Bab [1] Malam Pengantin Baru dengan Orang Asing
Nabila Lestari merasa dirinya sudah gila.
Dia membawa Rio Kusuma ke hotel. Begitu pintu tertutup, Nabila langsung mendorong Rio ke dinding, berjinjit, dan menciumnya.
Ciuman Nabila terasa kaku dan kikuk. Tanpa teknik sama sekali, hanya didorong oleh gejolak emosi sesaat. Tanpa sengaja, giginya menggigit bibir Rio hingga pria itu mendesis kesakitan. Saat Nabila hendak meminta maaf, Rio justru mengambil alih permainan, membalas ciumannya dengan lebih dalam dan menginvasi wilayahnya. Lidah mereka saling membelit, menciptakan suara decakan yang penuh gairah.
Nabila merasa otaknya kekurangan oksigen, tubuhnya hampir limbung. Secara refleks, kedua lengannya melingkar di pinggang Rio.
Apa seperti ini juga yang dilakukan Santi Gunawan dengan selingkuhannya? pikir Nabila tiba-tiba. Dia ingin tahu, apakah hal sepele seperti ini begitu penting bagi seorang pria?
Menyadari pikiran Nabila melayang, Rio menggigit lembut daun telinga Nabila, lalu meniupkan napas hangat ke dalamnya. Sensasi geli yang menyengat langsung menjalar ke seluruh tubuh Nabila seperti sengatan listrik, membuatnya tanpa sadar mengerang. Tenaganya seakan terkuras habis, membuatnya hanya bisa bersandar pasrah pada tubuh Rio.
Dengan perlahan, Rio mulai melepaskan pakaian Nabila satu per satu. Saat hanya tersisa pakaian dalam, entah kenapa kaitan bra itu tidak bisa dia buka.
Dia berbisik di telinga Nabila, membujuk dengan lembut, "Nabila, bantu aku, ya? Aku nggak bisa buka ini ...."
Ketika Nabila sadar apa yang baru saja Rio minta ia lakukan, kewarasannya perlahan kembali. Namun terlambat, tak ada sehelai benang pun yang tersisa di tubuhnya.
Nabila mendorong Rio menjauh, lalu meraih jubah tidur dan memakainya dengan cepat.
"Maaf, aku salah ...." Dia menunduk, tidak tahu apakah pria di hadapannya ini akan tersinggung dengan kelakuannya yang lancang tadi. Nabila membenci dirinya sendiri. Gara-gara dia tidak pernah mau menyerahkan dirinya pada Santi Gunawan, pria itu berselingkuh. Dan sekarang, dia malah menyerahkan dirinya pada pria yang baru ditemuinya sekali...
Rio menatap Nabila dengan tatapan membara. Melihatnya menunduk sambil menggigit bibir dengan ekspresi bersalah, seperti kelinci kecil yang ketakutan, Rio tidak tahan untuk melangkah maju. Dia memeluk Nabila, mengecup puncak kepalanya dengan lembut, dan berbisik, "Nabila, kamu nggak salah. Kamu menjaga diri sebelum menikah, itu artinya kamu gadis baik. Dan sekarang, kita sudah sah, kita suami istri. Ini hal yang wajar dilakukan pasangan suami istri."
Benar juga! Santi Gunawan saja bisa bersenang-senang, kenapa dia yang sudah menikah sah tidak boleh? pikir Nabila dalam hati.
Dia mengalungkan lengannya di leher Rio, lalu merebahkan diri di atas ranjang.
Di bawah cahaya temaram lampu nakas, akhirnya Nabila bisa melihat dengan jelas wajah suami yang baru saja dinikahinya.
Pria itu menopang tubuhnya di atas Nabila. Otot lengannya padat dan terlihat kuat. Rambut di dahinya sedikit berantakan, dan sepasang matanya tampak dingin seperti serigala di malam yang gelap, namun kini diwarnai oleh gairah yang membuatnya terlihat berbeda. Hidungnya lurus dan mancung.
Nabila teringat sahabatnya, Maya Santoso, pernah berkata bahwa pria dengan hidung mancung biasanya memiliki "kejantanan" yang berkembang baik. Tanpa sadar, Nabila ingin membuktikannya. Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang besar dan panas menekan paha bagian dalamnya. Wajahnya langsung memerah padam. Dalam hati dia mengumpat dirinya sendiri, dasar mesum! Dia segera memejamkan mata, tak berani lagi menatap langsung pria di atasnya.
Rio memperhatikan istri tercintanya yang berada di bawahnya. Sebentar menatapnya dengan serius, sebentar tersenyum sendiri, lalu tersipu malu sambil memejamkan mata. Dia pun tak tahan untuk menggodanya, "Nabila, apa kamu puas dengan penampilanku?"
Dia mengangkat satu tangan, merapikan rambut panjang Nabila yang tersebar di ranjang, suaranya terdengar sedikit tertahan.
"Pu... puas ...." Nabila menjawab dengan mata terpejam, kedua tangannya mencengkeram sprei erat-erat. Setelah mengatakannya, dia merasa sangat malu, menyesali mulutnya yang tidak bisa diajak kompromi.
"Kalau begitu, bolehkah kita melanjutkan ke tahap selanjutnya...?" Merasakan tubuh di bawahnya menegang, Rio menyesal telah bertindak terlalu cepat dan membuat istri tercintanya terkejut. Dia hendak berbalik turun dari atas Nabila, memberinya waktu untuk beradaptasi.
Namun, di benak Nabila, tiba-tiba muncul ucapan Santi Gunawan tentangnya, "Nabila itu? Cuma boleh dilihat, nggak boleh disentuh. Kayak vas bunga yang dingin! Mana bisa dibandingin sama kamu, Sayang. Empuk, hangat..."
Santi Gunawan, sebenarnya aku juga bisa, tapi kenapa kamu tidak bisa menunggu?
Memikirkan hal itu, seolah hendak mengorbankan diri, kedua lengan lembut Nabila melingkar di leher jenjang Rio.
Melihat istri tercintanya yang tiba-tiba menjadi proaktif, Rio berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Dengan suara serak dia bertanya, "Nabila, kamu serius? Kalau sudah dimulai, ini untuk selamanya ...."
Nabila bersandar di bahu Rio dan menggigitnya pelan. Dengan tindakan itu, dia menunjukkan keseriusannya.
Kewarasan Rio pun runtuh. Dia mengangkat tubuh Nabila. Satu tangannya menyelinap masuk dari balik jubah tidur, melingkar ke punggungnya. Merasakan tubuh Nabila menegang, Rio memperlambat gerakannya. Jari-jarinya mulai menggambar pola melingkar di punggung bawahnya, membelai dengan lembut.
Setelah beberapa kali, tubuh Nabila perlahan menjadi rileks. Pakaiannya melorot perlahan, melewati punggungnya yang mulus, dan tersangkut di bagian bawah bokongnya yang bulat.
Rasa dingin di bagian atas tubuhnya membuat Nabila sedikit menggigil. Sadar bahwa bagian atas tubuhnya terekspos, secara refleks dia menyilangkan tangan untuk menutupi dadanya.
Rio dengan cepat menangkap kedua tangannya dan menahannya di atas kepala. "Nabila, sudah terlambat. Kamu yang mulai duluan," Rio membungkuk, berbisik di telinganya dengan suara parau, lalu melanjutkan dengan nada memelas, "Nabila, kamu nggak boleh sekejam ini. Kamu sudah menggodaku, tapi nggak mau tanggung jawab sampai akhir ...."
Bisikan Rio di telinga Nabila terasa seperti bulu yang menggelitik hatinya, membuat seluruh tubuhnya terasa panas. Bibirnya yang membara menjelajahi kulit Nabila, seolah menyalakan api di setiap sentuhannya.
Suhu tubuh Nabila perlahan meningkat, tubuhnya meleleh laksana air.
"Nabila, aku masuk," bisik Rio.
Kulit mereka saling bersentuhan, keduanya terjerat dalam gairah. Rio membungkuk dan mulai bergerak.
Sakit! Meskipun sudah mempersiapkan diri, Nabila tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak. Air mata mengalir tak terkendali, diiringi isak tangis yang tertahan.
Rio merasakan adanya sebuah halangan. Hatinya terkejut, namun di saat yang sama, rasa sayangnya meluap hingga ke puncak.
"Sayang, sebentar lagi juga nggak sakit!" Dia menciumi Nabila, membujuknya dengan suara serak.
Rasa sakit bercampur dengan sensasi geli yang aneh membuat Nabila bingung harus berbuat apa. Akhirnya, dia menggigit bibir Rio yang terus bergerak, seolah dengan begitu dia bisa merasa lebih nyaman.
Sensasi geli itu perlahan mengalahkan rasa sakit. Nabila mulai mengikuti ritme Rio. Dia merasa seolah-olah seluruh darah di tubuhnya akan menyembur keluar. Setiap inci kulitnya meremang, dan perut bagian bawahnya terasa panas dan mengembang seperti ada matahari kecil di dalamnya. Seluruh tubuhnya serasa akan melayang...
Tepat ketika Nabila merasa kesadarannya telah hilang dan yang tersisa hanyalah tubuhnya, aliran hangat menyembur ke dalam dirinya. Keduanya terkulai lemas di atas ranjang pada saat yang bersamaan.
Nabila merasa seperti orang yang sudah lama tenggelam dan akhirnya mendapatkan udara. Dia terengah-engah, tubuhnya sama sekali tak bertenaga. Rio memeluknya. Mereka berbaring diam tak bergerak, begitu intim hingga napas dan detak jantung mereka pun seakan menyatu.
"Mau bersih-bersih?" Setelah beberapa lama, Rio bangkit dan berkata pada Nabila, "Biar lebih nyaman, terus bisa tidur nyenyak."
Tanpa menunggu jawaban Nabila, dia langsung menggendongnya ke kamar mandi. Cahaya terang di kamar mandi membuat Nabila merasa canggung. Dia tidak bisa bersikap santai mandi bersama Rio. Namun, setelah keintiman yang baru saja terjadi, bersikap malu-malu dan menghindar akan terlihat berlebihan. Akhirnya, dia hanya pasrah, membiarkan Rio melakukan apa pun.
Untungnya, Rio mengerti ini adalah pengalaman pertama Nabila. Dengan sisa-sisa kesadarannya, dia membantu membersihkan tubuh Nabila lalu menggendongnya kembali ke tempat tidur.
Rio berbaring telentang, meletakkan kepala Nabila di dada kirinya. Bagian bawah tubuh mereka saling menempel erat, kaki mereka saling bertautan.
Ini adalah pertama kalinya Nabila tidur seranjang dengan seorang pria. Dia mencoba melepaskan diri dari pelukan Rio.
Menyadari niatnya, tangan kanan Rio perlahan bergerak ke bahunya, mengusap punggungnya seolah sedang menenangkan seekor kucing kecil. Seakan melupakan kegilaan dan kecanggungan tadi, Nabila menjadi tenang. Seperti anak kucing, dia menikmati belaian lembut pria itu dari leher hingga punggung, lalu terlelap.
Sampai sebuah ketukan pintu yang keras membangunkannya.
