Bab 1 Kami Kehilangan Anak Kami
"Jangan!"
Jeritan tajam memecah kesunyian kamar rumah sakit yang mencekam.
Citra tersentak bangun, keringat dingin membasahi gaun rumah sakitnya yang tipis. Warna putih yang menyilaukan mengepungnya, disusul aroma tajam disinfektan yang langsung menusuk penciuman.
Seorang perawat bergegas masuk. Raut wajahnya menyiratkan kelegaan saat melihat Citra sudah sadar.
"Mbak sudah sadar? Bagaimana perasaannya sekarang?"
Citra tidak menjawab. Ia hanya duduk terengah-engah, menatap kosong ke depan.
Perawat itu melembutkan suaranya, berusaha menenangkan. "Yang tabah ya, Mbak. Kami tidak bisa menyelamatkan kandungan Mbak."
"Tapi kondisi fisik Mbak perlahan stabil. Nanti kalau rahimnya sudah pulih, masih ada kesempatan untuk punya anak lagi."
Bayinya... tiada...
Kata-kata itu menghantam Citra layaknya batu besar yang meremukkan dadanya. Perlahan ia menunduk, kedua tangannya yang gemetar terulur menyentuh perutnya yang masih rata.
Sempat ada kehidupan kecil di sana, tumbuh dalam diam selama dua bulan terakhir.
Ingatan itu kembali berkelebat di benaknya. Gudang terbengkalai yang lembap. Wajah bengis si penculik dan kilat pisau di tangannya—semuanya begitu nyata, seolah baru detik ini terjadi.
"Bima Wibowo, pilih satu."
"Istrimu, Citra, atau cinta pertamamu, Alya?"
Suara penculik itu terdengar serak dan kejam, layaknya malaikat maut yang sedang menjatuhkan vonis.
Tatapan Citra terkunci pada sosok pria yang berdiri tak jauh darinya. Pria yang telah ia cintai selama lima tahun. Suaminya sendiri.
Ia melihat arah pandang Bima bergantian menatap dirinya dan sepupunya, Alya. Keraguan di mata pria itu bagaikan pisau tumpul yang perlahan menyayat hati Citra.
Lalu, ia menyaksikan suaminya itu menunjuk tanpa ragu ke arah Alya, yang sedang meringkuk ketakutan di belakangnya.
"Lepaskan Alya."
Detik itu juga, dunia Citra runtuh.
Sebuah bayangan melintas di benaknya. Hasil pemeriksaan yang baru saja ia ambil pagi tadi.
Positif hamil, 8 minggu.
Senyum haru dokter yang memberinya selamat masih terekam jelas. Rencananya, ia akan memberitahu Bima malam ini, tepat di hari jadi pernikahan mereka. Seharusnya ini menjadi kejutan yang manis.
"Sepertinya suamimu sudah menjatuhkan pilihan."
Penculik itu menempelkan pisaunya ke leher Citra. Dinginnya baja itu membuat sekujur tubuhnya meremang.
"Ada pesan terakhir buat suami tercintamu?"
Citra menatap Bima dari balik bilah pisau itu, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki untuk berbicara setegas mungkin.
"Mas Bima, aku hamil."
"Dua bulan."
Begitu kata-kata itu meluncur dari bibirnya, terdengar pekikan tertahan dari Alya yang bersembunyi di punggung Bima.
"Mas Bima, aku takut..."
Suaranya memang pelan, tapi cukup untuk menghancurkan sisa-sisa harapan Citra.
Penculik itu tertawa terbahak-bahak, jelas-jelas menikmati drama di depannya.
"Bima, lo dengar itu? Istrimu lagi bunting. Gue kasih lo satu kesempatan terakhir. Siapa yang mau lo selamatin?"
Jantung Citra seakan melompat ke tenggorokan. Dia menatap laki-laki itu, secercah harapan memancar di matanya.
Ada darah daging mereka di dalam rahimnya.
Si penculik melihat Bima yang masih bimbang dan memutuskan untuk "membantu" laki-laki itu memilih.
Dia memberi isyarat pada dua anak buahnya. Bima hanya bisa mematung tak berdaya saat dua preman itu mengambil posisi di samping Citra dan Alya, tangan-tangan kotor mereka mulai merayap ke pakaian kedua perempuan itu.
Si bos penculik bahkan mengeluarkan ponselnya, merekam penghinaan tersebut.
Suara kain robek memecah ketegangan.
Mata Bima memerah, menatap tajam si penculik dengan penuh amarah.
"Jangan sentuh mereka!" Suaranya bergetar menahan murka.
Si penculik tak peduli. Matanya dengan jalang menggerayangi tubuh perempuan cantik di depannya. "Kulit cewek lo mulus banget, Bos!"
"Tahu nggak? Gue berubah pikiran. Lo nggak usah milih lagi. Dua-duanya buat gue aja. Anak buah gue juga butuh hiburan. Habis kami puas, kami bakal telanjangin mereka dan buang ke jalanan. Biar gembel-gembel di luar sana juga bisa ikutan seneng."
Bajingan itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya sendiri.
Citra melihat tangan kotor itu terulur ke dadanya. Air mata menderas di pipinya saat dia mundur dengan panik.
Dia menatap Bima dengan sorot memohon.
"Mas Bima, tolong aku! Selamatkan anak kita, Mas!"
Citra tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada bayinya jika laki-laki bejat ini menodainya.
Alya tak mau kalah. Dia menatap Bima, otaknya berputar licik—jika Citra mati di tangan para penculik ini, Bima pasti harus menyelamatkannya.
Didorong pikiran jahat itu, Alya sengaja menggeser tubuhnya dan menabrak Citra keras-keras.
Tepat di depan Citra, sebilah pisau milik si penculik sudah menanti.
Tubuh Citra terdorong kuat ke depan. Goresan darah seketika muncul di lehernya.
Penculik di dekatnya melihat Citra terhuyung ke arahnya dan langsung mengumpat, "Bangsat, ngapain lo nabrak-nabrak gue!"
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Citra.
Darah segar menetes dari sudut bibir Citra saat dia menatap Bima dengan keputusasaan yang memilukan.
Namun, yang terdengar selanjutnya hanyalah suara Bima, masih dengan nada tegas dan mendesak.
"Aku pilih Alya! Lepaskan dia, aku bakal kasih apa pun yang kalian mau!"
Setetes air mata panas mengalir membasahi pipi Citra.
Hatinya mati seketika. Hancur tak tersisa.
Perempuan itu memejamkan mata, pasrah menunggu ajal menjemput.
Bilah pisau yang dingin itu menekan lehernya semakin dalam.
Dor!
Suara tembakan yang memekakkan telinga meledak di udara.
Rasa sakit yang ditunggu tak kunjung datang. Lengan si penculik yang memegang pisau mendadak terkulai lemas dan jatuh.
Di tengah kekacauan itu, Citra merasa tubuhnya seringan kapas saat seseorang menariknya ke dalam pelukan yang hangat dan penuh kekhawatiran.
Tepat sebelum kesadarannya benar-benar gelap, sayup-sayup dia melihat seraut wajah yang menatapnya dengan kepanikan luar biasa.
