Bab [50] Dua Garis

Begitu telepon tersambung, Adrian Pratama sudah bangkit dari duduknya, menggenggam ponsel sambil berjalan ke arah jendela.

Senyum penuh kemenangan tersungging di bibirnya, meski jika diperhatikan lebih saksama, ada sekelumit kepahitan yang tersembunyi di sana.

“Kalau tidak salah ingat, Pak Sutama ...

Masuk dan lanjutkan membaca