Bab [4] Wanita Saya

"Pak Sentosa, Nona Sutanto, perkenalkan, ini Sari Wijaya, wanita saya."

Mendengar perkenalan Halim Lim yang begitu gamblang dan merendahkan, ekspresi Sari Wijaya seketika membeku. Ia secara refleks ingin membantah, namun begitu tatapannya beradu dengan sepasang mata Ahmad Sentosa yang dingin dan penuh jarak, kata-kata itu tercekat di tenggorokan.

"Halo, Nona Wijaya," sapa Tania Sutanto dengan senyum ramah yang terukur, mengulurkan tangan sebagai tanda persahabatan.

Berbanding terbalik dengan kecanggung Sari, pesta mewah ini seolah menjadi panggung pribadi bagi Tania. Benar kata orang, barang tiruan tidak akan pernah bisa menandingi yang asli, sebaik apa pun ia mematut diri.

Sementara itu, Ahmad Sentosa, selain lirikan sekilas yang tak acuh di awal tadi, sama sekali tidak lagi memandang ke arahnya. Seolah-olah Sari hanyalah debu yang tak kasat mata.

Halim Lim tiba-tiba mengangkat dagu Sari, memaksanya mendongak, berusaha mencari celah obrolan dengan Ahmad.

"Pak Sentosa, coba lihat, dia punya kemiripan dengan Nona Sutanto, kan? Tapi tentu saja, kelasnya jauh di bawah Nona Sutanto yang lulusan luar negeri. Benar-benar bagaikan bumi dan langit."

Sejak mengetahui desas-desus bahwa Tania Sutanto adalah cinta masa lalu yang tak tergantikan bagi Ahmad Sentosa, Halim Lim memang mati-matian mencari cara untuk mendekati sang taipan.

Seluruh urat nadi perekonomian Jakarta berada dalam genggaman Ahmad Sentosa. Jika ia bisa mendapatkan cipratan satu atau dua proyek kecil saja dari sela-sela jari pria itu, keuntungan yang didapat sudah cukup untuk membuat keluarga Lim kaya raya tujuh turunan.

Tania tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan anggun, sikunya menyenggol lengan Ahmad pelan. "Sepertinya memang ada sedikit kemiripan. Arkan, coba kamu lihat, mirip tidak?"

Mendengar panggilan akrab itu, Ahmad Sentosa baru dengan malas mengangkat kelopak matanya. Ia menyapu pandangan ke arah Sari Wijaya, namun manik hitam legam itu tak menyiratkan emosi apa pun.

"Kalah jauh darimu."

"Ah, kamu bisa saja," Tania menepuk bahu Ahmad dengan gaya merajuk yang manja, menunjukkan betapa intimnya hubungan mereka.

Dulu, di atas ranjang, Ahmad Sentosa juga sering membelai telinga Sari dan membisikkan kata-kata manis serupa. Namun kini, kenangan itu terasa begitu menyakitkan, seperti serpihan kaca yang menusuk mata.

Sari meremas telapak tangannya sendiri, merasa begitu kerdil dan ingin menghilang saat itu juga.

Sialnya, Halim Lim justru mengangguk setuju, tangannya dengan kurang ajar mencengkeram dagu Sari. "Pak Sentosa benar sekali. Mana mungkin pesona Nona Sutanto bisa dibandingkan dengan orang sembarangan seperti dia. Bisa memiliki wajah yang sedikit mirip dengan Nona Sutanto saja sudah merupakan keberuntungan besar baginya."

Setiap kalimat yang keluar adalah pujian untuk Tania, sekaligus hinaan bagi Sari.

Sari menundukkan pandangannya, berharap dengan begitu ia bisa menulikan telinga dari kalimat-kalimat tajam itu. Namun, hatinya tetap terasa perih, seolah baru saja diiris sembilu berulang kali.

Dari awal hingga akhir, Ahmad Sentosa tidak berkomentar lebih jauh, juga tidak membela. Pria itu hanya menggoyangkan gelas kakinya, menatap cairan merah pekat di dalamnya, lalu menyesapnya dalam sekali teguk.

Akhirnya, Tania Sutanto-lah yang pertama kali memecah situasi.

"Sudah, sudah. Kalian duduk saja dulu di sana. Saya dan Nona Wijaya mau ke toilet sebentar untuk touch-up."

Tania mengusir kedua pria itu secara halus, lalu dengan akrab menggandeng lengan Sari menuju kamar kecil.

Di tengah jalan, Sari perlahan menarik lengannya dari genggaman Tania, lalu mengangguk sopan. "Nona Sutanto, terima kasih sudah membantu saya keluar dari situasi tadi."

"Tidak masalah. Jangan masukkan ke hati ucapan Arkan tadi ya. Dia hanya takut aku cemburu, dan bicaranya memang sering terlalu terus terang. Namanya juga laki-laki," ujar Tania dengan senyum manis yang tampak tanpa dosa.

Namun di telinga Sari, kalimat itu terdengar seperti deklarasi kepemilikan yang halus namun tegas. Sayangnya, ia sadar diri bahwa ia adalah orang yang paling tidak berhak untuk merasa tersinggung.

Sari memaksakan seulas senyum tipis dan mengangguk.

"Ya sudah, kamu kembali saja duluan ke sana."

"Baik."

Kembali ke pusat acara, semua orang tampak sudah berkumpul di sofa melingkar. Halim Lim melihatnya dan segera melambaikan tangan.

Sari duduk di samping Halim dengan canggung. Saat ia melewati Ahmad Sentosa, pria itu sama sekali tidak mengangkat kepala, benar-benar tidak peduli dengan keberadaannya.

Baru saja ia mendaratkan bokong di sofa, seorang pria berjas mahal langsung melontarkan candaan, "Mas Lim, bawa wanita cantik kok tidak dikenalkan ke kita-kita?"

Sari tidak mengenali pria itu dan secara naluriah memundurkan tubuhnya dengan waspada. Ia benar-benar tidak terbiasa dengan lingkungan seperti ini.

Belum sempat Halim menjawab, wanita yang duduk di sebelah pria berjas itu mendengus sinis, suaranya penuh ejekan. "Wajah Nona ini memang punya karakter ya, mirip sekali dengan Nona Sutanto yang baru pulang dari luar negeri. Sayang sekali, nasibnya tidak sebagus aslinya."

Begitu kalimat itu terlontar, pandangan semua orang di lingkaran itu langsung tertuju pada wajah Sari, menilainya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Bang, Kak Tania mana? Kok belum ke sini?"

Panggilan pria berjas itu kepada Ahmad menyadarkan Sari bahwa hubungan mereka pasti sangat dekat. Sari memberanikan diri mencuri pandang. Memang ada kemiripan di antara keduanya, namun dibandingkan aura Ahmad yang dingin dan mengintimidasi, Reza Sentosa terlihat jauh lebih hangat.

"Sudah malam, aku suruh dia pulang duluan," jawab Ahmad acuh tak acuh, duduk bersandar di tengah sofa dengan aura penguasa yang kental.

Perhatian sekali, batin Sari. Ia menunduk, menyembunyikan sorot mata yang kian perih.

Wanita yang tadi bicara sinis merasa diabaikan karena Sari sama sekali tidak menanggapi sindirannya. Wajahnya seketika mengeruh. "Nona ini sepertinya baru pertama kali ikut kumpul ya? Bagaimana kalau minum segelas dulu untuk menghormati yang lain? Mas Lim, bawaanmu ini kurang mengerti tata krama ya. Bisa hadir di sini saja harusnya berterima kasih pada Mas Reza saya, kok malah tidak ada basa-basinya?"

Sari tidak mengerti dari mana datangnya permusuhan wanita itu. Awalnya ia ingin menolak, tapi sekarang jalannya benar-benar tertutup.

Ia sama sekali tidak pernah menyentuh alkohol. Ia benci rasa pahitnya.

"Cepat minum," bisik Halim di telinganya dengan nada memperingatkan.

Sepertinya ia tidak punya pilihan lain.

Sari meraih gelas di hadapannya, lalu menenggaknya hingga tandas. Rasa pahit seketika menjalar, membakar tenggorokan hingga membuatnya mengernyit kuat. Matanya terasa panas dan berair.

Melihat itu, Halim segera menuangkan segelas air es dan menyodorkannya untuk meredakan rasa tidak nyaman Sari.

"Mohon dimaklumi teman-teman, dia memang tidak biasa minum," ujar Halim sambil menepuk-nepuk punggung Sari.

Ahmad Sentosa, yang sedari tadi tidak peduli, tiba-tiba mengarahkan pandangannya pada tangan Halim yang berada di punggung Sari. Entah hanya perasaan Sari saja atau bukan, ia merasakan ada tatapan tajam yang menusuk ke arah mereka.

Sari menoleh ke sumber tatapan itu, namun Ahmad tampak sedang menunduk menatap ponselnya dengan wajah datar, seolah tatapan tadi hanyalah halusinasi Sari.

Mungkin pikiran Ahmad sedang sibuk memikirkan Tania yang sudah pulang, mana mungkin dia peduli pada nasib Sari.

Wanita di sebelah Reza kembali mendengus meremehkan. "Sudah jadi simpananmu, masih saja sok suci."

Kalimat itu membuat telinga Halim panas. Ia menaikkan alis, membalas dengan nada yang penuh arti, "Yah, setidaknya dia tidak seperti barang bekas yang sudah dipakai banyak orang. Dia memang masih polos."

Mendengar itu, wanita tersebut seperti tersengat lebah. Wajahnya memerah padam karena marah. "Mas Lim, apa maksud ucapanmu?!"

Dulu ia memang primadona di kelab malam sebelum akhirnya diangkat derajatnya oleh Reza Sentosa. Tentu saja ia paling benci jika ada yang mengungkit masa lalunya yang kelam.

Halim tersenyum menyipitkan mata, tenang namun mematikan. "Siapa yang merasa, dia yang kena."

"Sudah, sudah. Kita jarang-jarang bisa kumpul, belum juga bersenang-senang kok malah ribut," Reza Sentosa akhirnya angkat bicara untuk menengahi ketegangan.

Karena Reza sudah bersuara, Joanna—wanita itu—meski masih kesal, terpaksa menelan kembali amarahnya. Matanya kini tertuju pada wajah Sari yang memerah karena alkohol. Sebuah ide licik tiba-tiba muncul di benaknya.

"Ya sudah, karena Mas Reza bilang begitu, aku tidak akan memperpanjang masalah. Bagaimana kalau kita main game saja biar seru? Sekalian melupakan kejadian yang tidak enak tadi, setuju?"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya