Bab [4] Perceraian, Saya Pasti Akan Bekerja Sama
Setelah upacara pernikahan selesai, Rio Kusuma hendak mengantar Nenek pulang ke rumah sakit bersama Nabila Lestari.
Nabila ingin duduk di samping Nenek, tetapi Nenek justru ingin memberikan ruang lebih untuk kedua pengantin baru itu. Beliau bersikeras agar Nabila duduk bersama Rio.
Rio pun membujuknya, "Kita turuti saja kemauan Nenek. Nanti di rumah sakit, kita temani beliau lebih lama."
Barulah Nabila mau masuk ke mobil bersama Rio.
Nenek tersenyum puas melihat mereka duduk berdampingan, lalu memberi isyarat agar dirinya diangkat ke mobil bersama kursi rodanya.
Meskipun Nabila dan Rio sudah pernah melakukan hal paling intim dan melihat satu sama lain tanpa sehelai benang pun, saat ini, duduk di samping Rio membuat telapak tangannya berkeringat karena gugup.
Rio merasakan kegugupan Nabila. Ia berinisiatif memecah keheningan di antara mereka.
"Nabila, apa kamu puas dengan pernikahan hari ini?"
Nabila mengangguk penuh rasa terima kasih. Selain karena tidak ada landasan cinta dengan mempelai prianya, pernikahan ini bisa dibilang pernikahan impiannya. Terutama karena Nenek bisa hadir, hal itu sudah menebus penyesalan terbesarnya.
Memikirkan Nenek, Nabila tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Bagaimana kamu bisa tahu soal Nenek..."
"Tentu saja aku harus tahu semua tentangmu. Aku tahu kamu ingin menikah demi Nenek. Aku juga tahu kamu bekerja di anak perusahaan Grup Kusuma sebagai desainer yang sangat berbakat. Selebihnya, usiamu, tanggal lahirmu, golongan darah, tinggi, berat badan... semua yang ada di data perusahaan, aku tahu," kata Rio perlahan.
Nabila sontak merasa sedikit takut. "Kamu ini sebenarnya siapa?" serunya.
Melihat Nabila ketakutan, Rio buru-buru menenangkannya, "Jangan takut. Aku pernah melihatmu di kantor."
Nabila setengah percaya. Perusahaan tempatnya bekerja memang di bawah naungan Grup Kusuma, dan nama belakang pria ini juga Kusuma. Mungkin dia salah satu keluarga Ketua Dewan Direksi, pikirnya.
Pria ini tahu segalanya tentang dirinya, sementara ia tidak tahu apa-apa. Seketika, Nabila kehilangan minat untuk melanjutkan obrolan. Namun, pertanyaan di benaknya justru semakin besar.
Ia menempelkan wajah ke jendela mobil, memandangi pemandangan di luar yang perlahan berubah dari gedung-gedung pencakar langit menjadi perbukitan hijau yang dikelilingi perairan jernih.
Ini bukan jalan menuju rumah sakit!
"Kamu mau membawa kita ke mana?" Nabila bertanya pada Rio dengan cemas sambil menoleh.
Rio sedang membaca dokumen dan mengenakan kacamata berbingkai emas. Bagi Nabila, penampilannya saat ini sangat mirip dengan psikopat berkedok pria terpelajar di film-film. Kedua matanya yang besar menatap Rio dengan waspada.
Rio tertawa geli melihat tingkahnya, lalu melepas kacamatanya dan menjelaskan, "Aku memindahkan Nenek ke tempat perawatan lain. Lingkungannya lebih baik di sana, bagus untuk kondisi beliau."
Begitu Rio selesai bicara, mobil berhenti. Di luar jendela, sebuah papan nama besar bertuliskan "Puncak Rusa Premium Care Center".
Nabila merasa sangat malu.
Fasilitas di sini jauh lebih baik daripada rumah sakit. Setiap pasien memiliki tim medis khusus, pemeriksaan harian dan pemantauan bisa dilakukan tanpa perlu keluar kamar. Ada juga tim dokter spesialis yang merancang program perawatan, serta ahli gizi yang merencanakan menu makanan sehari-hari.
Nenek ditempatkan di area yang tenang di pusat perawatan itu. Nenek menyukai ketenangan, jadi tempat ini pasti akan sangat cocok untuknya.
Rio juga punya maksud tersendiri. Ia berharap kepindahan Nenek tidak diketahui orang lain, agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Setelah memastikan Nenek nyaman, mereka duduk di halaman.
"Pak Kusuma, bolehkah saya meminta sesuatu?" Nabila bertanya dengan ragu sambil menggoreskan ujung sepatunya pada pola ubin di bawahnya.
"Tentu saja!" jawab Rio lugas. Bisa membuat gadis manja ini sampai memakai kata 'meminta', pasti ini hal yang membuatnya sangat tidak nyaman.
"Saya ingin minta tolong Anda mengatakan beberapa janji pada Nenek, untuk menenangkannya. Tapi Anda tidak perlu khawatir, janji-janji itu tidak akan berlaku untuk saya..."
"Tidak masalah." Rio melihat ekspresi bersalah di wajah Nabila, lalu mengulurkan tangan dan mengusap lembut puncak kepalanya. "Kalau kamu mau janji itu berlaku, juga boleh."
Nabila mendongak menatapnya, matanya penuh keterkejutan dan kebingungan.
Rio hanya tersenyum tanpa menjelaskan apa-apa. Percuma saja menjelaskan, Nabila toh tidak akan percaya.
Seorang perawat datang mendorong kursi roda Nenek.
Rio segera mengambil alih kursi roda dari perawat itu untuk merawat Nenek sendiri.
Meskipun lelah, Nenek tetap menggenggam tangan Nabila di satu sisi dan tangan Rio di sisi lain. "Senang sekali rasanya, melihat Nabila-ku menikah. Sekarang Nenek bisa meninggal dengan tenang."
Rio berjongkok di samping Nenek dan berkata dengan lembut, "Nek, saya berjanji pada Nenek, saya akan melakukan yang terbaik untuk Nabila dan melindunginya dengan segenap hidup saya."
Rio menggenggam tangan Nenek sambil berjanji, dan senyum perlahan merekah di wajah Nenek.
Saat Nabila dan Rio pergi, hari sudah benar-benar gelap.
Lalu lintas di jam pulang kerja sangat padat. Mobil berjalan tersendat-sendat. Di tengah guncangan pelan itu, Nabila akhirnya tertidur.
Entah berapa lama ia tertidur, Nabila terbangun di sebuah kamar yang asing. Kamar itu didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu, menciptakan suasana yang elegan dan tenang.
Hiasan pernikahan berwarna merah menyala yang tergantung di dinding tampak begitu kontras dan mencolok, sedikit mengingatkannya pada latar film horor.
Nabila melirik jam, pukul sebelas lewat sepuluh malam.
Ia tidak melihat Rio. Dengan hati-hati, ia memanggil, "Pak Kusuma?"
Seorang pelayan wanita berwajah bulat masuk dan berkata, "Nyonya, saya Rini. Tuan meminta saya untuk melayani Nyonya secara khusus. Dapur sudah menyiapkan makanan untuk Nyonya. Kata Tuan, Nyonya harus makan dulu setelah bangun."
Nabila tidak terbiasa dilayani. Ia dengan sopan meminta Rini keluar, lalu bangkit dari tempat tidur. Baru saat itulah ia sadar pakaiannya telah diganti dengan piyama katun yang lembut.
Tak lama setelah Rini keluar, Rio masuk dari pintu dan kembali mengusap puncak kepala Nabila. "Sudah bangun, Nabila? Lapar?"
Nabila menghindar dengan canggung dan menggelengkan kepala. Ia menatap Rio. "Pak Kusuma, sudah malam, saya harus pulang... ke asrama." Nabila enggan mengucapkan kata 'pulang ke rumah' karena tidak ingin berhadapan dengan Ines Gunawan.
"Nabila, di sinilah rumahmu sekarang. Untuk apa kembali ke asrama?"
Nabila menatapnya dengan bingung.
Rio merasa Nabila mungkin belum sepenuhnya sadar bahwa ia sudah menikah. Ia pun mengingatkannya, "Nabila, kita sudah menikah."
Mendengar itu, Nabila bergumam pelan, "Bukankah kita hanya menikah pura-pura?"
Menurut Nabila, Rio menikahinya di satu sisi untuk membantunya, dan di sisi lain untuk membalas dendam pada Santi Gunawan dan Bella Santoso. Apa yang telah Rio lakukan untuk Nenek sudah lebih dari cukup, ia bahkan tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Untuk ke depannya, ia tidak bisa terus merepotkan pria itu.
"Menikah pura-pura?" Rio tampak bingung. Ia berdiri dan menatap Nabila dari atas. "Coba katakan, apanya yang pura-pura? Buku nikahnya, atau Kantor Catatan Sipilnya?"
Nabila terintimidasi oleh auranya dan mencoba menjelaskan, "Maksud saya, pernikahan kita bukan karena... cinta."
Mengingat adegan mesra antara Santi dan Bella, Nabila memberanikan diri untuk melanjutkan, "Anda tenang saja. Jika suatu saat Anda tidak lagi membutuhkan status pernikahan ini, katakan saja pada saya. Saya pasti akan langsung bekerja sama."
Wajah Rio seketika menjadi gelap. "Kukira setelah kejadian semalam, kamu sudah mengerti maksudku. Nabila, kita sudah menikah, kita pasangan suami-istri yang sah. Meskipun proses pernikahan kita sedikit berbeda dari pasangan pada umumnya, aku berharap kita bisa menjadi pasangan biasa seperti orang lain, menjalani hari-hari bersama, makan tiga kali sehari, punya anak. Karena itu, aku tidak punya niat untuk hidup terpisah."
"Tidur!" kata Rio ketus sambil merebahkan diri di tempat tidur dan langsung mematikan lampu.
Zuuung! Memori semalam meledak di benak Nabila. Adegan-adegan memalukan itu kembali muncul di kepalanya. Dengan gugup, ia berbaring di pinggir tempat tidur. Hatinya kacau balau. Apa maksud Rio sebenarnya?
