Bab [72] Tidak Ada Lagi Masa Depan

Jantung Sari Wijaya ikut bergetar hebat. Saat ia mengangkat wajah dan bertatapan dengan mata pria itu—mata yang begitu dingin namun tersirat kekecewaan mendalam—rasanya sungguh menyakitkan. Sakit sekali, seolah ada sembilu yang mengiris dadanya.

Bukankah Ahmad Sentosa sudah setuju untuk melepaskan ...

Masuk dan lanjutkan membaca