Bab 2 Mari Bercerai

Pintu kamar rumah sakit berdecit saat terbuka.

Rangga masuk. Begitu melihat Alya sudah sadar, lega langsung melintas di wajahnya.

“Alya, akhirnya kamu bangun. Syukur kamu nggak apa-apa.”

Ia mendekat ke ranjang, suaranya lelah.

“Tadi di sana situasinya keburu panas. Penculiknya labil. Rencana gue itu nenangin dia dulu, bikin dia lepasin Citra duluan, baru gue cari cara buat nyelametin kamu.”

Alya mendengarkan tanpa bicara, wajahnya datar, seolah yang diceritakan bukan hidupnya sendiri.

Ia mengangkat mata, menatap Rangga dengan pandangan kosong. Suaranya serak, tapi tenang.

“Rangga Wiratama, bayi kita udah nggak ada.”

“Aku keguguran.”

Pupil Rangga mengecil tajam. Ia baru hendak bicara ketika—

“Ah!”

Jeritan nyaring terdengar dari luar kamar, disusul bunyi sesuatu pecah berantakan.

Raut Rangga seketika berubah. Ia menoleh cepat.

“Pasti Citra kenapa-kenapa. Gue harus cek dia!”

Ia meninggalkan Alya dengan kalimat, “Urusan kamu nanti dulu, kita omongin belakangan,” lalu berlari keluar tanpa menoleh lagi.

“Belakangan? Iya.”

Alya mengulang pelan kata itu, senyum getir singgah di bibirnya.

Urusannya selalu bisa nunggu.

Setetes air mata lagi jatuh diam-diam, mendarat di punggung tangannya yang pucat.

Perlahan ia meraih ponsel di samping bantal. Ujung jarinya memutih karena mencengkeram terlalu kuat, lalu ia menekan nomor yang di luar kepala.

Sambungan cepat tersambung. Suara seorang pria terdengar mantap, penuh cemas.

“Kamu udah bangun?”

Alya menarik napas dalam, mengerahkan sisa tenaganya supaya suaranya tetap stabil.

“Kristian.”

“Aku butuh kamu bikin surat cerai buat aku.”

Malam menjelang. Alya keluar dari rumah sakit.

Taksi berhenti di depan vila yang sudah akrab. Rumah yang ia tinggali bersama Rangga.

Tapi sekarang, semuanya terasa dingin dan asing.

Ia mendorong pintu. Tawa mengalir dari ruang keluarga.

Rangga duduk di sofa, mengupas apel. Citra duduk di sampingnya, wajahnya pucat seperti habis lolos dari sesuatu yang mengerikan, tampak begitu menyedihkan.

Pemandangan itu hangat seperti lukisan, tapi menusuk mata Alya.

Ini baru kali kedua ia melihat suaminya sejak penculikan dan keguguran itu.

Mendengar pintu terbuka, Rangga menoleh. Begitu melihat Alya, keningnya sedikit berkerut.

“Kamu balik.”

Nadanya datar, seperti menyapa tamu yang nggak penting.

Ia meletakkan pisau, lalu berdiri. Suaranya jadi lebih serius.

“Citra abis ngalamin trauma. Kondisi mentalnya nggak bagus. Kata dokter, dia butuh lingkungan yang dia kenal, yang tenang, buat pulih.”

“Jadi dia bakal tinggal di sini sementara.”

Alya tidak menjawab. Ia hanya menatap Rangga diam-diam.

Rangga menghindari tatapannya dan lanjut bicara. “Kamar utama udah gue kosongin buat Citra. Kamu pindah ke kamar tamu di atas.”

Kamar utama.

Kamar mereka.

Setiap perabot di sana, Alya yang milih sendiri.

Tenggorokan Alya terasa seperti penuh kapas. Saat bicara, suaranya kering.

“Rangga, itu kamar kita.”

Mata Citra langsung memerah. Ia berdiri lemah dan menarik lengan baju Rangga.

“Rangga, dia nggak mau aku di sini, ya?”

“Kalau dia nggak suka, aku mending pergi aja. Aku nggak mau bikin kalian berantem.”

Ia seperti mau menangis, lalu berbalik hendak pergi.

Rangga menangkap lengannya. Wajahnya menggelap saat menoleh ke Alya, sorot matanya penuh celaan.

“Alya!”

Ia membentak namanya.

“Ariana itu keluarga. Sekarang dia butuh dijaga!”

Rangga menarik Ariana ke belakang punggungnya, seolah tubuhnya sendiri benteng yang tak bisa digoyahkan.

“Kamu stay di sini. Titik!”

Kalimat itu ditujukan untuk Ariana.

“Tanpa izin gue, nggak ada yang bisa ngusir lo.”

Yang itu baru untuk Miranda.

Melihat Rangga melindungi Ariana seperti itu, Miranda merasa ada tangan tak kasatmata mencengkeram jantungnya begitu keras sampai napasnya seret.

Melihat Miranda pucat tanpa mampu membalas sepatah kata pun, suara Rangga justru makin tak sabar.

“Biasanya lo santai. Jangan jadi cewek iri yang rese. Jelek.”

Cewek iri yang rese?

Miranda mengulang-ulang istilah itu di kepalanya. Senyum pahit menyentuh bibirnya.

“Ariana masih lemah. Bikin dia makan.”

Rangga bicara seperti sedang memberi perintah.

Dia ingin Miranda—yang baru saja keguguran dan bahkan belum pulih—memasak untuk perempuan yang membuatnya kehilangan bayi?

Miranda mendadak tertawa. Bunyi tawanya hampa, mengejek dirinya sendiri.

“Rangga, kita cerai.”

Suaranya tidak keras, tapi jelas jatuh di setiap sudut ruang tamu.

“Kakakku sudah otw ke sini bawa surat-surat sama pengacara.”

Rangga membeku, seperti otaknya belum menangkap maknanya.

“Lo barusan ngomong apa?”

Keningnya berkerut, wajahnya penuh tak percaya.

“Gue cuma nyuruh lo bikin makan, lo malah ngomong cerai?”

Belum juga kalimat itu benar-benar selesai, suara lain memotong udara.

“Iya. Cerai.”

Suara dingin datang dari ambang pintu.

Pintu vila tersibak. Christian Lancaster melangkah masuk dengan setelan hitam, wajahnya keras seperti batu.

Di belakangnya, kedua orang tua Miranda—Arabella Lancaster dan Dominic Lancaster—menyusul, bersama orang tua Rangga.

Dua keluarga datang lengkap.

Christian berjalan lurus ke sisi Miranda, berdiri melindungi adiknya, menatap Rangga dengan dingin. Ia menarik map dari tas kerjanya lalu membantingnya ke atas meja.

“Rekam medis dari rumah sakit.”

“Adik gue keguguran. Badannya lemah. Dan lo—suaminya—nggak ada di sisi dia. Yang lo urusin malah perempuan lain?”

“Rangga, kita nggak nikahin anak kita ke lo supaya jadi pembantu lo, apalagi buat dipermalukan kayak gini!”

Suara Christian penuh amarah di setiap katanya.

“Kita nggak bisa lagi punya hubungan apa pun sama keluarga Whitmore!”

Ibu Miranda, Arabella, sudah menangis. Ia berlari mendekap putrinya yang kurus, tubuhnya gemetar menahan hancur.

“Miranda... anakku...”

Melihat pemandangan itu, wajah Ariana makin pucat. Ia melangkah maju dengan ragu, suara kecilnya nyaris tak terdengar.

“Tante... Om...”

Arabella seolah tak mendengar. Ia hanya memeluk Miranda dan menangis.

Namun ayah Miranda, Dominic, menghela napas lalu angkat bicara.

“Kita semua lihat Ariana tumbuh besar. Ayahnya dipenjara. Dia dibesarkan ibunya sendirian. Kasihan sekali.”

Sekejap, ruang tamu jadi sunyi.

Kepala Miranda terangkat. Ia menatap ayahnya, tak percaya.

Di saat seperti ini, bukankah ayahnya seharusnya memikirkan anaknya sendiri yang baru kehilangan bayi dan dikhianati suaminya?

Kenapa justru membela Ariana?

Pandangan Miranda bergeser bolak-balik antara ayahnya dan Ariana yang menangis menyedihkan.

Selama bertahun-tahun, keluarga mereka tak pernah sekalipun bertemu ayah Ariana.

Sebuah pikiran konyol sekaligus mengerikan tiba-tiba berakar di benaknya, seperti benih yang baru ditanam.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya