Bab [5] Mantan Pacarnya Menunjukkan Kemesraan

Semalaman Nabila Lestari terus memikirkan semuanya sampai tidak bisa tidur, alhasil keesokan harinya dia bangun kesiangan.

Dia tidak bisa menemukan pakaiannya, jadi terpaksa dia keluar dari kamar masih dengan piyama.

Rini, asisten rumah tangga, sedang berdiri di depan pintu kamar. Nabila pun memintanya untuk membantu mencarikan pakaian yang dia kenakan kemarin.

Rini mengatakan kalau semua pakaian ada di walk-in closet dan langsung mengantarnya ke sana.

Nabila awalnya mengira walk-in closet itu hanya lemari pakaian biasa. Begitu masuk, dia langsung terkejut. Ini sih bukan lemari pakaian lagi!

Berbagai model pakaian dengan warna lengkap tergantung rapi di sana. Keempat sisi dinding dipenuhi rak-rak yang dijejali tas dan aksesori.

"Rio Kusuma baik banget ya sama mantan pacarnya," batin Nabila.

Dia merasa mulai sedikit mengerti kenapa Rio begitu bersikeras menikahinya. Rio pasti sangat mencintai Bella Santoso, tapi setelah melihatnya selingkuh dengan mata kepala sendiri, hatinya hancur berkeping-keping. Rio bersikeras menjadikan pernikahan mereka nyata hanya untuk membalas dendam pada Santi Gunawan dan Bella Santoso.

Hati Nabila terasa sedikit masam. Dia tidak mau menyentuh barang milik orang lain, apalagi milik mantan pacar Rio. Jadi, dia hanya memilih kaus dan celana jin yang paling simpel.

Setelah mandi dan berganti pakaian, dia baru sadar kalau pakaian itu sangat pas di badannya. Terutama celana jinnya, membungkus lekuk pinggulnya dengan sempurna, seolah-olah dibuat khusus untuknya.

Rini lalu mengajaknya turun untuk sarapan. Baru saat itulah Nabila punya kesempatan untuk melihat-lihat rumah ini.

Tangga putar dengan pegangan yang halus, karpet yang lembut, lampu kristal yang indah, perabotan yang simpel tapi tidak sederhana.

Mewah, megah, elegan, berkelas.

Nabila mencoba mencari-cari kata yang pas di kepalanya, tapi tidak ada satu pun yang bisa mendefinisikan kemewahan rumah ini. Dia hanya merasa, vila milik Santi Lestari yang pernah dia kunjungi sebelumnya, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rumah Rio Kusuma ini.

Setelah seharian beraktivitas dan tidak makan malam kemarin, Nabila sudah sangat lapar.

Rini menyajikan untuknya satu keranjang bakpao kukus isi daging dan seafood, sebutir telur rebus, dan segelas susu kedelai.

Ini adalah menu sarapan yang biasa dia makan. Hati Nabila tiba-tiba terasa nyaman.

"Selera Rio ternyata mirip denganku. Sepertinya urusan makan nanti tidak akan terlalu merepotkan dia."

Di saat yang sama, di belahan kota lain, seseorang yang pagi-pagi buta pergi membeli bakpao mini kukus tiba-tiba bersin. Dia merasa pasti ada yang sedang memikirkannya.

Selesai makan, Nabila duduk di ruang keluarga sambil bermain ponsel.

Kepala pelayan, Pak Joko, masuk bersama seorang wanita bertubuh tinggi semampai dengan pakaian yang glamor. Wanita itu berjalan dengan pinggul yang bergoyang berlebihan, seperti model di atas catwalk.

"Dia pikir ruang keluarga Kusuma ini panggung peragaan busana apa," batin Nabila.

"Wah, Dik, ketemu lagi kita," sapa wanita itu dengan ramah.

Nabila bingung. Dia tidak ingat kapan pernah bertemu dengan wanita ini.

"Nyonya, ini Nona Santoso... temannya Tuan..." Pak Joko tampak ragu-ragu, tidak tahu bagaimana harus memperkenalkan Bella Santoso kepada Nabila.

Nabila berpikir, teman Rio tidak ada urusannya dengannya. Dia hanya mengangguk sopan dan berkata, "Halo."

Bella Santoso tertawa kecil. "Dik, kamu masih belum ingat siapa kakak? Perlu kakak lepas baju biar kamu ingat?"

Sambil berkata begitu, dia melepas jaketnya, melemparnya ke sofa, lalu duduk. Matanya mengamati dekorasi ruangan, lalu berdecak kagum. "Nggak nyangka ya, ternyata kamu wanita pertama yang bisa tinggal di vila Rio."

Nabila akhirnya ingat. Ini adalah mantan pacar Rio Kusuma, wanita yang tidur dengan Santi Gunawan.

Dengan ketus dia menjawab, "Ini semua juga berkat kamu."

Rio begitu baik padanya, tapi dia malah selingkuh. Memikirkan itu, Nabila sama sekali tidak bisa bersikap ramah padanya.

"Harusnya kamu bersyukur, tahu nggak. Dengan badanmu yang rata kayak papan begini, dada nggak ada, pantat juga nggak ada, mana ada laki-laki yang mau," cibir Bella Santoso sambil menatap Nabila dari atas ke bawah.

Nabila naik pitam. Wanita tak tahu malu ini sudah menginjak-injak cinta Rio, bagaimana bisa dia masih punya muka untuk mengatakan hal seperti itu!

Dia berdiri dan membentak Bella Santoso, "Pergi kamu! Kamu tidak diterima di sini!"

Bella Santoso justru menyilangkan kakinya di sofa sambil tersenyum penuh kemenangan. "Ini rumah Rio. Aku bisa datang dan pergi sesukaku. Kamu nggak punya hak buat ngatur."

"Pergi saja. Dia pasti tidak mau bertemu denganmu," kata Nabila, tidak mengerti dari mana datangnya kepercayaan diri Bella Santoso.

"Kok kamu tahu Rio nggak mau ketemu aku?" tanya Bella Santoso penasaran.

Nabila berpikir sejenak, lalu berkata dengan serius kepada Bella, "Pak Kusuma begitu mencintaimu, tapi kamu selingkuh di depan matanya. Kamu sudah menghancurkan hatinya. Mana mungkin dia mau bertemu denganmu lagi!"

Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, Pak Joko datang.

"Nona Santoso, Tuan meminta Anda untuk naik ke atas."

Melihat wajah Nabila yang tidak percaya, Bella tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya lagi.

"Adik kecil, kamu itu tahu apa sih? Laki-laki itu... ya begitulah. Tenang saja, kakak punya modal buat bikin dia nggak bisa lepas." Sambil berkata begitu, dia membusungkan dadanya dengan angkuh, lalu mengikuti Pak Joko dengan penuh kemenangan.

Secepat itukah Rio memaafkannya?

Nabila kesal dengan Rio yang bucin alias buta cinta, tapi di sisi lain dia juga berpikir, kalau Rio sudah memaafkan Bella, apakah itu berarti dia bisa pergi dari sini?

Memikirkan hal itu, seharusnya dia merasa senang, tapi kenapa hatinya terasa masam?

Beberapa menit kemudian, Bella Santoso keluar dari kamar Rio sambil membawa sebuah map di tangannya.

Nabila tidak mau melihatnya, jadi dia membuang muka, pura-pura tidak melihat.

Tapi Bella justru sengaja menghampirinya, duduk di sebelahnya, lalu membuka map itu untuk pamer.

"Rio itu baik banget, lho. Lihat nih, dia kasih aku mobil, apartemen, cek senilai dua miliar rupiah, dan dia juga mau bantu aku mewujudkan mimpiku, merekomendasikan aku ke sutradara terkenal."

Dalam hati, Nabila menggerutu pada Rio. Kalau kamu memang tidak bisa melupakan mantanmu, ya kejar lagi sana! Kenapa harus melibatkanku untuk menonton kalian pamer kemesraan begini!

Rio Kusuma, benar-benar bucin stadium akhir!

"Kok kamu nggak tahu malu banget, sih?" kata Nabila dengan marah. "Sudah berbuat salah sama dia, masih berani kamu minta macam-macam."

Melihat Nabila marah, Bella Santoso malah senang. "Duh, bukannya aku yang mau. Tapi Rio yang maksa ngasih, ditolak pun nggak bisa!"

Hah! Nabila menghela napas dalam hati. Sudahlah, kalau Rio Kusuma memang mau jadi korban, apa urusannya denganku.

Melihat Nabila sudah kehilangan semangat juangnya, Bella merasa tidak seru lagi. Dia melambaikan tangan pada Nabila dan beranjak pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah, dia teringat sesuatu. Dia kembali, membungkuk di telinga Nabila, dan berbisik, "Dik, kakak kasih tahu ya, Rio itu pria yang baik. Jaga dia baik-baik. Kalau Santi Gunawan itu cowok sampah, nggak ada bagus-bagusnya. Miskin, 'barang'-nya kecil, mainnya jelek, tenaganya juga payah. Cuma sebentar sudah selesai."

Setelah mengatakan itu, dia berjalan pergi dengan anggun.

Nabila hanya bisa membatin, Aku tahu Rio Kusuma itu baik, tapi sayangnya, di hatinya cuma ada kamu.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya