Dari Berpisah Menuju Kebahagiaan

Dari Berpisah Menuju Kebahagiaan

Rina Wati · Sedang Diperbarui · 102.7k Kata

225
Populer
226
Dilihat
0
Ditambahkan
Tambah ke Rak
Mulai Membaca
Bagikan:facebooktwitterpinterestwhatsappreddit

Pendahuluan

Sebuah kecelakaan mobil membuatku koma. Saat tersadar, kudapati segalanya telah berubah — tunanganku ternyata telah jatuh cinta kepada wanita lain...
Aku tak punya pilihan lain. Dengan berat hati kuterima kenyataan pahit itu, lalu berbalik arah dan menikahi seorang CEO triliunan.
Begali tahu kabar itu, sang mantan langsung menjadi gila!

Bab 1

Liburan musim panas setelah kelulusan SMA, Sari Wijaya akhirnya menerima surat penerimaan dari universitas negeri ternama.

Dia sangat bahagia begitu surat dari universitas impiannya itu ada di tangannya.

Sesampainya di rumah, begitu melangkah masuk ke ruang keluarga, dia melihat ayahnya, Ronald Wijaya, ibu tirinya, Ratna Salim, dan adik tirinya, Nina Wijaya, sedang duduk bersama di sofa.

Nina Wijaya sepertinya habis menangis, terlihat dari lingkaran matanya yang tampak merah.

Ratna Salim sedang menghiburnya. "Nina kan sudah berusaha keras. Waktu ujian kemarin kebetulan lagi nggak enak badan, makanya hasilnya kurang maksimal. Kalau kita kasih Nina satu kesempatan lagi, dia pasti bisa dapat hasil yang lebih baik."

Ronald Wijaya pun ikut membujuk dengan suara lembut. "Nina, walaupun universitas ini bukan yang terbaik, tapi nanti setelah lulus S1, kita bisa lanjut S2 di luar negeri. Pulang-pulang juga sama saja, kok."

Begitu Sari Wijaya masuk, pemandangan keluarga harmonis yang menyambutnya terasa begitu ironis.

Dia segera menyembunyikan surat penerimaan di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik badan, lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya.

Suka dan duka keluarga ini, sama sekali bukan urusannya.

Begitu dia kuliah nanti, dia akan memastikan untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari mereka.

Namun, Nina Wijaya sepertinya tidak mau melepaskannya begitu saja. Sambil mengangkat wajahnya yang berlinang air mata, dia bertanya, "Kak, Kakak sudah terima surat penerimaan?"

Sejak masuk tadi, wajah Sari Wijaya terus terlihat dingin. 'Pasti nilainya tidak bagus', pikir Nina, 'dia tidak diterima di universitas favoritnya itu.'

Nina berpikir, meskipun dia sendiri hanya masuk universitas kelas dua, setidaknya itu lebih baik daripada Sari Wijaya yang tidak punya tempat kuliah sama sekali. Dia sudah tidak sabar menunggu Sari dipermalukan di depan Ayah.

Melihat ekspresi Nina, Sari Wijaya tentu bisa menebak apa yang ada di pikirannya.

Sari tersenyum sinis. Dia berdiri di hadapan mereka dan perlahan membuka surat penerimaannya.

Kertas surat yang dirancang dengan indah itu seakan menusuk mata Nina Wijaya.

Nina menekan kuat-kuat rasa iri dan benci yang bergejolak di dalam hatinya. Namun, di wajahnya, dia tetap memasang senyum manis. "Wah! Universitas ternama! Kakak memang hebat! Selamat ya, Kak!"

Ronald Wijaya melirik nama universitas itu, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Sari dari kecil memang pintar."

Mendengar suaminya berkata demikian, Ratna Salim segera memainkan perannya sebagai ibu yang baik hati. Dia berpura-pura peduli dan bertanya, "Sari, kamu lapar nggak? Mau Ibu suruh Bi Inah masakin sesuatu?"

"Nggak perlu," jawab Sari Wijaya dingin, lalu berbalik dan naik ke kamarnya.

Sekelompok orang yang telah merebut rumahnya dan menyebabkan kematian ibunya ini, dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan mereka.


Beberapa hari sebelum perkuliahan dimulai, Sari Wijaya sedang membereskan barang-barangnya di kamar.

Tiba-tiba, Nina Wijaya meneleponnya.

"Kak, kita berdua kan sebentar lagi mau berangkat kuliah. Ayah dan Ibu izinin kita pergi ke bar bareng buat merayakannya."

Sari Wijaya tidak tertarik dan hanya ingin segera menutup telepon. "Nggak, aku sibuk."

"Kak, aku tahu Kakak nggak suka sama Ibu dan aku. Tapi kan kita sebentar lagi nggak tinggal di rumah, setengah tahun lebih nggak akan ketemu. Lagipula, kita kan sudah delapan belas tahun, sudah boleh minum. Tolong ya, kali ini saja, Kak?" bujuk Nina.

Sari Wijaya berpikir sejenak. Ada benarnya juga, dia akan segera meninggalkan rumah ini, dan tidak ada sedikit pun rasa rindu yang akan tertinggal.

Bar? Kenapa tidak.

Dia menutup ritsleting kopernya dan menjawab Nina, "Oke, tunggu aku ganti baju."

Di seberang telepon, Nina bersorak gembira. "Oke, Kak! Aku tunggu ya, alamatnya aku kirim ke HP Kakak."

Bagi siapa pun yang mendengar, suaranya terdengar seolah-olah dia benar-benar senang bisa pergi bersama kakaknya.

Namun, di sudut yang tak terlihat oleh siapa pun, bibir Nina sedikit terangkat membentuk senyuman licik.

Sambil menatap layar percakapannya dengan Sari Wijaya, hatinya berkata dengan kejam, 'Kakakku tersayang, kalau aku tidak bisa masuk universitas bagus, maka kamu juga jangan harap bisa kuliah.'

Nina menyimpan ponselnya, lalu kembali bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sambil tersenyum ramah kepada orang-orang di sekitarnya.

Dia terlihat begitu penurut, manis dan tidak berbahaya.


Sari Wijaya selesai berganti pakaian dan bercermin.

Di usianya yang kedelapan belas, Sari Wijaya telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan mempesona.

Ini adalah pertama kalinya dia datang ke bar.

Meskipun dia sudah terbiasa dengan berbagai macam acara, tetapi berada sendirian di tengah lingkungan yang hingar-bingar oleh musik yang memekakkan telinga dan lampu warna-warni, tetap saja membuat dia sedikit gugup.

Dia menelepon Nina Wijaya. "Ruangan yang mana? ... Hmm, oke."

Sambil memegang ponsel, dia berjalan merapat ke dinding, dan terus-menerus berusaha menghindari orang-orang yang mabuk.

Saat berbelok di sudut lorong, dia tidak sengaja menabrak dinding daging yang kokoh. "Maaf," ucapnya cepat, lalu segera mundur selangkah.

Aroma pinus yang wangi tercium dari tubuh pria itu, bercampur dengan sedikit aroma tembakau yang samar.

Sari Wijaya terus menunduk. Dari sudut pandangnya, yang terlihat adalah sepasang sepatu kulit hitam mengkilap dan celana setelan hitam lurus. Dari situ, dia bisa menebak bahwa pria ini sangat tinggi, dengan kaki yang jenjang.

Pinggangnya sangat ramping.

Pria itu sedikit memiringkan tubuhnya dan memberi isyarat dengan tangan, mempersilakannya lewat.

Sari Wijaya melihat tangannya yang besar dengan buku-buku jari yang tegas. Sepertinya dia masih muda.

Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah jam tangan Patek Philippe berwarna emas.

Sari Wijaya mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih, lalu mengangkat sedikit gaun putih panjangnya dan bergegas pergi.

Dia tidak menyadari tatapan tajam yang terus mengawasinya dari belakang.


Sari Wijaya masuk ke dalam ruang privat, dan Nina Wijaya langsung menyodorkan segelas minuman kepadanya.

Mata Nina tidak berkedip saat menatap Sari Wijaya menenggak minuman itu.

Sudut bibir Nina melengkung naik, matanya menyiratkan kepuasan yang tidak bisa diartikan. Dia menggunakan gelasnya untuk menutupi wajah, guna menyembunyikan senyum licik penuh kemenangan karena rencananya akan segera berhasil.

Membayangkan reputasi Sari Wijaya yang akan segera hancur, Nina merasa begitu bersemangat hingga seluruh tubuhnya gemetar.

Sari Wijaya tidak berpikir macam-macam. Dia menunduk dan meminum minumannya lagi tanpa melihat tatapan penuh kebencian dan kepuasan di mata Nina.

Suasana bar begitu riuh, dan lampu-lampu menyilaukan mata. Beberapa menit kemudian, kepala Sari mulai pusing, disertai perasaan gelisah dan rasa haus yang aneh.

Dalam pandangannya yang mulai kabur, dia menatap Nina di seberangnya yang tampak khawatir.

Nina masih bertanya, "Kak, kamu merasa pusing, ya? Aku sudah pesan kamar di lantai atas, mau aku panggil orang untuk antar Kakak istirahat?"

Pipi Sari Wijaya sudah memerah, napasnya menjadi cepat, dan butiran-butiran keringat sebesar biji jagung pun membasahi dahinya.

Saat itulah, dia curiga kalau minumannya telah dibubuhi obat.

Tidak mungkin reaksi sekuat ini hanya karena seteguk minuman.

Orang yang melakukannya, selain Nina Wijaya, siapa lagi?

Pandangan Sari Wijaya sudah benar-benar kabur.

Dia mencengkeram kerah baju Nina Wijaya dan menggeram. "Nina Wijaya! Kamu meracuniku!"

Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.

Nina meletakkan gelasnya, lalu dengan dingin menepis tangan Sari Wijaya, dan berkata, "Kak, kamu ngomong apa, sih? Minuman kita kan sama persis. Kalau kamu nggak kuat minum, jangan salahkan aku dong."

Sari Wijaya merasa seluruh tubuhnya lemas. Begitu ditepis, dia langsung terjatuh ke sofa dan terengah-engah.

Sekalipun Sari biasanya sangat tenang, tetapi dia belum pernah mengalami hal seperti ini.

Otaknya seakan berhenti bekerja dan dia tidak tahu harus berbuat apa.

Atas isyarat dari Nina, seorang pria muncul dari sudut bar.

Pria itu tersenyum mesum, memandangi Sari Wijaya dari atas ke bawah dengan tatapan menjijikkan.

Dia berjalan mendekat, lalu memapah Sari Wijaya yang sudah tak berdaya, dan hampir setengah memeluknya saat membawanya keluar.

Sari Wijaya berusaha keras menolak sentuhan pria itu.

Namun, di saat seperti ini, tenaga yang menurutnya sudah sekuat tenaga itu tidak lebih dari sekadar gelitikan bagi seorang pria dewasa.

Pria itu memeluknya sambil berjalan menuju kamar di lantai atas.

Dia berpura-pura seolah mengenalnya. "Sayang, sabar ya, sebentar lagi sampai."

Keputusasaan mulai merayap di hati Sari Wijaya.

Dia tahu, saat ini, dia tidak punya kekuatan untuk menyelamatkan diri. Dan dia tidak tahu siapa yang akan datang menolongnya.

Karena Nina yang mengajaknya ke sini dan memberinya obat, pasti dia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.

Mungkin sebentar lagi akan ada orang yang masuk ke kamar, mengambil foto-foto tidak senonohnya, dan menyebarkan aibnya ke semua orang.

Membuatnya tidak akan pernah bisa mengangkat kepala lagi.

Dia berusaha melawan sekuat tenaga, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan pria itu.

Pria itu memeluknya sambil membawanya naik ke lantai atas, dan masuk ke koridor.

Sari Wijaya mencubit telapak tangannya sendiri dengan keras, mencoba menggunakan rasa sakit untuk membuatnya tetap sadar.

Dia berusaha keras memikirkan cara untuk menyelamatkan diri.

Dia merasakan gelombang panas menyebar dari perut bagian bawahnya, lalu terus menyerang tubuhnya yang muda dan sensitif.

Panas itu menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, seolah menyelimuti dirinya tanpa sisa.

Obat itu sudah mulai bekerja. Kepala Sari terasa berat dan kakinya sudah lemas.

Pria menjijikkan itu pun dengan mudah menyeretnya.

Sari Wijaya terus berjuang sekuat tenaga.

Namun, dia tidak bisa melepaskan diri dari lengan kekar yang mencengkeramnya.

Sari terus mendorong pria itu. "Lepasin! Lepasin aku! ... Tolong! Siapa pun, tolong aku!"

Suaranya terdengar jelas menahan tangis.

Pria itu tersenyum menyeringai melihatnya berjalan terhuyung-huyung, lalu mengangkat tubuhnya dan berbisik dengan cabul di telinganya, "Dasar jalang kecil, adikmu bilang kamu masih perawan. Aku harus jadi yang pertama mencicipinya. Jangan sok menolak sekarang, nanti kalau sudah di kamar, di atas ranjang, aku jamin kamu bakal nangis-nangis memohon kepadaku untuk menggarapmu habis-habisan. Tenang saja, kalau kamu nurut, Abang pasti bikin kamu keenakan sampai nggak bisa berhenti ...."

Pria itu melilitnya seperti ular berbisa.

Kata-kata kotornya belum selesai, tetapi tiba-tiba dia menjerit kesakitan, "Aduh!" Dan langsung berlutut di lantai.

Dia bangkit, meludah, lalu mengumpat dengan kasar, "Anjing! Siapa yang berani mukul gue?!"

Sepertinya dia dipukul lagi dengan keras. Sambil memegangi wajahnya, dia hanya bisa merintih dan tidak bisa bersuara lagi.

Sari Wijaya mendengar suara pria lain yang lebih muda, sebuah geraman marah. "Pergi!"

Kemudian, pria tadi lari terbirit-birit.

Sari Wijaya sudah tidak sanggup lagi berjalan.

Di tengah keputusasaan terakhirnya, saat tubuhnya perlahan merosot di dinding, tiba-tiba dia jatuh ke dalam sebuah pelukan hangat.

Kemudian, dia digendong masuk ke sebuah kamar.

Hidungnya mencium aroma parfum ruangan, bercampur dengan bau alkohol dari tubuh pria yang memeluknya saat ini.

Dengan sisa kesadarannya, dia membuka mata dan samar-samar melihat seorang pria tinggi dan tegap.

Dia mengalungkan tangannya ke leher pria itu, tubuhnya gemetar, tetapi yang keluar dari mulutnya adalah sebuah gigitan.

Terdengar erangan tertahan dari pria itu.

Di telinga pria itu, dia berbisik, "Tolong ... bantu aku."

Bab Terakhir

Anda Mungkin Suka 😍

Sang Putri Hamil Kabur Usai Diceraikan

Sang Putri Hamil Kabur Usai Diceraikan

9.5k Dilihat · Sedang Diperbarui · Budi Santoso
Selama Tiga Tahun Menikah, Suaminya Selalu Menghilang Setiap Malam.

Ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dan gairah selama tiga tahun, dengan keras kepala percaya bahwa suatu hari suaminya akan melihat nilainya. Namun, yang tidak pernah dia duga adalah malah menerima surat cerai darinya.

Akhirnya, dia mengambil keputusan: dia tidak menginginkan lelaki yang tidak mencintainya. Maka, di tengah malam yang pekat, dia pergi membawa serta janin dalam kandungannya.

Lima tahun kemudian, dia telah bertransformasi total. Ia kini adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, seorang hacker tingkat atas, arsitek peraih medali emas di industri konstruksi, dan bahkan terungkap sebagai pewaris konglomerat triliunan rupiah. Semua identitas rahasianya berhasil terbongkar satu persatu.

Sampai suatu hari, seseorang membongkar fakta mengejutkan bahwa di sampingnya ada dua bocah berusia empat tahun yang wajahnya mirip sekali dengan bayi kembar naga-phoenix milik seorang CEO ternama.

Melihat sertifikat perceraian mereka, sang mantan suami tak bisa lagi duduk tenang. Dengan gegas dia memojokkan mantan istrinya, mendesaknya ke dinding, dan dengan suara bergetar penuh emosi dia bertanya, "Mantan istriku yang cantik, bukankah ini saatnya kau memberiku penjelasan?"
Bapak Ryan

Bapak Ryan

131.8k Dilihat · Selesai · Mary D. Sant
"Apa yang tidak bisa kamu kendalikan malam ini?" Aku memberikan senyum terbaikku, bersandar di dinding.
Dia mendekat dengan ekspresi gelap dan lapar,
begitu dekat,
tangannya meraih wajahku, dan dia menekan tubuhnya ke tubuhku.
Mulutnya mengambil milikku dengan rakus, sedikit kasar.
Lidahnya membuatku terengah-engah.
"Kalau kamu tidak ikut denganku, aku akan meniduri kamu di sini." Dia berbisik.


Katherine menjaga keperawanannya selama bertahun-tahun bahkan setelah dia berusia 18 tahun. Tapi suatu hari, dia bertemu dengan seorang pria yang sangat seksual, Nathan Ryan, di klub. Dia memiliki mata biru paling menggoda yang pernah dia lihat, dagu yang tegas, rambut pirang keemasan, bibir penuh, sempurna, dan senyum yang luar biasa, dengan gigi yang sempurna dan lesung pipit yang sialan itu. Sangat seksi.

Dia dan dia memiliki malam yang indah dan panas...
Katherine berpikir dia mungkin tidak akan bertemu pria itu lagi.
Tapi takdir punya rencana lain.

Katherine akan mengambil pekerjaan sebagai asisten seorang miliarder yang memiliki salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan dikenal sebagai pria yang menaklukkan, otoritatif, dan sangat menggoda. Dia adalah Nathan Ryan!

Apakah Kate bisa menahan pesona pria yang menarik, kuat, dan menggoda ini?
Baca untuk mengetahui hubungan yang terombang-ambing antara kemarahan dan hasrat yang tak terkendali.

Peringatan: R18+, Hanya untuk pembaca dewasa.
Kecintaan Satu Malam

Kecintaan Satu Malam

601 Dilihat · Selesai · PageProfit Studio
Sebelum menikah.
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Foxy Wife

Foxy Wife

548 Dilihat · Selesai · Raein23
Deby, nama perempuan yang rela memberikan seluruh hidup ke orang yang tak ia kenal demi pembalasan dendam atas kematian keluarganya.

Cinta bukanlah perioritas hidup Deby. Satu hal yang ditekankan, ia bukan perempuan nakal, orang terjepit hidup ataupun menjual diri.

Hanya melihat 'peruntungan' hubungan bersama seorang presdir Alzero Corp. Terikat penuh ke balas dendam.

Hidup sederhana cukup, Deby tak mengharapkan hal lain.

Menjadi istri diatas kertas adalah sebab ia mau. Sementara licik, licin dan perempuan ular bukanlah pilihan terakhir.

Deby sendiri yang memposisikan diri sendiri. So..., hit with that do. Done.

Zenit Alzero pun bukan orang yang terjebak, ia yang menawarkan. Tak ada dusta antara mereka.

Deby seorang anak dari mafia yang punya dendam ke keluarga Arnais, sepupu Zenit Alzero. Deby menikah ke Zen adalah untuk akses balas dendamnya.

Bagaimana jadinya Devil bertemu evil?

Akankah hubungan mereka berjalan baik?

Semua adalah kisah cinta dan balas dendam. bisakah cinta sejati mempersatukan mereka?
Pengantin Mafia-Nya

Pengantin Mafia-Nya

17k Dilihat · Selesai · Adaririchichi
Cengkeraman besinya mengikat erat pinggangku dan dia menekanku ke dinding.
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.

Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.


Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.

Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.

Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.

Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.

Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

1.4k Dilihat · Selesai · Miss Yulie 2
Mentari si pengantin dadakan. Terpaksa menggantikan posisi Kakak kembarnya, Samantha yang hilang di hari pernikahan. Namun, menjadi pengantin dadakan tak cukup menyelesaikan masalah. Tidak ada cinta, tidak ada perlakuan istimewa. Hanya cemoohan dan hal menyakitkan yang Mentari dapat.

Arga, laki-laki baik yang seharusnya adalah Kakak ipar kepada Mentari, tetapi justru menjadi suami. Seketika menjelma sebagai sosok dingin tak tersentuh. Dia tidak pernah ikhlas dengan kenyataan bahwa Samantha hilang dan digantikan oleh Mentari. Tak sehari pun waktu berlalu tanpa bayang mantan calon istrinya, tidak sekalipun memandang Mentari seperti sosok seharusnya. Tidak pernah ada cinta.
Cinta Terburu-buru Sang CEO

Cinta Terburu-buru Sang CEO

13.3k Dilihat · Sedang Diperbarui · Budi Santoso
Setelah pengantinnya kabur, dia terpaksa menikahi keluarga kaya raya dengan reputasi buruk, menjadi Nyonya Fajar. Saat hamil dua bulan, sang suami memberinya surat cerai dan pergi tanpa ampun. Bertahun-tahun kemudian, dia telah menjadi seorang selebriti yang bersinar, dikelilingi banyak pelamar. Melihat anak lelaki yang sangat tampan di dekatnya, pria itu tersenyum sinis: "Hei, putramu mirip sekali denganku!" "Kita sudah cerai!" hardik wanita itu, menahan amarah.
Bapak Forbes

Bapak Forbes

17.4k Dilihat · Selesai · Mary D. Sant
"Menunduklah. Aku ingin melihat pantatmu saat aku menyetubuhimu."

Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.

"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.

Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.



Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.

Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.

Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.

Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Mami, Papi Memintamu Kembali

Mami, Papi Memintamu Kembali

1.9k Dilihat · Selesai · I S M I
Binar Mentari menikah dengan Barra Atmadja,pria yang sangat berkuasa, namun hidupnya tidak bahagia karena suaminya selalu memandang rendah dirinya. Tiga tahun bersama membuat Binar meninggalkan suaminya dan bercerai darinya karena keberadaannya tak pernah dianggap dan dihina dihadapan semua orang. Binar memilih diam dan pergi.
Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya!
Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan?
“Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?”
Ketika Aku Mencintaimu

Ketika Aku Mencintaimu

958 Dilihat · Selesai · Yulinda Li
Cinta. Bolehkah seorang Shakila memperjuangkannya? Bertahan atas nama CINTA.
Bahagia. Meski terkadang, Shakila tahu untuk saat ini ia belum mendapatkan cinta.

Memperjuangkan cinta sepihaknya. Mengejar laki-laki yang telah memiliki seorang kekasih. Tapi, bukankah seseorang memiliki sebuah alasan ketika ia memutuskan untuk terus berjuang?

Shakila bukanlah seorang pelakor, namun tanpa sengaja sebuah peristiwa membuat dirinya dapat menikah dengan pria impiannya.
Tentu saja, hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan baginya. Namun, berbanding terbalik dengan Delvin Arsalan Davendra. Bos Shakila itu menganggap jika pernikahannya adalah salah. Benar-benar salah. Tetapi, untuk saat ini ia tak mungkin menceraikan Shakila dengan cepatnya.

Lantas, bagaimana dengan saat yang akan datang? Apa Delvin masih menganggap jika pernikahannya adalah kesalahan? Atau malah sebaliknya?
Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku

Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku

15.1k Dilihat · Sedang Diperbarui · Rangga Wijaya
Namaku Kevin. Di usia tiga puluh tahun, aku dikaruniai seorang istri yang baik, cantik, dan memesona, terkenal dengan tubuhnya yang menakjubkan, serta keluarga yang bahagia. Penyesalan terbesarku berawal dari sebuah kecelakaan mobil yang merusak ginjalku dan membuatku menjadi impoten. Meskipun berada di dekat istriku yang menggairahkan dan penuh hasrat, aku merasa tidak mampu mencapai ereksi.

Ibuku meninggal sejak aku kecil, dan ayahku yang baik hati serta kuat telah mengambil peran untuk merawat anak-anakku di rumah. Segala upaya dan obat-obatan telah kucoba untuk mengembalikan fungsi ereksiku yang normal, namun semuanya sia-sia. Suatu hari, saat berselancar di internet, tanpa sengaja aku menemukan literatur dewasa yang melibatkan hubungan antara ayah mertua dan menantu, yang tanpa kusadari langsung membuatku terpikat dan terangsang.

Berbaring di samping istriku yang sedang tidur dengan tenang, aku mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu dalam cerita itu, yang membuatku terangsang sampai tingkat yang luar biasa. Aku bahkan menemukan bahwa membayangkan istriku bersama ayahku sendiri saat aku memuaskan diri sendiri, terasa lebih memuaskan daripada bercinta dengannya secara langsung. Menyadari bahwa aku tanpa sengaja telah membuka kotak Pandora, aku mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...