Bab [2] Gila, Ganti Pengantin Pria Sebelum Pernikahan
Ketukan di pintu membangunkan Nabila Lestari. Secara refleks, ia mencari sosok pria itu.
Entah sejak kapan, Rio Kusuma sudah pergi. Pria itu seolah tak pernah datang, tak meninggalkan jejak apa pun. Hanya rasa tidak nyaman di antara kedua pahanya dan tubuh yang terasa pegal linu yang mengingatkan Nabila akan semua yang terjadi semalam.
Ia mengenakan pakaiannya, memindai sekeliling kamar, dan merasa semuanya aman sebelum beranjak membuka pintu. Ibu tirinya, Ines Gunawan, dan adik tirinya, Intan Lestari, masuk.
"Nabila, Sayang, kamu sudah urus surat nikah sama Santi kemarin? Coba sini, Tante mau lihat." Sejak tanggal pernikahan dengan Santi Gunawan ditetapkan, sikap Ines Gunawan padanya memang semakin manis.
"Tante, aku nggak jadi urus surat nikah sama dia," sahut Nabila datar.
"Loh, kenapa?" Wajah Ines langsung berubah masam. "Keluarga Gunawan nggak setuju?"
"Nggak ada hubungannya sama keluarga Gunawan." Nabila memberanikan diri, menatap lurus ke arah Ines. "Tante, aku batal menikah dengan Santi Gunawan."
Ines terperanjat. "Terus gimana sama pernikahan besok? Undangan sudah disebar semua! Kamu mau Tante taruh muka di mana di depan kerabat dan teman-teman?"
Nabila menjawab dengan tenang, "Pernikahannya tetap berjalan seperti biasa. Cuma ganti calon pengantin prianya saja."
"Apa? Ganti pengantin pria? Nabila, Tante rasa kamu sudah gila!"
Nabila sudah menduga, ibu tirinya pasti akan berteriak histeris begitu mendengar rencananya.
Mengganti calon suami sehari sebelum pernikahan, mungkin di seluruh dunia hanya dia yang melakukannya. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan menjerit kaget.
Setelah Ines selesai meluapkan amarahnya, barulah Nabila angkat bicara, "Santi Gunawan selingkuh. Aku pergoki sendiri. Aku nggak mungkin menikah sama dia."
"Sudah kuduga Kak Santi itu nggak suka sama kamu. Kamu memang nggak bisa jaga hatinya..." cibir Intan Lestari dengan nada mengejek.
"Terus maharnya gimana? Mas kawinnya harus dibalikin?" potong Ines, menyela ucapan Intan dengan tidak sabar. "Calon penggantimu ini siapa orangnya? Dia kasih mahar nggak?"
Nabila terdiam. Dalam benaknya, mahar yang diberikan keluarga Gunawan sudah pasti harus dikembalikan. Soal apakah Rio Kusuma akan memberinya mahar dan berapa jumlahnya, ia tidak tahu dan tidak ingin bertanya. Pria itu sudah berbaik hati mau menikahinya, kalau ia masih menuntut mahar, rasanya sudah keterlaluan.
"Mahar dari keluarga Gunawan ada di tangan Tante, dan Tante nggak akan serahkan uang itu," kata Ines tegas. "Kalau mereka minta uangnya kembali, kamu cari jalan sendiri! Hidup berkeluarga itu butuh banyak uang, apalagi nenekmu. Biaya pengobatan, obat-obatan, rawat inap, biaya hidup, setiap bulan itu habis banyak. Dia kan sayang sekali sama kamu, anggap saja uang ini bakti kamu buat nenekmu."
Nabila sudah menduga Ines tidak akan mau mengembalikan uang mahar itu. Meski marah, ia tak bisa berbuat apa-apa. Cepat atau lambat, ia harus mencari cara untuk melunasi uang itu.
Setelah Ines dan putrinya pergi, Nabila berganti pakaian dan berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk neneknya.
Neneknya adalah pasien kanker stadium akhir. Keluarga Gunawan menganggapnya pembawa sial, dan rumah sakit juga bukan tempat yang baik, jadi mereka melarang Nabila pergi. Sudah lebih dari sebulan ia tidak bertemu neneknya.
Duduk di dalam bus menuju rumah sakit, adegan demi adegan yang terjadi kemarin tanpa sadar kembali berkelebat di benaknya...
"Aah... Santi... antara aku sama Nabila Lestari, kamu lebih suka siapa, sih?" Di dalam kamar, suara wanita itu terdengar begitu manja hingga membuat bulu kuduk merinding.
"Nabila Lestari itu... cuma boleh dilihat, nggak boleh disentuh... kayak vas bunga yang dingin...! Mana bisa dibandingin sama... sayangku ini... lembut, hangat..." Desah napas pria itu terdengar berat dan tersengal-sengal.
Suara yang terdengar putus-putus dari dalam kamar itu terasa seperti batu besar yang menghantam dada Nabila, membuatnya marah hingga hampir lupa bernapas.
Ia tak pernah menyangka, pria yang akan menikahinya besok, yang tiga puluh menit lalu masih mengiriminya pesan WhatsApp bertuliskan, Sayang, aku kangen kamu, kini berada di kamar pengantin mereka, di atas ranjang yang ia tata sendiri, tanpa ragu menjelek-jelekkannya demi menyenangkan wanita lain.
Pintu kamar tidak tertutup. Santi Gunawan berdiri telanjang di samping tempat tidur, sementara si wanita berbaring dengan kedua kaki terangkat tinggi, digenggam oleh Santi. Seiring dengan hentakan Santi, desahan wanita itu semakin menjadi-jadi, memancing Santi untuk bergerak lebih ganas.
Di bawah mereka, sprei sutra yang licin itu tampak kusut tak beraturan.
Hati Nabila terasa perih. Rumah ini ia yang merenovasi, ranjang ini ia yang membeli, sprei ini baru ia ganti. Belum sempat ia menempatinya, sudah kotor.
Kalau sudah kotor, ia tidak mau lagi.
Termasuk pria itu.
Nabila mendorong pintu dan masuk, menatap dengan dingin pertunjukan pornografi di hadapannya.
"Oh, kamu datang!" Wanita di ranjang yang pertama kali menyadarinya, menyapanya dengan tatapan menggoda.
Santi yang mendengar suara itu menoleh. Menyadari itu Nabila, ia tergopoh-gopoh turun dari tubuh si wanita, membungkus dirinya dengan selimut dan berlari menghampiri Nabila. "Nabila, dengarkan penjelasanku," katanya sambil mencoba meraih tangan Nabila.
Membayangkan tangan itu baru saja menjelajahi tubuh wanita lain, Nabila merasa jijik. Ia menarik tangannya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku. Kotor."
"Nabila, aku nggak sengaja. Dia, dia yang menggodaku. Dia sales kasur, iya, sales kasur, katanya mau kasih aku coba kualitas kasurnya."
Mendengar ucapan Santi, wanita di ranjang itu tertawa sinis, matanya penuh dengan cemoohan. Berbeda dengan Santi yang panik, wanita ini justru terlihat sangat tenang. Ia bahkan tidak repot-repot berpakaian, hanya menyampirkan selimut dan bersandar di kepala ranjang, menonton drama itu dengan santai.
Nabila tiba-tiba merasa semua ini sangat tidak berarti. Ia tidak ingin lagi terseret dalam masalah menjijikkan ini.
"Santi Gunawan, kita putus. Pernikahan ini, aku batalkan."
"Heh, Nabila Lestari, batal menikah? Kamu berani? Kamu nggak takut sama nenekmu...?" Santi yakin Nabila tidak akan berani.
Nabila memang tidak berani. Sejujurnya, ia menikah demi neneknya. Neneknya sudah divonis kanker stadium akhir, dan satu-satunya keinginannya adalah melihat Nabila menikah dan membangun rumah tangga.
"Nabila, aku ini pria normal, punya kebutuhan normal. Coba kalau dari dulu kamu mau melayaniku, mana mungkin aku cari orang lain di luar!"
Nabila tertawa karena saking marahnya. "Jadi menurutmu, ini semua salahku?"
"Tentu saja. Urusan antara laki-laki dan perempuan kan cuma itu-itu saja. Selingkuh memangnya kenapa? Ini cuma kesalahan kecil yang dilakukan semua pria di dunia," kata Santi dengan angkuh.
Melihat senyum tak tahu malu di hadapannya, Nabila merasa sangat kecewa. Ia mengangkat tangannya dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi Santi.
"Nabila Lestari, kamu gila, berani-beraninya menamparku!" Santi menatapnya tak percaya. "Pernikahan ini batal! Aku mau lihat bagaimana kamu menjelaskannya pada nenekmu!"
"Kamu batal, aku tetap menikah!" Seorang pria jangkung dan kurus masuk dari luar.
Pria itu menunjuk wanita di ranjang. "Perkenalkan, aku pacarnya. Oh, sekarang mantan pacar."
Lalu, ia menjabat tangan Nabila. "Halo, aku korban yang satunya."
Santi menerjang maju, mendorong pria itu dengan kasar, dan membentak, "Singkirkan tanganmu! Jangan sentuh calon istriku!"
Pria itu tertawa mengejek. "Hah! Calon istrimu? Sebentar lagi dia akan jadi istriku." Setelah berkata demikian, ia merangkul Nabila dengan posesif dan membawanya pergi.
Nabila mengira pria itu hanya bercanda, tapi ia tak menyangka pria itu benar-benar membawanya ke Kantor Urusan Agama.
Nabila pun melakukan hal paling gila dalam hidupnya—mengurus surat nikah dengan seorang pria yang baru ditemuinya sekali. Ia tidak punya pilihan lain. Pernikahan harus tetap berlangsung, ia tidak boleh membuat neneknya khawatir. Ia juga tidak bisa memaksa dirinya untuk melanjutkan hubungan dengan Santi. Memikirkan pengkhianatan Santi membuatnya mual seolah baru saja menelan lalat.
Pria itu menyimpan surat nikah mereka, memberitahunya bahwa namanya Rio Kusuma, dan secara khusus mengingatkannya agar tidak perlu khawatir soal pernikahan, karena semua akan ia urus.
Dengan kepala yang kalut, Nabila membawa Rio Kusuma kembali ke hotel dan menyerahkan dirinya pada suami sahnya secara hukum.
...
Suara pemberitahuan halte dari pengeras suara bus membuyarkan lamunan Nabila.
Setibanya di rumah sakit, Nabila melihat neneknya yang sudah lebih dari sebulan tidak ia temui.
Melihat kedatangan Nabila, semangat neneknya seolah kembali, dan ia menjadi lebih banyak bicara.
"Nabila, kok kamu datang jam segini? Sebentar lagi kan acaramu..."
Nabila melihat neneknya yang kurus kering hingga terlihat berbeda, hatinya terasa begitu sakit. Ia menahan air matanya sekuat tenaga, merebahkan kepalanya di pangkuan sang nenek, dan berpura-pura santai. "Semuanya sudah beres, Nek."
Neneknya mengelus rambut Nabila dan bergumam, "Sayang sekali Nenek nggak bisa lihat langsung kamu menikah. Setelah menikah nanti, kalian harus hidup rukun, ya."
"Nenek tenang saja, dia baik sekali sama aku," janji Nabila sambil menahan tangis, tak tega melihat neneknya khawatir.
Setelah berbincang sejenak, neneknya merasa lelah dan tertidur pulas. Nabila menjaganya hingga larut malam sebelum kembali ke hotel.
"Kak, kamu pulang selarut ini, nggak takut orang salah paham? Walaupun aku tahu Kakak habis jenguk nenek tua itu, tapi tim penata rias kan sudah datang semua. Kalau mereka nggak bisa nemuin calon pengantinnya, entah apa yang akan mereka pikirkan. Kakak mau taruh di mana muka keluarga Lestari?"
Begitu Nabila tiba di hotel, adik tirinya, Intan Lestari, langsung menyambutnya dengan kata-kata yang terdengar sopan namun penuh kepalsuan.
