Bab [1] Keracunan

"Ssst! Aduh... kenapa seluruh badanku sakit begini?"

Di tengah kesadaranku yang masih remang-remang, rasa sakit yang menusuk tulang membangunkanku dengan paksa.

Seketika, telingaku dipenuhi oleh paduan suara serangga dan kicauan burung yang riuh.

Rerumputan liar yang lembap terus menggelitik kulitku. Saat kubuka mata, pemandangan di hadapanku hanyalah semak belukar rimbun yang menutupi langit, lautan hijau di mana-mana.

Dengan susah payah aku mencoba berdiri, dan baru sadar ternyata aku terbaring di tengah semak-semak setinggi pinggang, dikelilingi oleh hutan lebat yang menjulang tinggi.

"Tunggu, bukannya aku sedang di kapal, menghadiri pernikahan mantan pacarku, Clara Wijaya? Kok bisa aku terdampar di sini? Jangan-jangan aku mabuk berat dan masih bermimpi!"

Karena terlalu banyak minum, setelah sadar dari mabuk, bukan hanya mulutku yang kering kerontang, kepalaku juga sakit luar biasa. Semua sensasi fisik ini seolah berteriak padaku, memberitahu bahwa ini semua adalah kenyataan.

"Jangan-jangan mantan pacarku dan suaminya itu, melihatku mabuk, diam-diam membuangku ke pulau terpencil, lalu kabur begitu saja! Sialan, jahat sekali mereka berdua."

Aku lantas merogoh saku. Rokok, korek api, dan ponselku ternyata masih ada. Begitu juga pisau lipat Swiss pemberian Clara Wijaya saat aku ulang tahun dulu.

Kukeluarkan ponsel dan memeriksa tanggal serta waktu. Ternyata, aku sudah tertidur di tempat ini selama sehari penuh.

Yang lebih membuatku putus asa, tidak ada satu bar pun sinyal di sini. Menelepon minta tolong pun mustahil.

Sekarang aku semakin yakin, tempatku berpijak ini kemungkinan besar adalah sebuah pulau terpencil di tengah lautan. Aku pernah menonton banyak film dan video tentang bertahan hidup di alam liar, dan semua yang ada di hadapanku ini sangat cocok dengan deskripsi itu.

Meskipun dulu aku sangat mengagumi kehidupan liar yang penuh eksplorasi dan tantangan, saat kesempatan ini benar-benar menimpaku, hatiku justru dipenuhi rasa takut dan putus asa.

Pulau di tengah laut biasanya tidak berpenghuni. Artinya, jika aku tidak bisa menemukan kapal untuk pulang, aku harus menghabiskan sisa hidupku sendirian di pulau ini. Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri.

"Arrrggghhhhh...!"

Tak sanggup menerima kenyataan, aku berteriak sekeras-kerasnya di pulau kecil ini, mencoba melampiaskan semua amarah dalam hati.

Namun, yang tidak kuduga, saat teriakanku menggema di dalam hutan, dari kejauhan seorang wanita balas berteriak, seolah merespons panggilanku.

"Hah? Apa jangan-jangan aku tidak sendirian di pulau ini?"

Aku mengikuti arah suara itu. Setelah menemukan sebatang dahan kayu, aku mulai berjalan dengan hati-hati, memukul-mukul semak di depanku sambil berjinjit ke arah sumber suara wanita itu.

Alasan aku memukul semak di depan adalah karena takut, saat sedang asyik berjalan, tiba-tiba muncul ular berbisa dari rerumputan dan menggigitku. Terkena racun di tempat terpencil seperti ini sama saja dengan menunggu kematian.

Setelah berjalan sekitar lima menit, aku melihat seorang wanita berambut lurus panjang hingga ke pinggangnya yang ramping, mengenakan gaun malam berwarna merah, sedang duduk di antara semak belukar, tak lebih dari belasan meter dariku.

Wanita itu mendengar suara pukulanku pada semak-semak, dan ia pun menoleh ke arahku.

Matanya dalam dan cemerlang, sepasang alisnya yang lentik membentuk bingkai yang sempurna, memancarkan pesona yang menawan. Hidungnya yang mancung dan bibirnya yang merah muda melengkapi fitur wajahnya yang sempurna. Dia benar-benar seorang wanita yang sangat cantik.

Meskipun aku tidak langsung mengenalinya, gaun yang ia kenakan sangat familier bagiku. Dan sesaat sebelum aku pingsan karena mabuk, aku seperti samar-samar mendengar banyak teriakan minta tolong.

Menggabungkan potongan ingatan itu dengan kondisi wanita di hadapanku, aku sampai pada sebuah kesimpulan yang mengerikan: saat aku mabuk, kemungkinan besar terjadi kecelakaan kapal. Mengenai kenapa kami tidak terdampar di pantai, mungkin wanita di depanku ini tahu jawabannya.

Saat aku terus menatap wajahnya yang terasa semakin akrab, tiba-tiba, aku menepuk dahiku. Aku ingat siapa wanita cantik ini.

Luna Mertawan, teman kuliah mantan pacarku Clara Wijaya, dan salah satu pengiring pengantin di pernikahan Clara.

Dulu waktu kuliah, aku pernah sekali ikut makan malam bersama Clara dan teman-temannya. Di meja makan itulah aku pernah bertemu dengannya. Alasan aku masih mengingatnya sampai sekarang adalah karena saat itu, di seluruh meja, hanya dia yang paling cantik. Aku bahkan sampai beberapa kali memperhatikannya. Benar kata orang, orang cantik memang punya keuntungan alami.

Kecelakaan kapal, pulau terpencil, hutan, seorang wanita cantik, dan aku.

"Apakah ini berkah dari Tuhan? Dia tidak ingin aku kesepian sampai mati di tempat ini? Makanya Dia mengirim wanita secantik ini untuk menemaniku."

Memandangi wajah Luna Mertawan yang indah dan tubuhnya yang sintal, membayangkan hanya kami berdua di tempat ini... sepertinya bukan hal yang buruk juga.

Pikiranku mulai melayang, membayangkan masa depanku bersama Luna Mertawan, menikah, punya anak, dan membangun keluarga di pulau ini.

"Dasar mesum! Mau sampai kapan kamu menatapku seperti itu?" Melihatku yang terus menatapnya, Luna Mertawan sontak memeluk dadanya, menatapku dengan ekspresi ketakutan.

Seketika, suaranya menarikku kembali ke dunia nyata. Melihat ekspresi Luna yang seolah takut aku akan menerkamnya kapan saja, aku hanya bisa menertawakan diriku sendiri. Bagaimanapun, pikiran kotor itu memang baru saja terlintas di benakku.

"Astaga, ada apa denganku belakangan ini? Kenapa pikiran seperti itu bisa muncul? Seingatku, aku tidak seperti ini dulu."

Padahal kami sekarang berada di pulau terpencil. Seharusnya aku memikirkan cara bertahan hidup di hutan belantara ini dan mencari jalan pulang, bukan malah memikirkan urusan ranjang antara pria dan wanita.

Dibandingkan menghabiskan sisa hidupku bersama Luna di pulau ini, aku lebih ingin kembali ke kota asalku. Masih ada Ayah dan Ibu yang mencintaiku dan menungguku di rumah. Aku harus pulang.

Setelah menetapkan tujuanku, aku menatap Luna Mertawan di hadapanku. Mau tidak mau, sepertinya aku dan wanita cantik ini harus hidup bersama untuk beberapa waktu ke depan, mencari jalan pulang bersama.

Aku akan menyapanya dulu untuk berkenalan, sekaligus menanyakan apa yang terjadi kemarin.

Tapi siapa sangka, saat aku melangkah mendekatinya, Luna justru menjerit dengan suara melengking yang menggema di seluruh hutan.

"Aaaaaahhhhh...!"

"Apa aku semenakutkan itu? Aku ini orang baik, lho," gumamku dalam hati. Melihat Luna begitu menolakku, aku jadi meragukan penampilanku sendiri. Apa wajahku memang terlihat seperti penjahat?

"Ular! Ada ular besar sekali! Aku digigit! Aku akan mati! Hiks... hiks... hiks!"

Mendengar Luna berkata dia digigit ular, aku menahan rasa sakit di sekujur tubuhku dan segera berlari ke dekatnya. Aku melihat wajahnya pucat pasi karena ketakutan, tangannya tanpa henti memukul-mukul area sekitarnya dengan sebatang dahan kering. Aku tidak langsung mendekat untuk memeriksa lukanya.

Aku memang mengenalnya, tapi dia belum tentu mengenalku. Untuk memeriksa lukanya, perlu ada kontak fisik. Dengan kondisinya yang panik seperti sekarang, jika aku mendekat, aku bisa ikut diserang tanpa pandang bulu. Aku tidak mau kena getahnya.

Aku menatapnya dan berkata dengan tenang, "Luna Mertawan, kalau kamu memang mau mati, terus saja bergerak seperti itu."

Luna, yang sudah pucat pasi karena ketakutan, mendengar aku memanggil namanya. Ia sontak membuka matanya yang berkaca-kaca, menghentikan gerakan membabibutanya, dan mulai terisak sambil bertanya dengan heran, "Kamu... kenal aku?"

"Apa itu penting sekarang? Kamu digigit di bagian mana? Cepat biarkan aku lihat." Melihat Luna sudah tidak menyerang membabi buta, aku mulai bertanya padanya.

Mendengar pertanyaanku, Luna perlahan menggeser kaki kirinya. Di pergelangan kakinya, sebilah kain entah dari mana mengikat beberapa potong kayu. Lalu sedikit ke atas, aku melihat dua titik merah kecil di betisnya. Area di sekitar luka itu bengkak dan samar-samar berwarna biru kehitaman.

"Benar, kamu keracunan. Coba tenangkan dirimu dulu. Ikatan kayu ini menghalangi lukanya, jadi harus dilepas sementara. Aku akan segera mengeluarkan darah beracunnya. Nanti akan sedikit sakit, kamu harus tahan, ya."

Mendengar kata-kataku, semburat merah tipis tiba-tiba muncul di pipi Luna. Matanya terus menghindar, tapi tak lama kemudian, seolah sudah mengambil keputusan, ia menundukkan kepala dan menjawab dengan suara pelan, "Iya."

Melihat ekspresi Luna, aku tiba-tiba merasa sedikit aneh. Hanya mengeluarkan darah beracun, apa yang perlu dimalukan?

Bab Selanjutnya