Bab [7] Muntah Setelah Satu Ciuman

Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta.

Di ruang praktik Departemen Intervensi Psikologis, Arjuna Pratama menatap dokter dengan wajah tanpa ekspresi.

"Maksud Dokter, semua ini hanya delusi saya? Dan tidak ada obatnya?"

Pagi-pagi sekali ia sudah membuat janji dengan dokter, tetapi kabar yang baru saja ia dengar ini rasanya lebih menyakitkan daripada dibunuh.

"Betul, Pak Arjuna. Kondisi Anda ini memang tidak bisa diobati dengan obat-obatan. Anda bisa mencoba untuk menerima istri Anda, jangan menolak kedekatannya." Dokter paruh baya itu pada akhirnya hanya bisa memberikan nasihat yang ambigu.

Arjuna keluar dari ruang praktik dokter dengan wajah muram.

Ponsel di sakunya sudah bergetar hebat selama lebih dari sepuluh menit. Sambil memijat pelipisnya, ia mengeluarkan ponsel itu.

Melihat nama penelepon, ia ragu sejenak sebelum menekan tombol terima.

"Citra," sapanya, berusaha menata pikiran dan berbicara dengan nada setenang dan selembut mungkin.

"Kak Arjuna, bukannya Kakak bilang pagi ini mau datang ke rumah sakit buat jenguk aku?" rengek Citra Lestari di seberang telepon.

"Iya, aku sudah di rumah sakit, kok. Sebentar lagi aku ke sana." Setelah menutup telepon, Arjuna tidak lagi ragu dan langsung berjalan menuju gedung ortopedi.

Citra Lestari yakin, setelah drama yang ia ciptakan kemarin, Arjuna pasti akan menceraikan si jalang Cyntia Maharani itu. Karena itu, suasana hatinya sedang sangat baik.

Terlebih lagi saat melihat Arjuna benar-benar datang, senyum di bibirnya tak bisa ia sembunyikan. Benar dugaannya, di dalam hati Arjuna, dirinyalah yang paling penting.

"Kak Arjuna, masa datang dengan tangan kosong, sih?" Citra pura-pura cemberut, merajuk dengan nada menggoda.

Arjuna menunduk menatap tangannya yang kosong, lalu tertawa kecil. Ia benar-benar tidak terpikirkan soal itu. Janjinya untuk menjenguk Citra pagi ini sudah benar-benar ia lupakan, makanya ia tidak membawa hadiah apa pun.

"Salahku. Aku suruh orang antarkan makanan untukmu sekarang, ya? Kamu mau makan apa? Atau mau hadiah apa?"

"Hmph, memangnya aku mau hadiah? Aku cuma bercanda, kok. Kak Arjuna datang jenguk aku saja, aku sudah senang sekali."

Citra duduk di ranjang, mengenakan piyama rumah sakit yang membuatnya terlihat semakin rapuh dan menyedihkan. Arjuna tersenyum sambil mengacak-acak rambutnya.

Ia ingat Citra yang dulu selalu seperti matahari, selalu ceria. Namun, perpisahan selama dua tahun sepertinya telah mengubah banyak hal pada semua orang.

Citra menarik Arjuna untuk duduk di tepi ranjang, lalu dengan pura-pura santai, ia bertanya dengan nada menyelidik.

"Oh ya, semalam Kak Cyntia nggak menyusahkan Kakak, kan? Sebenarnya ini semua salahku. Kalau saja aku tidak terpeleset dan jatuh, aku nggak akan gampang didorong sama dia." Ia mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

Mendengar nama Cyntia disebut, Arjuna teringat pemandangan pagi tadi. Wanita itu meringkuk di sofa, terlihat mungil dan menggemaskan. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang putih mulus. Ia masih mengenakan gaun tidur bertali tipis warna putih yang ia pakai semalam. Karena posisi tidurnya, ujung gaun itu sudah tersingkap hingga ke pangkal paha, dan wanita kecil yang tertidur itu sama sekali tidak menyadarinya.

Kalau sadar, entah bagaimana lagi dia akan melotot padanya. Arjuna terpaksa turun dari ranjang, dengan niat baik menarik ujung gaunnya ke bawah, dan akhirnya, ia menggendong wanita itu ke tempat tidur.

Setelah melakukan semua itu, ia sendiri merasa tindakannya sangat aneh, tetapi saat itu ia melakukannya begitu saja.

Mengingat semua itu, seulas senyum tanpa sadar terukir di bibir Arjuna. Hal itu membuat Citra di sampingnya sedikit panik. Kenapa saat ia menyebut nama Cyntia, Arjuna tidak marah, malah tersenyum aneh?

Ia meremas selimut di bawahnya erat-erat, berusaha menjaga nada bicaranya agar terdengar biasa saja.

"Kak Arjuna, Kakak senyum kenapa?"

Mendengar itu, kening Arjuna tiba-tiba sedikit berkerut.

"Nggak apa-apa."

Citra tiba-tiba memeluknya erat, lalu menangis tersedu-sedu.

"Kak Arjuna, maafkan aku. Aku tahu, aku seharusnya nggak meninggalkan Kakak dan pergi ke luar negeri dua tahun lalu. Tapi, aku nggak punya pilihan, Kak. Waktu itu Ibu mengancam mau bunuh diri, jadi aku terpaksa pergi untuk melanjutkan studi. Maafkan aku, Kak Arjuna, aku benar-benar menyesal. Seharusnya aku nggak pergi."

Arjuna tidak menyangka Citra akan tiba-tiba menjelaskan kejadian dua tahun lalu. Sejak Citra kembali, mereka berdua sama-sama sepakat untuk tidak membahas masa lalu itu. Arjuna pikir hal itu sudah tidak penting lagi.

Ternyata, dulu ibunyalah yang memaksanya.

Seketika, ia melupakan Cyntia dari benaknya.

"Iya, aku nggak menyalahkanmu. Sudah, jangan menangis lagi." Kali ini, Arjuna balas memeluknya dengan lembut.

Citra tahu, jika ia tidak mengangkat topik masa lalu, Arjuna mungkin sudah pergi dari tadi.

Lingkar matanya memerah karena menangis. Arjuna merasa sedikit iba, lalu mengangkat tangan untuk menghapus air matanya.

"Sudah, jangan menangis. Nanti jadi jelek, lho," goda Arjuna sambil tersenyum.

Citra mengangguk, lalu menundukkan kepala dengan sedih.

"Kalau saja dulu aku tidak pergi, yang menjadi Nyonya Pratama sekarang pasti aku. Yang menikah denganmu juga pasti aku."

Tangan Arjuna membeku di udara, tak bisa lagi melanjutkan usapannya. Karena sekali lagi, ia tak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan Cyntia, wanita kecil yang selalu mengacaukan pikirannya dan mengendalikan emosinya.

Ia jelas sangat membencinya, tetapi saat melihatnya tertidur seperti kucing di ranjangnya, ia tak bisa menahan diri untuk tidak merasa wanita itu sangat menggemaskan.

"Kamu istirahat yang baik, ya." Nanti aku datang lagi kalau ada waktu. Tiba-tiba, Arjuna merasa ingin segera pergi.

Citra menarik ujung bajunya dengan mata berkaca-kaca.

"Nggak bisa temani aku lebih lama lagi?"

"Anak baik, cepat sembuh, ya. Aku akan datang setiap hari, kok. Nurut, ya." Saat Arjuna bersikap lembut, pesonanya benar-benar bisa membuat siapa pun luluh. Mungkin inilah kelembutan yang tidak bisa ditolak oleh wanita mana pun.

"Baik, aku tunggu." Namun, saat Arjuna berbalik, Citra tiba-tiba bangkit dari ranjang dan tanpa ragu mencium pipinya.

Arjuna terkejut oleh ciuman mendadak itu, dan seketika rasa mual yang tak tertahankan menyerangnya. Tanpa sempat berkata apa-apa, ia melepaskan diri dari Citra dan berlari ke kamar mandi.

Sambil berpegangan pada wastafel, ia muntah-muntah. Rasa mual yang luar biasa itu membuat wajahnya pucat pasi. Tapi karena pagi ini ia belum makan apa-apa untuk keperluan pemeriksaan, tentu saja tidak ada yang bisa ia keluarkan.

Dan ia sadar, perasaan ini... bukan miliknya. Ini milik Cyntia.

Apa lagi yang dilakukan wanita itu? Kenapa dia bisa muntah separah ini?

Setelah gelombang mual itu sedikit mereda, ia menatap cermin dengan ekspresi kalut.

Sementara itu, Citra yang berdiri di ambang pintu kamar mandi sudah terpaku. Ia hanya mencium pipinya, dan reaksinya sampai semual ini? Wajah Citra saat ini bahkan lebih pucat daripada wajah Arjuna.

"Kak Arjuna, kamu..." Pada saat itu, Citra merasakan apa artinya canggung, malu, dan terhina.

Beberapa saat kemudian, barulah Arjuna menyadari keberadaan Citra di pintu. Pikirannya sangat kacau, dan rasa sesak di dadanya kembali datang. Tanpa memberikan penjelasan apa pun, ia hanya bergumam, "Maaf," lalu bergegas pergi.

Citra tidak percaya pria yang pergi dengan begitu dingin dan tegas itu adalah Arjuna.

Ia hanya bisa terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arjuna bereaksi seperti itu hanya karena ia punya fobia kebersihan. Jika Arjuna tidak bisa disentuh olehnya, berarti Cyntia pasti lebih tidak bisa menyentuhnya, kan?

Memikirkan hal itu, ia merasa sedikit lega. Insiden kecil tadi tiba-tiba tidak lagi ia pedulikan.

Sementara itu, setelah kembali ke mobil, Arjuna memberi perintah kepada sopirnya, "Segera kembali ke Teluk Permata."

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya