Bab [221]: Membunuh dan Menghancurkan Hati

Mendengar pujian Luna Yenny, Susilo Yanuar mengulurkan tangan, mengangkat gelas wine di depannya, lalu menyesap sedikit—tenang, anggun, seolah tak ada apa pun yang bisa mengusik ritme hidupnya.

Ia berkata pelan, “Aku dari dulu udah bilang. Targetku nggak pernah jadi menantu keluarga Surya.”

Kalim...

Masuk dan lanjutkan membaca