Bab [7] Tidak Perlu Diperiksa

Melihat Halim Lim mulai percaya, Sari Wijaya menghela napas lega. Namun, sesaat kemudian, nada bicara pria itu berubah drastis, tatapannya menajam. "Tunggu dulu. Kalau kamu memang memegang kartu As Ahmad Sentosa, kenapa baru sekarang kamu menggunakannya?"

Sari Wijaya sudah menyiapkan jawaban untuk ini. Ia merapikan gaun malamnya dengan tenang. "Tentu saja aku pernah mengancamnya. Tapi dulu Nona Sutanto tidak ada di sini, jadi dia tidak peduli. Sekarang situasinya berbeda. Kalau dia tidak setuju, aku akan kirimkan buktinya langsung ke Nona Sutanto."

Ketenangannya membuat Halim Lim sedikit terkejut. Sebelumnya, ia setuju untuk tidak menyentuh Sari Wijaya hanya karena ingin bermain tarik-ulur lebih lama. Tapi sekarang, wanita ini ternyata jauh lebih menarik dari dugaannya.

Pantas saja Sari Wijaya selama ini bersikap dingin padanya; ternyata dia punya target yang lebih tinggi.

"Sayang, kamu benar-benar yakin bisa membantuku mendapatkan itu?" Halim Lim mencengkeram dagu Sari Wijaya, memaksanya untuk menatap matanya.

"Tentu saja," jawab Sari Wijaya sambil mengertakkan gigi.

Bisa atau tidak itu urusan nanti, yang terpenting sekarang adalah menahan Halim Lim agar tidak bertindak gegabah.

"Baiklah. Jangan lupa, sahabat baikmu, Rani Lestari... kalau kamu tidak ingin terjadi sesuatu padanya, sebaiknya kamu menurut padaku."

Dibandingkan wanita, posisi pewaris tunggal keluarga Lim jauh lebih menggiurkan bagi Halim Lim.

Ia tidak terburu-buru. Selama ia memegang kelemahan Sari—yaitu Rani Lestari—ia yakin bisa mendapatkan Sari Wijaya kapan saja. Jika wanita ini bisa memberinya keuntungan besar, menunggu sedikit lebih lama tidak ada ruginya.

"Tenang saja."

Halim Lim akhirnya pergi dengan berat hati, meninggalkan Sari Wijaya sendirian di ruang privat itu. Begitu kesadarannya kembali pulih, efek alkohol keras yang tadi diminumnya mulai menyerang, menekan dadanya seperti terbakar dan membuat jantungnya berdegup kencang.

Ia segera mengeluarkan obat dari tasnya dan menelan beberapa butir sekaligus. Barulah kondisinya sedikit membaik.

Ponselnya bergetar. Telepon dari Rani Lestari.

"Sari, maaf aku tertahan sebentar karena ada urusan, aku segera ke sana."

"Oke."

Sari memaksakan tubuhnya yang limbung untuk berjalan keluar dari ruangan itu. Angin malam yang dingin menusuk tulang menembus pakaian tipisnya, membuat kulitnya merinding kedinginan. Untungnya, rasa panas di dadanya sudah menghilang.

Sebuah mobil Maybach hitam perlahan berhenti tepat di depan Sari Wijaya. Kaca jendela turun, memperlihatkan sepasang mata hitam yang dingin dan tajam.

"Masuk." Nada bicaranya adalah perintah mutlak yang tidak bisa dibantah.

Sari Wijaya memilih untuk mengabaikannya dan berjalan memutar melewatinya.

"Aku bilang sekali lagi, masuk."

Surya Fauzan, asisten yang duduk di depan, ikut membujuk dengan wajah serba salah, "Nona Wijaya, tolong Nona masuk saja dulu."

Lima tahun bersama membuat Sari Wijaya sangat paham karakter pria itu. Jika ia membuatnya tidak senang, pria itu pasti akan mencari seribu cara untuk membalasnya. Ahmad Sentosa yang sedang marah jauh lebih sulit dihadapi daripada Halim Lim.

Akhirnya, ia menyerah dan masuk ke dalam mobil.

Suhu di dalam mobil diatur cukup hangat, membuat suhu tubuhnya perlahan kembali normal. Pria di kursi belakang duduk dengan kaki menyilang, setelan jasnya licin tanpa kerutan sedikit pun, memancarkan aura bangsawan yang angkuh dan dingin, membuat siapa pun segan menyentuhnya.

Sebaliknya, riasan di wajah Sari sudah luntur berantakan, membuatnya tampak menyedihkan seperti pengemis.

Sari Wijaya kembali merasakan ketimpangan status di antara mereka. Rasa tidak aman yang kuat membuatnya ingin segera kabur dari sana.

"Pak Sentosa, kalau ada yang ingin dibicarakan, katakan saja langsung. Jangan buang waktu."

Ia tidak pernah menentang Ahmad Sentosa sebelumnya. Nada dingin seperti ini adalah yang pertama kalinya ia tunjukkan.

Ahmad Sentosa mengulurkan tangan, langsung menarik tubuh wanita itu mendekat. Gerakan tiba-tiba itu membuat Sari Wijaya terhuyung dan menabrak paha pria itu. Posisi yang aneh ini membuatnya sangat tidak nyaman, ia segera melepaskan diri dan beringsut mundur.

Namun ruang di dalam mobil sangat sempit. Meski punggungnya sudah menempel erat ke pintu mobil, jarak di antara mereka tetap tidak seberapa.

"Kenapa? Sudah tidak sabar ingin menemui penyokong barumu?" Ahmad Sentosa tersenyum sinis, matanya penuh ejekan.

Sari tahu Ahmad Sentosa salah paham, tapi mengingat sikap pria itu sebelumnya, apa gunanya ia menjelaskan?

Ahmad Sentosa tidak akan percaya. Fakta bahwa Halim Lim membawanya muncul hari ini sudah cukup untuk menjatuhkan vonis mati baginya di mata Ahmad Sentosa.

Diamnya Sari justru membuat suasana di dalam mobil semakin mencekam.

Mata Ahmad Sentosa memerah menahan amarah, tangannya mencengkeram leher jenjang Sari. "Jawab, sudah berapa kali kamu tidur dengan Halim Lim?"

Sari Wijaya tidak mengerti. Pria ini yang membuangnya lebih dulu, sekarang kenapa malah berbalik menanyakan hal seperti ini? Apa gunanya?

Melihat Sari tidak menjawab, cengkeraman tangan Ahmad Sentosa semakin erat. Sari Wijaya mulai kesulitan bernapas, ia buru-buru berusaha melepaskan jari-jari pria itu sambil berteriak, "Lepaskan aku! Lepas!"

"Jawab, kamu sudah tidur dengannya atau belum!"

"Belum! Kamu puas?"

Begitu kata-kata itu keluar, tangan Ahmad Sentosa langsung terlepas. Sari Wijaya terengah-engah menghirup udara, Ahmad Sentosa benar-benar menggunakan tenaga tadi.

Namun, mata Ahmad Sentosa justru menangkap bercak merah di leher Sari Wijaya. Urat-urat di dahinya menonjol keluar. Tanpa mempedulikan perlawanan Sari, ia dengan kasar memutar kepala wanita itu, menghadapkannya ke kaca spion tengah mobil.

"Belum tidur? Lalu apa ini di lehermu?"

Sentuhan Ahmad Sentosa di kulitnya terasa seperti sengatan listrik, mengingatkannya pada masa-masa kebersamaan mereka dulu.

Sari menggigit bibirnya, merasa dirinya benar-benar tidak berguna.

"Sudah kubilang, aku tidak tidur dengannya. Terserah kamu mau percaya atau tidak." Sari Wijaya mencoba melepaskan diri. Kalau ia tidak segera pergi, Rani pasti akan kebingungan mencarinya.

Ahmad Sentosa seolah tuli terhadap perkataannya. Ia dengan kasar merobek gaun Sari Wijaya, ekspresinya gelap dan menakutkan, suaranya sedingin es. "Karena kamu bilang belum, biar aku periksa sendiri, asli atau palsu ucapanmu."

Sambil berkata begitu, di tengah jeritan Sari Wijaya, tangan pria itu mulai meraba tubuhnya, seolah mencari pembuktian.

Sari Wijaya merasa sangat malu dan marah. Ia mencengkeram lengan Ahmad Sentosa kuat-kuat dan memaki, "Ahmad Sentosa! Kamu sakit jiwa ya! Hentikan!"

Ia tidak mengerti drama apa lagi yang dimainkan Ahmad Sentosa. Bukankah pria ini yang dengan tegas membuangnya?

"Ahmad Sentosa, kamu yang duluan tidak menginginkanku! Kalau mau putus, putuslah dengan bersih, jangan sentuh aku lagi!"

Kalimat itu seakan menyadarkan sisa-sisa akal sehat Ahmad Sentosa. Ia mengangkat wajah, menatap tajam ke dalam mata Sari Wijaya. Sudut matanya memerah, dan ada api amarah yang berkobar di sana.

"Menjual dirimu padaku selama lima tahun, sekarang setelah ikut Halim Lim, kamu tidak membiarkanku menyentuhmu lagi?"

Kata-kata itu membuat Sari Wijaya merasa seperti disiram air es. Lima tahun lalu, ia terpaksa menjual dirinya pada Ahmad Sentosa, jadi ia bekerja keras di kelab malam demi uang, berharap bisa mengubah pandangan Ahmad Sentosa terhadapnya.

Tak disangka, setelah lima tahun berlalu, hanya karena satu kata 'jual', citranya di hati Ahmad Sentosa tetaplah sama: hanya seorang wanita yang bisa menjual tubuh demi uang.

Ia menelan rasa pahit yang bergejolak di hatinya, lalu tersenyum senatural mungkin. "Iya, bukankah prinsip itu yang Pak Sentosa ajarkan padaku? Karena aku sudah dijual ke Pak Lim, tentu saja aku tidak boleh membiarkan Pak Sentosa menyentuhku lagi. Itu aturannya, kan?"

Wajah Ahmad Sentosa perlahan berubah menjadi gelap gulita, ia menatap lekat manik mata wanita itu dan bertanya dengan suara dingin.

"Apa maksudmu?"

"Tentu saja maksudnya 'sudah tidur'. Sebenarnya aku dan Pak Lim sudah tidur bersama, jadi tidak perlu diperiksa lagi."

Ada seutas tali kesabaran di benak Ahmad Sentosa yang seketika putus. Tatapannya begitu kelam seolah bisa membunuh orang saat itu juga.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya