Bab [20]

Ternyata benar itu dia, bukan cuma halusinasiku.

Aku mengangkat tangan, ragu-ragu antara menyapa atau tidak.

Namun, Jindra Gunawan sudah keburu berbalik, hanya menyisakan punggungnya untukku.

Ya sudahlah!

Kalau begitu, aku tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan harus menyapa atau tidak. Setid...

Masuk dan lanjutkan membaca