Bab [3] Menombak Ikan

Aku lagi mikir, apa aku harus nekat nyebur ke laut buat cari ikan, ketika dari belakang, dari arah pasir lembap di pantai itu, Julia Hartini merogoh-rogoh dan mengeluarkan sebuah kantong kecil yang basah.

Belum sempat aku tanya apa-apa, dia sudah buka kantong itu dan mengeluarkan sepotong roti yang kusut dan lembap.

Ada roti?

Sekilas aku senang, lalu perasaan itu langsung jatuh lagi. Kalaupun ada, pasti nggak banyak. Roti di tangan Julia sangat mungkin adalah satu-satunya roti yang masih tersisa di pulau ini.

Yang bikin aku malu, begitu melihat roti itu, aku refleks menelan ludah. Rasa laparku mendadak makin menggila.

“Kalau kamu mau, aku bisa bagi sedikit,” kata Julia pelan, menyadari betapa menyedihkannya kondisiku. Dia mematahkan sepotong kecil roti dan menyodorkannya padaku.

Benar-benar cuma sepotong kecil, tapi aku tahu, buat dia itu sudah sangat dermawan.

Kelihatan jelas, meski dia masih waspada sama aku, dia tetap menganggap aku ini teman seperjuangan. Dia menyelamatkanku bukan semata-mata karena baik hati; kalau aku mati, dia akan sendirian di pulau ini. Sendiri di tempat begini jauh lebih menakutkan, jauh lebih membuat orang putus asa.

Itu mungkin bukan satu-satunya alasan, tapi pasti ada porsinya.

Julia menatap roti yang dia sodorkan ke arahku dengan enggan, jelas kelihatan dia sebenarnya nggak rela. Kalau aku yang di posisinya, aku juga akan begitu. Aku tersenyum kecil, lalu mendorong kembali roti itu ke tangannya.

Roti cuma bisa menutup lapar sebentar. Aku tahu aku harus bisa mencari makanan sendiri. Aku harus mulai belajar bertahan sendiri.

“Kamu nggak mau?” Julia menatapku bingung.

“Kamu lebih butuh daripada aku.” Aku tersenyum lagi, lalu berjalan ke tepi rimbun pepohonan, mencari sebatang ranting yang pas. Dengan ranting itu, ditambah lempengan logam yang tadi kutemukan dan beberapa sobekan kain, aku merakit sebuah tombak ikan seadanya.

Tadi waktu kami jalan, aku sudah sempat mengamati sekeliling. Di sepanjang pantai, ada semacam parit laut dangkal yang memanjang. Di parit itu, tadi aku melihat ada ikan-ikan kecil berenang. Tangkap ikan pakai tangan kosong itu susah setengah mati, tapi kalau ada tombak, peluangnya jelas lebih besar.

Dari dulu aku suka nonton dan baca soal bertahan hidup di pulau terpencil. Pernah juga nyobain pakai tombak ikan di pantai. Kalau ikan di satu area cukup rapat, kemungkinan kena itu lumayan tinggi.

Lagi pula, dari kecil badanku memang lebih kuat daripada kebanyakan orang. Ototku terlatih, gerakanku cepat, stamina juga bagus. Di kantor, jabatan memang nggak tinggi-tinggi amat, tapi di luar itu, aku hampir nggak pernah kesulitan menarik perhatian perempuan; aku tahu caranya menggunakan tubuhku, tahu cara bikin mereka lupa diri di ranjang.

Secara teori, sumber makanan paling gampang di pulau tropis itu biasanya buah-buahan atau kelapa. Tapi di sepanjang garis pantai sini, nggak ada satu pun pohon kelapa. Untuk mencari buah, kami harus masuk ke hutan yang rapat.

Masalahnya, bahkan dari bibir pantai ini saja, suara auman binatang dari dalam hutan sudah kedengaran—berat, buas, bikin bulu kuduk berdiri. Dalam kondisi perut kosong begini, kalau nekat masuk hutan, kemungkinan ketemu masalah itu gede banget. Jadi, paling masuk akal ya fokus dulu ke ikan.

Julia juga ternyata belum berani masuk hutan, kelihatan dia sudah sampai di kesimpulan yang sama. Dia takut. Karena takut, dia akhirnya menyelamatkanku.

“Udah deh, jangan buang-buang tenaga. Tadi aku udah coba, sama sekali nggak mungkin dapat ikan. Licin banget. Tiap kali sudah hampir kepegang, eh, melesat lagi,” Julia mendengus sambil tertawa meremehkan, lalu cerita soal percobaan gagal yang tadi dia lakukan. Jadi, dia juga sadar betapa pentingnya makanan, dan dia pun sudah sempat berusaha. Cuma belum berhasil.

Aku nggak membalas. Perempuan satu ini kayanya baru beberapa menit lupa sama bahaya di depan mata, sombongnya sudah keluar lagi. Ngomel balik nggak akan mengubah apa-apa. Aku tahu dia meremehkanku, dan justru karena itu, aku harus pakai hasil nyata buat nutup mulutnya.

Aku yakin, begitu aku berhasil nangkap ikan, dia akan berhenti jumawa. Dan setelah itu, demi makanan, dia akan mulai lunak, mendekat, dan bergantung padaku.

Saat dia sudah benar-benar tergantung, barulah aku yang pegang kendali.

Aku melangkah ke arah parit laut dangkal itu dan memilih posisi yang paling pas.

Julia mengerutkan dahi karena aku tetap mengabaikannya. Wajahnya kelihatan jengkel, bibir tebalnya bergerak-gerak seolah mengumpat pelan. Bedanya, kali ini dia nggak berani lagi bentak-bentak seperti tadi. Ada ketakutan baru yang juga tumbuh dalam dirinya: ketakutan kalau-kalau aku suatu saat balik menyerangnya.

Waktu dia menarik tubuhku dari air tadi, dia ragu cukup lama. Tapi di matanya, binatang buas lebih menyeramkan daripada seorang laki-laki yang dia kenal—bawahan di kantornya. Rasa takut pada aku jelas masih kalah dibanding rasa takut pada sesuatu yang berkeliaran di hutan gelap itu.

Dan kalaupun sesuatu yang buruk betul-betul terjadi, apa bisa lebih kejam daripada dimakan hidup-hidup oleh binatang liar? Di situlah logika yang ia pegang.

Langit makin gelap. Aku berhenti mengulur waktu. Saatnya mulai.

Tukang tombak ikan yang berpengalaman bisa membaca gerakan air, riak, dan gelembung untuk menebak jenis ikan, ukuran, arah gerak, dan kedalamannya, lalu menusuk tepat di saat yang pas.

Pengalamanku memang belum selevel itu. Untungnya, ikan di parit laut ini cukup banyak. Coba beberapa kali, pasti ada yang kena.

Percobaan pertama, tombakku masuk air tapi keluar lagi tanpa hasil.

Di wajah cantik Julia, rasa meremehkan makin jelas. Bahkan aku bisa menangkap secercah kepuasan. Dalam hatinya, kalau dia yang nggak bisa, lalu aku ternyata bisa, itu rasanya seperti tamparan.

Aku tetap tenang, nggak kehilangan kesabaran. Setelah mengamati lagi dengan saksama, aku melakukan percobaan kedua. Kali ini, tombak itu masuk sangat dekat dengan seekor ikan yang lumayan besar. Aku jelas melihat ujung logam itu menyentuh tubuh ikan dan melukai sisiknya, tapi tidak sampai menahan tubuhnya.

Tetap gagal, tapi untukku itu sudah cukup jadi titik terang. Darah tipis yang mengembang di air membuktikan kalau hitunganku hampir benar. Hanya saja, dua kali tusukan beruntun jelas membuat ikan-ikan di situ lebih waspada. Aku harus menunggu. Menunggu air kembali tenang, menunggu ikan-ikan lengah lagi.

Angin laut meniup tubuhku, membuat kulit terasa dingin, tapi justru membakar semangat di dada. Julia, sebaliknya, mulai menggigil. Akhirnya dia sadar dan meraih sepotong pakaian compang-camping, membungkus tubuhnya yang sejak tadi setengah terbuka.

Kalau aku masih sibuk menatapnya, mungkin aku bakal merasa rugi. Bagaimanapun, begitu dia menutup tubuhnya, banyak sudut indah yang tadinya tersingkap ikut menghilang.

Melihat aku diam, tak lagi bergerak, Julia buru-buru kembali menyerang dengan kata-kata.

“Udah lah, jangan maksa. Kamu nggak bakal dapat ikan. Mending mikir gimana kita bisa lewatin malam ini. Di pulau begini, malam itu dinginnya parah, tahu?” Nada suaranya mengandung ejekan, tapi juga kegelisahan yang jelas. Dia sudah mulai benar-benar sadar bahaya yang menunggu. Malam di pulau kosong bukan cuma soal dingin; binatang liar justru keluar cari makan saat gelap.

Yang artinya, malam nanti keadaan bakal jauh lebih berbahaya.

Semua itu sudah kupikirkan. Tapi aku nggak akan jelaskan sekarang. Sedikit rasa takut bisa membantu mengikis kesombongan yang nggak tahu tempat.

Pada kesempatan ketiga, aku melihat gerakan halus di dekat batu karang kecil, tepat di dalam jangkauan tombak. Itu momen yang kutunggu.

Aku mengatur napas, menahan gerak, lalu—dalam satu hentakan—tombakku menembus permukaan air. Ujung logam itu tenggelam dan mengenai sesuatu yang padat.

Saat kutarik kembali, di ujung tombak tergantung seekor ikan laut besar, beratnya kira-kira lima kilo lebih. Sisiknya tebal, tubuhnya padat.

Ikan kerapu. Aku hampir tertawa lega. Sekilas saja sudah cukup buatku mengenali bentuk tubuh dan warnanya. Jenis ikan yang aman dimakan, dagingnya tebal dan enak, biasanya berkeliaran di perairan hangat dan dangkal seperti ini.

Bisa dapat kerapu di percobaan ketiga adalah keberuntungan besar. Artinya, keberpihakan malam ini ada di pihakku.

Aku mendadak merasa ringan. Senang mengalir sampai ke ujung jari.

Bahkan ketika Julia menjerit, suaranya yang nyaring itu sama sekali nggak terdengar mengganggu. Justru ada sedikit kesan lucu.

“Ya Tuhan! Gimana bisa? Kamu beneran dapat ikan!”

“Serius? Kok bisa sih kamu dapat ikan?!”

“Kalau kamu bisa terus dapat ikan, berarti kita nggak bakal kekurangan makanan lagi!” Awalnya Julia tak percaya, lalu wajahnya sedikit canggung karena sadar telah meremehkanku, dan beberapa detik kemudian, ketika makna kalimatnya sendiri meresap, dia melompat kecil kegirangan.

Di kepalanya, hasil tangkapanku sudah otomatis berubah jadi milik kami berdua.

Dan di situlah letak kekeliruannya. Yang perlu diperbaiki.

“Aku yang nggak kekurangan makanan,” aku menatap matanya sambil menahan senyum, “bukan kita.”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya