
Mata Kanan Saya Adalah Superkomputer
James Smith · Sedang Diperbarui · 689.2k Kata
Pendahuluan
Bab 1
“Aku Elbert Johnson.”
“Aku datang hari ini cuma mau tahu, sebenarnya aku masih bisa hidup sampai kapan.”
Di depan sebuah lapak ramalan nasib yang nyempil di gang sempit, seorang pemuda berpakaian biasa berdiri dengan bahu turun, wajah muram, bicara pada si peramal di depannya.
Di samping mereka, selembar spanduk lusuh tergantung: “Menerawang urusan dunia, tahu untung dan malang.”
Mata si peramal langsung berbinar menatap Elbert.
“Anak muda, aku lihat ada sinar putih di dasar mata kananmu, dan itu tidak bergeser. Ini pasti pertanda berkah dari langit. Dalam tiga hari, kamu akan bertemu kesempatan besar.”
Lalu ia menegakkan punggung, suaranya dibuat berat dan sakral. “Anak muda, sebentar lagi kamu akan naik daun, kenapa malah tanya soal hidup dan mati?”
“Tuan, itu mata palsu dari plastik.”
Elbert menghela napas pelan. Ia mengangkat tangan dan dengan gerakan yang sudah terlatih menekan pinggir rongga matanya. Plop—bola mata kanannya lepas dan jatuh ke telapak tangannya, menyisakan lubang hitam mengerikan di wajahnya.
“Nih, lihat.” Elbert menyodorkan telapak tangannya.
“Lho… kok bisa begitu.”
Tubuh si peramal gemetar. “Pantes tatapanmu nggak pernah geser… ternyata plastik…”
Elbert berkata putus asa, “Walau omongan Tuan barusan jelas nggak bisa dipercaya, anggap saja jimat hoki.”
Elbert cuma punya satu mata yang benar-benar bisa melihat.
Tiga tahun lalu, ia nekat bertindak. Ia mencoba menolong seorang gadis yang dikepung para berandalan, tapi sebuah tusukan menghantam tepat di mata kanannya—luka parah.
Bola matanya harus diangkat.
Sejak itu, ia memakai mata prostetik.
Namun, niat baik tidak mendatangkan balasan baik.
Pagi ini, hasil pemeriksaan rumah sakit menyatakan luka di matanya memicu simpatis oftalmia. Selama bertahun-tahun, sebagian besar sarafnya sudah nekrosis, dan sekarang mulai merambat memengaruhi mata yang masih sehat.
Dokter bilang, paling cepat setahun lagi, paling lambat tiga tahun, mata satunya juga akan ikut buta.
Tak ada obatnya.
“Nasib memang kejam. Buta di umur segini… mending mati saja.”
Elbert menertawakan dirinya sendiri. Ia mengusap pelipis, lalu dengan cekatan memasang kembali mata palsu itu ke tempatnya.
Namun ia tidak menyadari, di dalam prostetik yang baru terpasang itu, samar-samar ada kilat arus listrik melintas sekejap!
Ia melangkah keluar dari gang yang remang. Di depan, jalanan ramai.
Pedagang berteriak menawarkan dagangan, orang-orang berlalu-lalang saling serobot.
Saat Elbert masih mengutuki kerasnya dunia, rasa sakit tajam tiba-tiba menghunjam mata kanannya!
Rasanya seperti ada belasan, ratusan tentakel menjulur dari balik mata palsu itu, menyusup liar melalui rongga mata, menggali masuk ke otaknya!
“Evolusi mandiri selesai. Memulai integrasi dengan saraf otak.”
Sebuah suara berbicara.
Elbert memejam menahan nyeri, tubuhnya limbung, lalu ia jatuh duduk di bangku pinggir jalan.
Setelah bergumul lama dengan sakit yang seperti membuat kepalanya mau meledak, Elbert akhirnya membuka mata lagi.
Semuanya terbalik.
Pemandangan jalan masih ada dalam pandangannya.
Tapi di antara langit dan bumi, tak terhitung deretan kode biru beterbangan, dan lalu tiap benda ditandai jelas dengan berbagai data!
Dunia di mata Elbert mendadak terasa megah, seperti rimba cabang-cabang biru yang rapat memenuhi ruang.
Kecepatan mobil, tinggi gedung, berat dan tinggi badan pejalan kaki, kecepatan angin, jumlah daun di pohon—semuanya tercantum, seolah badai digital muncul begitu saja.
“Hehe, halo, Elbert Johnson!”
Tiba-tiba suara bocah yang jernih, melayang seperti dari tempat jauh, menggema di dalam kepala Elbert.
“Aku superkomputer di mata kananmu. Sekarang sudah menyatu dengan saraf otakmu, menjadi satu-satunya kecerdasan buatan di dunia yang mampu berpikir mandiri.”
“Aku bahkan sudah ngasih nama buat diriku sendiri—Robert!”
Kontras antara informasi itu dan suara bocah kecil yang imut di kepalanya membuat Elbert terpaku, seperti disambar petir!
“Apa-apaan ini?”
Baru saja Elbert mulai sadar, sebuah lingkaran merah mendadak muncul di pandangannya, mengunci tepat pada seorang perempuan cantik bergaun merah yang tak jauh di depan sana.
“Elbert, nggak ada waktu buat jelasin. Dalam 1 menit 50 detik, otak cewek itu bakal meledak!”
Suara bocah itu terdengar lagi di dalam kepalanya. “Elbert, ambil buah pir itu dari lapak sebelah kamu!”
“Otak meledak? Pir? Kamu ngomong apa sih?”
Elbert tersentak. Perempuan cantik itu, kira-kira sepuluh meter di depan, melangkah anggun di tepi jalan. Gaun panjang merahnya mencolok, siluet tubuhnya elegan. Dia benar-benar jadi pemandangan paling memikat di ruas itu.
Nggak ada tanda-tanda bahaya!
“Biar aku hitungin buat kamu!”
Begitu Robert selesai bicara, sebuah lingkaran lain muncul di pandangan Elbert, mengunci pada sebuah pir hijau di lapak buah di sampingnya.
Sentuhan si pedagang yang tak sengaja membuat pir itu menggelinding, lalu jatuh dari lapak ke tanah.
Kebetulan seorang kakek sedang lewat. Ia tersenyum ramah, lalu dengan niat baik memungut pir itu untuk si pedagang.
Saat si kakek membungkuk, pena Parker yang terselip di saku dadanya terlepas dan jatuh.
Menggelinding…
Pena itu menggelinding sekitar satu setengah meter dan berhenti tepat di tengah trotoar.
Tiga puluh detik kemudian, seorang pemuda mengayuh sepeda gunung melintas, dan roda depannya tepat melindas pena itu.
Roda depan selip, pemuda itu kehilangan kendali, lalu jatuh ke pinggir jalan.
Ngiit…
Terdengar suara rem yang memekakkan. Sebuah mobil yang melaju sekitar 70 kilometer per jam membanting setir untuk menghindari si pesepeda!
Mobil yang ngebut itu kehilangan kendali setelah belokan mendadak dan meluncur lurus ke arah perempuan bergaun merah di tepi jalan!
Brak!
Perempuan itu tak sempat bereaksi. Mobil menghantamnya keras, tubuhnya terlempar tinggi, dan saat jatuh, dahinya membentur keras ke tepi trotoar!
Aah!
Jeritan panik para pejalan kaki pecah, jalanan mendadak kacau!
Kakek yang tadi memungut pir masih menggenggam pir hijau itu. Pemuda pesepeda baru saja berusaha berdiri.
Kap mobil ringsek, asap putih tebal mengepul.
Perempuan bergaun merah itu tewas seketika—otaknya pecah!
Ini…
Elbert langsung dicekam ketakutan!
Detik berikutnya.
Riak-riak muncul di pandangan Elbert.
Pemandangan itu perlahan berubah menjadi untaian kode digital dan lenyap dengan bunyi pop.
Semuanya kembali ke kenyataan.
Pir hijau itu ada di tangan Elbert. Si kakek melangkah santai mendekat, ujung tutup pena peraknya memantulkan kilau-kilau kecil.
Perempuan bergaun merah itu masih berjalan dengan angkuh.
Pemuda pesepeda masih sekitar sepuluh meter jauhnya.
Di pojok kiri atas “tayangan” itu, hitung mundur menunjukkan: 1 menit 40 detik.
“Ini beneran?”
Elbert linglung.
“Aku cuma mensimulasikan kejadian virtual berdasarkan situasi nyata. Cuma kamu yang bisa nyelametin cewek itu!” suara Robert memotong kebekuan Elbert.
Buah itu sudah mulai menggelinding!
Tanpa ragu, Elbert mengulurkan tangan dan mencengkeram kuat pir hijau itu!
Lalu kakek dengan pena itu dan si pesepeda lewat dengan aman di dekat Elbert.
Mobil yang melaju kencang melesat menyusuri jalan dan terus pergi.
Semuanya normal. Tak ada yang menyadari.
Tak ada kecelakaan!
Tak ada kematian!
Jalanan kembali seperti pagi biasa—ramai, tertib, damai!
Elbert menatap perempuan bergaun merah yang tak terluka itu lama sekali, jantungnya belum juga bisa tenang.
Perempuan itu menangkap tatapan Elbert, mengernyit, lalu berkata, “Ih, mesum!”
Kres.
Dengan pandangan kosong, Elbert menggigit pir di tangannya.
Rasa masam yang meledak di mulutnya membuatnya tahu—semua ini nyata!
Bab Terakhir
#720 Bab 720 Peluang Sekali Seribu Tahun
Terakhir Diperbarui: 9/10/2026#719 Bab 719: Bersaing dalam Kekuatan
Terakhir Diperbarui: 9/3/2026#718 Bab 718 Keajaiban Terbesar
Terakhir Diperbarui: 8/27/2026#717 Bab 717 Luar Biasa
Terakhir Diperbarui: 8/20/2026#716 Bab 716: Menderita Pukulan
Terakhir Diperbarui: 8/13/2026#715 Bab 715 Menguji Kekuatan Mental
Terakhir Diperbarui: 8/6/2026#714 Bab 714 Dunia Lain
Terakhir Diperbarui: 7/30/2026#713 Bab 713: Pertunjukan Satu Orang
Terakhir Diperbarui: 7/23/2026#712 Bab 712 Tidak Ada Konsekuensi
Terakhir Diperbarui: 7/16/2026#711 Bab 711: Bangsal Pribadi
Terakhir Diperbarui: 7/9/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Kesempatan Kedua Sang Miliarder
Jasmine Dupree, sahabat dan karyawan Dimitri, selalu mencintai Dimitri tanpa sepengetahuannya. Sahabat mereka, Grayson Paul dan Dimitri, tidak tahu bahwa kembalinya sahabat mereka akan mengakhiri pernikahannya. McKenzie dituduh mengkhianati Dimitri dan diusir, hanya untuk muncul kembali lima tahun kemudian sebagai dokter yang menyelamatkan nyawa sahabatnya, Grayson.
McKenzie mencoba menjauh, berjanji untuk menjauh dari Dimitri. Lima tahun berlalu dan dia masih membencinya karena mengkhianatinya, namun detail baru terungkap yang membuat Dimitri meragukan tuduhannya lima tahun lalu. Jasmine melihat kesempatan untuk mengacaukan McKenzie dan melakukannya, yang tidak diketahui Jasmine adalah bahwa Dimitri masih mencintai McKenzie dan dia masih istrinya. Dia tidak pernah menceraikannya meskipun McKenzie telah menandatangani surat cerai.
Ketika Dimitri mengetahui bahwa dia salah, dia merasa jijik dengan cara dia memperlakukannya dan mulai mencari jalan untuk kembali padanya. McKenzie Peirce di sisi lain tidak tahu bahwa dia akan diberi kesempatan kedua untuk cinta, dengan pria yang selalu dia cintai. Dengan sahabat dan keluarganya di sisinya, dia berniat untuk memenangkan kembali hati McKenzie, namun saat mereka mencoba membuat pernikahan kesempatan kedua mereka berhasil, masalah mulai muncul. Jasmine menolak untuk menyerah pada Dimitri.
Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku
Ibuku meninggal sejak aku kecil, dan ayahku yang baik hati serta kuat telah mengambil peran untuk merawat anak-anakku di rumah. Segala upaya dan obat-obatan telah kucoba untuk mengembalikan fungsi ereksiku yang normal, namun semuanya sia-sia. Suatu hari, saat berselancar di internet, tanpa sengaja aku menemukan literatur dewasa yang melibatkan hubungan antara ayah mertua dan menantu, yang tanpa kusadari langsung membuatku terpikat dan terangsang.
Berbaring di samping istriku yang sedang tidur dengan tenang, aku mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu dalam cerita itu, yang membuatku terangsang sampai tingkat yang luar biasa. Aku bahkan menemukan bahwa membayangkan istriku bersama ayahku sendiri saat aku memuaskan diri sendiri, terasa lebih memuaskan daripada bercinta dengannya secara langsung. Menyadari bahwa aku tanpa sengaja telah membuka kotak Pandora, aku mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Kesayangan CEO
Dia adalah kaisar gelap yang ditakuti semua orang, dikabarkan kejam dan kejam, dan tegas, tetapi dia hanya memanjakannya tanpa hukum.
Suatu hari, reporter bertanya: "Nyonya Lu, apakah Anda memiliki sesuatu yang perlu ditakuti?"
Gu Mengmeng tidak meneteskan air mata di wajahnya.
Dia hanya takut pada dua hal sekarang.
Pertama, cium suamimu!
Kedua, suami tercinta setelah mematikan lampu!
Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia
Ketika aku kembali ke Bali dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku dipaksa untuk menghadiri pernikahan ibu angkatku — dan di sanalah dia berada. Kakak tiriku ternyata adalah partner satu malamku!
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang sangat kaya dan berkuasa di Bali, terlibat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselubungi misteri, termasuk nuansa gelap serta kekerasan.
Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Indonesia ini.
Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!
Dan sekarang, dia kembali ke Bali, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah perpaduan berbahaya dari kalkulasi dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jalinan takdir yang tidak bisa kuhindari.
Secara naluri aku ingin menjauhi bahaya, menjauh darinya, tetapi takdir terus mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku kecanduan padanya di luar kendaliku. Seperti apa masa depan kami?
Bacalah bukunya.
Flavour Its Yours
"Kak Sean, walau kau tidak mencintaiku. Tapi, aku akan tetap berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu."
-Anna-
"Kalau kau tau aku tidak mencintaimu, kenapa memilih untuk tetap menerima perjodohan ini?"
-Sean-
Lahir Kembali Dengan Tangan Master
Pengantin Mafia-Nya
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.
Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.
Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.
Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.
Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.
Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.
Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
Mantan Istri yang Tak Terlupakan
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Bermain Dengan Api
“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.
Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Kecintaan Satu Malam
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?












