
Sebelum Dia Menjadi Miliarder Terobsesiku
Vivian Brooks · Selesai · 227.4k Kata
Pendahuluan
Kieran Cross tak pernah menjawab.
Selama dua tahun, Summer hidup dengan keyakinan kalau pernikahan mereka cuma bentuk balas dendam. Sentuhan Kieran dingin seperti es, genggamannya selalu terasa seperti belenggu, dan diamnya… tajam, seolah bisa melukai tanpa perlu kata-kata. Cowok kaya raya yang dulu ia anggap tak terlihat saat SMA akhirnya membuatnya membayar semuanya.
Sampai malam saat Kieran mati demi menyelamatkannya.
Ketika yacht mereka miring lalu tenggelam, ombak membekukan menampar wajah Summer tanpa ampun. Lampu-lampu di atas geladak padam satu per satu, berubah jadi titik-titik redup di balik kabut asin. Di tengah kekacauan—teriakan, bunyi logam beradu, aroma bahan bakar—Kieran mendorongnya ke perahu penyelamat.
Dengan paksa.
Dengan tenaga terakhir.
Ada darah di bibirnya, merah gelap yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya tetap menahan Summer, seolah tak mau melepas walau laut menarik tubuhnya ke bawah. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah—untuk pertama kalinya selama Summer mengenal Kieran—mulut itu membentuk kalimat yang selalu ia tunggu, kalimat yang tak pernah sekalipun ia dengar.
“Aku cinta kamu.”
Summer baru benar-benar mengerti saat semuanya terlambat.
Saat perahu penyelamat menjauh, dan sosok Kieran tersapu gelombang, lenyap dalam dingin yang tak berujung.
Tiga tahun kemudian, Summer hidup seperti cangkang kosong. Duka menggumpal di dadanya, tak pernah benar-benar turun, sementara ingatan malam itu terus menghantamnya di waktu-waktu yang paling tak siap. Suara air, bau garam, rasa sesak—semuanya datang mendadak, menelan napasnya. PTSD membuatnya sulit tidur, sulit makan, sulit percaya bahwa ia masih berhak hidup.
Lalu suatu hari, saat jalanan basah dan lampu-lampu kendaraan berpendar di kaca, dunia berputar terlalu cepat.
Mobilnya menabrak.
Benturan keras. Gelap. Sunyi.
Dan saat Summer membuka mata—
Ia ada di kamar yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Dinding dengan poster lama, meja belajar penuh buku, aroma sabun laundry yang dulu selalu dipakai ibunya. Jantungnya seperti berhenti, lalu berdetak liar.
Ia menoleh.
Di cermin, wajahnya… muda. Terlalu muda. Pipi masih penuh, mata masih menyimpan naivete yang seharusnya sudah lama mati. Tubuhnya kecil, tangan ini tangan remaja.
Enam belas.
Summer menahan napas saat mendengar suara dari luar kamar.
Suara yang selama bertahun-tahun ia rindukan sampai rasanya bisa gila.
Ibunya.
Masih hidup.
Kaki Summer lemas. Ia hampir jatuh hanya karena satu kenyataan itu. Dunia yang dulu merebut terlalu banyak darinya—kali ini mengembalikan sesuatu yang mustahil.
Namun ada satu hal lagi yang membuat tengkuknya merinding.
Kieran.
Kieran Cross yang ia kenal—suaminya, miliarder yang tak tersentuh, pria dengan jas mahal dan tatapan yang tak pernah benar-benar hangat—belum menjadi siapa-siapa.
Di usia ini, Kieran bukan penguasa yang membuat orang menunduk. Ia hanyalah anak beasiswa yang semua orang anggap tidak penting. Yang duduk di ujung kelas. Yang menunduk saat berjalan, seolah berharap tak ada yang melihatnya.
Pendiam.
Kelelahan.
Dan terlalu kurus, seolah sengaja menahan lapar demi seseorang.
Summer segera mengingat detail-detail yang dulu tak pernah ia pedulikan—karena dulu ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Kieran punya adik perempuan kecil yang tuli. Dan Kieran bekerja apa saja, mengambil shift tambahan, menahan kantuk, menahan lapar, agar adiknya tetap bisa makan… tetap bisa sekolah… tetap bisa bertahan.
Sementara semua orang? Menertawakan sepatu lusuhnya. Mengabaikan keberadaannya. Menganggapnya cuma “anak miskin” yang kebetulan numpang belajar di sekolah mereka.
Summer menelan ludah saat bayangan masa depan menghantamnya: Kieran yang kelak menjadi pria yang dingin, keras, dan penuh rahasia. Kieran yang memeluknya tanpa pernah benar-benar memberi tempat aman. Kieran yang mati untuknya—dan baru mengucapkan “aku cinta kamu” di detik terakhir hidupnya.
Kalau ini kesempatan kedua…
Kalau takdir benar-benar memberinya kesempatan—
Maka kali ini, ia tak akan membiarkan Kieran menjalani hidup sendirian.
Hari pertama ia kembali ke sekolah, semuanya terasa seperti déjà vu yang kejam. Lorong ramai, tawa, geng-geng kecil yang dulu ia kenal. Tapi pandangan Summer tak mencari siapa pun selain satu nama.
Dan ia menemukannya.
Kieran duduk di bus sekolah, berdiri di dekat pintu, memeluk tasnya dekat dada. Tatapannya menelusuri bangku-bangku yang sudah terisi—tempat yang tak pernah disisakan untuknya. Anak-anak lain berpura-pura tak melihat, ada yang sengaja memalingkan wajah, ada yang menyeringai kecil.
Tak ada satu pun yang menawarkan kursi.
Summer merasakan dada panas, bukan karena marah saja, tapi karena rasa bersalah yang menumpuk seperti utang.
Dulu, ia juga salah satu dari mereka.
Dulu, ia juga memilih diam.
Kali ini tidak.
Summer melangkah masuk, menembus kerumunan, dan duduk di bangku kosong sebelah jendela. Ia menoleh pada Kieran—pada anak laki-laki yang suatu hari akan menjadi suaminya, pada pria yang mati demi dirinya—lalu menepuk kursi di sebelahnya.
“Duduk sini,” kata Summer, suaranya tegas tapi lembut. “Masih kosong.”
Kieran seperti tak percaya. Matanya menatap Summer sejenak, bingung, ragu, seolah khawatir ini cuma lelucon. Ia menelan ludah, lalu duduk perlahan, tubuhnya kaku seperti siap kabur kapan saja.
Summer memandang lurus ke depan, tapi hatinya bergetar.
Karena ia tahu apa yang dipertaruhkan.
Di hidup ini, ia akan menyelamatkan Kieran—bukan hanya dari kelaparan, kelelahan, dan kesepian, tapi dari masa depan yang membentuknya jadi pria yang begitu hancur sampai cinta pun ia simpan sebagai senjata.
Namun semakin dekat Summer dengan Kieran, semakin besar kemungkinan ia mengorek kebenaran yang dulu tersembunyi rapi: alasan Kieran menjadi seperti itu, alasan kebenciannya terasa seperti cinta yang salah arah, dan alasan mengapa… setiap kali Kieran mencintainya, ujungnya selalu tragedi.
Dan Summer tak tahu mana yang lebih menakutkan—
Menyelamatkan Kieran…
atau mengetahui bahwa takdir selalu meminta bayaran saat mereka saling jatuh cinta.
Bab 1
Sudah tiga tahun aku rebahan di kursi terapi beludru abu-abu milik Dr. Martinez, dan sampai sekarang aku masih belum sanggup mengatakan yang sebenarnya tentang Walden Pond.
Mesin white noise di sudut ruangannya mendengung pelan, statis halus yang katanya bisa menenangkan. Di balik jendela dari lantai sampai langit-langit, Back Bay, Boston, menyala oleh warna musim gugur—pohon mapel menguning dan memerah, daun-daunnya menangkap sisa matahari sore. Indah, tapi jenis keindahan yang tajam, yang justru bikin dadaku ngilu. Semua yang indah sekarang rasanya menyakitkan. Sudah menyakitkan sejak tiga tahun lalu, sejak hari musim panas itu ketika aku melihat suamiku tenggelam di bawah permukaan danau… dan tidak pernah muncul lagi.
“Summer.” Suara Dr. Rebecca Martinez lembut tapi tegas—selalu begitu setiap kali dia merasa aku sebentar lagi akan kabur. “Kita sudah menari tarian yang sama selama tiga tahun. Setiap minggu kamu datang, duduk di kursi itu, dan kamu cerita tentang apa saja… kecuali tentang apa yang terjadi di Walden Pond.”
Aku memelintir tisu di tanganku sampai mulai sobek-serpih. Buku-buku jariku memutih. Aku bisa merasakan panas merambat ke wajah—astaga, aku benci betapa gampangnya aku merona, betapa perasaanku selalu terpampang jelas di kulit seolah aku papan pengumuman berjalan. Bahkan sekarang, di usia dua puluh tujuh, aku masih belum bisa mengendalikan itu.
“Aku tahu apa yang terjadi,” kataku, tapi suaraku terdengar lebih kecil dari yang kuinginkan. “Aku ada di sana. Aku ingat.”
“Benarkah?” Dia condong sedikit, tatapan matanya yang gelap menguliti wajahku. “Karena catatan medis kamu bilang kamu mengalami celah ingatan yang cukup besar setelah kejadian itu. Disosiasi karena trauma. Otak kamu melindungi kamu dari bagian yang paling buruk.”
Bagian yang paling buruk. Hampir saja aku tertawa—kalau saja ada satu hal pun di sini yang lucu.
Yang paling buruk adalah aku yang selamat dan Kieran tidak.
Yang paling buruk adalah dua tahun pernikahan yang kujalani dengan keyakinan bahwa dia membenciku—bahwa pernikahan kami cuma semacam rencana balas dendam yang rumit, bahwa setiap tatapan dingin dan sentuhan yang terukur itu sengaja dibuat untuk mengingatkanku betapa kejinya aku padanya waktu SMA.
Yang paling buruk adalah… aku salah. Salah besar.
“Aku nggak bisa tidur.” Aku sendiri mendengar kata-kata itu keluar sebelum sempat kutahan. “Aku udah coba semuanya. Aku pindah dari penthouse kami—terlalu banyak kenangan. Aku tinggal di rumah batu cokelat peninggalan ibu—itu malah lebih parah. Aku bahkan sempat sebulan di Four Seasons, mikir mungkin hotel bakal terasa netral. Tapi percuma. Mau aku di mana pun, dua jam semalam, paling tiga kalau lagi beruntung. Dan kalau aku tidur… aku mimpiin dia.”
“Ceritakan mimpinya.”
Aku memejamkan mata. Di balik kelopak, wajah Kieran muncul seterang kalau dia benar-benar berdiri di depanku. Mata abu-abu tua itu—mata yang selalu memandangku seolah aku sesuatu yang berharga sekaligus mengerikan, seolah dia terombang-ambing antara memujaku dan mengadiliku.
Di mimpiku, dia tidak pernah bicara. Dia cuma menatap, dengan ekspresi intens yang tidak terbaca—ekspresi yang sama yang dia pakai sepanjang pernikahan kami. Dan setiap kali aku terbangun, aku megap-megap, bantal basah oleh air mata yang bahkan tidak kuingat kapan aku menangis.
“Dia… menatap aku,” bisikku. “Cuma… menatap. Dan aku nggak pernah bisa tahu dia masih cinta sama aku, atau dia benci aku karena aku yang selamat.”
“Summer.” Suara Dr. Martinez kini lebih halus, hampir penuh belas. “Kurasa sudah waktunya kita bicara tentang hubungan kamu dengan Kieran. Bukan kecelakaannya. Belum. Kita mulai dari awal dulu. Bagaimana kalian berdua bertemu.”
“Kami nggak ketemu.” Kata-kataku keluar getir. “Kami satu sekolah. St. Jude’s Prep. Tapi aku nggak benar-benar melihat dia sampai… sampai semuanya keburu terlambat.”
Ingatan itu menghantamku, datang beruntun—tajam dan menyakitkan seperti pecahan kaca.
SMA.
Ya Tuhan, dulu aku benar-benar menyebalkan. Sekarang aku bisa mengakuinya tanpa banyak alasan, duduk di ruangan terapi ini dengan tiga tahun duka yang sudah cukup jadi guru paling kejam.
Waktu itu aku adalah Summer Hayes—putri mahkota St. Jude's Preparatory Academy, anaknya Victoria Hayes, CEO Hayes & Co., salah satu brand fashion independen paling sukses di Boston. Aku nyetir mobil convertible putih hadiah ulang tahun keenam belas dari Mom, pakai Lululemon dan MiuMiu seolah itu seragam sekolah, dan menghabiskan jam makan siang dengan “berkuasa” di aula makan—dikelilingi cewek-cewek yang ketawa di setiap leluconku dan cowok-cowok yang sampai gugup sendiri cuma demi boleh bawain bukuku.
Sementara Kieran…
Kieran dulu cuma… bukan siapa-siapa. Setidaknya begitu yang kupikir. Dia pindahan di tahun ketiga, anak beasiswa dari South Boston yang tiap hari pakai hoodie navy yang warnanya sudah pudar, duduk di pojok paling belakang setiap kelas, diam seperti hantu. Aku bahkan tidak pernah benar-benar mengingat namanya. Untuk apa? St. Jude’s penuh dengan anak-anak seperti dia—yang masuk lewat bantuan biaya, yang kerja di perpustakaan atau kantin buat nutup uang buku, yang jelas-jelas bukan bagian dari dunia kami dan mereka pun tahu diri.
Aku terlalu sibuk mengejar Evan Whitmore sampai tak sempat melihat siapa pun yang lain.
Evan dengan rambut ikal keemasan dan senyum yang seolah tidak pernah kesulitan apa pun. Evan yang main piano di perkumpulan musik dan ikut dayung di Charles River. Evan yang keluarganya punya rumah musim panas di Hamptons dan ibunya pakai mutiara bahkan saat rapat orang tua-guru. Aku begitu yakin, dia itu masa depanku.
Aku begitu bodoh.
“Apa yang terjadi setelah lulus SMA?” tanya Dr. Martinez, suaranya menarikku kembali ke ruangan ini, ke saat ini.
“Aku nggak lihat dia lagi bertahun-tahun.” Aku membuka mata, menatap plafon putih yang terlalu bersih. “Perusahaan Mom hancur waktu aku kuliah. Penipuan keuangan. Tante Maya—adik Mom—pakai rekening offshore buat cuci uang. Investigasi federal, pemberitaan di mana-mana, heboh gila-gilaan. Mom yang kena semua.”
Suaraku pecah di kata terakhir itu. Bahkan sekarang—tiga tahun setelah aku kehilangan Kieran—ingatan kehilangan ibuku rasanya seperti luka yang baru disayat ulang. Mom meninggal di penjara—serangan jantung tengah malam, sendirian di sel, sementara aku ada di sebuah gala amal, berusaha kelihatan normal seolah hidupku tidak sedang terbakar habis dari segala arah.
“Dan Kieran?” Dr. Martinez bertanya pelan.
“Dia muncul di salah satu gala itu. Tiga tahun setelah Mom meninggal.” Dadaku naik turun, dan tawa kecilku terdengar kasar, asing di telingaku sendiri. “Dia… beda. Bukan anak beasiswa itu lagi. Dia pakai setelan Tom Ford yang mungkin harganya lebih mahal daripada biaya kuliahku setahun. Forbes baru saja masukin namanya sebagai salah satu pengusaha teknologi terbaik di bawah tiga puluh. Cross Capital—itu hedge fund-nya. Miliaran, Dr. Martinez. Dia dapat miliaran.”
“Dan dia memintamu menikah dengannya.”
“Dia menyuruh aku menikah,” koreksiku. “Bukan minta. Kita berdiri di lobi MFA, dikelilingi orang-orang paling ‘berkelas’ di Boston, dan dia menatapku dengan mata abu-abu yang dingin itu lalu bilang, ‘Marry me. I’ll give you everything you’ve lost.’”
Dr. Martinez diam sebentar. “Kenapa kamu bilang iya?”
Karena aku sudah tidak punya apa-apa.
Karena ibuku sudah mati dan dana perwalianku lenyap, dan media masih dengan santainya menyebutku “pewaris yang tercoreng” setiap kali mereka sempat mengingat aku ada. Karena Kieran menatapku seperti dia bisa membaca setiap pikiran memalukan dan putus asa di kepalaku—lalu menawari jalan keluar.
Karena ada bagian kecil dalam diriku yang bodoh, yang masih percaya mungkin Kieran menyukaiku sejak SMA, dan ini cara dia menyelamatkanku.
“Aku pikir…” Aku menelan ludah, tenggorokanku perih. “Aku pikir mungkin dia ingat aku dari SMA. Mungkin dulu dia naksir aku, dan sekarang ini kesempatan dia akhirnya ‘punya’ aku. Aku pikir semuanya akan seperti dongeng. Cowok miskin sukses besar, balik buat cewek yang dulu nggak pernah lihat dia.”
“Tapi kenyataannya tidak seperti itu.”
“Bukan.” Kata itu keluar datar. “Sama sekali bukan.”
Bab Terakhir
#228 Bab 228
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026#227 Bab 227
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026#226 Bab 226
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026#225 Bab 225
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026#224 Bab 224
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026#223 Bab 223
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026#222 Bab 222
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026#221 Bab 221
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026#220 Bab 220
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026#219 Bab 219
Terakhir Diperbarui: 7/6/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Perangkap Ace
Hingga tujuh tahun kemudian, dia harus kembali ke kampung halamannya setelah menyelesaikan kuliahnya. Tempat di mana sekarang tinggal seorang miliarder berhati dingin, yang dulu hatinya yang mati pernah berdetak untuknya.
Terluka oleh masa lalunya, Achilles Valencian telah berubah menjadi pria yang ditakuti semua orang. Kehidupan yang membakar telah memenuhi hatinya dengan kegelapan tanpa dasar. Dan satu-satunya cahaya yang membuatnya tetap waras adalah Rosebud-nya. Seorang gadis dengan bintik-bintik dan mata pirus yang dia kagumi sepanjang hidupnya. Adik sahabatnya.
Setelah bertahun-tahun berjarak, ketika saatnya akhirnya tiba untuk menangkap cahayanya ke dalam wilayahnya, Achilles Valencian akan memainkan permainannya. Permainan untuk mengklaim apa yang menjadi miliknya.
Apakah Emerald akan mampu membedakan api cinta dan hasrat, serta pesona gelombang yang pernah membanjirinya untuk menjaga hatinya tetap aman? Atau dia akan membiarkan iblis itu memikatnya ke dalam perangkapnya? Karena tidak ada yang pernah bisa lolos dari permainannya. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan permainan ini disebut...
Perangkap Ace.
Ketika Aku Mencintaimu
Bahagia. Meski terkadang, Shakila tahu untuk saat ini ia belum mendapatkan cinta.
Memperjuangkan cinta sepihaknya. Mengejar laki-laki yang telah memiliki seorang kekasih. Tapi, bukankah seseorang memiliki sebuah alasan ketika ia memutuskan untuk terus berjuang?
Shakila bukanlah seorang pelakor, namun tanpa sengaja sebuah peristiwa membuat dirinya dapat menikah dengan pria impiannya.
Tentu saja, hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan baginya. Namun, berbanding terbalik dengan Delvin Arsalan Davendra. Bos Shakila itu menganggap jika pernikahannya adalah salah. Benar-benar salah. Tetapi, untuk saat ini ia tak mungkin menceraikan Shakila dengan cepatnya.
Lantas, bagaimana dengan saat yang akan datang? Apa Delvin masih menganggap jika pernikahannya adalah kesalahan? Atau malah sebaliknya?
Foxy Wife
Cinta bukanlah perioritas hidup Deby. Satu hal yang ditekankan, ia bukan perempuan nakal, orang terjepit hidup ataupun menjual diri.
Hanya melihat 'peruntungan' hubungan bersama seorang presdir Alzero Corp. Terikat penuh ke balas dendam.
Hidup sederhana cukup, Deby tak mengharapkan hal lain.
Menjadi istri diatas kertas adalah sebab ia mau. Sementara licik, licin dan perempuan ular bukanlah pilihan terakhir.
Deby sendiri yang memposisikan diri sendiri. So..., hit with that do. Done.
Zenit Alzero pun bukan orang yang terjebak, ia yang menawarkan. Tak ada dusta antara mereka.
Deby seorang anak dari mafia yang punya dendam ke keluarga Arnais, sepupu Zenit Alzero. Deby menikah ke Zen adalah untuk akses balas dendamnya.
Bagaimana jadinya Devil bertemu evil?
Akankah hubungan mereka berjalan baik?
Semua adalah kisah cinta dan balas dendam. bisakah cinta sejati mempersatukan mereka?
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Ayah Sahabat Terbaikku
Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.
Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.
Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?
Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Mami, Papi Memintamu Kembali
Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya!
Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan?
“Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?”
Pengantin Mafia-Nya
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.
Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.
Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.
Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.
Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.
Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.
Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia
Ketika aku kembali ke Bali dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku dipaksa untuk menghadiri pernikahan ibu angkatku — dan di sanalah dia berada. Kakak tiriku ternyata adalah partner satu malamku!
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang sangat kaya dan berkuasa di Bali, terlibat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselubungi misteri, termasuk nuansa gelap serta kekerasan.
Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Indonesia ini.
Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!
Dan sekarang, dia kembali ke Bali, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah perpaduan berbahaya dari kalkulasi dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jalinan takdir yang tidak bisa kuhindari.
Secara naluri aku ingin menjauhi bahaya, menjauh darinya, tetapi takdir terus mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku kecanduan padanya di luar kendaliku. Seperti apa masa depan kami?
Bacalah bukunya.
Pelacur Kakakku
"Tolong, Jake. Sekarang. Buat aku klimaks." Aku memohon.
Payton selalu menjadi gadis baik sepanjang hidupnya. Dia hanya ingin keluar dari rumah ibu dan ayah tirinya dan menjalani hidupnya sendiri. Yang tidak dia duga adalah saudara tiri yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka dan menjadi teman sekamarnya. Memang benar dia adalah mantan Marinir dengan perut berotot, tapi dia juga seorang mekanik motor yang suka bicara kotor padanya. Kata-katanya membuat Payton bergetar dalam antisipasi, dan tangannya membuat tubuhnya berkedut dan kejang.
Sekejap Keindahan
Baru saja sampai di luar pintu, terdengar suara ibu mertua, Bu Meiling, yang terdengar begitu menggoda.
Kemudian terdengar suara erangan dan bisikan aneh...
Mantan Istri yang Tak Terlupakan
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"












