Bab 144

Dia berdiri, memutari meja, lalu menepukkan satu tangan ke bahuku. Genggamannya tegas, mantap—bukan sekadar menahan, tapi seolah memastikan aku tetap berdiri di tempat.

“Apa pun yang lagi kamu hadapi di rumah, aku harap kamu bisa beresin secepatnya,” katanya pelan, namun nada suaranya tidak membuka...

Masuk dan lanjutkan membaca