Bab 2
Saat kiamat tiba, moral manusia bakal runtuh. Di mana-mana orang berebut sumber daya.
Nyawa manusia jadi nggak ada harganya. Kalau mau bertahan, satu hal yang wajib dimiliki: daya gempur.
Steven memang bukan petarung. Tapi sekeras apa pun orang, tetap bakal ciut kalau dihadapkan sama bilah tajam.
Jadi selama Steven menyiapkan senjata yang cukup mematikan, dia nggak perlu pusing soal hal-hal lain.
“Golok, linggis, kapak… itu gampang dicari.”
“Busur panah, crossbow, senapan angin… masih ada jalur buat beli.”
“Tapi yang paling kuat, ya jelas senjata api. Di negara ini, satu-satunya cara dapat senjata api yang beneran kuat cuma lewat pasar gelap.”
“Beli senjata dari luar negeri juga nggak realistis. Aku nggak paham negara orang, bolak-baliknya makan waktu berhari-hari. Aku juga nggak punya izin senjata di sana, mana bisa asal masuk toko senjata terus beli.”
Steven mengusap dagunya. Untuk masalah ini, dia belum nemu jawaban.
Tapi dia masih punya satu bulan. Selama dia mau keluar uang, seharusnya ada jalan.
Tiga jam dia habiskan buat mematangkan rencana. Setelah itu dia mandi air hangat lama-lama, lalu tidur di kasur empuk yang bikin badan rasanya tenggelam.
Keesokan paginya Steven bangun.
Tidurnya nggak nyenyak—beberapa kali kebangun gara-gara mimpi buruk.
Begitu sadar dan mendapati dirinya masih berbaring di ranjang rumahnya yang hangat dan nyaman, dia mengembuskan napas panjang, seolah beban di dadanya baru dilepas.
Kiamat itu meninggalkan trauma yang nggak kecil.
Biar kesalahan yang sama nggak terulang, Steven makin kukuh: kali ini dia harus siap sepenuhnya.
Rencana yang sudah tersusun bikin kepalanya lebih ringan.
Di saat itu juga, perutnya berbunyi keras.
Steven mengusap perutnya sendiri.
Dia sempat ragu, lalu tersenyum kecil dan menggeleng, memutuskan nggak pesan makanan antar.
“Sebulan lagi kiamat datang. Mending nikmatin yang enak-enak sekarang. Kalau nanti nggak sempat lagi gimana? Ngapain pelit sama diri sendiri?”
Setelah sebulan bertahan dalam dingin dan lapar di kehidupannya yang kemarin, yang dia pengin sekarang cuma satu: makanan panas yang beneran enak.
Lagipula uang sekarang buat dia sudah nggak ada artinya.
Begitu kiamat tiba, uang cuma jadi kertas nggak berguna. Lebih baik dihabiskan sekarang daripada mubazir.
Steven berbalik, santai, lalu bersiap keluar—mau cari restoran mahal yang dulu cuma bisa dia lihat dari jauh, buat makan sepuasnya.
Begitu melangkah keluar rumah, pemandangan damai menyambutnya. Dunia masih penuh tawa, penuh rasa aman yang menipu.
Di alun-alun kompleks, banyak orang tua bermain dengan anak-anak mereka. Wajah-wajah itu bersinar oleh senyum bahagia.
Tapi Steven tahu… sebulan lagi, semua ini bakal lenyap.
Dia mempercepat langkah keluar dari kompleks. Nggak jauh dari situ ada restoran Michelin tiga bintang.
Sekali makan di sana minimal seribu dolar, dan selama ini Steven nggak pernah rela buang uang sebanyak itu.
Tapi sekarang? Dia sama sekali nggak peduli.
Sudah diberi kesempatan hidup kedua, masa dia nggak merayakannya dengan benar?
Begitu masuk, Steven memilih meja dekat jendela. Tanpa banyak mikir, dia memesan menu termahal, plus sebotol Lafite Rothschild.
Totalnya tujuh ribu dolar.
Bahkan para pelayan pun meliriknya dengan tatapan yang susah ditebak, seolah yakin Steven pasti anak orang kaya—generasi kedua yang cuma tinggal gesek kartu.
Soalnya, orang biasa mana mungkin menghabiskan uang sebanyak itu buat sekali makan.
Steven tak peduli.
Begitu meja penuh hidangan, dia langsung melahapnya tanpa malu-malu.
Entah karena sudah terlalu lama hidup di kiamat yang beku, rasa lezat itu sampai membuat matanya panas—nyaris menitik.
Cara makannya jadi agak buas, membuat beberapa pengunjung lain melirik dan berbisik-bisik.
Steven tetap saja santai.
Di masa kiamat nanti, orang bahkan bakal berlutut dan mengemis cuma demi sepotong roti.
Saat itu, peradaban dan moral sudah lama mati.
Di tengah Steven makan, seorang wanita yang lewat di luar berhenti.
Rambutnya panjang, riasannya halus, dia mengenakan heels Gucci dan menenteng tas LV.
Perempuan itu tak lain adalah Alice—orang yang pernah menyeret Steven sampai mati di kehidupan sebelumnya.
Di sampingnya berdiri sahabat dekatnya, Ivy Scott.
Setiap kali mereka lewat di depan restoran Michelin bintang tiga itu, kaki mereka seolah otomatis melambat. Mata pun tak bisa bohong; selalu saja melirik ke dalam lebih lama dari yang seharusnya.
Tempat semewah itu memang sudah lama jadi angan-angan mereka.
Sayangnya, kondisi dompet tidak mengizinkan mereka “sekali-sekali” dengan gaya hidup seperti ini.
Namun itu tak menghentikan mereka menatap dari balik kaca dengan mata penuh iri dan berharap. Siapa tahu, keberuntungan datang—mungkin saja mereka bisa “nyantol” anak orang kaya, pewaris generasi kedua yang kualitasnya kelas atas.
Sampai akhirnya, Alice mendadak melihat sosok yang dikenalnya di dalam.
Steven.
Di depan Steven, satu meja penuh makanan yang terlihat mahal dan berlebihan.
“Bukannya itu Steven?” Alice melongo, suaranya naik setengah oktaf. “Dia dapat uang dari mana makan di sini?”
Ivy juga terperanjat, cepat-cepat menutup mulutnya dengan tangan. “Steven… sekaya itu?”
Sambil bicara, Ivy melirik Alice dengan tatapan penuh arti, lalu senyumnya melebar. “Alice, kamu tuh hoki banget. Pengagum setiamu ternyata anak orang kaya yang low profile.”
Ivy menahan napas sejenak, seolah menghitung harga. “Lihat tuh satu meja. Paling nggak habis seratus dua puluh juta rupiah. Siapa lagi yang sanggup makan semahal itu kalau bukan orang tajir?”
Nada Ivy terdengar manis, tapi ada rasa panas yang tak tersamarkan.
Ivy tahu, Steven sudah mengejar Alice selama dua setengah tahun.
Tapi selama itu juga, Alice hanya menggantung Steven—nggak menolak, tapi juga nggak menerima. Alice tipe yang sejak awal sudah memasang standar: dia harus menikah dengan pewaris kaya kelas atas dan hidup sebagai nyonya besar.
Namun di sisi lain, Alice juga sayang melepas Steven yang sudah punya mobil dan rumah di Starlight City.
Jadi, dari awal Steven selalu jadi cadangan. Plan B.
Prinsip Alice kalau soal Steven sederhana: tidak memulai, tidak menolak, tidak berkomitmen.
Sekarang, melihat Steven makan sendirian dengan “uang hangus” segitu, Alice mulai ragu pada penilaiannya sendiri.
“Jangan-jangan… Steven beneran anak orang kaya?” Alice menopang dagu, pikirannya berputar.
Semakin dipikir, semakin terasa masuk akal.
“Ini kan trope yang sering banget di drama,” gumam Alice, matanya perlahan berbinar. “Orang super kaya pura-pura hidup biasa buat cari cinta yang tulus.”
Semakin dia membenarkan skenario itu di kepalanya, semakin besar gairahnya. Kalau benar begitu, dia tinggal petik hasilnya.
Bagaimanapun, Steven yang selama ini mengejarnya—Alice merasa, begitu dia mengangguk, Steven pasti langsung melamar.
Ivy menimpali cepat, antusias. “Alice, ayo masuk! Samperin Steven!”
Padahal, yang benar-benar menarik Ivy adalah meja penuh makanan itu. Michelin bintang tiga—seumur hidup pun belum tentu semua orang bisa mencicipi.
Alice ragu sesaat, lalu menggeleng. “Nggak bagus. Nanti dia mikir aku matre.”
Dia menajamkan tatapan, lalu menurunkan suara seperti sedang menyusun strategi. “Gini aja. Kita tunggu di luar. Pura-pura ketemu nggak sengaja.”
Alice tidak bodoh. Dia tidak akan menurunkan “harga diri” hanya demi satu kali makan.
Kalaupun Steven memang kaya, dia tetap harus menjaga citra dewi yang sulit digapai.
Baru setelah itu—kalau mereka benar-benar bersama—dia bisa mengendalikan Steven dengan mudah, membuatnya tetap menjadi pengagum setia yang patuh.
Akhirnya, mereka berdua bersembunyi tidak jauh dari pintu restoran, menunggu Steven keluar.
Steven makan lebih dari satu jam, lalu mengusap perutnya yang mulai bulat dengan puas.
Sejujurnya, rasa makanan Michelin bintang tiga itu biasa saja. Tapi bagi seseorang yang pernah bereinkarnasi setelah neraka kiamat, makanan seperti ini terasa menyentuh sampai ke hati—terlalu nikmat untuk disebut biasa.
Berikutnya, Steven berencana mampir ke supermarket terdekat untuk membeli perbekalan.
Dia ingin menguji kapasitas ruang dimensinya, memastikan semuanya aman sebelum nanti ada masalah. Walaupun dia yakin bisa “menyapu bersih” gudang Walmart, berjaga-jaga tetap lebih baik.
Dia pernah merasakan kelaparan. Steven tidak akan membiarkan hal tak terduga merusak rencananya lagi.
Steven membayar dengan hati ringan, lalu melangkah keluar di bawah senyum ramah pelayan yang mengantarnya sampai pintu.
Saat itulah, sebuah suara yang sangat familiar menyapa dari samping.
“Steven, kebetulan banget!”
