Bab [5] Jangan Paksa Aku Mengirim Kamu ke Luar Negeri!

Sari Wijaya menggerutu dalam hati, apa kamarnya ini sudah berubah jadi pasar? Kenapa orang-orang datang silih berganti?

Dia mengangkat pandangannya.

Seketika, raut wajahnya berubah masam.

Di ambang pintu kamarnya, berdiri ayahnya, Ronald Wijaya, ibu tirinya, Ratna Salim, dan adik tirinya, Nina Wijaya.

Melihat Nina Wijaya, Sari langsung teringat insiden di acara pertunangannya kemarin.

Tunangannya sendiri, di saat genting antara hidup dan mati, justru meninggalkannya demi menyelamatkan Nina Wijaya, adik tiri yang paling ia benci.

Nina berjalan ke samping tempat tidurnya, berpura-pura sangat khawatir. "Kak Sari, gimana keadaan Kakak? Aku dengar kemarin Kakak luka parah sampai pingsan."

Setelah berkata begitu, Nina mengangkat tangan, mengusap sudut matanya yang sama sekali tidak berair.

Sari merasa sangat muak. Ia pura-pura tidak mendengar dan mengabaikan keberadaan mereka bertiga.

Ia menarik selimut, membalikkan badan, dan memejamkan mata, berpura-pura tidur.

SRAK! Ronald Wijaya menyentakkan selimutnya, lalu menunjuknya sambil memaki, "Sari Wijaya! Kamu ini punya sopan santun tidak?! Adikmu sedang mengkhawatirkanmu, sikap macam apa itu?!"

Sari sama sekali tidak peduli dan hanya memandang ke luar jendela.

Ibu tirinya, Ratna Salim, melihat sikap dingin Sari yang seolah tidak peduli, segera menengahi. "Sudah, Ronald, Sari masih anak-anak. Jangan emosi, tidak baik untuk kesehatanmu. Lebih baik kita selesaikan urusan pentingnya."

Ronald Wijaya berkacak pinggang, menatap Sari dengan mata melotot.

"Masih anak-anak? Dia sudah 26 tahun, anak-anak dari mana? Lagipula, dia sudah jadi ibu!"

Ronald Wijaya juga tidak ingin berlama-lama di kamar rumah sakit.

Dia langsung memberi perintah ke arah punggung Sari, "Kamu sudah lihat sendiri kejadian kemarin. Orang yang paling dipedulikan Vincent Yanto itu Nina. Toh, pertunangan kalian juga sudah gagal. Lebih baik kamu secara sukarela umumkan ke publik kalau pertunanganmu dengan Vincent Yanto dibatalkan. Biarkan Nina yang menikah dengan Vincent."

Mendengar itu, Sari membalikkan badannya.

Dia tertawa. Tawa yang dipenuhi amarah.

Permintaan yang benar-benar tidak masuk akal.

Entah sampai di mana lagi batas ketidakmampuan keluarga ini.

Putrinya menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain, dan orang tuanya malah membantunya merebut posisi.

Bahkan datang ke hadapan korban aslinya, dengan percaya diri menuntut hal seperti itu.

Sari mengambil bantal untuk menyangga punggungnya, lalu duduk bersandar sambil melipat tangan di dada, seolah menonton pertunjukan.

Dia menatap Ronald Wijaya dengan pandangan miring, "Atas dasar apa?"

Wajah Ronald Wijaya tidak berubah sedikit pun, seolah apa yang dikatakannya adalah hal yang wajar. "Mereka berdua saling mencintai, pasangan yang serasi. Sedangkan kamu? Wanita bekas pakai yang sudah ditiduri lalu dicampakkan, hamil di luar nikah di usia muda. Dulu masalah ini jadi bahan gunjingan se-Jakarta Utara. Kamu tahu itu sendiri! Nama baik keluarga Wijaya sudah kamu hancurkan! Sari Wijaya, keluarga Yanto itu keluarga terpandang di Jakarta Utara, apa kamu benar-benar berpikir bisa masuk ke keluarga mereka? Apa mereka akan mengizinkan Vincent Yanto menikahi wanita dengan reputasi buruk dan pergaulan bebas?! Aku bicara baik-baik ini karena masih memberimu muka, jangan tidak tahu diri!"

Di usianya yang kedelapan belas, Sari Wijaya yang hamil di luar nikah menjadi bahan tertawaan terbesar se-Jakarta Utara, menjadi topik gosip semua orang.

Saat itu, ayahnya, tanpa peduli hidup dan matinya, dengan kejam mengirimnya ke luar negeri. Selama tujuh tahun, tidak pernah sekalipun menanyakan kabarnya, membiarkannya berjuang sendiri di negeri orang.

Bahkan sekarang, setelah ia lolos dari maut di tengah kobaran api, ayahnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa khawatir.

Bukan hanya itu, ayahnya bahkan dengan tidak tahu malu datang untuk menjadi juru bicara bagi putri kesayangannya, Nina Wijaya, dan memintanya untuk menyerahkan tunangannya?!

Sari sudah sering melihat orang tidak tahu malu, tapi belum pernah melihat yang seluar biasa ini!

Sari melirik sekilas ke arah tiga orang dengan ekspresi berbeda itu, lalu berkata dengan dingin, "Kalian berdua memang pantas jadi ibu dan anak kandung, bakat jadi pelakor saja bisa diwariskan! Bilang aku merusak nama baik keluarga Wijaya? Memangnya keluarga Wijaya punya nama baik apa untuk aku rusak?

"Pemakaman Ibu baru saja selesai, kamu sudah tidak sabar menikahi pelakor itu. Lucunya lagi, putri yang dilahirkan pelakor itu hanya setengah tahun lebih muda dariku. Ronald Wijaya, aku bertanya atas nama ibuku, saat beliau susah payah mengandungku, apa yang kamu lakukan? Kalau bicara soal pergaulan bebas, di seluruh Jakarta Utara ini, siapa yang bisa menandingimu, Ronald Wijaya?!"

Ronald Wijaya murka. Dia berbalik, hendak menampar Sari sambil berteriak, "Sari Wijaya...!"

Wajah Nina Wijaya dan Ratna Salim seketika menjadi sangat jelek.

Kepala Sari masih sedikit pusing, ia malas berdebat lebih lama dengan mereka. "Soal keluarga Yanto mau menerimaku atau tidak, mau mengakuiku sebagai menantu perempuan mereka atau tidak, biar Vincent Yanto sendiri yang datang dan bilang padaku. Bukan urusanmu sebagai orang luar untuk datang ke sini menunjuk-nunjuk dan berteriak! Kalau kalian tidak pergi sekarang, aku akan panggil polisi! Lagipula, kalau nanti jadi ribut, yang malu bukan aku!"

Saat itu, di koridor luar kamar rawat, sudah ada beberapa orang yang berkumpul untuk menonton.

Mereka berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Ronald dan keluarganya.

Ronald Wijaya tahu betul sifat Sari. Dia tahu, Sari sama seperti ibunya. Terlihat tenang, tapi sekali diprovokasi, sifat kuat dan dominan dalam dirinya akan keluar, dan tidak ada yang bisa menandinginya.

Melihat semakin banyak orang di luar pintu, dan demi menjaga muka keluarga Wijaya, Ronald Wijaya hanya bisa mengancam, "Sari Wijaya, jangan paksa aku mengirimmu ke luar negeri lagi!" Setelah melemparkan kalimat itu, dia pergi sambil mengumpat.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya