
Menikah Lagi dengan Miliuner
Kirana Mentari · Sedang Diperbarui · 118.0k Kata
Pendahuluan
Di tengah hubungan itu, suamiku menghina aku—menyebutku sebagai “babi gendut.”
Seolah belum cukup, ibu mertuaku menyebabkan aku keguguran.
Dengan hati yang hancur, aku memutuskan untuk meninggalkan pria kejam itu dan rumah dingin yang kami tinggali.
Namun pada saat aku terpuruk dan hampir kehilangan harapan, seorang pria lembut dan tampan muncul dalam hidupku…
Dia perlahan menghangatkan hatiku yang telah remuk berkeping-keping.
Bab 1
Saat Felix Fajar menelepon dan bilang tidak bisa pulang untuk makan malam, aku baru saja meletakkan hidangan terakhir di atas meja.
Di layar video, wajahnya yang tampan seperti biasa dipenuhi rasa bersalah. "Maaf ya, Sayang. Kamu tahu sendiri kan, perusahaan lagi dalam tahap berkembang. Aku benar-benar nggak bisa menolak ajakan klien untuk acara seperti ini!"
Sejak orang tuaku meninggal, dia bersumpah di depan makam mereka akan menjagaku seumur hidup dan memberiku kehidupan yang bahagia tanpa beban. Sejak saat itu, ini sudah ketujuh kalinya dalam sebulan ini dia tidak pulang karena 'acara dengan klien'.
Aku merasa sedikit kecewa, tetapi lebih banyak lagi merasa kasihan padanya.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tadinya aku ingin memasak hidangan kesukaannya untuk merayakannya. Namun, demi masa depan kami yang lebih baik, dia begitu sibuk sampai tidak bisa pulang.
"Nggak apa-apa," kataku dengan suara lembut. Dia sepertinya menelepon dari toilet, terlihat dari dinding putih di belakangnya dan suara riuh di luar. "Jangan minum terlalu banyak, ya. Kalau sudah terlalu malam, nggak usah maksain pulang, bahaya. Besok pagi saja pulangnya."
Wajah Felix Fajar langsung terlihat sangat terharu. "Sayang, kamu baik banget, sih. Bisa menikahimu benar-benar anugerah terindah dalam hidupku!"
Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Disusul suara wanita yang merdu dan genit. "Kak Felix, sudah selesai?"
Jantungku berdebar kencang. Suara itu, dan panggilan itu...
Baru saja aku mau bertanya, Felix Fajar buru-buru berkata, "Sayang, klien sudah panggil aku, nih. Aku tutup dulu ya, love you!"
Setelah itu, dia mengirim ciuman virtual ke layar dan langsung mematikan video call.
Di sini, aku tiba-tiba merasa gelisah.
Klien biasa, kalaupun tidak memanggil "Pak Fajar", seharusnya memanggil nama saja, kan?
Namun, kenapa wanita itu memanggilnya "Kak Felix"?
Mungkin saja... asisten dari pihak klien atau semacamnya. Zaman sekarang kan sudah biasa memanggil pria dengan sebutan "kakak" atau "abang" untuk mengakrabkan diri?
Meski begitu, kecurigaan itu seperti benih yang telah jatuh dan tertanam di dalam hatiku.
Makan malam terasa hambar. Saat membersihkan diri, aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa mungkin ini hanya karena hormon kehamilan yang membuatku jadi paranoid. Felix Fajar begitu mencintaiku, begitu lembut dan perhatian, rasanya tidak mungkin dia macam-macam di luar sana.
Walaupun aku terus berkata begitu pada diriku sendiri, tidurku malam itu tetap tidak nyenyak.
Di tengah kantuk, samar-samar aku mendengar ponselku berdering.
Tanpa sadar aku mengangkatnya, mengira itu Felix Fajar yang menelepon minta dijemput.
"Halo?"
Aku menyapa, tetapi tidak ada jawaban dari seberang. Hanya terdengar desahan-desahan mesra yang saling bersahutan.
Aku tertegun, jantungku terasa sesak.
Sambil memeluk selimut, aku duduk dan menyalakan lampu. "Halo, bicaralah! Siapa kamu sebenarnya?"
Jantungku serasa melayang di udara. Rasa cemas yang mencekam terasa seperti tangan besar yang mencekik leherku, membuatku sulit bernapas.
Suara desahan di telepon masih berlanjut, tetapi kemudian terdengar suara wanita lain yang begitu genit dan menggoda.
"Setiap kali ketemu, kamu kayak orang kelaparan, maunya nelan aku hidup-hidup. Luna Laura itu gimana sih jadi istri, kok bisa bikin kamu nggak pernah puas begini!"
Luna Laura. Namaku.
Mendengar itu, napasku tertahan. Tanpa sadar aku menahan napas.
Lalu, aku mendengar suara yang sangat kukenal, tetapi dengan nada jijik yang belum pernah kudengar sebelumnya.
"Ngapain sih sebut-sebut perempuan gendut jelek itu di saat begini? Bikin selera hilang aja!"
'DUARR!'
Rasanya seperti disambar petir. Kepalaku berdengung hebat.
Di trimester akhir kehamilan, nafsu makanku memang meningkat drastis, berat badanku naik lebih dari lima belas kilogram. Tubuhku yang dulu langsing berbentuk S dengan berat 45 kilogram, kini berubah menjadi gemuk dengan berat 60 kilogram. Wajahku yang tadinya tirus pun jadi bengkak seperti bakpao, berminyak, dan muncul banyak flek kehamilan.
Sering kali saat bercermin, aku sendiri jijik melihat penampilanku sekarang.
Aku juga sering cemas dan tidak bisa tidur karenanya. Aku berulang kali bertanya pada Felix Fajar, apakah dia jijik melihatku yang sekarang.
Namun, dia selalu memelukku dan membujukku dengan nada paling lembut dan sabar, "Sayang, kamu ngomong apa, sih? Apa aku tipe orang yang nggak tahu terima kasih?! Kamu jadi begini kan karena mengandung anak kita. Aku makin cinta sama kamu, mana mungkin aku jijik?"
Saat itu, mendengar kata-katanya, aku begitu terharu. Aku merasa telah menemukan pria terbaik di dunia.
Akan tetapi sekarang, aku merasa seolah-olah seluruh tubuhku direndam dalam air es. Rasa dingin meresap ke tulang-tulangku, seakan ingin membekukanku.
Wanita itu tertawa genit dengan suara bergetar. "Kalau kamu jijik sama dia, kenapa nggak kamu ceraikan saja? Setiap kali mau menemuiku, selalu pakai alasan klien. Klien mana yang rela kamu 'kerjain' seenaknya begini?"
"Sayangku, aku kan nggak punya pilihan lain." Suara Felix Fajar terdengar pasrah. "Dia lagi hamil sekarang, aku mau cerai pun nggak bisa. Sabar ya, sebentar lagi. Apa yang aku janjikan padamu pasti akan aku penuhi."
Wanita itu memukulnya pelan. "Bisa aja kamu ngomong manis buat bujuk aku. Kalau kamu memang jijik sama dia, kenapa kamu sampai bikin dia hamil?"
Felix Fajar tertawa. "Kayaknya aku kurang keras, ya, sampai kamu masih sempat mikirin hal-hal kayak gitu!"
Setelah itu, terdengar suara hentakan kuat beberapa kali, diiringi bunyi plak-plak yang tak henti-hentinya, membuatku nyaris muntah.
Wanita itu terhentak hingga suaranya pecah, tidak bisa lagi bicara. Yang tersisa hanyalah suara pergulatan tubuh mereka.
Aku tidak tahan lagi mendengarnya dan langsung mematikan telepon.
Kamar tidur ini begitu sunyi, sunyi sampai hanya terdengar deru napasku yang tak percaya.
Aku menggenggam ponselku erat-erat, masih linglung.
Aku tidak percaya, Felix Fajar yang begitu mencintaiku, ternyata benar-benar mengkhianatiku.
Aku dan Felix Fajar adalah teman seangkatan di universitas. Saat ospek, tim putra dan putri ditempatkan di kompi yang berbeda untuk latihan. Namun, sebuah pertandingan persahabatan antar kompi mempertemukan kami.
Saat itu, aku dan dia dijadwalkan untuk bertanding. Begitu melihatku, wajahnya langsung memerah.
Seharusnya dia adalah anggota teladan di kompinya, tetapi dia malah sengaja mengalah dalam dua ronde.
Seluruh anggota dari kedua kompi bersorak-sorai. Aku melihat pemuda berseragam loreng yang gagah dan tampan itu berdiri di bawah terik matahari, wajahnya semerah tomat di musim gugur, begitu malu sampai tidak berani menatapku langsung.
Momen itu, setiap kali aku mengingatnya, jantungku selalu berdebar kencang seperti anak rusa!
Setelah itu, seperti yang kuduga, dia menyatakan cinta padaku, dan aku menerimanya. Kami pun resmi berpacaran.
Di hari wisuda, dia mewakili mahasiswa berprestasi untuk berpidato di atas panggung, tetapi di tengah pidatonya, dia langsung melamarku.
Dia bilang aku adalah cinta pertamanya. Sejak pertama kali melihatku, dia merasa bahwa aku adalah takdirnya.
Dia bilang semua usahanya adalah untuk memberiku kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Dia bilang aku adalah tujuan hidupnya, harta karun terbesarnya, karena itu dia selalu memanggilku "Sayang".
Hari itu dia bicara banyak sekali. Banyak teman di aula wisuda yang terharu sampai menangis.
Semua orang bersorak menyuruhku untuk menikah dengannya, bahkan banyak dosen yang merestui hubungan kami.
Pria yang dulu begitu mencintaiku, yang menempatkanku di puncak hatinya, bagaimana bisa cintanya hilang begitu saja?!
Sambil menarik napas dalam-dalam, aku memutuskan untuk mengkonfrontasi Felix Fajar.
Aku langsung meneleponnya.
Panggilan pertama tidak diangkat, yang kedua ditolak. Panggilan ketiga berdering hingga hampir putus, baru kemudian diangkat.
Suara pria itu terdengar sangat pelan, seolah sedang menutupi mikrofon dan berbisik, "Kenapa, Sayang? Kok selarut ini belum tidur?"
"Kamu di mana?" Aku tidak langsung menuduhnya.
Felix Fajar menjawab, "Masih ada acara sama klien, kayaknya bakal selesai larut malam. Pengen banget langsung pulang peluk kamu, Sayang, tapi nggak bisa. Demi masa depan kita dan anak kita, terpaksa deh Sayang tidur sendirian malam ini."
"Kamu beneran lagi ada acara?" Akhirnya aku tidak tahan lagi, suaraku terdengar dingin.
Menghadapi tuduhanku, Felix Fajar tidak marah. Dia membujukku dengan sabar, "Sayang, apa si kecil rewel lagi? Jangan marah ya, nanti kalau dia sudah lahir, aku pasti bantu jewer pantatnya. Jangan mikir yang aneh-aneh, ya. Cepat tidur. Aku harus lanjut kerja nih, love you ya!"
Setelah berkata begitu, dia langsung menutup telepon.
Dia menampilkan citra pria baik yang pekerja keras, membuat siapa pun sulit untuk mencurigainya.
Jika bukan karena aku baru saja mendengar percakapannya dengan wanita itu, aku pasti akan tertipu lagi olehnya.
Aku berniat meneleponnya lagi untuk mengujinya, tetapi sebelum sempat menekan nomornya, sebuah video masuk ke ponselku.
Video itu dikirim dari ponsel Felix Fajar. Awalnya kukira dia ingin membuktikan bahwa dia memang sedang bersama klien.
Namun, begitu kubuka, pemandangan pertama adalah pakaian yang berserakan di lantai.
Kemeja putih pria dan setelan lingerie merah milik wanita saling bertumpuk. Kancing manset berbentuk berlian dengan desain unik di ujung lengan kemeja itu memantulkan cahaya berkilauan di bawah lampu oranye yang hangat.
Kancing manset itu ... adalah hadiah yang kupilih dengan susah payah untuknya di hari kami mendaftarkan pernikahan!
Aku tidak mungkin salah mengenalinya!
Jadi, Felix Fajar benar-benar selingkuh
Bab Terakhir
#100 Bab [100]
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#99 Bab [99]
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#98 Bab [98]
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#97 Bab [97]
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#96 Bab [96]
Terakhir Diperbarui: 4/26/2026#95 Bab [95]
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#94 Bab [94]
Terakhir Diperbarui: 4/28/2026#93 Bab [93]
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#92 Bab [92]
Terakhir Diperbarui: 4/26/2026#91 Bab [91]
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026
Anda Mungkin Suka 😍
KEHAMILAN MANTAN ISTRI MILYARDER
Beberapa bulan kemudian Miselia mendapati dirinya hamil. Tiba-tiba Evan kembali datang dan mendeklarasikan jika Miselia adalah miliknya. Tetapi, Miselia yang kini menjadi ahli waris menolak kedatangan Evan, sang mantan suami.
Akankah CEO yang penuh teka-teki itu memenangkan cintanya kembali atau kebencian akan menang pada akhirnya?
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Ayah Sahabat Terbaikku
Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.
Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.
Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?
Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
7 Malam dengan Tuan Black
"Apa yang kamu lakukan?" Dakota mencengkeram pergelangan tanganku sebelum mereka menyentuh tubuhnya.
"Menyentuhmu." Bisikan keluar dari bibirku dan aku melihat matanya menyipit padaku seolah aku telah menghinanya.
"Emara. Kamu tidak akan menyentuhku. Hari ini atau kapan pun."
Jari-jarinya yang kuat meraih tanganku dan menempatkannya dengan tegas di atas kepalaku.
"Aku di sini bukan untuk bercinta denganmu. Kita hanya akan bercinta."
Peringatan: Buku Dewasa 🔞
. . ......................................................................................................
Dakota Black adalah pria yang diselimuti karisma dan kekuasaan.
Tapi aku membuatnya menjadi monster.
Tiga tahun lalu, aku mengirimnya ke penjara. Secara tidak sengaja.
Dan sekarang dia kembali untuk membalas dendam padaku.
"Tujuh malam." Katanya. "Aku menghabiskan tujuh malam di penjara busuk itu. Aku memberimu tujuh malam untuk tinggal bersamaku. Tidur denganku. Dan aku akan membebaskanmu dari dosamu."
Dia berjanji untuk menghancurkan hidupku demi pemandangan yang bagus jika aku tidak mengikuti perintahnya.
Pelacur pribadinya, begitu dia memanggilku.
🔻KONTEN DEWASA🔻
Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Kecintaan Satu Malam
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Perangkap Ace
Hingga tujuh tahun kemudian, dia harus kembali ke kampung halamannya setelah menyelesaikan kuliahnya. Tempat di mana sekarang tinggal seorang miliarder berhati dingin, yang dulu hatinya yang mati pernah berdetak untuknya.
Terluka oleh masa lalunya, Achilles Valencian telah berubah menjadi pria yang ditakuti semua orang. Kehidupan yang membakar telah memenuhi hatinya dengan kegelapan tanpa dasar. Dan satu-satunya cahaya yang membuatnya tetap waras adalah Rosebud-nya. Seorang gadis dengan bintik-bintik dan mata pirus yang dia kagumi sepanjang hidupnya. Adik sahabatnya.
Setelah bertahun-tahun berjarak, ketika saatnya akhirnya tiba untuk menangkap cahayanya ke dalam wilayahnya, Achilles Valencian akan memainkan permainannya. Permainan untuk mengklaim apa yang menjadi miliknya.
Apakah Emerald akan mampu membedakan api cinta dan hasrat, serta pesona gelombang yang pernah membanjirinya untuk menjaga hatinya tetap aman? Atau dia akan membiarkan iblis itu memikatnya ke dalam perangkapnya? Karena tidak ada yang pernah bisa lolos dari permainannya. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan permainan ini disebut...
Perangkap Ace.
Pengantin Mafia-Nya
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.
Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.
Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.
Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.
Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.
Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.
Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
Boneka Iblis
"Rileks, ya." Aku mencium bokong kirinya dan memutar jariku di dalamnya, lalu mendorongnya dengan keras.
"Ahh!"
Dia mengeluarkan erangan panas saat aku menyentuh titik sensitifnya, dan aku mendekati payudara kanannya, menandainya dengan gigitan dan hisapan. Aku ingin semua orang tahu besok bahwa dia sekarang punya seorang pria, pria yang akan menjadi satu-satunya pemiliknya. Setiap gerakannya akan kuketahui, hanya aku yang bisa memilikinya. Aku akan membunuh siapa pun yang berani mendekati boneka kecilku yang cantik ini.
Hidup Aurelia berubah drastis ketika dia dituduh salah membawa ganja di dalam ranselnya, dia dikirim ke Penjara Horizon yang terkenal, yang dikenal sebagai neraka di bumi. Di lingkungan di mana hukum dan ketertiban tampak seperti ilusi belaka, Aurelia mendapati dirinya dikelilingi oleh penjahat kejam dan bayangan menyeramkan yang mengintai di setiap sudut penjara.
Putus asa untuk bertahan hidup dan melarikan diri dari mimpi buruk ini, Aurelia menarik perhatian Iblis yang ditakuti, pemimpin tertinggi penjara itu. Dengan aura kekuasaan dan dominasi mutlaknya, Iblis melihatnya sebagai mangsa yang menggoda, bertekad untuk memilikinya sebagai miliknya. Saat dia berjuang untuk bertahan hidup di lingkungan di mana kekerasan merajalela, dia mendapati dirinya terlibat dalam permainan kucing dan tikus yang berbahaya dengan Iblis.
Di antara kegelapan penjara dan bayangan koridor, Aurelia berjuang untuk menjaga kemanusiaannya tetap utuh, bahkan saat dia mencoba mengubahnya menjadi boneka patuh. Di dunia di mana garis antara kebaikan dan kejahatan kabur, dia harus menemukan cara untuk menolak godaannya sebelum terlambat.
"Boneka Iblis" adalah kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan penebusan di tempat di mana harapan adalah kemewahan langka dan bertahan hidup adalah perjuangan sehari-hari.
Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO
Putri Sang Kesatria
Saat ia berusaha mempertahankan hubungan mereka, pria itu membalasnya dengan tuduhan pedas — menyebutnya sebagai pencari untung yang tak peduli pada tanggung jawab dan kehormatan yang lebih besar.
Kini, tekadnya bulat. Dengan pedang terhunus dan hati yang teguh, ia menaiki kudanya dan pergi meninggalkan segalanya.
Sebagai putri seorang legenda, ia akan membuktikan pada dunia: seorang perempuan pun mampu memikul tanggung jawab keluarganya, dan menjadi seorang kesatria sejati — sekaligus pemimpin yang tangguh.
PUTRI SANG KESATRIA
Mantan Istri yang Tak Terlupakan
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"












