Bab [3] Pernikahan, untuk pertama kalinya dia merasa dihargai

"Calon pengantin kok keluyuran semalaman, untung kamu nggak berangkat dari rumah. Benar-benar bikin malu keluarga!" cibir Ines Gunawan, tidak lupa menyindirnya.

"Kakak, kalau Kak Santi sudah nggak mau sama kamu lagi, siapa yang bakal bayar mereka semua?" tanya Intan Lestari sengaja di depan tim penata rias.

Dengan nada yang dibuat santun tapi munafik, Ines Gunawan menyahut, "Kakakmu itu hebat. Cuma dalam semalam, dia sudah dapat pengganti. Dia kan rela berkorban apa saja, masa iya susah cari orang yang mau bayarin dia?"

Ucapan Ines Gunawan yang penuh sindiran itu membuat para tamu undangan saling berpandangan. Para pria, khususnya, menatap Nabila Lestari dengan tatapan kurang ajar.

Nabila Lestari mengabaikan tatapan kasar mereka dan langsung masuk ke ruang rias bersama penata riasnya.

Ketika Nabila Lestari selesai dirias dan keluar, mata Intan Lestari terbelalak.

"Ma... Ma, mahkotanya berkilau banget, aku mau... Mama lihat deh, gaun pengantinnya itu model klasik andalan desainer favoritku! Katanya di majalah itu edisi terbatas yang nggak dijual untuk umum, aku mau itu! Ma..." Intan Lestari mengguncang-guncang lengan Ines Gunawan sambil berteriak histeris.

Ines Gunawan merasa sangat kesal melihat Nabila Lestari mencuri semua perhatian hari ini.

"Apa yang perlu dikagumi? Ditolak sama keluarga Gunawan, memangnya dalam sehari bisa dapat pria dari mana untuk menikahinya? Menurutku, dia pasti sudah jadi simpanan om-om tua, jangan-jangan lebih tua dari ayahmu. Muka keluarga kita benar-benar sudah dicoreng habis-habisan sama dia."

Ucapan Ines Gunawan menyebar, dan orang-orang mulai berbisik-bisik, membicarakan Nabila Lestari yang menjadi simpanan om-om tua, bahkan lebih tua dari ayahnya, Bayu Lestari.

Nabila Lestari baru teringat, hotel, wedding organizer, dan semuanya diatur oleh keluarga Gunawan. Ia benar-benar melupakan masalah-masalah ini.

Intan Lestari menghampirinya, berpura-pura peduli. "Kak, coba deh minta maaf baik-baik sama Kak Santi. Dia pasti nggak akan tega membiarkanmu. Masa hanya demi biaya pernikahan, kamu rela menyerahkan diri ke om-om tua?"

Penata rias yang merasakan ketegangan Nabila Lestari berbisik, "Nona Lestari tenang saja, kami diundang oleh Pak Kusuma." Maksudnya jelas, mereka tidak ada hubungannya dengan "Kak Santi" yang disebut-sebut Intan.

Ponsel Nabila Lestari berdering. Nomor tak dikenal. Ternyata dari Rio Kusuma.

"Bagaimana kamu bisa tahu nomorku?" tanya Nabila Lestari heran, ia tidak ingat pernah memberikan kontaknya.

Pria itu tidak menggubris pertanyaannya dan langsung berkata, "Semua urusan pernikahan sudah aku bereskan. Jangan khawatirkan apa pun, tunggu saja aku menjemputmu."

Dengan nada paling datar, ia mengucapkan kata-kata yang paling menenangkan bagi Nabila.

"Terima kasih!" ucap Nabila Lestari penuh rasa syukur.

Ia khawatir pria itu akan menyesali keputusannya yang impulsif kemarin, tapi karena gengsi sebagai laki-laki, ia mungkin segan untuk membatalkannya. Jadi, Nabila dengan baik hati mengingatkannya, "Kalau kamu menyesal, masih ada waktu untuk membatalkan pernikahan sekarang."

"Aku tidak pernah menyesali keputusan yang sudah kuambil. Dan satu lagi, hidupku bukan drama."

Telepon tiba-tiba ditutup. Nabila merenung: Apa dia marah? Sudahlah, yang penting pernikahan dilangsungkan dulu. Mungkin setelah ini, mereka tidak akan bertemu lagi.

Terdengar keributan dari luar. Seseorang berteriak bahwa mobil pengantin sudah datang.

Ines Gunawan menarik Intan Lestari dan langsung berlari keluar. Mereka tidak sabar ingin melihat Nabila dipermalukan.

Iring-iringan mobil pengantin itu seluruhnya adalah mobil mewah, dengan Rolls-Royce limosin sebagai mobil utamanya. Ines Gunawan semakin yakin dengan pikirannya. Kalau bukan om-om tua, siapa lagi yang punya uang untuk menyewa konvoi mobil semewah ini!

Namun, saat melihat Rio Kusuma turun dari Rolls-Royce, Intan Lestari hampir menangis karena iri.

"Wow! Ganteng banget! Benar-benar tipe pria impianku..." Ia menarik lengan Ines Gunawan. "Ma, bukannya Mama bilang dia om-om tua? Kok bisa seganteng ini?"

Ines Gunawan, yang lengannya dicengkeram kesakitan oleh Intan, mendorongnya. "Om-om tua itu pasti sudah punya istri, mana berani datang sendiri? Ini pasti cuma aktor bayaran. Mana mungkin pria muda, tampan, dan kaya mau menikah dengan perempuan seperti dia."

Informasi Ines Gunawan salah terakhir kali, jadi sekarang tidak ada yang memercayainya lagi. Kerumunan orang justru sibuk membicarakan mempelai pria yang tampak muda, sukses, tampan, dan kaya, sambil menebak-nebak identitasnya.

Pembawa acara mengumumkan bahwa waktu baik telah tiba, dan pengantin wanita akan segera berangkat.

Rio Kusuma berjalan ke sisi Nabila Lestari dan langsung menggendongnya ala bridal style. Kerumunan orang terkesiap kaget.

Seumur hidupnya, Nabila Lestari belum pernah menjadi pusat perhatian sebanyak ini.

Sangat mencolok, tapi... dia suka!

Mata Bayu Lestari terbelalak. Ia belum pernah melihat begitu banyak mobil mewah beraneka ragam, apalagi menaikinya. Jangankan naik, menyentuhnya saja belum pernah. Tanpa pikir panjang, ia langsung memilih satu mobil dan masuk ke dalamnya, seolah-olah mobil itu akan menjadi miliknya begitu ia duduk di sana. Pria pengecut dan egois ini, yang hanya bersembunyi di pojok saat putrinya dihina, justru menjadi yang paling cepat saat tiba waktunya menikmati kemewahan.

Ibu dan anak, Ines Gunawan dan Intan Lestari, juga berlari tak kalah cepat, takut tidak kebagian tempat duduk. Intan bahkan mencoba menyelinap masuk ke dalam Rolls-Royce limosin dengan berpura-pura sebagai pengiring pengantin, tapi langsung diusir oleh pengawal.

Rio Kusuma melihat semua itu, dan dalam hatinya ia sudah paham segalanya.

Saat Nabila Lestari masuk ke mobil bersama Rio Kusuma, ia melihat jalanan di sekitar hotel dipenuhi orang-orang yang menonton di kedua sisi. Benar-benar mencolok.

"Kenapa harus semeriah ini?" Hatinya sedikit gelisah, merasa pria itu sudah berkorban terlalu banyak untuknya.

"Kenapa? Tidak suka?" tanya pria itu.

Wajah Nabila Lestari memerah, sudut bibirnya tak bisa menahan senyum. Ia menggeleng. "Bukan, aku suka, hanya saja..." Seumur hidupnya, belum pernah ada orang yang melakukan sesuatu secara khusus untuknya. Ini adalah yang pertama kali.

Rio Kusuma merasakan kegelisahan Nabila. Ia mengangkat tangannya dan dengan lembut mencolek hidung mungil Nabila. "Tenang saja, ini tidak seberapa. Mereka semua hanya teman-teman yang datang membantu."

Nabila bertanya-tanya dalam hati: Sebenarnya siapa dia? Bagaimana bisa punya teman sebanyak ini yang semuanya mengendarai mobil mewah?

Pernikahan dilangsungkan di Hotel Carlton Royal yang mewah. Seluruh ruangan dihiasi dengan mawar oranye, menciptakan suasana yang hangat dan penuh semangat, seolah berada di bawah sinar matahari yang pekat.

Lonceng berdentang dua belas kali. Pembawa acara memberi isyarat bahwa acara bisa dimulai, tetapi Rio Kusuma berkata untuk menunggu sebentar lagi, karena ada satu tamu penting yang belum tiba.

Nabila mengira itu adalah kerabat dari pihak Rio, jadi ia tidak berkata apa-apa.

Bayu Lestari justru menggerutu, "Tamu penting apaan? Acara sepenting ini masih saja telat, bikin semua orang menunggunya."

Petugas di pintu memberi isyarat bahwa tamu tersebut telah tiba.

Rio Kusuma mengabaikan gerutuan Bayu Lestari dan menggandeng tangan Nabila berjalan menuju pintu.

Nabila tersenyum anggun di samping Rio Kusuma. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya agar tidak mempermalukan Rio di depan tamu penting itu.

Mereka berdua berjalan bergandengan tangan ke pintu. Petugas perlahan membuka pintu. Di bawah sinar matahari siang yang cerah, Neneknya, mengenakan cheongsam merah marun dengan motif bunga yang samar, rambut putihnya disisir rapi, duduk di kursi roda. Kerutan di wajahnya tampak seperti bunga yang mekar.

Nabila dengan penuh haru memeluk neneknya. Baginya, dengan kehadiran neneknya yang menyaksikan pernikahan ini, segalanya terasa lengkap.

Nenek menepuk punggung Nabila dengan lembut, menenangkannya. "Cucu baikku, Nenek sudah tahu semuanya. Kamu sudah banyak bersabar. Syukurlah penderitaanmu berakhir, Rio anak yang baik. Hiduplah rukun bersamanya."

Nabila bersandar di bahu neneknya dan mengangguk mantap.

Nabila berdiri dan mendorong kursi roda neneknya menuju pelaminan. Ia menatap Rio Kusuma dan bertanya dengan suara pelan, "Kamu yang memberitahu Nenek?"

Rio Kusuma meletakkan tangannya di atas kursi roda, mendorongnya bersama Nabila. Dengan suara yang hanya bisa mereka berdua dengar, ia berkata, "Nabila, kita ini suami istri, satu kesatuan. Kalau kamu ada masalah apa pun, kamu harus bilang padaku."

Nabila tidak menjawab, tapi dalam hatinya ia membatin, "Urusanmu sendiri saja kamu tidak pernah cerita padaku, kenapa aku harus menceritakan semua urusanku padamu!"

Meskipun berpikir begitu, kebahagiaan dan kemanisan yang terpancar di wajahnya tidak bisa disembunyikan.

Tamu yang hadir sebagian besar adalah kerabat dari pihak wanita, sementara dari pihak pria hanya ada beberapa meja. Prosesi pernikahan berlangsung sederhana namun khidmat. Hanya saja, ketika pembawa acara mengumumkan mempelai pria boleh mencium mempelai wanita, Nabila secara refleks menghindar, tetapi pria itu dengan tegas dan kuat tetap menciumnya.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya