
Nona Mellon Sudah Bersuami, Bapak Direktur
Maya Sujiman · Sedang Diperbarui · 118.8k Kata
Pendahuluan
Tapi Tuhan memainkan lelucon kejam—aku didiagnosis gagal jantung dan hanya punya sisa bulanan untuk hidup.
Saat cinta sejatinya kembali, aku dengan mudah dibuang.
Tanpa ribut-ribut atau drama, aku pergi meninggalkannya dengan diam-diam, bahkan tak mengambil sepeser pun darinya...
Bab 1
"Nona Wijaya, hasil pemeriksaan Anda sudah keluar. Kondisinya memburuk. Seperti yang saya katakan sebelumnya, obat-obatan saja tidak akan cukup. Sel kankernya terus menyebar. Jika Anda dirawat inap sekarang, mungkin masih ada harapan untuk sembuh."
"Dokter, saya ingin tanya. Kalau saya tidak menjalani kemoterapi, berapa bulan lagi sisa waktu saya?"
Dokter itu terdiam sejenak, suaranya memberat. "Kurang dari tiga bulan."
"Baik, saya mengerti. Terima kasih, Dok."
Sambungan telepon terputus. Sari Wijaya menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Apakah benar dia hanya punya waktu tiga bulan untuk menemaninya?
Belum sempat dia menata kembali pikirannya yang kacau, suara percakapan dari dalam ruang VIP bar itu menyentak kesadarannya.
"Mad, si Tania kan sebentar lagi balik ke Jakarta. Kenapa lo belum putusin cewek itu ... siapa namanya? Sari Wijaya?"
"Sebentar lagi."
Di dalam ruangan, jawaban Ahmad Sentosa terdengar begitu acuh tak acuh. Jari-jarinya yang lentik menjepit sebatang rokok, keningnya sedikit berkerut, seolah sedang memikirkan hal lain yang jauh lebih penting.
Berdiri mematung di luar pintu, Sari Wijaya mendengar setiap kata dengan jelas. Tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya menjadi pucat, matanya meredup karena diselimuti kabut kepedihan.
Lima tahun dia menjadi kekasih gelap Ahmad Sentosa, dia sudah menduga hari ini akan tiba. Namun, dia tidak pernah menyangka alasannya adalah karena wanita lain.
"Ngapain bengong di situ? Cepat masuk, antarkan minumannya!" Manajer bar mendelik ke arahnya, wajahnya penuh kekesalan.
Sari Wijaya mengangguk pelan, menundukkan kepalanya serendah mungkin. Namun begitu dia melangkah masuk, sebuah tatapan tajam langsung menusuk ke arahnya. Tanpa perlu mendongak pun, dia tahu milik siapa tatapan itu.
Baru lewat tengah malam ketika Sari Wijaya menyeret tubuhnya yang lelah kembali ke apartemen. Di ruang tamu yang gelap, titik merah dari ujung rokok menyala redup. Aroma tembakau yang pahit dan menyengat langsung menyapa indra penciumannya, membuatnya mengerutkan wajahnya.
Sari Wijaya pernah bilang dia benci bau rokok. Namun, bagi Ahmad Sentosa, perasaan Sari tidak pernah masuk dalam pertimbangannya.
"Jangan nyalakan lampu. Sini." Suara pria itu terdengar jernih namun sedingin es, membuat hati Sari bergetar.
Berbekal cahaya bulan yang samar menembus jendela, Sari Wijaya berjalan mendekat. Belum sempat dia berdiri tegak, pria itu sudah menariknya ke dalam pelukan, mencium bibirnya tanpa permisi, menuntut dan mendominasi. Tangan kekar itu menyusup ke balik punggungnya, membuat pakaiannya meluruh ke lantai. Suasana kamar seketika berubah panas.
Hal semacam ini, selalu bergantung pada suasana hati Ahmad Sentosa.
Ciumannya terasa membakar, namun saat pandangan mereka bertemu, Sari Wijaya hanya melihat sepasang mata yang dingin dan kosong.
Ketika Sari terbangun kembali, Ahmad Sentosa sudah berpakaian rapi. Setelan jas hitam pekat membalut tubuhnya yang tegap, menonjolkan fitur wajahnya yang nyaris sempurna—hidung mancung dan bibir tipis yang menyiratkan ketegasan. Namun, aura yang memancar darinya selalu terasa jauh dan tak tersentuh. Melihat Sari membuka mata, dia hanya melirik sekilas dengan tatapan datar.
"Mulai besok aku tidak akan ke sini lagi. Kamu juga berhenti kerja di bar itu."
Biasanya, Sari Wijaya akan menuruti segala perintah Ahmad Sentosa tanpa bantahan. Namun, kali ini ada rasa tidak rela yang menyeruak di dadanya.
"Kenapa?"
Gerakan tangan Ahmad Sentosa terhenti. Dia menoleh, menatap Sari dengan sorot mata yang semakin dingin.
"Uang yang aku kasih, masih kurang?"
Sari Wijaya tersenyum getir. Jemarinya gemetar, berusaha menyembunyikan rasa perih yang mengiris hati.
Ternyata di mata pria itu, segala pengabdiannya selama ini hanyalah demi uang.
"Tania itu siapa?"
Hampir seketika, Ahmad Sentosa mencengkeram dagu Sari, memaksanya mendongak. Matanya menyipit tajam, penuh intimidasi dan kecurigaan.
"Kamu nguping?"
Kuku Sari menancap ke telapak tangannya sendiri. Dia memaksakan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit. "Kebetulan dengar saja. Sekadar penasaran, memangnya nggak boleh?"
Hanya seseorang yang sangat istimewa yang bisa memancing reaksi sekeras ini dari seorang Ahmad Sentosa.
Mendengar itu, Ahmad menatapnya tajam selama beberapa detik sebelum melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Tatapannya kembali datar, tanpa emosi. "Bukan urusanmu. Jangan ikut campur, jangan banyak tanya."
Sari Wijaya merekam semua reaksi itu dalam ingatannya. Rupanya, hanya wanita bernama Tania yang mampu mengendalikan emosi pria ini.
Lima tahun. Dia pikir kebersamaan selama lima tahun setidaknya akan menyisakan sedikit ruang di hati Ahmad Sentosa. Namun kenyataan menamparnya keras, itu semua hanya angan-angan kosongnya.
Seseorang dari masa lalu telah kembali dan Sari tahu dia harus tahu diri untuk minggir.
"Tenang saja, aku akan transfer pesangon dalam jumlah besar. Cukup untuk membiayai hidupmu sampai tua."
Rasanya ada batu besar yang menyumbat tenggorokan Sari. Dia menunduk, suaranya terdengar serak. "Aku nggak butuh."
Tatapan Ahmad Sentosa meredup, dia menghela napas pelan, seolah menghadapi anak kecil yang rewel. "Sari, jangan cari masalah."
Sari Wijaya. Jangan ikut campur, jangan banyak tanya dan jangan cari masalah.
Dalam hubungan mereka, Sari Wijaya selamanya berada di posisi yang lemah, pihak yang tidak punya suara.
Hidup yang selalu diatur orang lain ... lima tahun ini rasanya sudah cukup.
"Ahmad, bisa kasih aku waktu tiga bulan lagi?"
Kalimat yang dia pendam itu akhirnya terucap. Tubuh Sari terasa lemas, namun dia tetap berusaha mempertahankan senyum di wajahnya.
Tiga bulan terakhir. Dia hanya ingin Ahmad Sentosa ada di sisinya, membiarkannya bermimpi indah untuk terakhir kalinya, meskipun itu semua palsu.
"Alasannya?"
Cahaya lampu jalan yang menembus jendela jatuh menimpa sosok Ahmad Sentosa, membuatnya terlihat semakin dingin dan tak terjangkau. Matanya menyiratkan ketidakpedulian, sama sekali tak tersentuh oleh permohonan Sari.
"Kita kan tanda tangan kontrak untuk lima tahun? Masih ada sisa tiga bulan lagi sebelum kontraknya habis. Lagi pula, tinggal sebentar lagi, kan?" Sari berusaha terdengar santai, mati-matian menjaga senyumnya agar tidak retak.
"Alasanmu nggak masuk akal. Kalau soal uang, kamu tenang saja. Kamu sudah ikut aku lima tahun, aku pasti tidak akan membiarkanmu kekurangan." Ahmad Sentosa merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Kebiasaan lamanya.
Baginya, sikap Sari Wijaya ini hanyalah rengekan manja biasa. Sesekali mungkin terasa seperti bumbu hubungan, tetapi jika terlalu sering, dia tidak punya toleransi untuk itu.
Sari Wijaya meremas tangannya sendiri, menahan gejolak emosi yang siap meledak. Harga dirinya memaksanya untuk tetap tenang. Dia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, menampilkan senyum yang terlihat begitu tenang.
"Sepertinya Tania itu benar-benar penting buat kamu ya. Sebenarnya, aku juga sudah lama ingin menikah. Karena kita sudah putus, pas banget, aku jadi bisa mulai cari pacar dan menjalin hubungan yang serius."
Ahmad Sentosa memijat pangkal hidungnya. Sari tahu, itu gerakan kecil yang selalu dia lakukan saat sedang kesal.
Namun, apakah dia kesal karena Sari menyebut nama Tania, atau karena Sari bilang ingin mencari pacar baru?
"Terserah."
Tanpa membuang waktu lagi, pria itu menyambar jam tangan mewah di atas meja, berbalik dan melangkah pergi. Langkah kakinya tegas, tanpa sedikitpun keraguan atau keinginan untuk menoleh ke belakang.
Padahal, dengan kekuasaan Ahmad Sentosa, mudah saja baginya untuk menyelidiki dan mengetahui bahwa tidak ada laki-laki lain. Bahwa itu semua bohong. Sayangnya, orang yang bisa membuatnya peduli sampai sejauh itu, bukanlah Sari Wijaya.
Sari Wijaya menatap punggung tegap itu menjauh hingga menghilang di balik pintu. Rupanya, dia benar-benar sudah muak.
"Nona Wijaya, untuk apa mempersulit diri sendiri seperti ini?"
Yang masuk ke ruangan adalah asisten pribadi Ahmad Sentosa, Surya Fauzan.
Di tangannya ada segelas air dan satu butir pil kontrasepsi. Ini adalah prosedur wajib setiap kali dia dan Ahmad Sentosa menghabiskan malam bersama.
Tanpa ragu, Sari Wijaya menelan pil itu. Dia menepis cek yang disodorkan Surya Fauzan, lalu mengeluarkan kartu hitam dari saku mantelnya dan meletakkannya di atas meja.
"Saya hanya mengambil apa yang menjadi hak saya. Sisanya, tolong kembalikan ke dia."
"Nona Wijaya, saya tahu ucapan Nona tadi cuma alasan. Uang ini sebaiknya Nona ...."
"Sudah, nggak perlu dibahas lagi." Sari Wijaya melambaikan tangan, matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
Melihat itu, Surya Fauzan hanya bisa menghela napas dan undur diri.
Kini ruangan itu kembali sunyi. Sari Wijaya memeluk tubuhnya sendiri erat-erat, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang nyaris tidak ada.
Bahkan waktu tiga bulan saja dia tidak sudi memberikannya. Benar-benar hati yang kejam.
Bab Terakhir
#100 Bab [100] Jauh dari Cukup
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#99 Bab [99] Dia Lagi
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#98 Bab [98] Mengambil Kembali
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#97 Bab [97] Menginginkan Nyawa Siapa
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#96 Bab [96] Surat Wasiat
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#95 Bab [95] Dia Tidak Mau
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#94 Bab [94] Membuka Kuburan
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#93 Bab [93] Menipunya
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#92 Bab [92] Dia Meninggal
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026#91 Bab [91] Menikah
Terakhir Diperbarui: 4/16/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Istri Misterius
Setelah mereka bercerai, Evelyn muncul di hadapan Dermot sebagai Dr. Kyte.
Dermot sangat mengagumi Dr. Kyte dan jatuh cinta padanya. Dermot bahkan mulai mengejar Dr. Kyte dengan penuh semangat!
Evelyn bertanya kepada Dermot, "Kamu tahu siapa aku?"
Dengan percaya diri, Dermot menjawab, "Tentu saja. Kamu adalah Dr. Kyte, seorang dokter yang sangat terampil. Selain itu, kamu juga seorang hacker kelas atas dan pendiri merek fashion mewah!"
Evelyn mendekatkan diri ke telinga Dermot dan berbisik lembut, "Sebenarnya, aku juga mantan istrimu!"
(Saya sangat merekomendasikan sebuah buku yang sangat menarik hingga saya tidak bisa berhenti membacanya selama tiga hari tiga malam. Buku ini sangat mengasyikkan dan wajib dibaca. Judul bukunya adalah "Cerai Mudah, Rujuk Sulit". Kamu bisa menemukannya dengan mencarinya di kolom pencarian.)
Bermain Dengan Api
“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.
Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Mantan Istri yang Tak Terlupakan
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Kecintaan Satu Malam
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Kesempatan Kedua Sang Miliarder
Jasmine Dupree, sahabat dan karyawan Dimitri, selalu mencintai Dimitri tanpa sepengetahuannya. Sahabat mereka, Grayson Paul dan Dimitri, tidak tahu bahwa kembalinya sahabat mereka akan mengakhiri pernikahannya. McKenzie dituduh mengkhianati Dimitri dan diusir, hanya untuk muncul kembali lima tahun kemudian sebagai dokter yang menyelamatkan nyawa sahabatnya, Grayson.
McKenzie mencoba menjauh, berjanji untuk menjauh dari Dimitri. Lima tahun berlalu dan dia masih membencinya karena mengkhianatinya, namun detail baru terungkap yang membuat Dimitri meragukan tuduhannya lima tahun lalu. Jasmine melihat kesempatan untuk mengacaukan McKenzie dan melakukannya, yang tidak diketahui Jasmine adalah bahwa Dimitri masih mencintai McKenzie dan dia masih istrinya. Dia tidak pernah menceraikannya meskipun McKenzie telah menandatangani surat cerai.
Ketika Dimitri mengetahui bahwa dia salah, dia merasa jijik dengan cara dia memperlakukannya dan mulai mencari jalan untuk kembali padanya. McKenzie Peirce di sisi lain tidak tahu bahwa dia akan diberi kesempatan kedua untuk cinta, dengan pria yang selalu dia cintai. Dengan sahabat dan keluarganya di sisinya, dia berniat untuk memenangkan kembali hati McKenzie, namun saat mereka mencoba membuat pernikahan kesempatan kedua mereka berhasil, masalah mulai muncul. Jasmine menolak untuk menyerah pada Dimitri.
Bapak Ryan
Dia mendekat dengan ekspresi gelap dan lapar,
begitu dekat,
tangannya meraih wajahku, dan dia menekan tubuhnya ke tubuhku.
Mulutnya mengambil milikku dengan rakus, sedikit kasar.
Lidahnya membuatku terengah-engah.
"Kalau kamu tidak ikut denganku, aku akan meniduri kamu di sini." Dia berbisik.
Katherine menjaga keperawanannya selama bertahun-tahun bahkan setelah dia berusia 18 tahun. Tapi suatu hari, dia bertemu dengan seorang pria yang sangat seksual, Nathan Ryan, di klub. Dia memiliki mata biru paling menggoda yang pernah dia lihat, dagu yang tegas, rambut pirang keemasan, bibir penuh, sempurna, dan senyum yang luar biasa, dengan gigi yang sempurna dan lesung pipit yang sialan itu. Sangat seksi.
Dia dan dia memiliki malam yang indah dan panas...
Katherine berpikir dia mungkin tidak akan bertemu pria itu lagi.
Tapi takdir punya rencana lain.
Katherine akan mengambil pekerjaan sebagai asisten seorang miliarder yang memiliki salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan dikenal sebagai pria yang menaklukkan, otoritatif, dan sangat menggoda. Dia adalah Nathan Ryan!
Apakah Kate bisa menahan pesona pria yang menarik, kuat, dan menggoda ini?
Baca untuk mengetahui hubungan yang terombang-ambing antara kemarahan dan hasrat yang tak terkendali.
Peringatan: R18+, Hanya untuk pembaca dewasa.
Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku
Ibuku meninggal sejak aku kecil, dan ayahku yang baik hati serta kuat telah mengambil peran untuk merawat anak-anakku di rumah. Segala upaya dan obat-obatan telah kucoba untuk mengembalikan fungsi ereksiku yang normal, namun semuanya sia-sia. Suatu hari, saat berselancar di internet, tanpa sengaja aku menemukan literatur dewasa yang melibatkan hubungan antara ayah mertua dan menantu, yang tanpa kusadari langsung membuatku terpikat dan terangsang.
Berbaring di samping istriku yang sedang tidur dengan tenang, aku mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu dalam cerita itu, yang membuatku terangsang sampai tingkat yang luar biasa. Aku bahkan menemukan bahwa membayangkan istriku bersama ayahku sendiri saat aku memuaskan diri sendiri, terasa lebih memuaskan daripada bercinta dengannya secara langsung. Menyadari bahwa aku tanpa sengaja telah membuka kotak Pandora, aku mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Sang Profesor
Suaranya penuh dengan beban dan urgensi
dan aku segera menurut sebelum dia mengarahkan pinggulku.
Tubuh kami bertemu dengan irama yang keras dan marah.
Aku semakin basah dan panas saat mendengarkan suara kami bercinta.
"Sial, vaginamu gila."
Setelah satu malam panas dengan seorang pria asing yang dia temui di klub, Dalia Campbell tidak mengira akan bertemu Noah Anderson lagi. Kemudian Senin pagi tiba, dan orang yang masuk ke ruang kuliah sebagai dosen adalah pria asing dari klub itu. Ketegangan meningkat dan Dalia berusaha sekuat tenaga untuk menjauhinya karena dia tidak ingin terganggu oleh siapa pun atau apa pun - ada juga fakta bahwa dia benar-benar terlarang - tetapi ketika dia menjadi asisten dosennya, batasan hubungan dosen/mahasiswa mereka menjadi kabur.
Bapak Forbes
Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.
"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.
Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.
Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.
Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.
Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Ayah Sahabat Terbaikku
Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.
Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.
Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?
Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?












