Bab [7] Kamu Putus dengan Aku Demi Dia?
Dia bangkit dari ranjang rumah sakit. Kaki kanannya masih terbalut gips, membuatnya sangat sulit bergerak. Namun, dengan keras kepala dan angkuh, dia tetap memaksakan diri turun dari ranjang menggunakan kruk. Bertahun-tahun telah berlalu, dan dia sudah terbiasa mengandalkan dirinya sendiri untuk segala hal, dalam situasi apa pun.
Selama tiga tahun menjalin kasih dengan Vincent Yanto, bahkan di saat hubungan mereka sedang mesra-mesranya, Sari Wijaya tidak akan pernah merepotkan atau bergantung pada Vincent Yanto jika dia masih bisa menyelesaikannya sendiri.
Dia benar-benar sudah terbiasa sendirian di dunia ini.
Sari bersyukur karena selalu mandiri. Berkat itu, ketika masalah besar benar-benar datang, dia selalu bisa menemukan jalan keluar dan melewatinya seorang diri.
Dengan susah payah, Sari Wijaya akhirnya berhasil keluar dari kamar mandi sambil bertumpu pada kruknya. Begitu keluar, dia terkejut melihat seorang pria berdiri di tengah kamar rawatnya.
Pemandangan itu membuatnya tersentak.
Pria itu menangkap perubahan raut wajahnya dan bertanya dengan suara yang dalam dan magnetis, "Apa saya mengagetkan Anda?"
"Bukan begitu juga," Sari menggeleng. "Saya hanya tidak menyangka Anda akan muncul tiba-tiba lagi."
Ternyata dia ayah dari anak laki-laki tadi, batin Sari.
Tadinya Sari cukup lega dengan sikap dingin pria itu padanya. Sekarang, kedatangannya yang tanpa diundang membuat Sari merasa sedikit... tidak nyaman.
Pria itu memperhatikan perubahan emosi di mata Sari dan mengatupkan bibirnya sejenak. "Nama saya Rangga Hartman. Aula serbaguna tempat acara pertunangan Nona Wijaya kemarin adalah milik saya."
Sari Wijaya seketika paham. Ternyata, pria ini datang untuk bertanggung jawab.
Aula terbakar secara tiba-tiba, dan sebagai pemilik, tentu saja dia ikut bertanggung jawab.
Nada bicara Rangga Hartman mendadak berubah menjadi formal dan serius. "Saya meminta maaf sedalam-dalamnya atas insiden kebakaran di aula yang menyebabkan Nona Wijaya terjebak dan mengalami patah tulang kaki kanan. Seluruh biaya yang timbul di rumah sakit, termasuk rawat inap, pengobatan, perawat, makanan, hingga rehabilitasi, akan saya tanggung sepenuhnya. Selain itu, Nona Wijaya bisa menuntut ganti rugi kepada saya untuk kompensasi kehilangan waktu kerja, kerugian moril, serta seluruh kerugian dari acara pertunangan."
"Tidak perlu sampai sejauh itu," sahut Sari Wijaya dengan tenang. "Pak Hartman cukup menanggung biaya pengobatan saya saja, itu sudah lebih dari cukup."
Mendengar jawaban itu, Rangga Hartman menatapnya lekat-lekat, sorot matanya sedikit berubah.
Berdiri terlalu lama membuat kaki Sari terasa kebas. Dia tanpa sadar menggeser tumpuan tubuhnya.
Rangga Hartman menyadari ketidaknyamanannya dan segera bertanya, "Perlu saya bantu?"
Sari mengangkat kruknya, menunduk menghindari tatapannya, dan perlahan beringsut maju. "Tidak usah..."
"Ah!"
Belum selesai Sari bicara, kakinya tiba-tiba terpeleset. Kruk terlepas dari genggamannya, dan tubuhnya terhuyung ke belakang.
Rasa sakit yang sudah Sari antisipasi ternyata tidak kunjung datang.
Dengan satu gerakan cepat, Rangga Hartman melesat maju dan menangkap tubuh Sari dengan sigap di dalam dekapannya.
Masih terguncang, Sari yang kini bersandar di pelukan pria itu mencium aroma cendana yang lembut dan bersih. Dia juga bisa mendengar detak jantung Rangga yang cepat namun kuat di dadanya.
Seketika, sebuah perasaan familier yang aneh menyelinap ke dalam hatinya.
Kehangatan pelukan ini, kekuatan lengan ini... terasa begitu akrab.
Dia tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran yang tidak seharusnya.
Sari buru-buru mencoba bangkit dan melepaskan diri.
Sejak insiden itu terjadi, dia selalu tidak nyaman dengan kontak fisik yang intim.
Selama tiga tahun berpacaran dengan Vincent Yanto, Vincent tahu pengalaman buruk yang pernah Sari alami membuatnya sangat anti terhadap sentuhan fisik antara pria dan wanita. Karena itu, sedekat apa pun hubungan mereka, hal paling intim yang pernah mereka lakukan hanyalah berpegangan tangan.
Saat itu, hati Vincent masih untuknya, dan dia menghargai semua keinginan Sari.
Tapi, siapa yang bisa menjamin hati manusia tidak akan pernah berubah?
Pria itu sepertinya merasakan penolakan Sari. Dia dengan lembut melonggarkan pelukannya, hanya menopang tubuh Sari agar tidak jatuh.
Sari Wijaya akhirnya berhasil berdiri tegak.
Namun, karena kruknya tergeletak di lantai, dia kehilangan tumpuan. Tubuhnya sedikit bergoyang, dan dia nyaris jatuh lagi.
Melihat itu, Rangga Hartman tanpa ragu langsung mengangkat tubuh Sari dalam gendongan ala pengantin.
Sari menjerit kecil, "Ah!" karena tubuhnya tiba-tiba terangkat dari lantai. Secara refleks, kedua lengannya melingkari leher Rangga Hartman.
Kontak sedekat ini membuat Sari Wijaya seketika sadar betapa intim posisi mereka. Dia buru-buru melepaskan tangannya.
Wajah Sari tiba-tiba memerah.
Rangga Hartman jelas merasakan setiap gerakan dan emosi wanita dalam dekapannya.
Dia menyadari penolakan Sari terhadapnya.
Sepertinya dia tidak ingin punya urusan lebih jauh denganku, pikir Rangga. Kalau bukan karena takut jatuh dan malu lagi, dia pasti tidak akan membiarkanku menggendongnya seperti ini.
Jarak ke ranjang hanya beberapa langkah. Rangga tahu Sari hanya perlu menahan kontak ini selama beberapa detik saja.
Sari menautkan kedua tangannya, menunduk sambil menggigit bibir tanpa bicara.
Seolah sedang menahan diri. Menahan diri selama beberapa detik digendong seperti ini.
Rangga Hartman melangkah untuk membaringkan Sari kembali ke ranjang.
Tiba-tiba, sebuah teriakan marah terdengar dari ambang pintu, "APA YANG KALIAN LAKUKAN!"
Suara pria yang familier itu membuat hati Sari Wijaya sedikit bergetar, dan bibirnya terkatup semakin rapat.
Rangga tetap tak bergeming, seolah teriakan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Dia hanya melirik sekilas ke arah Sari.
Dengan langkah mantap dan tenang, dia meletakkan Sari di atas ranjang.
Vincent Yanto, yang sudah terbakar amarah karena merasa diabaikan, berjalan cepat menghampiri mereka. Dia menunjuk Sari Wijaya dan berteriak, "Sari Wijaya! Pantas saja orang-orang di Jakarta Utara bilang kamu wanita genit dan tidak setia! Ternyata kelakuanmu memang murahan! Sedikit pun tidak punya harga diri!"
Sari mengangkat wajahnya, menatap Vincent dengan tatapan sedingin es. Tanpa kehangatan sedikit pun.
Kemarin adalah hari pertunangan mereka. Seharusnya dia menjadi orang yang paling bahagia.
Namun, kebakaran itu membuatnya melihat segalanya dengan jelas.
Ternyata, cinta yang diberikan Vincent hanyalah sebuah kebohongan yang dipoles dengan indah. Di tengah lautan api, Vincent tega meninggalkannya tanpa peduli hidup atau matinya, dan malah mati-matian menyelamatkan Nina Wijaya.
Rupanya di mata Vincent Yanto, dirinya sebagai tunangan tidak ada apa-apanya dibandingkan Nina Wijaya, si orang ketiga.
Meskipun hatinya hancur berkeping-keping, Sari masih teringat bahwa mereka pernah memiliki kenangan indah selama tiga tahun.
Jika Vincent ingin memberinya penjelasan, Sari bersedia memberinya kesempatan untuk membela diri. Tapi, dia tidak akan pernah memaafkannya.
Itulah yang dipikirkan Sari sebelum saat ini. Sekarang, setelah melihat langsung wajah Vincent yang kejam, dia merasa jika masih memberi Vincent kesempatan, itu sama saja dengan menghina dirinya sendiri.
Melihat Sari mengabaikannya, Vincent menoleh ke arah Rangga Hartman.
Begitu melihatnya, Vincent tertegun sejenak. Dia tidak menyangka pria yang memeluk Sari ini memiliki penampilan yang begitu luar biasa.
Berhadapan dengannya, Vincent tiba-tiba merasakan tekanan yang aneh.
Namun, hampir seketika, Vincent mengenali pria di hadapannya. Dia adalah petugas pemadam kebakaran yang menyelamatkan Sari dari kobaran api kemarin. Saat itu, pria itu mengenakan helm penyelamat, jadi Vincent tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Lagi pula, perhatian Vincent sepenuhnya tertuju pada Nina Wijaya, sehingga dia tidak memperhatikan detail wajah pria itu, hanya merasa postur tubuhnya sangat tinggi dan tegap.
"Vincent Yanto, kita putus," ucap Sari Wijaya dengan suara datar.
Hubungan tiga tahun ini, sudah saatnya diakhiri.
Hati Vincent Yanto terasa seperti ditusuk. Keningnya berkerut dalam saat menatap Sari dengan ekspresi terkejut.
Seluruh tubuhnya gemetar karena marah. Dia menatap tajam ke arah Sari, lalu menunjuk Rangga Hartman sambil berteriak, "Sari Wijaya, buka matamu lebar-lebar! Dia itu cuma seorang petugas pemadam kebakaran! Kamu mau putus denganku demi dia?!"
