Bab 42

Bel berbunyi, tapi tak satu pun bergerak.

Seluruh lapangan basket membeku dalam hening yang bikin dada sesak—hening habis kejadian buruk yang nggak mungkin ditarik kembali.

Aku sudah nggak bisa lihat wajah Kieran. Pandanganku kabur total, air mata panas tumpah lebih cepat daripada kedipanku bisa m...

Masuk dan lanjutkan membaca