Bab [4] Pria Tampan dari Langit
Ternyata, pria yang menjadi tunangannya selama tiga tahun ini nekat menerobos api bukan untuk menyelamatkannya!
Jantungnya seakan direnggut dan diremas dengan paksa, menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan.
Napasnya terasa sesak, tak sepatah kata pun mampu keluar dari bibirnya.
Dulu, begitu keluar dari rumah sakit, ia langsung dikirim ke luar negeri oleh Ronald Wijaya. Meski hatinya sedih saat itu, rasanya tak sebanding dengan kepedihan yang ia rasakan hari ini.
Saat ia berlari keluar, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang keras.
BRAKK!
Gerbang lengkung melingkar yang berdiri megah di tengah aula tiba-tiba ambruk. Hiasan bunga-bunga indah yang tadinya menghiasinya kini telah hangus dilalap api, hanya menyisakan kerangka hitam dari kawat dan baja.
Reruntuhan itu jatuh dan menimpa kaki Sari Wijaya.
Sari terjatuh ke lantai. Rasa panas yang menyengat langsung menjalar di kakinya, membuatnya menjerit kesakitan.
Vincent Yanto, yang sudah hampir mencapai pintu keluar, mendengar jeritan itu. Langkahnya terhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang, menatap Sari yang terkapar di lantai.
Namun, tanpa ragu sedikit pun, ia kembali berbalik dan melanjutkan larinya sambil menggendong Nina Wijaya.
Seolah-olah ia sama sekali tidak melihat tatapan penuh penderitaan dan kondisi Sari yang mengenaskan. Gaun pengantin adibusana karya desainer Prancis ternama yang dikenakannya kini bernasib sama seperti Sari, kotor dan rusak.
Sari merasa seluruh tubuhnya membeku, meskipun hawa panas di sekelilingnya siap menelannya hidup-hidup. Ia terpaku di tempatnya, kesadarannya perlahan memudar, tak mampu bergerak sedikit pun.
Sesaat sebelum ia pingsan dan ambruk ke lantai, seorang pria jangkung tegap yang mengenakan helm pemadam kebakaran nekat menerobos kepulan asap tebal. Pria itu langsung menuju ke lokasi Sari. Melihat Sari tak sadarkan diri, ia segera membungkuk, menyelipkan lengannya ke bawah lutut Sari, lalu menggendongnya dan bergegas keluar dari aula perjamuan.
Saat Sari kembali sadar, hari sudah menjelang siang keesokan harinya.
Ia menatap piyama pasien bergaris biru-putih yang dikenakannya dan perban yang membalut betisnya. Ia sadar, kini ia berada di sebuah kamar rumah sakit.
Ia teringat, kemarin seharusnya menjadi hari pertunangannya dengan Vincent Yanto. Namun, sebuah musibah tak terduga terjadi.
Pertunangan itu batal. Mungkin, ini justru sebuah berkah.
Selama ini, Vincent berhasil menipunya dengan begitu sempurna. Ia sama sekali tidak tahu kalau tunangannya itu telah berselingkuh dengan Nina Wijaya.
Haruskah ia bersyukur atas musibah ini?
Setidaknya, ia bisa melihat wajah asli pria brengsek itu lebih awal, jauh lebih baik daripada menyesal setelah menikah nanti.
Ia menatap langit biru dan awan putih dari balik jendela kamar rumah sakit. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi, hanya keheningan yang menyelimutinya.
Tiba-tiba, seseorang mendorong pintu dan masuk.
Sari menoleh.
Seorang perawat yang membawa nampan berjalan masuk.
“Pasien kamar 26, Sari Wijaya, benar?”
Sari mengangguk pelan. “Iya, saya Sari Wijaya.”
“Kemarin Anda baru saja menjalani operasi pembersihan luka. Saya mau periksa kondisi rembesan pada lukanya, ya.”
Sari menggeser kakinya sedikit ke tepi ranjang. “Terima kasih, Bu.”
Setelah selesai memeriksa, perawat itu berkata, “Nona Sari, kemarin Anda masuk lewat UGD. Hari ini, tolong minta keluarga untuk mengurus biaya administrasinya, ya.”
Baru saja Sari hendak menjawab, sesosok tubuh tegap tiba-tiba muncul di ambang pintu.
Pria itu berbicara dengan suara yang tenang dan dalam, “Biar saya yang urus tagihannya.”
Sari terkejut. Ia tidak menyangka akan ada orang asing muncul di kamarnya. Dengan tatapan penuh tanya, ia mengangkat wajahnya menatap pria itu.
Pria itu sangat tinggi, rambutnya nyaris menyentuh kusen pintu. Wajahnya bagaikan pahatan es yang sempurna, fitur-fiturnya tegas dan berkelas, dengan sorot mata yang memancarkan kecerdasan dan ketenangan. Kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan jakunnya yang menonjol. Pinggangnya ramping, dan kakinya yang terbalut celana bahan tampak lurus dan jenjang.
Sari hanya bisa terkesima dalam hati, “Selama dua puluh tahun lebih aku hidup, baru kali ini aku melihat pria setampan ini.”
Perawat muda di ruangan itu menyerahkan lembar tagihan kepada pria itu dengan wajah merona.
Pria itu menatap lekat wajah Sari, seolah sedang mencoba membaca ekspresinya, lalu berbalik dan melangkah pergi.
Sari sedikit bingung. Dari mana datangnya pria tampan ini? Begitu rupawan dengan aura yang luar biasa, seperti seorang pangeran dari keluarga terpandang. Dan lagi, ia mau membayarkan biaya rumah sakitnya.
Dibandingkan dengan pria ini, Vincent bahkan tidak pantas untuk membawakan sepatunya.
Sari baru saja akan berbaring kembali.
Saat itu, pintu kamarnya kembali didorong terbuka.
