Dari Berpisah Menuju Kebahagiaan

Dari Berpisah Menuju Kebahagiaan

Rina Wati · Sedang Diperbarui · 102.7k Kata

225
Populer
226
Dilihat
0
Ditambahkan
Tambah ke Rak
Mulai Membaca
Bagikan:facebooktwitterpinterestwhatsappreddit

Pendahuluan

Sebuah kecelakaan mobil membuatku koma. Saat tersadar, kudapati segalanya telah berubah — tunanganku ternyata telah jatuh cinta kepada wanita lain...
Aku tak punya pilihan lain. Dengan berat hati kuterima kenyataan pahit itu, lalu berbalik arah dan menikahi seorang CEO triliunan.
Begali tahu kabar itu, sang mantan langsung menjadi gila!

Bab 1

Liburan musim panas setelah kelulusan SMA, Sari Wijaya akhirnya menerima surat penerimaan dari universitas negeri ternama.

Dia sangat bahagia begitu surat dari universitas impiannya itu ada di tangannya.

Sesampainya di rumah, begitu melangkah masuk ke ruang keluarga, dia melihat ayahnya, Ronald Wijaya, ibu tirinya, Ratna Salim, dan adik tirinya, Nina Wijaya, sedang duduk bersama di sofa.

Nina Wijaya sepertinya habis menangis, terlihat dari lingkaran matanya yang tampak merah.

Ratna Salim sedang menghiburnya. "Nina kan sudah berusaha keras. Waktu ujian kemarin kebetulan lagi nggak enak badan, makanya hasilnya kurang maksimal. Kalau kita kasih Nina satu kesempatan lagi, dia pasti bisa dapat hasil yang lebih baik."

Ronald Wijaya pun ikut membujuk dengan suara lembut. "Nina, walaupun universitas ini bukan yang terbaik, tapi nanti setelah lulus S1, kita bisa lanjut S2 di luar negeri. Pulang-pulang juga sama saja, kok."

Begitu Sari Wijaya masuk, pemandangan keluarga harmonis yang menyambutnya terasa begitu ironis.

Dia segera menyembunyikan surat penerimaan di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik badan, lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya.

Suka dan duka keluarga ini, sama sekali bukan urusannya.

Begitu dia kuliah nanti, dia akan memastikan untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari mereka.

Namun, Nina Wijaya sepertinya tidak mau melepaskannya begitu saja. Sambil mengangkat wajahnya yang berlinang air mata, dia bertanya, "Kak, Kakak sudah terima surat penerimaan?"

Sejak masuk tadi, wajah Sari Wijaya terus terlihat dingin. 'Pasti nilainya tidak bagus', pikir Nina, 'dia tidak diterima di universitas favoritnya itu.'

Nina berpikir, meskipun dia sendiri hanya masuk universitas kelas dua, setidaknya itu lebih baik daripada Sari Wijaya yang tidak punya tempat kuliah sama sekali. Dia sudah tidak sabar menunggu Sari dipermalukan di depan Ayah.

Melihat ekspresi Nina, Sari Wijaya tentu bisa menebak apa yang ada di pikirannya.

Sari tersenyum sinis. Dia berdiri di hadapan mereka dan perlahan membuka surat penerimaannya.

Kertas surat yang dirancang dengan indah itu seakan menusuk mata Nina Wijaya.

Nina menekan kuat-kuat rasa iri dan benci yang bergejolak di dalam hatinya. Namun, di wajahnya, dia tetap memasang senyum manis. "Wah! Universitas ternama! Kakak memang hebat! Selamat ya, Kak!"

Ronald Wijaya melirik nama universitas itu, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Sari dari kecil memang pintar."

Mendengar suaminya berkata demikian, Ratna Salim segera memainkan perannya sebagai ibu yang baik hati. Dia berpura-pura peduli dan bertanya, "Sari, kamu lapar nggak? Mau Ibu suruh Bi Inah masakin sesuatu?"

"Nggak perlu," jawab Sari Wijaya dingin, lalu berbalik dan naik ke kamarnya.

Sekelompok orang yang telah merebut rumahnya dan menyebabkan kematian ibunya ini, dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan mereka.


Beberapa hari sebelum perkuliahan dimulai, Sari Wijaya sedang membereskan barang-barangnya di kamar.

Tiba-tiba, Nina Wijaya meneleponnya.

"Kak, kita berdua kan sebentar lagi mau berangkat kuliah. Ayah dan Ibu izinin kita pergi ke bar bareng buat merayakannya."

Sari Wijaya tidak tertarik dan hanya ingin segera menutup telepon. "Nggak, aku sibuk."

"Kak, aku tahu Kakak nggak suka sama Ibu dan aku. Tapi kan kita sebentar lagi nggak tinggal di rumah, setengah tahun lebih nggak akan ketemu. Lagipula, kita kan sudah delapan belas tahun, sudah boleh minum. Tolong ya, kali ini saja, Kak?" bujuk Nina.

Sari Wijaya berpikir sejenak. Ada benarnya juga, dia akan segera meninggalkan rumah ini, dan tidak ada sedikit pun rasa rindu yang akan tertinggal.

Bar? Kenapa tidak.

Dia menutup ritsleting kopernya dan menjawab Nina, "Oke, tunggu aku ganti baju."

Di seberang telepon, Nina bersorak gembira. "Oke, Kak! Aku tunggu ya, alamatnya aku kirim ke HP Kakak."

Bagi siapa pun yang mendengar, suaranya terdengar seolah-olah dia benar-benar senang bisa pergi bersama kakaknya.

Namun, di sudut yang tak terlihat oleh siapa pun, bibir Nina sedikit terangkat membentuk senyuman licik.

Sambil menatap layar percakapannya dengan Sari Wijaya, hatinya berkata dengan kejam, 'Kakakku tersayang, kalau aku tidak bisa masuk universitas bagus, maka kamu juga jangan harap bisa kuliah.'

Nina menyimpan ponselnya, lalu kembali bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sambil tersenyum ramah kepada orang-orang di sekitarnya.

Dia terlihat begitu penurut, manis dan tidak berbahaya.


Sari Wijaya selesai berganti pakaian dan bercermin.

Di usianya yang kedelapan belas, Sari Wijaya telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan mempesona.

Ini adalah pertama kalinya dia datang ke bar.

Meskipun dia sudah terbiasa dengan berbagai macam acara, tetapi berada sendirian di tengah lingkungan yang hingar-bingar oleh musik yang memekakkan telinga dan lampu warna-warni, tetap saja membuat dia sedikit gugup.

Dia menelepon Nina Wijaya. "Ruangan yang mana? ... Hmm, oke."

Sambil memegang ponsel, dia berjalan merapat ke dinding, dan terus-menerus berusaha menghindari orang-orang yang mabuk.

Saat berbelok di sudut lorong, dia tidak sengaja menabrak dinding daging yang kokoh. "Maaf," ucapnya cepat, lalu segera mundur selangkah.

Aroma pinus yang wangi tercium dari tubuh pria itu, bercampur dengan sedikit aroma tembakau yang samar.

Sari Wijaya terus menunduk. Dari sudut pandangnya, yang terlihat adalah sepasang sepatu kulit hitam mengkilap dan celana setelan hitam lurus. Dari situ, dia bisa menebak bahwa pria ini sangat tinggi, dengan kaki yang jenjang.

Pinggangnya sangat ramping.

Pria itu sedikit memiringkan tubuhnya dan memberi isyarat dengan tangan, mempersilakannya lewat.

Sari Wijaya melihat tangannya yang besar dengan buku-buku jari yang tegas. Sepertinya dia masih muda.

Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah jam tangan Patek Philippe berwarna emas.

Sari Wijaya mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih, lalu mengangkat sedikit gaun putih panjangnya dan bergegas pergi.

Dia tidak menyadari tatapan tajam yang terus mengawasinya dari belakang.


Sari Wijaya masuk ke dalam ruang privat, dan Nina Wijaya langsung menyodorkan segelas minuman kepadanya.

Mata Nina tidak berkedip saat menatap Sari Wijaya menenggak minuman itu.

Sudut bibir Nina melengkung naik, matanya menyiratkan kepuasan yang tidak bisa diartikan. Dia menggunakan gelasnya untuk menutupi wajah, guna menyembunyikan senyum licik penuh kemenangan karena rencananya akan segera berhasil.

Membayangkan reputasi Sari Wijaya yang akan segera hancur, Nina merasa begitu bersemangat hingga seluruh tubuhnya gemetar.

Sari Wijaya tidak berpikir macam-macam. Dia menunduk dan meminum minumannya lagi tanpa melihat tatapan penuh kebencian dan kepuasan di mata Nina.

Suasana bar begitu riuh, dan lampu-lampu menyilaukan mata. Beberapa menit kemudian, kepala Sari mulai pusing, disertai perasaan gelisah dan rasa haus yang aneh.

Dalam pandangannya yang mulai kabur, dia menatap Nina di seberangnya yang tampak khawatir.

Nina masih bertanya, "Kak, kamu merasa pusing, ya? Aku sudah pesan kamar di lantai atas, mau aku panggil orang untuk antar Kakak istirahat?"

Pipi Sari Wijaya sudah memerah, napasnya menjadi cepat, dan butiran-butiran keringat sebesar biji jagung pun membasahi dahinya.

Saat itulah, dia curiga kalau minumannya telah dibubuhi obat.

Tidak mungkin reaksi sekuat ini hanya karena seteguk minuman.

Orang yang melakukannya, selain Nina Wijaya, siapa lagi?

Pandangan Sari Wijaya sudah benar-benar kabur.

Dia mencengkeram kerah baju Nina Wijaya dan menggeram. "Nina Wijaya! Kamu meracuniku!"

Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.

Nina meletakkan gelasnya, lalu dengan dingin menepis tangan Sari Wijaya, dan berkata, "Kak, kamu ngomong apa, sih? Minuman kita kan sama persis. Kalau kamu nggak kuat minum, jangan salahkan aku dong."

Sari Wijaya merasa seluruh tubuhnya lemas. Begitu ditepis, dia langsung terjatuh ke sofa dan terengah-engah.

Sekalipun Sari biasanya sangat tenang, tetapi dia belum pernah mengalami hal seperti ini.

Otaknya seakan berhenti bekerja dan dia tidak tahu harus berbuat apa.

Atas isyarat dari Nina, seorang pria muncul dari sudut bar.

Pria itu tersenyum mesum, memandangi Sari Wijaya dari atas ke bawah dengan tatapan menjijikkan.

Dia berjalan mendekat, lalu memapah Sari Wijaya yang sudah tak berdaya, dan hampir setengah memeluknya saat membawanya keluar.

Sari Wijaya berusaha keras menolak sentuhan pria itu.

Namun, di saat seperti ini, tenaga yang menurutnya sudah sekuat tenaga itu tidak lebih dari sekadar gelitikan bagi seorang pria dewasa.

Pria itu memeluknya sambil berjalan menuju kamar di lantai atas.

Dia berpura-pura seolah mengenalnya. "Sayang, sabar ya, sebentar lagi sampai."

Keputusasaan mulai merayap di hati Sari Wijaya.

Dia tahu, saat ini, dia tidak punya kekuatan untuk menyelamatkan diri. Dan dia tidak tahu siapa yang akan datang menolongnya.

Karena Nina yang mengajaknya ke sini dan memberinya obat, pasti dia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.

Mungkin sebentar lagi akan ada orang yang masuk ke kamar, mengambil foto-foto tidak senonohnya, dan menyebarkan aibnya ke semua orang.

Membuatnya tidak akan pernah bisa mengangkat kepala lagi.

Dia berusaha melawan sekuat tenaga, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan pria itu.

Pria itu memeluknya sambil membawanya naik ke lantai atas, dan masuk ke koridor.

Sari Wijaya mencubit telapak tangannya sendiri dengan keras, mencoba menggunakan rasa sakit untuk membuatnya tetap sadar.

Dia berusaha keras memikirkan cara untuk menyelamatkan diri.

Dia merasakan gelombang panas menyebar dari perut bagian bawahnya, lalu terus menyerang tubuhnya yang muda dan sensitif.

Panas itu menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, seolah menyelimuti dirinya tanpa sisa.

Obat itu sudah mulai bekerja. Kepala Sari terasa berat dan kakinya sudah lemas.

Pria menjijikkan itu pun dengan mudah menyeretnya.

Sari Wijaya terus berjuang sekuat tenaga.

Namun, dia tidak bisa melepaskan diri dari lengan kekar yang mencengkeramnya.

Sari terus mendorong pria itu. "Lepasin! Lepasin aku! ... Tolong! Siapa pun, tolong aku!"

Suaranya terdengar jelas menahan tangis.

Pria itu tersenyum menyeringai melihatnya berjalan terhuyung-huyung, lalu mengangkat tubuhnya dan berbisik dengan cabul di telinganya, "Dasar jalang kecil, adikmu bilang kamu masih perawan. Aku harus jadi yang pertama mencicipinya. Jangan sok menolak sekarang, nanti kalau sudah di kamar, di atas ranjang, aku jamin kamu bakal nangis-nangis memohon kepadaku untuk menggarapmu habis-habisan. Tenang saja, kalau kamu nurut, Abang pasti bikin kamu keenakan sampai nggak bisa berhenti ...."

Pria itu melilitnya seperti ular berbisa.

Kata-kata kotornya belum selesai, tetapi tiba-tiba dia menjerit kesakitan, "Aduh!" Dan langsung berlutut di lantai.

Dia bangkit, meludah, lalu mengumpat dengan kasar, "Anjing! Siapa yang berani mukul gue?!"

Sepertinya dia dipukul lagi dengan keras. Sambil memegangi wajahnya, dia hanya bisa merintih dan tidak bisa bersuara lagi.

Sari Wijaya mendengar suara pria lain yang lebih muda, sebuah geraman marah. "Pergi!"

Kemudian, pria tadi lari terbirit-birit.

Sari Wijaya sudah tidak sanggup lagi berjalan.

Di tengah keputusasaan terakhirnya, saat tubuhnya perlahan merosot di dinding, tiba-tiba dia jatuh ke dalam sebuah pelukan hangat.

Kemudian, dia digendong masuk ke sebuah kamar.

Hidungnya mencium aroma parfum ruangan, bercampur dengan bau alkohol dari tubuh pria yang memeluknya saat ini.

Dengan sisa kesadarannya, dia membuka mata dan samar-samar melihat seorang pria tinggi dan tegap.

Dia mengalungkan tangannya ke leher pria itu, tubuhnya gemetar, tetapi yang keluar dari mulutnya adalah sebuah gigitan.

Terdengar erangan tertahan dari pria itu.

Di telinga pria itu, dia berbisik, "Tolong ... bantu aku."

Bab Terakhir

Anda Mungkin Suka 😍

Cinta Terlarang: Aku dan Ayah Sahabatku

Cinta Terlarang: Aku dan Ayah Sahabatku

56k Dilihat · Sedang Diperbarui · Ayuk Simon
CATATAN TENTANG ISI

BUKU INI MENGANDUNG BANYAK ADEGAN EROTIS, PERMAINAN NAFAS, PERMAINAN TALI, SOMNOPHILIA, DAN PERMAINAN PRIMAL. ISINYA DEWASA KARENA DIBERIKAN RATING 18+. BUKU-BUKU INI ADALAH KOLEKSI BUKU YANG SANGAT PANAS YANG AKAN MEMBUAT KAMU MENCARI VIBRATOR DAN MENINGGALKAN CELANA DALAMMU BASAH. Nikmati, cewek-cewek, dan jangan lupa untuk berkomentar.

XoXo

Dia menginginkan keperawananku.
Dia ingin memiliki diriku.
Aku hanya ingin menjadi miliknya.

Tapi aku tahu ini lebih dari sekadar membayar hutang. Ini tentang dia yang ingin memiliki diriku, bukan hanya tubuhku, tapi setiap bagian dari siapa diriku.
Dan yang paling gila dari semuanya adalah kenyataan bahwa aku ingin memberikan segalanya padanya.

Aku ingin menjadi miliknya.
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati

Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati

366.7k Dilihat · Sedang Diperbarui · FancyZ
Menikah selama empat tahun, Emily tetap tidak memiliki anak. Diagnosis rumah sakit membuat hidupnya terjun ke neraka. Tidak bisa hamil? Tapi suaminya jarang di rumah selama empat tahun ini, jadi bagaimana dia bisa hamil?
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Jatuh Cinta dengan Miliarder Dominan

Jatuh Cinta dengan Miliarder Dominan

1.2k Dilihat · Selesai · Nora Hoover
Desas-desus beredar bahwa pewaris terhormat keluarga Flynn terbaring lumpuh dan sangat membutuhkan seorang istri. Reese Brooks, anak angkat dari keluarga Brooks yang tinggal di pedesaan, tiba-tiba dijodohkan dengan Malcolm Flynn sebagai pengganti kakaknya. Awalnya, keluarga Flynn memandang rendah Reese sebagai gadis kampung yang tidak berpendidikan dan tidak berkelas. Reputasinya semakin tercemar oleh gosip jahat yang menggambarkannya sebagai pembunuh yang buta huruf dan tidak elegan. Namun, melawan segala rintangan, Reese muncul sebagai sosok yang luar biasa: desainer mode terkemuka, peretas elit, raksasa keuangan, dan ahli medis yang brilian. Keahliannya menjadi standar emas, diinginkan oleh para raksasa investasi dan dewa medis, sambil menarik perhatian pengendali ekonomi Atlanta.
(Pembaruan harian dengan tiga bab)
Kesayangan CEO

Kesayangan CEO

1k Dilihat · Selesai · PageProfit Studio
Dalam sebuah persekongkolan, Gu Mengmeng menikahi kakak perempuan tertuanya, dan calon kakak iparnya menjadi seorang suami. Sejak saat itu, ia memulai kehidupan pernikahan yang harmonis setiap malam.
Dia adalah kaisar gelap yang ditakuti semua orang, dikabarkan kejam dan kejam, dan tegas, tetapi dia hanya memanjakannya tanpa hukum.
Suatu hari, reporter bertanya: "Nyonya Lu, apakah Anda memiliki sesuatu yang perlu ditakuti?"
Gu Mengmeng tidak meneteskan air mata di wajahnya.
Dia hanya takut pada dua hal sekarang.
Pertama, cium suamimu!
Kedua, suami tercinta setelah mematikan lampu!
Istri Misterius

Istri Misterius

40.2k Dilihat · Selesai · Amelia Hart
Evelyn sudah menikah selama dua tahun, namun suaminya, Dermot, yang tidak menyukainya, tidak pernah pulang ke rumah. Evelyn hanya bisa melihat suaminya di televisi, sementara Dermot tidak tahu seperti apa wajah istrinya sendiri.

Setelah mereka bercerai, Evelyn muncul di hadapan Dermot sebagai Dr. Kyte.

Dermot sangat mengagumi Dr. Kyte dan jatuh cinta padanya. Dermot bahkan mulai mengejar Dr. Kyte dengan penuh semangat!

Evelyn bertanya kepada Dermot, "Kamu tahu siapa aku?"

Dengan percaya diri, Dermot menjawab, "Tentu saja. Kamu adalah Dr. Kyte, seorang dokter yang sangat terampil. Selain itu, kamu juga seorang hacker kelas atas dan pendiri merek fashion mewah!"

Evelyn mendekatkan diri ke telinga Dermot dan berbisik lembut, "Sebenarnya, aku juga mantan istrimu!"

(Saya sangat merekomendasikan sebuah buku yang sangat menarik hingga saya tidak bisa berhenti membacanya selama tiga hari tiga malam. Buku ini sangat mengasyikkan dan wajib dibaca. Judul bukunya adalah "Cerai Mudah, Rujuk Sulit". Kamu bisa menemukannya dengan mencarinya di kolom pencarian.)
Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku

Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku

11.2k Dilihat · Sedang Diperbarui · Rangga Wijaya
Namaku Kevin. Di usia tiga puluh tahun, aku dikaruniai seorang istri yang baik, cantik, dan memesona, terkenal dengan tubuhnya yang menakjubkan, serta keluarga yang bahagia. Penyesalan terbesarku berawal dari sebuah kecelakaan mobil yang merusak ginjalku dan membuatku menjadi impoten. Meskipun berada di dekat istriku yang menggairahkan dan penuh hasrat, aku merasa tidak mampu mencapai ereksi.

Ibuku meninggal sejak aku kecil, dan ayahku yang baik hati serta kuat telah mengambil peran untuk merawat anak-anakku di rumah. Segala upaya dan obat-obatan telah kucoba untuk mengembalikan fungsi ereksiku yang normal, namun semuanya sia-sia. Suatu hari, saat berselancar di internet, tanpa sengaja aku menemukan literatur dewasa yang melibatkan hubungan antara ayah mertua dan menantu, yang tanpa kusadari langsung membuatku terpikat dan terangsang.

Berbaring di samping istriku yang sedang tidur dengan tenang, aku mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu dalam cerita itu, yang membuatku terangsang sampai tingkat yang luar biasa. Aku bahkan menemukan bahwa membayangkan istriku bersama ayahku sendiri saat aku memuaskan diri sendiri, terasa lebih memuaskan daripada bercinta dengannya secara langsung. Menyadari bahwa aku tanpa sengaja telah membuka kotak Pandora, aku mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO

Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO

86.9k Dilihat · Sedang Diperbarui · Robert
Setelah dikhianati oleh pacarku, aku langsung beralih ke temannya, seorang CEO tampan dan kaya, dan tidur dengannya. Awalnya aku pikir itu hanya tindakan impulsif semalam saja, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa CEO ini sudah lama tergila-gila padaku. Dia mendekati pacarku hanya karena aku...
Bapak Forbes

Bapak Forbes

16.6k Dilihat · Selesai · Mary D. Sant
"Menunduklah. Aku ingin melihat pantatmu saat aku menyetubuhimu."

Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.

"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.

Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.



Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.

Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.

Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.

Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Trilogi Efek Carrero

Trilogi Efek Carrero

1.7k Dilihat · Sedang Diperbarui · Leanne Marshall
Emma Anderson memiliki segalanya dalam hidupnya yang sudah terencana dengan baik. Dia memiliki pekerjaan sempurna di sebuah perusahaan besar di Manhattan yang memungkinkannya menjalani kehidupan yang tenang dan teratur. Hal ini sangat penting baginya, setelah masa kecil yang penuh dengan kenangan buruk, pelecehan, dan seorang ibu yang tidak berguna. Namun, ada satu masalah yang bisa menggagalkan semua yang dia pikir dia butuhkan dalam hidupnya. Promosinya membawanya langsung ke dalam pekerjaan dekat dengan Jacob Carrero, seorang miliarder muda, tampan, dan playboy dengan reputasi yang menakutkan sebagai pemain. Terjebak sebagai tangan kanannya, setiap saat dalam setiap hari, dia menyadari bahwa Jacob adalah tipe orang yang bisa membuatnya gila, dan bukan dalam arti yang baik. Seperti langit dan bumi, dia adalah segalanya yang bukan Emma. Impulsif, percaya diri, santai, dominan, dan menyenangkan, dengan sikap yang sangat santai terhadap seks kasual dan kencan. Jake adalah satu-satunya yang mampu menghancurkan eksterior dingin dan teratur Emma, yang tidak terpengaruh oleh sikap tertutup dan sopan santunnya, tetapi meskipun dia ingin, membiarkannya masuk adalah hal yang sangat berbeda. Masa lalu yang membuatnya waspada terhadap pria dan tidak ada keinginan untuk membiarkan satu pun cukup dekat untuk menyakitinya lagi, Jacob Carrero memiliki pekerjaan yang sulit. Dia bukan seseorang yang menerima jawaban TIDAK dan harus belajar bagaimana menembus jika dia menginginkan lebih dari topeng yang dia tunjukkan kepada dunia. Jake perlu menunjukkan padanya bahwa bahkan seseorang seperti dia bisa berubah ketika gadis yang penting itu berhasil menembus. Karakter yang seksi dan menyenangkan serta topik emosional yang mendalam. Mengandung beberapa konten dewasa dan bahasa yang matang.
Kecanduan Teman Ayahku

Kecanduan Teman Ayahku

65.5k Dilihat · Sedang Diperbarui · Keziah Agbor
PERINGATAN KONTEN!!!

BUKU INI MENGANDUNG BANYAK ADEGAN EROTIS, PERMAINAN NAFAS, PERMAINAN TALI, SOMNOPHILIA, DAN PERMAINAN PRIMAL.
BUKU INI DIBERIKAN RATING 18+ DAN PENUH DENGAN KONTEN DEWASA.
BUKU INI ADALAH KOLEKSI BUKU-BUKU YANG SANGAT PANAS YANG AKAN MEMBUAT CELANA DALAMMU BASAH DAN MENCARI VIBRATORMU.
SELAMAT BERSENANG-SENANG, DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTARMU.

**XoXo**

"Kamu akan menghisap kontolku seperti gadis baik yang kamu adalah, oke?"

Setelah bertahun-tahun dibully dan harus menghadapi hidupnya sebagai tomboy, ayah Jamie mengirimnya ke sebuah peternakan untuk bekerja pada seorang pria tua, tetapi pria tua ini ternyata adalah fantasi terliarnya.

Seorang pria yang menidurinya dan mengeluarkan sisi femininnya. Jamie jatuh cinta pada Hank, tetapi ketika wanita lain muncul, apakah Jamie memiliki dorongan untuk memperjuangkan pria yang memberi hidupnya sedikit bumbu dan makna untuk terus hidup?
Sang Profesor

Sang Profesor

16.1k Dilihat · Selesai · Mary Olajire
"Di tangan dan lututmu," dia memerintah.
Suaranya penuh dengan beban dan urgensi
dan aku segera menurut sebelum dia mengarahkan pinggulku.
Tubuh kami bertemu dengan irama yang keras dan marah.
Aku semakin basah dan panas saat mendengarkan suara kami bercinta.
"Sial, vaginamu gila."


Setelah satu malam panas dengan seorang pria asing yang dia temui di klub, Dalia Campbell tidak mengira akan bertemu Noah Anderson lagi. Kemudian Senin pagi tiba, dan orang yang masuk ke ruang kuliah sebagai dosen adalah pria asing dari klub itu. Ketegangan meningkat dan Dalia berusaha sekuat tenaga untuk menjauhinya karena dia tidak ingin terganggu oleh siapa pun atau apa pun - ada juga fakta bahwa dia benar-benar terlarang - tetapi ketika dia menjadi asisten dosennya, batasan hubungan dosen/mahasiswa mereka menjadi kabur.