

"Dan jangan sering-sering marah. Kalau terlalu lama dongkol, emosi yang terpendam itu bisa jadi penyakit di dalam tubuh."

Joanna mengangguk dengan wajah penuh kerumitan.

Ia sangat setuju dengan perkataan Jenni. Perempuan memang tidak boleh menyimpan dongkol.

Tapi sialnya, selama bertahun-tahun bersama Adrian Pratama, hampir tidak ada hari tanpa ia merasa kesal.

Sekuat apa pun ia mencoba menenangkan diri, emosinya tetap meledak-ledak saat terpancing.

"Besok kamu datang lagi ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan yang lebih lengkap, ya. Aku mau periksa juga apa ada benjolan di area payudaramu."

"Baik."

Dari rumah sakit, Joanna langsung pulang ke rumah.

Hatinya terasa kacau balau.

Meskipun tidak ada nafsu makan sama sekali, ia tetap mengingat pesan Jenni.

Sekarang sudah jam tujuh malam.

Adrian mungkin tidak akan pulang, jadi ia memasak semangkuk mi instan untuk dirinya sendiri.

Laporan hasil pemeriksaan medis ia letakkan begitu saja di atas meja ruang tamu.

Saat pintu terbuka, Joanna sedikit terkejut melihat Adrian pulang.

Tumben sekali jam segini dia tidak menemani Dewi Setiawan.

Adrian melirik sekilas, pandangannya berhenti pada laporan medis di atas meja.

"Apa ini?"

"Laporan medisku. Badanku kurang sehat."

Joanna menatapnya lekat-lekat dengan perasaan campur aduk.

Adrian sudah melihat laporan luka lambungnya. Setidaknya, ia pasti akan bertanya atau menunjukkan sedikit perhatian, kan?

Tapi Adrian hanya meliriknya sekilas.

"Cuma luka lambung, kan? Nggak akan bikin mati juga."

Tatapan Joanna membeku.

Apa pria ini tidak tahu kalau luka lambung yang dibiarkan terlalu lama bukan hanya bisa menjadi perforasi, tapi juga bisa berkembang menjadi kanker lambung?

Bahkan orang asing pun mungkin akan menunjukkan sedikit simpati.

Tapi Adrian, suaminya sendiri, hanya berkomentar dingin seolah itu bukan apa-apa.

"Besok aku ada tugas untukmu. Ada kerabat senior yang akan datang ke Jakarta, kamu temani dia jalan-jalan. Bersikaplah yang sopan padanya. Kalau kamu bisa melayaninya dengan baik, citramu di mata Ibu juga bisa sedikit membaik."

Nada bicara Adrian terdengar seperti sedang memberi perintah pada bawahannya.

Joanna meletakkan sumpitnya, menatap Adrian dengan tenang. "Besok aku harus kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Aku tidak punya waktu."

"Pemeriksaannya ditunda beberapa hari juga tidak akan apa-apa."

Nada suara Adrian berubah, tatapannya menajam.

"Apa kamu tidak mau memperbaiki hubunganmu dengan Ibu?"

Seringai sinis terlintas di wajah Joanna.

Selama tiga tahun pernikahan ini, ia merasa sudah menjadi istri dan menantu perempuan yang baik.

Tapi entah kenapa, baik Adrian maupun Ibu Pratama, tidak ada yang pernah menyukainya.

Tahun lalu, saat Ibu Pratama jatuh dan patah tulang, ia mengambil cuti sebulan penuh untuk merawatnya. Ia melakukan segalanya dengan tulus, bukan hanya belajar memasak makanan bernutrisi, tapi bahkan belajar teknik pijat khusus untuk pemulihan.

Namun, yang ia dapatkan pada akhirnya hanyalah kalimat, "Kamu itu ceroboh, lebih baik sewa perawat saja."

Terlebih lagi karena ia belum juga memiliki anak, Ibu Pratama semakin tidak menyukainya.

Bulan lalu saat makan bersama, mertuanya itu bahkan menyindirnya dengan kalimat sok baik tapi munafik, menyebutnya 'pohon mandul' dan berkata akan mencarikan ramuan-ramuan tradisional untuknya.

"Cari orang lain saja. Asistenmu juga bisa, atau suruh saja Dewi Setiawan," balas Joanna, menatap suaminya tajam.

"Ibu tidak suka padaku, tapi mungkin beliau akan sangat menyukai menantu perempuan yang satu itu."

Adrian mengerutkan kening, matanya menunjukkan ketidaksenangan.

"Joanna Wijaya, aku tidak sedang berdiskusi denganmu. Aku sedang memberitahumu."

Kilatan kepedihan dan kepasrahan melintas di mata Joanna.

Saat tatapan mereka bertemu, ia tahu ia harus mengalah lagi.

Ia tidak pernah bisa menang melawan Adrian Pratama.

Pria itu sama sekali tidak peduli padanya, jadi untuk apa ia peduli pada kata-katanya?

Adrian memperingatkannya dengan suara berat, "Oh ya, nanti ingat jaga mulutmu. Tahu mana yang boleh dikatakan dan mana yang tidak. Kalau sampai aku dengar yang aneh-aneh, jangan salahkan aku kalau aku tidak segan-segan padamu."

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya