Bab [2] Cinta Monokrom

Di dalam kabin mobil yang hening, wajah Ahmad Sentosa tampak keruh. Ia mengembuskan asap rokok perlahan, memancarkan aura intimidasi yang seolah sudah menjadi bagian alami dari dirinya.

Surya Fauzan turun dari lantai atas. Dengan ragu, ia menyerahkan sebuah kartu hitam kepada Ahmad Sentosa sambil mengatupkan bibir. "Pak Sentosa, ini titipan dari Nona Wijaya."

Selain gajinya sendiri dari pekerjaan di bar, Sari Wijaya tidak mengambil sepeser pun uang Ahmad Sentosa. Bahkan kunci apartemen pun telah ia serahkan kepada Surya Fauzan.

Tatapan Ahmad Sentosa menajam, kilatan dingin melintas di matanya. "Dia tidak mengambil uang sepeser pun?"

"Tidak." Surya Fauzan menggeleng. Awalnya ia ingin membela Sari Wijaya, namun melihat Ahmad Sentosa menutup jendela mobil dengan kasar, ia memilih untuk bungkam.

Keesokan harinya, Sari Wijaya menyeret kopernya ke bar untuk mengundurkan diri.

Terdengar suara jernih menyapa.

"Lihat kondisimu, putus ya?"

Itu adalah suara Rani Lestari, sahabat Sari. Lima tahun lalu, Sari kebetulan menyelamatkan Rani yang putus asa dan hendak bunuh diri. Dua jiwa yang kesepian itu bertemu, saling menguatkan, dan menjadi sahabat karib.

Saat Sari pergi bersama Ahmad Sentosa dulu, Rani pernah berkata, "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di belakangmu."

Rani membawa Sari ke apartemennya.

"Ceritalah, ada apa? Putus, kan?" Rani menyodorkan segelas susu hangat, matanya penuh kekhawatiran.

Sari memaksakan senyum, namun pipinya yang tirus tak bisa menyembunyikan kelelahannya. Jemarinya mencengkeram gelas itu semakin erat.

Lama kemudian, terdengar jawaban lirih.

"Iya."

Siksaan penyakit membuat tubuh Sari terlihat semakin ringkih. Tulang-tulangnya menonjol, rapuh layaknya kelopak bunga yang siap diterbangkan angin kapan saja. Sungguh memilukan hati siapa pun yang melihatnya.

Hidung Rani terasa pedih menahan tangis. Ia maju dan memeluk sahabatnya erat-erat. "Nggak apa-apa. Cuma laki-laki, kan? Di dunia ini ada banyak manusia, masa nggak ada yang lebih baik dari dia?"

Mendengar itu, suara Sari ikut tercekat. Dengan mata memerah, ia justru menghibur, "Aku nggak apa-apa, kok. Beneran."

Meski bibirnya berkata demikian, hatinya tak bisa bohong soal perasaannya pada Ahmad Sentosa.

Dulu, Sari menarik Rani dari neraka, tapi demi pria bernama Fajar Prasetya, ia rela menjadi kekasih simpanan Ahmad Sentosa dan terperosok ke jurang lain. Kini, ia dicampakkan begitu saja.

Andai semua ini tak pernah terjadi, alangkah baiknya.

Sari mengendus pelan, lalu pura-pura kesal sambil menepuk bahu Rani. "Udahlah, kita kan bakal tinggal bareng. Harusnya seneng dong. Awas ya kalau nanti kamu bosen sama aku, aku bakal terus nempel di sini."

Mendengar Sari masih bisa bercanda di saat seperti ini, Rani sedikit lega.

Ia percaya, tak peduli seberapa dalam lukanya, waktu akan menyembuhkan segalanya. Apalagi ada dia yang menemani Sari, sama seperti lima tahun lalu.

"Mana mungkin aku bosen sama kamu? Dasar cowok brengsek itu, tega banget bikin kamu kurus begini. Tunggu ya, aku masakin mie buat kamu."

"Oke." Sari mengangguk patuh, menyunggingkan senyum manis.

Jika ditanya apa hal terbaik yang ia dapatkan selama lima tahun ini, jawabannya pasti adalah Rani Lestari.

Mereka berdua sama-sama tidak memiliki keluarga, dan bagi satu sama lain, merekalah satu-satunya kerabat yang tersisa.

Sayangnya...

Hidupnya kini tinggal tersisa tiga bulan. Setelah tiga bulan berlalu, apakah Rani Lestari akan sendirian lagi?

Bagaimana nasib Rani nanti? Ia sungguh tak tenang memikirkannya.

"Ayo, ayo, makan dulu."

Semangkuk mie kuah panas tersaji di hadapannya, lengkap dengan beberapa telur mata sapi yang menggugah selera.

"Makan yang banyak, lihat tuh badanmu kurus banget."

"Iya." Sari tersenyum pasrah, namun hatinya terasa hangat luar biasa.

"Nanti temenin aku antar dokumen ke kantor ya. Pemandangan di danau sana bagus banget, itung-itung refreshing." Rani menopang dagu menatapnya dengan tatapan lembut.

Sari mengangguk, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Sinar matahari yang terik menembus kaca jendela, menyinari mereka berdua, semakin menghangatkan hati Sari.

Saat manusia dihadapkan pada kematian, mereka akan lebih menghargai apa yang dimiliki. Tiga bulan ini, biarlah ia habiskan untuk menemani Rani Lestari dengan sebaik-baiknya.

Sesampainya di gedung kantor, Rani meminta Sari menunggu di lobi sementara ia naik ke atas.

Sari memandangi beberapa orang yang berlalu-lalang dengan setelan jas rapi, dan bayangan pertama yang muncul di benaknya adalah wajah Ahmad Sentosa.

Harus diakui, Ahmad Sentosa adalah pria yang paling pantas mengenakan setelan jas yang pernah ia lihat, seolah-olah ia memang terlahir untuk menjadi seorang penguasa.

Beberapa wanita yang duduk di seberang Sari tampak asyik bercanda.

"Eh, udah denger belum? Putri Pak Direktur Utama baru balik dari luar negeri."

"Jelas udah dong. Dia itu hidupnya kayak di film-film ya. Udah terlahir sebagai putri orang kaya, katanya dia itu cinta sejatinya bos besar Grup Sentosa lho."

"Tapi Nona Sutanto ini demi mengejar seni, nggak mau nikah cepat-cepat, makanya nolak lamaran Pak Sentosa lima tahun lalu. Dua-duanya sama-sama keras kepala, gengsi buat ngalah duluan."

"Kata siapa? Pak Sentosa begitu denger Nona Sutanto mau balik, langsung lari jemput ke bandara, kan? Lima tahun lho nunggunya, bener-bener setia."

Rasa dingin seketika menjalar dari ulu hati ke sekujur tubuh Sari. Bahkan ujung jarinya pun gemetar.

Ternyata, mendengar kabar tentang Ahmad Sentosa masih membuatnya sesak napas.

Tapi ia tak paham. Jika Ahmad Sentosa begitu mencintai Nona Sutanto itu, kenapa lima tahun lalu ia bersikeras memaksa Sari menandatangani kontrak sebagai kekasih?

Setiap sentuhan pria itu, Sari bisa merasakan bagaimana Ahmad berkali-kali kehilangan kendali dan tenggelam dalam gairah bersamanya.

Namun tak butuh waktu lama, ia segera mengetahui kebenarannya.

"Sari, ayo kita pergi."

Rani Lestari muncul di belakangnya, menepuk bahunya pelan, namun seketika terkejut melihat wajah Sari yang pucat pasi.

"Sari, kamu kenapa?" Hati Rani mencelos, ia segera memeriksa keadaan sahabatnya.

"Aku nggak apa-apa." Sari menggeleng, memaksakan seulas senyum, namun buku-buku jarinya memutih karena meremas tangannya sendiri terlalu kuat.

Sekelompok orang keluar dari lift, dikerumuni banyak staf. Namun, satu sosok gagah di tengahnya menyita seluruh perhatian. Wajah dengan rahang tegas itu tampak dingin dan angkuh, memancarkan jarak yang tak tersentuh.

Selain Ahmad Sentosa, mungkin tak ada orang kedua di Jakarta yang memiliki aura seperti itu.

"Arkan."

Sesosok wanita berbaju putih muncul dari belakang Ahmad. Dengan sangat natural, Ahmad mengulurkan tangannya, dan jemari mereka saling bertautan.

Namun, wajah wanita itulah yang seakan mencabut nyawa Sari saat itu juga.

Sang "Cinta Sejati" yang legendaris itu, ternyata memiliki wajah yang lima puluh hingga enam puluh persen mirip dengannya.

Napas Sari tercekat, jantungnya berdegup kencang menyakitkan. Segala hal yang dulu tak masuk akal, detik ini juga mendapatkan penjelasannya.

"Sari, ayo jalan." Wajah Rani berubah gelap, ia segera menarik lengan Sari untuk keluar dari sana.

Sari merasakan sepasang mata menatap tajam ke arahnya, namun saat ia menoleh, tak ada siapa-siapa yang melihatnya.

Sari meremas telapak tangannya kuat-kuat. Apa yang sebenarnya ia harapkan? Ahmad Sentosa sudah membuangnya tanpa ragu. Kini pemilik hati yang asli sudah ada di sisinya, mana mungkin pria itu sudi meliriknya lagi?

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya