
Nona Mellon Sudah Bersuami, Bapak Direktur
Maya Sujiman · Sedang Diperbarui · 118.8k Kata
Pendahuluan
Tapi Tuhan memainkan lelucon kejam—aku didiagnosis gagal jantung dan hanya punya sisa bulanan untuk hidup.
Saat cinta sejatinya kembali, aku dengan mudah dibuang.
Tanpa ribut-ribut atau drama, aku pergi meninggalkannya dengan diam-diam, bahkan tak mengambil sepeser pun darinya...
Bab 1
"Nona Wijaya, hasil pemeriksaan Anda sudah keluar. Kondisinya memburuk. Seperti yang saya katakan sebelumnya, obat-obatan saja tidak akan cukup. Sel kankernya terus menyebar. Jika Anda dirawat inap sekarang, mungkin masih ada harapan untuk sembuh."
"Dokter, saya ingin tanya. Kalau saya tidak menjalani kemoterapi, berapa bulan lagi sisa waktu saya?"
Dokter itu terdiam sejenak, suaranya memberat. "Kurang dari tiga bulan."
"Baik, saya mengerti. Terima kasih, Dok."
Sambungan telepon terputus. Sari Wijaya menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Apakah benar dia hanya punya waktu tiga bulan untuk menemaninya?
Belum sempat dia menata kembali pikirannya yang kacau, suara percakapan dari dalam ruang VIP bar itu menyentak kesadarannya.
"Mad, si Tania kan sebentar lagi balik ke Jakarta. Kenapa lo belum putusin cewek itu ... siapa namanya? Sari Wijaya?"
"Sebentar lagi."
Di dalam ruangan, jawaban Ahmad Sentosa terdengar begitu acuh tak acuh. Jari-jarinya yang lentik menjepit sebatang rokok, keningnya sedikit berkerut, seolah sedang memikirkan hal lain yang jauh lebih penting.
Berdiri mematung di luar pintu, Sari Wijaya mendengar setiap kata dengan jelas. Tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya menjadi pucat, matanya meredup karena diselimuti kabut kepedihan.
Lima tahun dia menjadi kekasih gelap Ahmad Sentosa, dia sudah menduga hari ini akan tiba. Namun, dia tidak pernah menyangka alasannya adalah karena wanita lain.
"Ngapain bengong di situ? Cepat masuk, antarkan minumannya!" Manajer bar mendelik ke arahnya, wajahnya penuh kekesalan.
Sari Wijaya mengangguk pelan, menundukkan kepalanya serendah mungkin. Namun begitu dia melangkah masuk, sebuah tatapan tajam langsung menusuk ke arahnya. Tanpa perlu mendongak pun, dia tahu milik siapa tatapan itu.
Baru lewat tengah malam ketika Sari Wijaya menyeret tubuhnya yang lelah kembali ke apartemen. Di ruang tamu yang gelap, titik merah dari ujung rokok menyala redup. Aroma tembakau yang pahit dan menyengat langsung menyapa indra penciumannya, membuatnya mengerutkan wajahnya.
Sari Wijaya pernah bilang dia benci bau rokok. Namun, bagi Ahmad Sentosa, perasaan Sari tidak pernah masuk dalam pertimbangannya.
"Jangan nyalakan lampu. Sini." Suara pria itu terdengar jernih namun sedingin es, membuat hati Sari bergetar.
Berbekal cahaya bulan yang samar menembus jendela, Sari Wijaya berjalan mendekat. Belum sempat dia berdiri tegak, pria itu sudah menariknya ke dalam pelukan, mencium bibirnya tanpa permisi, menuntut dan mendominasi. Tangan kekar itu menyusup ke balik punggungnya, membuat pakaiannya meluruh ke lantai. Suasana kamar seketika berubah panas.
Hal semacam ini, selalu bergantung pada suasana hati Ahmad Sentosa.
Ciumannya terasa membakar, namun saat pandangan mereka bertemu, Sari Wijaya hanya melihat sepasang mata yang dingin dan kosong.
Ketika Sari terbangun kembali, Ahmad Sentosa sudah berpakaian rapi. Setelan jas hitam pekat membalut tubuhnya yang tegap, menonjolkan fitur wajahnya yang nyaris sempurna—hidung mancung dan bibir tipis yang menyiratkan ketegasan. Namun, aura yang memancar darinya selalu terasa jauh dan tak tersentuh. Melihat Sari membuka mata, dia hanya melirik sekilas dengan tatapan datar.
"Mulai besok aku tidak akan ke sini lagi. Kamu juga berhenti kerja di bar itu."
Biasanya, Sari Wijaya akan menuruti segala perintah Ahmad Sentosa tanpa bantahan. Namun, kali ini ada rasa tidak rela yang menyeruak di dadanya.
"Kenapa?"
Gerakan tangan Ahmad Sentosa terhenti. Dia menoleh, menatap Sari dengan sorot mata yang semakin dingin.
"Uang yang aku kasih, masih kurang?"
Sari Wijaya tersenyum getir. Jemarinya gemetar, berusaha menyembunyikan rasa perih yang mengiris hati.
Ternyata di mata pria itu, segala pengabdiannya selama ini hanyalah demi uang.
"Tania itu siapa?"
Hampir seketika, Ahmad Sentosa mencengkeram dagu Sari, memaksanya mendongak. Matanya menyipit tajam, penuh intimidasi dan kecurigaan.
"Kamu nguping?"
Kuku Sari menancap ke telapak tangannya sendiri. Dia memaksakan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit. "Kebetulan dengar saja. Sekadar penasaran, memangnya nggak boleh?"
Hanya seseorang yang sangat istimewa yang bisa memancing reaksi sekeras ini dari seorang Ahmad Sentosa.
Mendengar itu, Ahmad menatapnya tajam selama beberapa detik sebelum melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Tatapannya kembali datar, tanpa emosi. "Bukan urusanmu. Jangan ikut campur, jangan banyak tanya."
Sari Wijaya merekam semua reaksi itu dalam ingatannya. Rupanya, hanya wanita bernama Tania yang mampu mengendalikan emosi pria ini.
Lima tahun. Dia pikir kebersamaan selama lima tahun setidaknya akan menyisakan sedikit ruang di hati Ahmad Sentosa. Namun kenyataan menamparnya keras, itu semua hanya angan-angan kosongnya.
Seseorang dari masa lalu telah kembali dan Sari tahu dia harus tahu diri untuk minggir.
"Tenang saja, aku akan transfer pesangon dalam jumlah besar. Cukup untuk membiayai hidupmu sampai tua."
Rasanya ada batu besar yang menyumbat tenggorokan Sari. Dia menunduk, suaranya terdengar serak. "Aku nggak butuh."
Tatapan Ahmad Sentosa meredup, dia menghela napas pelan, seolah menghadapi anak kecil yang rewel. "Sari, jangan cari masalah."
Sari Wijaya. Jangan ikut campur, jangan banyak tanya dan jangan cari masalah.
Dalam hubungan mereka, Sari Wijaya selamanya berada di posisi yang lemah, pihak yang tidak punya suara.
Hidup yang selalu diatur orang lain ... lima tahun ini rasanya sudah cukup.
"Ahmad, bisa kasih aku waktu tiga bulan lagi?"
Kalimat yang dia pendam itu akhirnya terucap. Tubuh Sari terasa lemas, namun dia tetap berusaha mempertahankan senyum di wajahnya.
Tiga bulan terakhir. Dia hanya ingin Ahmad Sentosa ada di sisinya, membiarkannya bermimpi indah untuk terakhir kalinya, meskipun itu semua palsu.
"Alasannya?"
Cahaya lampu jalan yang menembus jendela jatuh menimpa sosok Ahmad Sentosa, membuatnya terlihat semakin dingin dan tak terjangkau. Matanya menyiratkan ketidakpedulian, sama sekali tak tersentuh oleh permohonan Sari.
"Kita kan tanda tangan kontrak untuk lima tahun? Masih ada sisa tiga bulan lagi sebelum kontraknya habis. Lagi pula, tinggal sebentar lagi, kan?" Sari berusaha terdengar santai, mati-matian menjaga senyumnya agar tidak retak.
"Alasanmu nggak masuk akal. Kalau soal uang, kamu tenang saja. Kamu sudah ikut aku lima tahun, aku pasti tidak akan membiarkanmu kekurangan." Ahmad Sentosa merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Kebiasaan lamanya.
Baginya, sikap Sari Wijaya ini hanyalah rengekan manja biasa. Sesekali mungkin terasa seperti bumbu hubungan, tetapi jika terlalu sering, dia tidak punya toleransi untuk itu.
Sari Wijaya meremas tangannya sendiri, menahan gejolak emosi yang siap meledak. Harga dirinya memaksanya untuk tetap tenang. Dia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, menampilkan senyum yang terlihat begitu tenang.
"Sepertinya Tania itu benar-benar penting buat kamu ya. Sebenarnya, aku juga sudah lama ingin menikah. Karena kita sudah putus, pas banget, aku jadi bisa mulai cari pacar dan menjalin hubungan yang serius."
Ahmad Sentosa memijat pangkal hidungnya. Sari tahu, itu gerakan kecil yang selalu dia lakukan saat sedang kesal.
Namun, apakah dia kesal karena Sari menyebut nama Tania, atau karena Sari bilang ingin mencari pacar baru?
"Terserah."
Tanpa membuang waktu lagi, pria itu menyambar jam tangan mewah di atas meja, berbalik dan melangkah pergi. Langkah kakinya tegas, tanpa sedikitpun keraguan atau keinginan untuk menoleh ke belakang.
Padahal, dengan kekuasaan Ahmad Sentosa, mudah saja baginya untuk menyelidiki dan mengetahui bahwa tidak ada laki-laki lain. Bahwa itu semua bohong. Sayangnya, orang yang bisa membuatnya peduli sampai sejauh itu, bukanlah Sari Wijaya.
Sari Wijaya menatap punggung tegap itu menjauh hingga menghilang di balik pintu. Rupanya, dia benar-benar sudah muak.
"Nona Wijaya, untuk apa mempersulit diri sendiri seperti ini?"
Yang masuk ke ruangan adalah asisten pribadi Ahmad Sentosa, Surya Fauzan.
Di tangannya ada segelas air dan satu butir pil kontrasepsi. Ini adalah prosedur wajib setiap kali dia dan Ahmad Sentosa menghabiskan malam bersama.
Tanpa ragu, Sari Wijaya menelan pil itu. Dia menepis cek yang disodorkan Surya Fauzan, lalu mengeluarkan kartu hitam dari saku mantelnya dan meletakkannya di atas meja.
"Saya hanya mengambil apa yang menjadi hak saya. Sisanya, tolong kembalikan ke dia."
"Nona Wijaya, saya tahu ucapan Nona tadi cuma alasan. Uang ini sebaiknya Nona ...."
"Sudah, nggak perlu dibahas lagi." Sari Wijaya melambaikan tangan, matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
Melihat itu, Surya Fauzan hanya bisa menghela napas dan undur diri.
Kini ruangan itu kembali sunyi. Sari Wijaya memeluk tubuhnya sendiri erat-erat, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang nyaris tidak ada.
Bahkan waktu tiga bulan saja dia tidak sudi memberikannya. Benar-benar hati yang kejam.
Bab Terakhir
#100 Bab [100] Jauh dari Cukup
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#99 Bab [99] Dia Lagi
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#98 Bab [98] Mengambil Kembali
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#97 Bab [97] Menginginkan Nyawa Siapa
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#96 Bab [96] Surat Wasiat
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#95 Bab [95] Dia Tidak Mau
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#94 Bab [94] Membuka Kuburan
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#93 Bab [93] Menipunya
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#92 Bab [92] Dia Meninggal
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#91 Bab [91] Menikah
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Putri Raja Judi: Kebangkitan Sang Putri
Lahir Kembali Dengan Tangan Master
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Sang Putri Hamil Kabur Usai Diceraikan
Ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dan gairah selama tiga tahun, dengan keras kepala percaya bahwa suatu hari suaminya akan melihat nilainya. Namun, yang tidak pernah dia duga adalah malah menerima surat cerai darinya.
Akhirnya, dia mengambil keputusan: dia tidak menginginkan lelaki yang tidak mencintainya. Maka, di tengah malam yang pekat, dia pergi membawa serta janin dalam kandungannya.
Lima tahun kemudian, dia telah bertransformasi total. Ia kini adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, seorang hacker tingkat atas, arsitek peraih medali emas di industri konstruksi, dan bahkan terungkap sebagai pewaris konglomerat triliunan rupiah. Semua identitas rahasianya berhasil terbongkar satu persatu.
Sampai suatu hari, seseorang membongkar fakta mengejutkan bahwa di sampingnya ada dua bocah berusia empat tahun yang wajahnya mirip sekali dengan bayi kembar naga-phoenix milik seorang CEO ternama.
Melihat sertifikat perceraian mereka, sang mantan suami tak bisa lagi duduk tenang. Dengan gegas dia memojokkan mantan istrinya, mendesaknya ke dinding, dan dengan suara bergetar penuh emosi dia bertanya, "Mantan istriku yang cantik, bukankah ini saatnya kau memberiku penjelasan?"
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Ketika Aku Mencintaimu
Bahagia. Meski terkadang, Shakila tahu untuk saat ini ia belum mendapatkan cinta.
Memperjuangkan cinta sepihaknya. Mengejar laki-laki yang telah memiliki seorang kekasih. Tapi, bukankah seseorang memiliki sebuah alasan ketika ia memutuskan untuk terus berjuang?
Shakila bukanlah seorang pelakor, namun tanpa sengaja sebuah peristiwa membuat dirinya dapat menikah dengan pria impiannya.
Tentu saja, hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan baginya. Namun, berbanding terbalik dengan Delvin Arsalan Davendra. Bos Shakila itu menganggap jika pernikahannya adalah salah. Benar-benar salah. Tetapi, untuk saat ini ia tak mungkin menceraikan Shakila dengan cepatnya.
Lantas, bagaimana dengan saat yang akan datang? Apa Delvin masih menganggap jika pernikahannya adalah kesalahan? Atau malah sebaliknya?
Flavour Its Yours
"Kak Sean, walau kau tidak mencintaiku. Tapi, aku akan tetap berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu."
-Anna-
"Kalau kau tau aku tidak mencintaimu, kenapa memilih untuk tetap menerima perjodohan ini?"
-Sean-
Putri Sang Kesatria
Saat ia berusaha mempertahankan hubungan mereka, pria itu membalasnya dengan tuduhan pedas — menyebutnya sebagai pencari untung yang tak peduli pada tanggung jawab dan kehormatan yang lebih besar.
Kini, tekadnya bulat. Dengan pedang terhunus dan hati yang teguh, ia menaiki kudanya dan pergi meninggalkan segalanya.
Sebagai putri seorang legenda, ia akan membuktikan pada dunia: seorang perempuan pun mampu memikul tanggung jawab keluarganya, dan menjadi seorang kesatria sejati — sekaligus pemimpin yang tangguh.
PUTRI SANG KESATRIA
Pelacur Kakakku
"Tolong, Jake. Sekarang. Buat aku klimaks." Aku memohon.
Payton selalu menjadi gadis baik sepanjang hidupnya. Dia hanya ingin keluar dari rumah ibu dan ayah tirinya dan menjalani hidupnya sendiri. Yang tidak dia duga adalah saudara tiri yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka dan menjadi teman sekamarnya. Memang benar dia adalah mantan Marinir dengan perut berotot, tapi dia juga seorang mekanik motor yang suka bicara kotor padanya. Kata-katanya membuat Payton bergetar dalam antisipasi, dan tangannya membuat tubuhnya berkedut dan kejang.
Bapak Forbes
Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.
"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.
Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.
Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.
Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.
Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Kesempatan Kedua Sang Miliarder
Jasmine Dupree, sahabat dan karyawan Dimitri, selalu mencintai Dimitri tanpa sepengetahuannya. Sahabat mereka, Grayson Paul dan Dimitri, tidak tahu bahwa kembalinya sahabat mereka akan mengakhiri pernikahannya. McKenzie dituduh mengkhianati Dimitri dan diusir, hanya untuk muncul kembali lima tahun kemudian sebagai dokter yang menyelamatkan nyawa sahabatnya, Grayson.
McKenzie mencoba menjauh, berjanji untuk menjauh dari Dimitri. Lima tahun berlalu dan dia masih membencinya karena mengkhianatinya, namun detail baru terungkap yang membuat Dimitri meragukan tuduhannya lima tahun lalu. Jasmine melihat kesempatan untuk mengacaukan McKenzie dan melakukannya, yang tidak diketahui Jasmine adalah bahwa Dimitri masih mencintai McKenzie dan dia masih istrinya. Dia tidak pernah menceraikannya meskipun McKenzie telah menandatangani surat cerai.
Ketika Dimitri mengetahui bahwa dia salah, dia merasa jijik dengan cara dia memperlakukannya dan mulai mencari jalan untuk kembali padanya. McKenzie Peirce di sisi lain tidak tahu bahwa dia akan diberi kesempatan kedua untuk cinta, dengan pria yang selalu dia cintai. Dengan sahabat dan keluarganya di sisinya, dia berniat untuk memenangkan kembali hati McKenzie, namun saat mereka mencoba membuat pernikahan kesempatan kedua mereka berhasil, masalah mulai muncul. Jasmine menolak untuk menyerah pada Dimitri.












