Bab [4]: Wanita yang Bergumul di Dalam Hati

Julia Hartini yang tadinya sempat kelihatan senang, langsung terpotong oleh suara tenangku. Dia menatapku dengan ekspresi seolah nggak percaya.

Di kantor, dia itu manajerku, dan aku cuma staf biasa. Begitu mood‑nya jelek, dia bisa marah‑marah, maki, atau nyumpahin aku kapan aja, dan aku nggak bisa balas, soalnya kalau ngelawan, ya siap‑siap kehilangan kerja.

Di Jakarta, kehilangan kerja itu ngeri banget. Ya sudahlah, di mana pun juga, kehilangan kerja tetap aja hal yang menakutkan.

Tapi setelah ngalamin situasi nyawa di ujung tanduk begini, aku sebenarnya sudah mutusin satu hal: kalau pun bisa selamat dan balik ke Jakarta, aku tetap mau resign. Aku pengin ngerjain hal yang benar‑benar aku suka. Setelah ketemu wajah kematian, banyak hal rasanya jadi kebuka di kepalaku.

Jadi, sebagai orang yang sudah siap buat resign, aku jelas nggak bakal takut lagi sama Julia Hartini.

Tetap saja, bagaimanapun juga dia barusan sudah nyelametin aku. Aku nggak akan diam saja ngeliat dia mati di depan mata. Tapi bukan berarti makanan yang susah payah kudapat, bakal kuberikan begitu saja gratis ke dia.

“Andi Rahman, kamu sadar nggak sih kamu lagi ngomong apa? Aku barusan nyelametin kamu.” suaranya bergetar menahan emosi.

“Aku sadar kok,” jawabku pelan. “Kamu sudah nolong aku, dan aku juga bakal nolong kamu. Tapi itu bukan alasan kamu bisa seenaknya nguasain makananku.”

“Aku juga bakal ngasih kamu makan, tapi cara bagi makanannya, ikut aturanku.”

Itu prinsipku. Kalau dia nggak mau ‘kerja’ buat aku, aku tetap bakal ngasih dia makan, tapi cuma sebatas biar dia nggak mati kelaparan, bukan biar dia bisa makan puas.

Sifatnya itu masih tetap nyebelin banget. Kalau dia kenyang, dia bakal lupa realitas, terus balik lagi ke gaya sok atasannya kayak dulu. Itu bukan situasi yang aku mau.

“Kamu mau apa sih sebenarnya? Uang? Aku bisa bayar kamu. Asal kamu kasih aku makanan, nanti kalau kita balik ke Jakarta aku bisa kasih kamu banyak uang. Aku juga bisa naikin jabatan kamu di kantor.” Julia Hartini menggertakkan giginya waktu ngomong. Dari sorot matanya, aku tahu, kalau bisa dia pasti pengin gigit aku sampai habis.

Di kepalaku malah muncul pikiran kotor yang nggak pantas. Tapi aku tahan. Di kondisi kayak gini, nafsu dan lapar bedanya tipis banget, tapi aku tetap nggak bego sampai nyakitin diriku sendiri demi itu.

“Tidak,” aku geleng pelan. “Untuk apa aku mikirin uang sekarang? Kita bahkan nggak tahu kapan bisa balik, atau bahkan bisa balik atau nggak. Uang, jabatan, semua itu sekarang nggak ada gunanya buat aku.”

Aku memeluk erat ikan kerapu besar yang tadi kutangkap, lalu jalan balik ke arah pasir pantai. Tombak ikan kubaringkan di tempat aman, ikan kerapu yang sudah mati kutaruh di posisi yang mudah kuawasi.

Setelah itu, aku melangkah pelan menuju hutan kecil di tepi pantai. Sebelum benar‑benar masuk ke rimbunnya pepohonan, aku sempat menoleh. Tatapanku sengaja kutancapkan ke tubuh Julia Hartini—ke lekuk tubuhnya, terutama ke dadanya yang besar, menonjol jelas di balik pakaian yang sudah kusut, tapi bentuknya masih kelihatan sempurna.

Harus diakui, aku suka.

Julia Hartini spontan melipat kedua tangannya di depan dada, pahanya saling merapat. Dia paham betul isi tatapanku. Dia tahu apa yang aku mau. Rasa terhina dan marah berputar di wajahnya, dan mungkin dia sedikit menyesal kenapa tadi nekat nolongin aku.

Tapi suara gelegar hewan dari dalam hutan bikin dia cepat sadar lagi. Mungkin benar, nolong aku itu salah, tapi nggak nolong malah lebih bodoh lagi. Dia tahu, sendirian di pulau ini, dia nggak punya peluang buat bertahan hidup.

Pandangan matanya terpaku ke ikan di atas pasir. Di matanya ada rakus, ada keinginan. Dia sempat melirik punggungku, tampak ragu, jelas kepikiran buat nyolong ikanku sekarang juga. Tapi kalimat yang tadi kuucapkan, sepertinya masih bergema di kepalanya.

Benar, bisa jadi kita nggak bakal pernah pulang. Atau butuh waktu sangat lama.

Selama itu, satu ekor ikan jelas nggak cukup.

Sudahlah, kalau dia memang maunya begitu, ya kasih aja, asal aku bisa tetap hidup, batin Julia Hartini mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tapi begitu pikiran itu muncul, rasa nggak terima langsung naik ke dadanya.

Dia nggak rela tunduk sama aku begitu saja. Tatapannya beralih ke tombak ikan milikku.

Julia Hartini meraih tombak itu. Dia mutusin buat coba cari makanan sendiri. Kalau dia berhasil, dia nggak perlu lagi tergantung padaku.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Sampai ketika aku kembali ke pantai sambil menggendong seikat ranting kering, Julia Hartini masih saja ngotot berkutat di air. Langit sudah mulai gelap, senja hampir habis. Air laut naik, ombak makin tinggi, cahaya makin tipis. Julia Hartini sudah melepas sebagian pakaiannya.

Sekarang dia cuma pakai celana dalam tipis yang kecil, tubuhnya basah diterpa air laut, masih terus berjuang di tepian. Tapi air sudah terlalu dalam, dan matahari hampir hilang. Dia jelas mustahil bisa dapat ikan.

Meski begitu, pemandangan dari belakang tetap indah. Pinggulnya bulat dan menonjol, bikin tangan gatal pengin meremas, atau menepuknya sekuat tenaga.

Kalau aku berdiri persis di belakangnya, lalu masuk dari belakang, setiap hantaman pasti bakal memunculkan suara pukulan yang memantul di udara—pasti terdengar sangat memabukkan.

Aku taruh pelan-pelan ranting‑ranting kering yang kubawa, lalu melangkah ke arahnya, setenang pemburu yang sudah hafal gerak mangsanya. Begitu cukup dekat, aku memeluknya dari belakang. Tubuhnya yang hangat dan penuh lekuk itu langsung mengisi tanganku. Aroma kulit perempuan, bercampur asin air laut dan sisa parfum mahal yang sudah hampir hilang, perlahan menyusup ke hidungku.

Dalam sekejap, tubuhku bereaksi lagi, keras, tegang, menuntut.

“Sudahlah, nyerah aja,” bisikku di telinganya. “Kamu nggak bakal bisa dapat ikan. Kamu nggak punya kemampuan itu. Kamu cuma lihat hasil akhirnya, tapi nggak pernah mikir berapa banyak usaha yang kupakai buat sampai ke situ.”

“Hmm… dasar brengsek… aku pasti bisa,” suaranya parau, setengah mau menangis. “Aku nggak mau dipermalukan sama kamu. Aku sudah nolongin kamu, aku bahkan mau bagi makanan sama kamu, kok kamu bisa setega ini?”

Pelukan tubuhku memberinya kehangatan yang selama ini dia nggak punya di pulau ini. Sesaat, aku bisa ngerasain dia goyah. Ada momen di mana dia pengin nyerah saja: bersandar lembut di dadaku, pakai tubuhnya buat nyenengin aku, lalu sebagai gantinya dia dapat makanan sampai nanti, entah kapan, bantuan datang. Itu sebenarnya bukan pilihan yang buruk.

Untuk apa sih dia harus kejam sama dirinya sendiri?

Pertanyaan itu berulang kali muncul di kepalanya. Tapi rasa nggak terima masih jauh lebih kuat.

Dia bisa ngerasain dorongan keras dari tubuhku di belakang, menekan kain tipis celana dalamnya, berusaha mencari jalan masuk ke celah di antara pahanya.

Dia tahu, kalau dia mau, dia cuma perlu membungkuk sedikit, merenggangkan kakinya, menarik turun celana dalamnya sendiri, lalu menerima kehadiran tubuhku dari belakang. Dengan begitu, di pulau terpencil ini, hidupnya mendadak bakal jauh lebih ringan. Setidaknya, dia nggak perlu lagi takut lapar.

Jujur, ada sedikit getar dalam dirinya. Tapi rasa mual lebih dominan.

Kalaupun aku memaksanya, dia masih bisa beralasan dalam hati bahwa dia adalah korban keadaan. Tapi kalau dia yang mulai duluan, dia yang menyerahkan diri, harga dirinya nggak bakal bisa nerima.

Dia terlalu angkuh. Di usianya yang masih muda dia sudah jadi manajer salah satu departemen penting di perusahaan. Dia punya modal buat bersikap sombong. Dia nggak mau tubuhnya jatuh ke tangan mantan bawahan yang selama ini selalu dia pandang rendah.

“Tidak. Jangan. Aku nggak setuju.” Julia Hartini tiba‑tiba meronta, berhasil melepaskan diri dari pelukanku. Dia berbalik, menatapku tajam, matanya penuh rasa nggak rela dan amarah.

“Baiklah. Pikirin aja pelan‑pelan.” Aku mundur satu langkah dengan sedikit rasa kecewa. Sentuhan tadi, waktu tubuhku nempel di pantatnya, rasanya memang luar biasa.

Tapi aku nggak punya niat buat maksa dia sampai sejauh itu. Buatku, sekarang belum ada kebutuhan mendesak sampai harus menurunkan diriku ke titik itu.

Aku cukup paham, Julia Hartini sekarang cuma kelihatan kuat di luar. Di dalamnya, dia rapuh dan lelah. Begitu dia benar‑benar merasakan lapar yang menyiksa, atau ketika dia bener‑bener di ambang bahaya, dia akan menyerah juga.

Melihat seorang perempuan yang dulunya di kantor selalu berada jauh di atas, pelan‑pelan menurunkan kepalanya dan tunduk, buatku itu jauh lebih memuaskan daripada sekedar pelampiasan tubuh.

Saat ini, aku merasa seperti pemburu yang matang dan penuh percaya diri, sabar menunggu hewan buruannya datang sendiri, melangkah masuk ke jebakan yang sudah kususun.

Aku menahan gejolak di tubuhku, mengalihkan pandangan dari dada Julia Hartini yang berguncang hebat setiap kali dia bernapas—besar, berat, dan menggiurkan—lalu berjalan kembali ke area pasir yang agak kering.

Aku mengambil korek api yang selalu kubawa di kantong, menyusun ranting‑ranting kering, lalu menyalakannya. Di udara malam yang mulai dingin, api yang berkobar kecil‑kecilan itu langsung membawa kehangatan yang cukup.

Korek ini selalu kubawa ke mana‑mana. Tadinya aku juga punya sebungkus rokok, entah sekarang hilang di mana. Untungnya koreknya masih ada.

Kalau pun nggak ada korek, aku sebenarnya masih punya cara lain: bikin api dari gesekan kayu. Teknik itu aku tahu dari video‑video survival yang dulu sering banget aku tonton.

Di saat seperti ini, aku ngerasa sangat bersyukur sama diriku sendiri yang dulu begitu tergila‑gila sama hal‑hal soal bertahan hidup di alam liar.

Pada akhirnya, pengetahuan memang harta paling berharga.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya