Bab [5] Menanggalkan Pakaian di Depan Umum
Mendengar ada tontonan seru yang bisa dinikmati, semangat orang-orang yang hadir di sana langsung terbakar.
"Boleh juga, daripada cuma duduk diam nggak jelas. Kita main apa?"
"Kocok dadu, tebak angka. Kita bagi jadi tim berpasangan. Siapa yang angkanya paling besar dan tebakannya paling akurat, dia yang menang. Sebaliknya, tim yang kalah, setiap anggotanya harus melepas satu potong pakaian. Gimana?"
Begitu aturan main dilontarkan, kening Sari Wijaya langsung berkerut dalam. Jangankan main dadu, dia sama sekali tidak paham caranya. Terlebih lagi, jika harus kalah dan melepas pakaian, dia hanya mengenakan satu gaun malam ini. Kalau gaun itu dilepas, bukankah dia akan telanjang bulat di depan gerombolan orang ini?
Namun, setuju atau tidaknya bermain bukan keputusan Sari Wijaya. Mana mungkin Halim Lim melewatkan kesempatan yang memacu adrenalin seperti ini? Pria itu langsung menyanggupi tanpa pikir panjang.
Yang lain pun serentak setuju, hanya menyisakan Ahmad Sentosa yang duduk diam di kursi utama dengan aura mengintimidasi.
"Saya ikut."
Reza Sentosa terbelalak kaget. Ahmad Sentosa biasanya anti dengan kegiatan serampangan seperti ini. Kakaknya itu datang pun hanya karena mendengar desas-desus bahwa Halim Lim membawa seorang wanita yang wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan Tania Sutanto. Tapi sekarang dia malah mau ikut permainan konyol ini? Benar-benar aneh.
"Mas, kamu serius?"
Ahmad Sentosa tidak menjawab, tangannya langsung terulur mengambil gelas pengocok dadu di atas meja. Melihat itu, Reza Sentosa pun bungkam, tak berani membantah.
Joanna, yang duduk di samping, menyadari ekspresi keberatan di wajah Sari Wijaya dan langsung menyambar, "Nona Wijaya, kita semua sudah ikut, lho. Kamu nggak bakal merusak suasana, kan?"
Terpojok, Sari Wijaya hanya bisa menggeleng pelan sambil menggigit bibir.
Pembagian tim dilakukan secara acak. Kebetulan, Sari satu tim dengan Reza Sentosa. Kini, permainan duel antar pasangan pun dimulai.
Sari Wijaya benar-benar buta soal judi dadu. Awalnya dia ingin menggantungkan harapan pada Reza Sentosa, tapi pria itu malah mengangkat bahu sambil tersenyum pasrah.
"Maaf ya, aku juga nggak terlalu jago."
Sari Wijaya tumbuh besar di panti asuhan, hidupnya lurus-lurus saja. Ajaran moral guru-gurunya melekat kuat; judi dan obat-obatan terlarang adalah hal yang tabu baginya. Bahkan saat bekerja di bar beberapa tahun lalu, dia hanya melakukan tugasnya dan langsung pulang. Permainan semacam ini benar-benar di luar jangkauannya.
Dia menatap kertas di tangannya yang bertuliskan nama Reza Sentosa dengan bingung. Reza dan Joanna satu lingkaran pergaulan. Bagaimana mungkin playboy kelas kakap seperti dia tidak bisa main dadu?
Apa jangan-jangan mereka bersekongkol untuk mengerjainya?
Kesialan Sari belum berakhir. Baru ronde pertama, dia dan Reza langsung berhadapan dengan tim Ahmad Sentosa.
Ekspresi Ahmad Sentosa tetap datar tak terbaca, kontras dengan Joanna yang menyunggingkan senyum licik. Sudut matanya yang tajam menyiratkan kepuasan yang tak ditutup-tutupi.
"Nona Wijaya, aku nggak bakal kasih ampun, lho."
Sari akhirnya sadar, permainan ini memang dirancang Joanna khusus untuknya. Wanita itu pasti ingin melampiaskan kekesalan yang tadi sempat tertahan.
Tapi, bukankah yang bicara tadi Halim Lim? Apa hubungannya dengan Sari?
Saat kepalanya pening memikirkan nasibnya, Halim Lim tiba-tiba mengulurkan tangan, menggenggam tangan Sari yang memegang gelas dadu. "Jangan tegang, gampang kok. Sini aku ajarin."
Fokus Sari sepenuhnya tersita pada ketakutan akan kekalahan, sampai-sampai dia tidak sadar Halim Lim sudah merangkulnya dari belakang, posisinya terlalu intim.
Joanna mendengus kesal, "Mas Lim, kok malah bantuin sih?"
Halim Lim mengangkat bahu acuh tak acuh. "Di aturan nggak dibilang nggak boleh bantu, kan?"
Joanna terdiam, mati kutu. Memang dia tidak menyebutkan larangan itu.
Dengan cekatan, Halim Lim membantu Sari mengocok dan mendapatkan angka tiga belas. Pria itu tersenyum bangga. "Nah, giliran kalian. Bisa nggak ngalahin angka ini?"
Meski buta aturan, Sari Wijaya bisa merasakan itu angka yang cukup besar. Dia menghela napas lega. Namun, saat kesadarannya kembali, dia baru sadar tubuhnya terperangkap dalam pelukan Halim Lim.
Refleks, dia ingin memberontak, tapi pelukan Halim Lim justru makin erat.
"Jangan gerak. Kalau gerak lagi, aku nggak jamin apa yang bakal terjadi."
Ancaman bisikan itu membuat tubuh Sari kaku seketika. Dia tidak berani bergerak seinci pun. Saat dia mendongak, matanya bertabrakan langsung dengan tatapan Ahmad Sentosa. Mata itu gelap, tajam, dan menusuk dengan hawa dingin yang mencekam. Aura pria itu berubah menjadi begitu kelam.
Saat Sari Wijaya masih mencoba menerka arti tatapan itu, Ahmad Sentosa sudah meletakkan jari-jarinya yang panjang dan bersih di atas gelas dadu. Gerakannya elegan, seolah sedang melakukan ritual seni, bukan judi.
Gelas dibuka. Lima buah dadu menunjukkan angka enam semua.
Reza Sentosa menaikkan alis, berdecak kagum. "Wah, Mas, nggak nyangka kamu punya trik beginian."
Mata Joanna berbinar penuh kemenangan. Dia tak sabar mengumumkan hasilnya. "Kami menang! Nona Wijaya, kalian kalah."
"Sesuai aturan, harus lepas baju."
Reza Sentosa tersenyum kecut, lalu dengan santai melonggarkan dasi dan melepas jas mahalnya.
Kini, semua mata tertuju pada Sari Wijaya. Joanna kembali memanaskan suasana, "Nona Wijaya, yang sportif dong. Kalah ya harus terima hukuman."
Siapa pun yang punya mata bisa melihat, Sari Wijaya hanya mengenakan gaun malam yang tipis. Jika gaun itu dilepas, dia hanya akan menyisakan pakaian dalam.
Dan tatapan orang-orang di ruangan itu... tidak ada setitik pun rasa kasihan. Justru, mata mereka berkilat penuh ekspektasi, tak sabar melihat Sari Wijaya dipermalukan.
Detik itu juga, Sari Wijaya merasakan betapa kerdil dirinya. Di hadapan para pewaris kekayaan ini, dia hanyalah semut yang bisa dipermainkan sesuka hati.
Berharap bisa keluar dari sini dengan utuh sepertinya mustahil.
Lagipula, harga diri adalah hal yang paling tidak berharga sekarang. Toh, hidupnya tinggal tiga bulan lagi, untuk apa peduli soal wajah dan kehormatan?
Setelah memantapkan hati yang retak, Sari Wijaya memejamkan mata dengan putus asa. Tangannya gemetar meraih ritsleting di punggung gaunnya. Baru saja ujung jarinya menyentuh logam dingin itu, sebuah jas hangat tiba-tiba menutupi tubuhnya.
Reza Sentosa berdiri, kemeja putihnya sudah terlepas, memamerkan tubuh bagian atasnya yang atletis. "Aku dan Nona Wijaya satu tim. Salahku juga nggak bisa main. Biar aku yang tanggung hukumannya."
Mendengar ucapan Reza, para penonton yang tadinya menunggu tontonan gratis jadi sungkan untuk berkomentar.
Hanya Joanna yang diam-diam mengepalkan tangan, menatap Sari Wijaya dengan nyalang penuh kebencian.
"Terima kasih," cicit Sari Wijaya sambil mencengkeram jas itu erat-erat, matanya sudah memerah menahan tangis.
"Dasar Reza, paling hobi jadi pahlawan kesiangan," celetuk salah satu teman mereka.
Orang-orang mulai bersiap untuk ronde berikutnya, ketika tiba-tiba suara bariton yang dingin memecah suasana.
"Aturan tetap aturan. Kalau semua orang begini, buat apa ada aturan main?"
Ahmad Sentosa berbicara tanpa emosi. Maksudnya jelas: dia ingin Sari Wijaya menjalani hukumannya sendiri.
Reza Sentosa menatap kakaknya dengan bingung. Selama ini, Ahmad Sentosa selalu bertindak terukur dan berkelas. Kenapa kali ini dia begitu accuh tak acuh dan sengaja menyudutkan gadis kecil ini?
"Mas, sudahlah. Jangan mempersulit anak orang. Kalau memang harus dihukum, kita ganti saja hukumannya."
Joanna, melihat celah, langsung menyambar. "Gimana kalau Nona Wijaya ganti dengan minum saja? Selama Pak Sentosa belum bilang stop, Nona Wijaya harus terus minum."
Halim Lim, meski agak kesal, terpaksa ikut menimpali. "Iya, benar. Biar Sari minum untuk minta maaf ke Pak Sentosa."
Bagaimanapun, Sari Wijaya adalah teman kencannya malam ini. Kalau wanita itu telanjang di depan umum, meski dia bisa menikmatinya, wajahnya sebagai pria yang membawanya juga akan tercoreng.
"Setuju, aku rasa itu adil," sahut Reza Sentosa cepat, sambil memberi isyarat mata pada Sari Wijaya untuk segera menuang alkohol.
Joanna menyodorkan sebotol minuman keras impor yang masih segel dan sebuah gelas kristal, lalu memberi gestur agar Sari segera mendekat ke arah Ahmad.
Sari Wijaya menerima botol itu dengan tangan gemetar. Dia melangkah pelan, menatap wajah Ahmad Sentosa dengan hati-hati, mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang diinginkan pria itu darinya.
