Bab [1] Kita Putus
"Nona Wijaya, hasil pemeriksaan Anda sudah keluar. Kondisinya memburuk. Seperti yang saya katakan sebelumnya, obat-obatan saja tidak akan cukup. Sel kankernya terus menyebar. Jika Anda dirawat inap sekarang, mungkin masih ada harapan untuk sembuh."
"Dokter, saya ingin tanya. Kalau saya tidak menjalani kemoterapi, berapa bulan lagi sisa waktu saya?"
Dokter itu terdiam sejenak, suaranya memberat. "Kurang dari tiga bulan."
"Baik, saya mengerti. Terima kasih, Dok."
Sambungan telepon terputus. Sari Wijaya menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Apakah benar dia hanya punya waktu tiga bulan untuk menemaninya?
Belum sempat ia menata kembali pikirannya yang kacau, suara percakapan dari dalam ruang VIP bar itu menyentak kesadarannya.
"Mad, si Tania kan sebentar lagi balik ke Jakarta. Kenapa lo belum putusin cewek itu... siapa namanya? Sari Wijaya?"
"Sebentar lagi."
Di dalam ruangan, jawaban Ahmad Sentosa terdengar begitu acuh tak acuh. Jari-jarinya yang lentik menjepit sebatang rokok, keningnya sedikit berkerut, seolah sedang memikirkan hal lain yang jauh lebih penting.
Berdiri mematung di luar pintu, Sari Wijaya mendengar setiap kata dengan jelas. Tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih, matanya meredup, diselimuti kabut kepedihan.
Lima tahun ia menjadi kekasih gelap Ahmad Sentosa, ia sudah menduga hari ini akan tiba. Namun, ia tak pernah menyangka alasannya adalah karena wanita lain.
"Ngapain bengong di situ? Cepat masuk, antarkan minumannya!" Manajer bar mendelik ke arahnya, wajahnya penuh kekesalan.
Sari Wijaya mengangguk pelan, menundukkan kepalanya serendah mungkin. Namun begitu ia melangkah masuk, sebuah tatapan tajam langsung menusuk ke arahnya. Tanpa perlu mendongak pun, ia tahu milik siapa tatapan itu.
Baru lewat tengah malam ketika Sari Wijaya menyeret tubuhnya yang lelah kembali ke apartemen. Di ruang tamu yang gelap, titik merah dari ujung rokok menyala redup. Aroma tembakau yang pahit dan menyengat langsung menyapa indra penciumannya, membuatnya mengernyit.
Sari Wijaya pernah bilang dia benci bau rokok. Tapi bagi Ahmad Sentosa, perasaan Sari tidak pernah masuk dalam pertimbangannya.
"Jangan nyalakan lampu. Sini." Suara pria itu terdengar jernih namun sedingin es, membuat hati Sari bergetar.
Berbekal cahaya bulan yang samar menembus jendela, Sari Wijaya berjalan mendekat. Belum sempat ia berdiri tegak, pria itu sudah menariknya ke dalam pelukan, mencium bibirnya tanpa permisi, menuntut dan mendominasi. Tangan kekar itu menyusup ke balik punggungnya, membuat pakaiannya meluruh ke lantai. Suasana kamar seketika berubah panas.
Hal semacam ini, selalu bergantung pada suasana hati Ahmad Sentosa.
Ciumannya terasa membakar, namun saat pandangan mereka bertemu, Sari Wijaya hanya melihat sepasang mata yang dingin dan kosong.
Ketika Sari terbangun kembali, Ahmad Sentosa sudah berpakaian rapi. Setelan jas hitam pekat membalut tubuhnya yang tegap, menonjolkan fitur wajahnya yang nyaris sempurna—hidung mancung dan bibir tipis yang menyiratkan ketegasan. Namun, aura yang memancar darinya selalu terasa jauh dan tak tersentuh. Melihat Sari membuka mata, ia hanya melirik sekilas dengan tatapan datar.
"Mulai besok aku nggak akan ke sini lagi. Kamu juga berhenti kerja di bar itu."
Biasanya, Sari Wijaya akan menuruti segala perintah Ahmad Sentosa tanpa bantahan. Tapi kali ini, ada rasa tidak rela yang menyeruak di dadanya.
"Kenapa?"
Gerakan tangan Ahmad Sentosa terhenti. Ia menoleh, menatap Sari dengan sorot mata yang semakin dingin.
"Uang yang aku kasih, masih kurang?"
Sari Wijaya tersenyum getir. Jemarinya gemetar, berusaha menyembunyikan rasa perih yang mengiris hati.
Ternyata di mata pria itu, segala pengabdiannya selama ini hanyalah demi uang.
"Tania itu siapa?"
Hampir seketika, Ahmad Sentosa mencengkeram dagu Sari, memaksanya mendongak. Matanya menyipit tajam, penuh intimidasi dan kecurigaan.
"Kamu nguping?"
Kuku Sari menancap ke telapak tangannya sendiri. Ia memaksakan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit. "Kebetulan dengar saja. Sekadar penasaran, memangnya nggak boleh?"
Hanya seseorang yang sangat istimewa yang bisa memancing reaksi sekeras ini dari seorang Ahmad Sentosa.
Mendengar itu, Ahmad menatapnya tajam selama beberapa detik sebelum melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Tatapannya kembali datar, tanpa emosi. "Bukan urusanmu. Jangan ikut campur, jangan banyak tanya."
Sari Wijaya merekam semua reaksi itu dalam ingatannya. Rupanya, hanya wanita bernama Tania yang mampu mengendalikan emosi pria ini.
Lima tahun. Ia pikir kebersamaan selama lima tahun setidaknya akan menyisakan sedikit ruang di hati Ahmad Sentosa. Namun kenyataan menamparnya keras; itu semua hanya angan-angan kosongnya.
Seseorang dari masa lalu telah kembali, dan Sari tahu ia harus tahu diri untuk minggir.
"Tenang saja, aku akan transfer pesangon dalam jumlah besar. Cukup untuk membiayai hidupmu sampai tua."
Rasanya ada batu besar yang menyumbat tenggorokan Sari. Ia menunduk, suaranya terdengar serak. "Aku nggak butuh."
Tatapan Ahmad Sentosa meredup, ia menghela napas pelan, seolah menghadapi anak kecil yang rewel. "Sari, jangan cari masalah."
Sari Wijaya. Jangan ikut campur, jangan banyak tanya, jangan cari masalah...
Dalam hubungan mereka, Sari Wijaya selamanya berada di posisi yang lemah, pihak yang tak punya suara.
Hidup yang selalu diatur orang lain... lima tahun ini rasanya sudah cukup.
"Ahmad, bisa kasih aku waktu tiga bulan lagi?"
Kalimat yang ia pendam itu akhirnya terucap. Tubuh Sari terasa lemas, namun ia tetap berusaha mempertahankan senyum di wajahnya.
Tiga bulan terakhir. Ia hanya ingin Ahmad Sentosa ada di sisinya, membiarkannya bermimpi indah untuk terakhir kalinya, meskipun itu semua palsu.
"Alasannya?"
Cahaya lampu jalan yang menembus jendela jatuh menimpa sosok Ahmad Sentosa, membuatnya terlihat semakin dingin dan tak terjangkau. Matanya menyiratkan ketidakpedulian, sama sekali tak tersentuh oleh permohonan Sari.
"Kita kan tanda tangan kontrak untuk lima tahun? Masih ada sisa tiga bulan lagi sebelum kontraknya habis. Lagipula, tinggal sebentar lagi, kan?" Sari berusaha terdengar santai, mati-matian menjaga senyumnya agar tidak retak.
"Alasanmu nggak masuk akal. Kalau soal uang, kamu tenang saja. Kamu sudah ikut aku lima tahun, aku pasti tidak akan membiarkanmu kekurangan." Ahmad Sentosa merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Kebiasaan lamanya.
Baginya, sikap Sari Wijaya ini hanyalah rengekan manja biasa. Sesekali mungkin terasa seperti bumbu hubungan, tapi jika terlalu sering, ia tidak punya toleransi untuk itu.
Sari Wijaya meremas tangannya sendiri, menahan gejolak emosi yang siap meledak. Harga dirinya memaksanya untuk tetap tenang. Ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, menampilkan senyum yang terlihat begitu tenang.
"Sepertinya Tania itu benar-benar penting buat kamu ya. Sebenarnya, aku juga sudah lama ingin menikah. Karena kita sudah putus, pas banget, aku jadi bisa mulai cari pacar dan menjalin hubungan yang serius."
Ahmad Sentosa memijat pangkal hidungnya. Sari tahu, itu gerakan kecil yang selalu ia lakukan saat sedang kesal.
Tapi, apakah dia kesal karena Sari menyebut nama Tania, atau karena Sari bilang ingin mencari pacar baru?
"Terserah."
Tanpa membuang waktu lagi, pria itu menyambar jam tangan mewah di atas meja, berbalik, dan melangkah pergi. Langkah kakinya tegas, tanpa sedikitpun keraguan atau keinginan untuk menoleh ke belakang.
Padahal, dengan kekuasaan Ahmad Sentosa, mudah saja baginya untuk menyelidiki dan mengetahui bahwa tidak ada laki-laki lain. Bahwa itu semua bohong. Sayangnya, orang yang bisa membuatnya peduli sampai sejauh itu, bukanlah Sari Wijaya.
Sari Wijaya menatap punggung tegap itu menjauh hingga menghilang di balik pintu. Rupanya, dia benar-benar sudah muak.
"Nona Wijaya, untuk apa mempersulit diri sendiri seperti ini?"
Yang masuk ke ruangan adalah asisten pribadi Ahmad Sentosa, Surya Fauzan.
Di tangannya ada segelas air dan satu butir pil kontrasepsi. Ini adalah prosedur wajib setiap kali ia dan Ahmad Sentosa menghabiskan malam bersama.
Tanpa ragu, Sari Wijaya menelan pil itu. Ia menepis cek yang disodorkan Surya Fauzan, lalu mengeluarkan kartu hitam dari saku mantelnya dan meletakkannya di atas meja.
"Saya hanya mengambil apa yang menjadi hak saya. Sisanya, tolong kembalikan ke dia."
"Nona Wijaya, saya tahu ucapan Nona tadi cuma alasan. Uang ini sebaiknya Nona..."
"Sudah, nggak perlu dibahas lagi." Sari Wijaya melambaikan tangan, matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
Melihat itu, Surya Fauzan hanya bisa menghela napas dan undur diri.
Kini ruangan itu kembali sunyi. Sari Wijaya memeluk tubuhnya sendiri erat-erat, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang nyaris tak ada.
Bahkan waktu tiga bulan saja dia tidak sudi memberikannya. Benar-benar hati yang kejam.
