8. MAYA
Dingin menyergap dari dalam tubuhku. Reaksi mentah yang selama ini sering kugunakan sebagai pegangan—cara cepat untuk membekukan rasa, mengebalkan diri dari nyeri. Tapi sekalipun aku berusaha membungkus diri dengan itu, kata-katanya tetap menghantam dan memecahkanku.
Dadaku ngilu dengan sensasi yang asing, cepat merambat seperti racun. Tenggorokanku mengeras, ada benjolan yang menahan napas, dan air mata menggenang di pelupuk.
Tidak. Tidak, aku nggak boleh kelihatan lemah. Aku nggak boleh biarkan dia lihat.
Aku memejamkan mata, memanggil serigalaku. Dia menangkap lukaku dan ragu sekejap, tapi aku butuh jalan keluar secepatnya. Aku harus menyembunyikan diriku sebelum salah satu dari mereka melihat aku apa adanya.
Lemah dan putus asa.
Serigala betina itu mengambil alih, dan aku menyambar ke barisan pepohonan terdekat, lari sekuat tenaga—sejauh mungkin—menjauh dari satu-satunya harapanku sendiri.
“Sial,” suara seseorang terdengar di belakangku. “Dia nggak boleh masuk sana. Para bandit bakal menghabisinya.”
Aku tidak paham maksudnya apa, tapi aku juga tidak peduli. Aku malah lari lebih kencang.
Kubiarkan naluri serigalaku memimpin. Dia satu-satunya yang bisa lari, kabur, dan bersembunyi. Sementara aku… aku cuma seperti ahli merusak segalanya.
Aku salah tentang semuanya.
Larson sama saja seperti ayahku. Setidaknya, aku sudah menghindari satu masalah. Bodoh sekali aku sempat menggantungkan harapan padanya.
Atau… apa itu benar-benar bodoh?
Berpikir tetangga yang dulu baik padaku akan menyelamatkanku. Berpikir seorang kekasih akan menyelamatkanku.
Serigalaku kecil dan gesit, seperti peluru mungil yang ditembakkan menembus hutan yang rapat. Baru saat dia menyusup dan meringkuk di bawah semak, aku sadar—dia bukan bereaksi terhadap Rhyson.
Serigala.
Bau-bau itu sudah lama, mungkin dari beberapa hari sampai sepekan, tapi jumlahnya banyak. Apa aku tanpa sadar masuk wilayah kawanan? Kalau ada alfa yang menangkapku, aku tamat. Tapi jejak-jejak ini terasa… pribadi. Bukan jejak kawanan. Itu juga tidak masuk akal.
Aku di mana, sih?
Aku memaksa otakku berpikir tentang apa yang kuketahui soal raja baru. Raja Silas berkuasa sejak dulu—sejauh yang kuingat—bahkan hampir satu dekade sebelum aku lahir. Dia sudah melewati tiga puluh tahun memerintah, tapi jarang sekali menginjakkan kaki di bagian negeri ini. Aku belum pernah melihatnya. Aku bahkan tidak yakin ayahku pernah bertemu dengannya. Katanya, di akhir-akhir masa itu, Silas mulai kehilangan kewarasan.
Lalu Rhyson muncul entah dari mana dan menantangnya. Kakaknya seorang alfa, dan Rhyson bagian dari kawanan itu. Aku tidak tahu kenapa dia menantang Silas, tapi aku dengar dia melewati pertarungan tantangan selama sebulan penuh—brutal, tanpa ampun. Aku ingat Chase pernah bertanya pada ayahku apakah ayah akan menantangnya juga, tapi Bruce menyukai posisinya sekarang. Ya, dia ingin memperluas kawanan, tapi jadi raja? Itu beban yang terlalu besar.
Lalu apa urusannya dia ada di sini?
Raja tinggal lima ratus mil jauhnya, dan mustahil kami menempuh jarak sejauh itu dalam lima jam. Jadi aku ini sebenarnya ada di mana?
Yang paling membuatku frustrasi, aku ingin bisa berkomunikasi dengan serigalaku. Orang-orang lain seakan tahu persis apa yang dipikirkan atau dirasakan serigala mereka. Mereka bisa bergerak sebagai satu. Tapi aku dan serigalaku tidak begitu. Kami seperti terputus—jauh sekali—dan aku tak tahu alasannya.
Meski begitu, aku tetap mencoba “bertanya” padanya kenapa kegelisahannya makin menjadi.
Tidak ada jawaban.
Aku bisa mencium aroma para serigala, tapi ada sesuatu yang lain—sesuatu yang membuatnya sangat tidak nyaman.
Kami tidak mungkin bersembunyi di bawah semak selamanya. Aku harus menemukan seseorang untuk kutanya aku ada di mana. Dengan begitu banyak serigala di sekitar, kecil kemungkinan ini wilayah manusia. Kalau aku beruntung, alfanya akan baik dan mau mengerti.
Tapi aku memang tak pernah beruntung. Jadi, ayo kita intai dulu situasinya. Aku memaksa serigalaku mundur dan mengambil alih. Tak ada suara apa pun, jadi pelan-pelan aku merangkak keluar dari bawah semak. Perutku melilit, tapi kuabaikan. Sudah hampir seharian aku tidak makan, tapi ini juga bukan pertama kalinya aku bertahan tanpa makanan. Biasanya aku punya waktu kira-kira dua belas jam sebelum tubuh mulai lemas.
Hanya saja sekarang semuanya berbeda. Perhitungan yang biasa kupakai sama sekali tidak ada gunanya. Meski begitu, aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Serigalaku seumur hidup belum pernah berburu. Aku bahkan tak tahu apa dia tahu caranya, tapi ada firasat aku tak akan dibiarkan berkeliaran sendirian selama dua belas jam ke depan. Serigala itu teritorial. Pasti ada yang akan menemukan aku.
Matahari sudah tinggi, tapi hutan rapat dan memberi banyak teduh. Panas musim kemarau bisa menyiksa serigala, tapi tidak di sini. Aku menyeret diri pelan-pelan, kepalaku terus berputar, sampai akhirnya aku mendengar gemericik air. Dengan hati-hati, aku melangkah menuju sebuah tanah lapang kecil. Sebuah sungai besar mengalir di sisiku. Tiba-tiba rasa hausku tak terbantahkan; aku tetap dekat bibir sungai sambil berjalan, mencari bagian yang lebih tenang. Sekitar setengah mil ke hilir, sungai melebar dan arusnya melambat. Aku menunggu beberapa menit, memastikan tak ada apa-apa yang muncul dari rimbun semak.
Akhirnya aku meneguk air sungai yang dingin, memuaskan dahaga yang sejak tadi menggerogoti. Kaki-kakiku mulai gemetar. Aku kelelahan. Aku tak bisa bertahan lama tanpa makan.
Aku baru saja menoleh ketika bayangan itu keluar dari hutan.
Aku sama sekali tidak punya kesempatan.
Serigala itu—hampir dua kali ukuran tubuhku—menerjangku. Tubuhku terpelanting, berguling, lalu jatuh ke sungai. Saat aku berusaha bangkit, taringnya menancap di bahuku dan aku menjerit. Panik langsung menyergap; aku sempoyongan menjauh dari penyerang itu.
Tanah di bawah kakiku tiba-tiba amblas, dan aku terjun lebih dalam ke sungai. Darah bercampur dengan air sementara arus mulai menyeretku ke hilir, dan aku mengayuh putus asa. Sebagai manusia, aku bahkan tidak tahu cara berenang—tapi sebagai serigala?
Lebih parah.
Dia menjerit panik, berjuang agar tetap mengapung. Air memenuhi mulutku dan menerjang masuk ke tenggorokan, hampir membuatku tersedak. Aku berusaha menerobos ke permukaan.
Kacau.
Selesai sudah. Aku akan tenggelam di tengah entah-berantah.
Sesuatu melilit tubuhku dan menarikku. Refleks, aku melawan, tapi cengkeramannya justru makin kuat, menyeretku melawan arus. Kami muncul ke atas air. Aku berusaha memutar kepala untuk melihat apa yang menahanku, tapi sudutnya tak memungkinkan. Aku menahan napas, menekan serigalaku dalam-dalam, memaksa fokus.
Aku merasakan keberadaan seorang pengubah wujud—tapi yang menarikku adalah lengan manusia yang menyeretku ke tepi.
Saat akhirnya dia menarikku keluar dari sungai, aku menoleh untuk melihat siapa itu.
Rhyson.
Serigalaku berusaha muncul lagi untuk kabur, tapi tubuhku sudah terlalu lelah. “Berhenti,” perintahnya.
Sihir serigala itu menarikku—keras, tegas—dan serigalaku langsung ambruk, meringkuk dengan rengekan pasrah. Amarah membara di matanya saat menatapku.
“Kau mau bunuh diri, ya?”
Memang bukan seperti aku bisa menjawabnya. Aku memuntahkan air lagi sambil batuk. Darah terus mengalir dari bahuku, dan ketika aku berusaha bangun, kakiku tak mau menurut. Pandanganku menggelap. Aku pingsan, ambruk ke tanah.
