
Sekretaris CEO
Siti Nadia · Selesai · 540.9k Kata
Pendahuluan
Bab 1
Wanita berambut cokelat sepunggung yang memakai gaun biru seatas lutut itu meletakkan gelas wiskinya ke atas meja konter bar dengan agak kasar. Perbuatannya itu berhasil membuat Elanor, sahabatnya yang duduk di sebelah kirinya, tersentak kaget dan langsung menatapnya dengan kening berkerut.
Haley menghela napas panjang, kemudian menatap pramusaji yang berdiri di belakang konter bar, mengisyaratkan pada pramusaji itu untuk menuangkan wiski lagi ke gelasnya.
"Biar aku tebak, kau pasti belum mendapatkan pekerjaan, makanya terlihat sangat muram begini. Benar, kan?" tebak Elanor, yang pada akhirnya membuat Haley hanya bisa menghela napas lagi, meratapi nasibnya sendiri.
"Hei, Haley, bukankah kemarin kau bilang padaku kalau hari ini kau ada jadwal interview?" tanya Elanor. Wanita berambut pendek itu menepuk-nepuk bahu Haley, sebagai upaya untuk sedikit memberi hiburan.
"Ya, memang. Seminggu yang lalu aku dihubungi oleh pihak Lawrence Company, dan siang tadi aku mengikuti interview di sana," ujar Haley.
Elanor manggut-manggut, "Well, that's great! Lawrence Company adalah perusahaan teknologi yang sangat besar dan cukup ternama di negeri ini. Ketika pihak mereka menghubungimu untuk mengikuti proses interview, itu artinya kau memang dianggap memiliki potensi besar. Lalu, setelah tadi siang mengikuti interview di sana, mengapa sekarang kau malah terlihat tertekan seperti ini? Apa mereka langsung menolakmu?”
“Tidak, sih. Jika aku diterima, pihak HRD Lawrence Company akan menghubungiku dan memberi kabar. Tapi jika tidak, ya begitulah...” desis Haley.
“Ya sudah, bersabarlah menunggu kabar dari pihak mereka. Aku yakin, kali ini kau pasti akan berhasil dan bisa mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan,” kata Elanor untuk menyemangati.
Haley menatap Elanor dan tersenyum tipis pada karibnya itu. Elanor adalah putri bungsu dari seorang pemilik hotel bintang lima di New York yang punya cabang di berbagai negara bagian di sekitaran New York. Tidak mengandalkan nama orang tuanya ataupun memanfaatkan harta yang dimiliki keluarganya, Elanor tetap bekerja keras hingga sekarang dia telah berhasil menjadi jurnalis di salah satu stasiun televisi Amerika.
Elanor kerap kali pergi ke luar kota, mendatangi berbagai negara bagian di seluruh Amerika Serikat, bahkan hingga pergi ke luar negeri untuk menjalani tugasnya sebagai seorang jurnalis.
Kalau disuruh untuk jujur, sebenarnya Haley merasa agak iri pada karibnya itu. Mereka sudah berteman dekat sejak masih sekolah, dan saat kuliah pun mereka semakin dekat karena berada di universitas yang sama meski berbeda jurusan, Elanor jurusan Jurnalistik, sedangkan Haley jurusan Bisnis dan Manajemen.
Mereka berdua sama-sama berumur 25 tahun, tapi nasibnya dan nasib Elanor sungguh berbanding terbalik. Pada usia yang memang sudah seharusnya mulai merintis kesuksesan, Haley malah berada di atas batu yang sama dan tidak pernah berpindah posisi sedikitpun sejak tiga tahun yang lalu setelah lulus dari kuliah.
Hingga detik ini, Haley belum memiliki pekerjaan tetap meski pada masa kuliah ia sempat magang di beberapa perusahaan ternama. Hidupnya masih bergantung pada kedua orang tua, bahkan biaya makan dan untuk membayar biaya sewa apartemen pun ia masih mengharap pemberian dari orang tuanya.
Namun, untungnya saja kedua orang tuanya tidak pernah mengeluh ataupun protes, tapi justru selalu merangkul dan mendukung Haley untuk berjuang lebih keras lagi agar segera mendapat pekerjaan yang dia inginkan di kota metropolitan yang cukup keras seperti New York.
Sedangkan Elanor, dia sudah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan, ditambah lagi sudah bertunangan dengan seorang pengusaha muda yang tentunya dapat menjanjikan masa depan pernikahan yang cemerlang untuk Elanor.
Akan tetapi, Haley tidak dibutakan oleh rasa cemburu atas kesuksesan Elanor, justru ia merasa sangat kagum dan begitu bangga karena memiliki sahabat sehebat Elanor. Keiriannya pada Elanor sekadar ia jadikan sebagai motivasi untuk terus berjuang mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan minatnya.
Jujur saja, mengadu nasib sebagai pengangguran di New York adalah hal yang sangat berat. Ayah dan ibunya adalah bankir investasi di perusahaan yang cukup ternama di Amerika Serikat, dan hal itu jelas dapat mendeskripsikan bahwa tidak sulit bagi mereka untuk memberikan segalanya pada Haley, putri semata wayang mereka.
Akan tetapi, Haley sadar diri bahwa dirinya sudah berusia 25 tahun dan tidak mau terus-menerus menyusahkan kedua orang tuanya. Mau jadi apa ia jika terus menganggur dan hanya bergantung pada kekayaan yang dimiliki ayah dan ibunya? Ia tidak mau hanya duduk diam dan berharap akan ada seorang pria kaya raya yang mendatanginya dan menikahinya.
“Omong-omong, di Lawrence Company, kau melamar di posisi apa?” tanya Elanor.
“Well, di sana sedang membuka lowongan pekerjaan untuk menjadi kandidat sekretaris CEO dan sekretaris Wakil Direktur. Kalau Tuhan mau memberikan keajaiban, aku harap aku diterima menjadi sekretaris CEO Lawrence Company. Kabulkan doaku, Tuhan!” tutur Haley sambil menatap ke atas dengan wajah memelas, berharap Tuhan mau mengasihaninya.
“Hebat! Aku yakin, kau pasti akan diterima, Haley. Aku percaya padamu,” kata Elanor.
Haley tersenyum padanya, “Terima kasih. Semoga saja.”
Hingga dua jam kemudian, mereka asyik minum-minum dan mengobrol banyak hal. Sudah hampir satu bulan mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Haley sibuk mencari pekerjaan, sementara Elanor sibuk dengan pekerjaannya sebagai jurnalis, sehingga mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel.
Hingga ketika malam semakin larut dan Haley sudah menghabiskan hampir enam gelas wiski, Haley merasa kalau tubuhnya sudah mulai goyah terhadap keseimbangan kesadaran dan mulai mabuk.
Elanor berniat mengajak Haley untuk segera pulang sebelum Haley membuat kekacauan di dalam bar, sebab Elanor tahu betul kalau Haley akan bertingkah ‘gila’ saat sedang mabuk.
Namun, kandung kemih Haley keburu penuh dan membuatnya butuh pergi ke toilet dulu sebelum pulang.
Jadilah akhirnya, Haley pun turun dari kursinya dan berjalan melewati keramaian yang terjalin di seluruh penjuru bar, mengingat waktu tengah malam hampir tiba.
“Haley! Toiletnya bukan di sana!” Elanor berteriak ketika melihat Haley berjalan ke arah barat, yang mana Haley baru sadar kalau itu adalah arah menuju pintu keluar. Suara Elanor yang berteriak pada Haley seolah berusaha mengalahkan alunan musik di dalam bar yang menggema cukup keras.
Meski sudah sedikit lunglai karena pengaruh alkohol yang sejak tadi ia minum, tapi Haley masih bisa mendengar suara karibnya itu. Maka, ia pun memutar langkahnya dan berjalan ke arah timur seperti yang diberitahu Elanor.
Langkahnya terhenti ketika ia melewati sebuah meja yang terletak di sudut bar. Karena pandangannya sudah sedikit mengabur, ia memicingkan kedua matanya saat melihat ada sesuatu yang sangat menarik di sana.
Haley sendiri harus mengakui bahwa kalau sedang mabuk, ia kerap kali kehilangan akal. Ia akan melakukan apapun, bertingkah sesuka hati, dan tidak tahu malu. Memang tidak salah jika Elanor kerap menyebut Haley ‘gila’ jika sedang mabuk.
Jadi, ketika ia merasa tertarik pada seorang pria tampan berdasi merah dan berperawakan maskulin yang sedang duduk sendirian di meja tersebut, Haley yang sudah mulai mabuk pun merasa tergoda, dan jiwa gatalnya meronta-ronta. Kandung kemihnya mendadak kosong, seolah ada penyedot air yang sudah mengosongkannya sehingga ia tidak lagi ingin kencing.
Akhirnya, dalam kondisi setengah mabuk, Haley mendatangi meja itu dan menghampiri pria berdasi merah yang sedang menenggak vodka di sana.
“Hei,” panggil Haley.
Pria itu menenggak vodkanya dengan gelas shot, lalu menatap Haley dengan kedua alis terangkat.
“You want another shot?” Haley bertanya padanya, mencoba untuk menggodanya.
Pria itu terdiam. Kedua mata birunya yang tajam bak elang itu menatap Haley dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sesaat kemudian, sembari memandangi gelas shot yang masih dia pegang, dia membalas ucapan Haley, “What kind of shot?”
“Love shot!” seru Haley sambil memberikan tanda hati dengan kedua tangannya.
Pria itu bergeming, menatap Haley dengan tatapan tajam dan dingin. Sementara itu, Haley yang memang sudah menggila, tertawa terbahak-bahak dan tidak malu sama sekali di hadapan pria tampan tersebut.
“That was nice,” kata pria itu dengan wajah tanpa ekspresi, “Siapa namamu?”
Dengan girang, Haley menjulurkan tangan kanannya, mengajak pria itu untuk berjabat, “Haley.”
Pria berparas dingin itu menatap uluran tangan Haley. Dia tidak menyambut tangan gadis itu untuk berjabat, tapi justru hanya menatapnya saja.
“Koreksi jika aku salah, Nona Haley,” kata pria tersebut.
Haley terdiam menatap pria itu dengan kedua matanya yang mengerjap beberapa kali.
“Kau Haley Gwendelyn Walter, salah satu kandidat yang melamar menjadi sekretaris CEO di Lawrence Company. Benar, bukan?”
“Y-ya, benar,” jawab Haley dengan terbata, “Bagaimana kau bisa tahu?”
Pria itu mengeluarkan secarik kartu nama berwarna hitam dari saku jasnya, kemudian memberikannya pada Haley.
Haley pun menerima kartu nama tersebut dan mulai membacanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat di sana tertulis JUSTIN CHRISTOPHER LAWRENCE sebagai FOUNDER & CEO.
"Aku Justin Lawrence, CEO dari Lawrence Company," kata pria itu.
Haley hanya diam karena masih terkejut.
“Well, karena kebetulan aku bertemu denganmu di sini, lebih baik aku saja yang langsung memberitahumu agar pihak HRD tidak perlu menghubungimu lagi.”
Haley terdiam menatap pria bernama Justin itu sambil mengatup bibirnya rapat-rapat.
“Mulai hari Senin, kau sudah harus datang ke kantor dan bekerja untukku.”
Bersambung.....
Bab Terakhir
#520 Bab 520
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#519 Bab 519
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#518 Bab 518
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#517 Bab 517
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#516 Bab 516
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#515 Bab 515
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#514 Bab 514
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#513 Bab 513
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#512 Bab 512
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#511 Bab 511
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025
Anda Mungkin Suka 😍
Jatuh Cinta pada Teman Ayah
"Tunggangi aku, Angel." Dia memerintah, terengah-engah, membimbing pinggulku.
"Masukkan ke dalam, tolong..." Aku memohon, menggigit bahunya, mencoba mengendalikan sensasi nikmat yang menguasai tubuhku lebih intens daripada orgasme yang pernah kurasakan sendiri. Dia hanya menggesekkan kemaluannya padaku, dan sensasinya lebih baik daripada yang bisa kuberikan sendiri.
"Diam." Dia berkata serak, menekan jarinya lebih keras ke pinggulku, membimbing cara aku menunggangi pangkuannya dengan cepat, meluncurkan pintu masuk basahku dan membuat klitorisku bergesekan dengan ereksinya.
"Hah, Julian..." Namanya keluar dengan erangan keras, dan dia mengangkat pinggulku dengan sangat mudah dan menarikku turun lagi, membuat suara hampa yang membuatku menggigit bibir. Aku bisa merasakan bagaimana ujung kemaluannya bertemu dengan pintu masukku dengan berbahaya...
Angelee memutuskan untuk membebaskan dirinya dan melakukan apa pun yang dia inginkan, termasuk kehilangan keperawanannya setelah memergoki pacarnya selama empat tahun tidur dengan sahabatnya di apartemennya. Tapi siapa yang bisa menjadi pilihan terbaik, jika bukan sahabat terbaik ayahnya, seorang pria sukses dan bujangan yang terkenal?
Julian terbiasa dengan hubungan singkat dan one-night stand. Lebih dari itu, dia tidak pernah berkomitmen pada siapa pun, atau hatinya dimenangkan. Dan itu akan membuatnya menjadi kandidat terbaik... jika dia bersedia menerima permintaan Angelee. Namun, dia bertekad untuk meyakinkannya, bahkan jika itu berarti menggoda dan mengacaukan pikirannya sepenuhnya. ... "Angelee?" Dia menatapku bingung, mungkin ekspresiku juga bingung. Tapi aku hanya membuka bibir, berkata perlahan, "Julian, aku mau kamu bercinta denganku."
Rating: 18+
Obsesi Terpelintir
"Kita punya aturan, dan aku-"
"Aku nggak peduli sama aturan. Kamu nggak tahu seberapa pengen aku ngewe kamu sampai kamu teriak kesenengan."
✿-✿-✿-✿-✿-✿-✿-✿-✿-✿-✿-✿
Damian nggak percaya sama cinta, tapi dia butuh istri buat ngambil warisan yang ditinggalin pamannya. Amelia pengen balas dendam ke Noah, mantan suaminya yang selingkuh, dan apa cara yang lebih baik daripada nikah kontrak sama musuh bebuyutannya? Ada dua aturan dalam pernikahan pura-pura mereka: nggak boleh ada hubungan emosional atau seksual, dan mereka akan berpisah setelah kesepakatan selesai. Tapi ketertarikan mereka satu sama lain lebih dari yang mereka perkirakan. Ketika perasaan mulai jadi nyata, pasangan ini nggak bisa berhenti menyentuh satu sama lain, dan Noah ingin Amelia kembali, apakah Damian akan membiarkannya pergi? Atau dia akan berjuang untuk apa yang dia anggap miliknya?
Kesempatan Kedua Miliarder: Merebut Kembali Hatinya
Namun, semuanya berubah pada hari aku melihat suamiku yang biasanya tenang dan pendiam, menyudutkan "saudara perempuannya" ke dinding, dengan marah menuntut, "Kamu memilih menikah dengan pria lain waktu itu. Apa hakmu untuk meminta apa pun dariku?!"
Saat itulah aku menyadari betapa dalamnya dia bisa mencintai seseorang—cukup untuk membuatnya menjadi gila.
Menyadari posisiku, aku diam-diam menceraikannya dan menghilang dari hidupnya.
Semua orang berkata bahwa Christopher Valence telah kehilangan akal sehatnya, putus asa mencari mantan istrinya yang tampaknya tidak berarti. Tidak ada yang tahu bahwa ketika dia melihat Hope Royston di lengan pria lain, rasanya seperti ada lubang yang tercabik di hatinya, membuatnya berharap bisa membunuh dirinya di masa lalu.
"Hope, tolong kembali padaku."
Dengan mata merah, Christopher berlutut di tanah, memohon dengan rendah hati. Hope akhirnya menyadari bahwa semua rumor itu benar.
Dia benar-benar sudah gila.
(Aku sangat merekomendasikan sebuah buku yang sangat menarik hingga aku tidak bisa berhenti membacanya selama tiga hari tiga malam. Buku ini sangat mengasyikkan dan wajib dibaca. Judul bukunya adalah "Cerai Mudah, Rujuk Sulit". Kamu bisa menemukannya dengan mencarinya di kolom pencarian.)
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Mafia Posesifku
"Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyadari ini, sayang, tapi kamu milik kami." Suaranya yang dalam berkata, menarik kepalaku ke belakang sehingga matanya yang intens bertemu dengan mataku.
"Memekmu sudah basah untuk kami, sekarang jadilah gadis baik dan buka kakimu. Aku ingin mencicipinya, kamu mau lidahku menyentuh memek kecilmu?"
"Ya, p...papa." Aku mendesah.
Angelia Hartwell, seorang gadis muda dan cantik yang masih kuliah, ingin menjelajahi hidupnya. Dia ingin tahu bagaimana rasanya mengalami orgasme yang sesungguhnya, dia ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang yang patuh. Dia ingin merasakan seks dengan cara yang terbaik, berbahaya, dan menggoda.
Dalam pencariannya untuk memenuhi fantasi seksualnya, dia menemukan dirinya di salah satu klub BDSM paling eksklusif dan berbahaya di negara ini. Di sana, dia menarik perhatian tiga pria Mafia yang posesif. Mereka semua menginginkannya dengan segala cara.
Dia menginginkan satu dominan, tetapi malah mendapatkan tiga yang posesif, dan salah satunya adalah dosen di kampusnya.
Hanya satu momen, hanya satu tarian, hidupnya berubah total.
Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku
Ibuku meninggal sejak aku kecil, dan ayahku yang baik hati serta kuat telah mengambil peran untuk merawat anak-anakku di rumah. Segala upaya dan obat-obatan telah kucoba untuk mengembalikan fungsi ereksiku yang normal, namun semuanya sia-sia. Suatu hari, saat berselancar di internet, tanpa sengaja aku menemukan literatur dewasa yang melibatkan hubungan antara ayah mertua dan menantu, yang tanpa kusadari langsung membuatku terpikat dan terangsang.
Berbaring di samping istriku yang sedang tidur dengan tenang, aku mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu dalam cerita itu, yang membuatku terangsang sampai tingkat yang luar biasa. Aku bahkan menemukan bahwa membayangkan istriku bersama ayahku sendiri saat aku memuaskan diri sendiri, terasa lebih memuaskan daripada bercinta dengannya secara langsung. Menyadari bahwa aku tanpa sengaja telah membuka kotak Pandora, aku mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Bermain Dengan Api
“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.
Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Tuan Forbes
Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.
"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.
Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.
Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.
Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.
Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Penyesalan Mantan Suami
Gadis Baik Mafia
"Apa ini?" tanya Violet.
"Kesepakatan tertulis untuk harga penjualan kita," jawab Damon. Dia mengatakannya dengan begitu tenang dan santai, seolah dia tidak sedang membeli keperawanan seorang gadis seharga satu juta dolar.
Violet menelan ludah dan matanya mulai menelusuri kata-kata di atas kertas itu. Kesepakatannya cukup jelas. Pada dasarnya, itu menyatakan bahwa dia setuju dengan penjualan keperawanannya untuk harga yang disebutkan dan tanda tangan mereka akan mengesahkan kesepakatan itu. Damon sudah menandatangani bagiannya dan bagian Violet masih kosong.
Violet mendongak dan melihat Damon menyerahkan pena kepadanya. Dia datang ke ruangan ini dengan niat untuk mundur, tetapi setelah membaca dokumen itu, Violet berubah pikiran lagi. Itu satu juta dolar. Ini lebih banyak uang daripada yang pernah bisa dia lihat seumur hidupnya. Satu malam dibandingkan dengan itu akan sangat kecil. Seseorang bahkan bisa berargumen bahwa itu adalah tawaran yang menguntungkan. Jadi sebelum dia bisa berubah pikiran lagi, Violet mengambil pena dari tangan Damon dan menandatangani namanya di garis putus-putus. Tepat saat jam menunjukkan tengah malam hari itu, Violet Rose Carvey baru saja menandatangani kesepakatan dengan Damon Van Zandt, iblis dalam wujud manusia.
Alpha Dom dan Pengganti Manusianya
Menyerah kepada Triplet Mafia
"Kamu sudah menjadi milik kami sejak pertama kali kami melihatmu."
"Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyadari bahwa kamu milik kami." Salah satu dari triplet itu berkata, menarik kepalaku ke belakang untuk bertemu dengan tatapan matanya yang tajam.
"Kamu adalah milik kami untuk bercinta, milik kami untuk dicintai, milik kami untuk diklaim dan digunakan dengan cara apa pun yang kami inginkan. Benar, sayang?" Tambah yang kedua.
"Y...ya, Tuan." Aku terengah-engah.
"Sekarang jadilah gadis baik dan buka kakimu, mari kita lihat seberapa berantakan kamu karena kata-kata kami." Tambah yang ketiga.
Camilla menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh pria bertopeng dan beruntung bisa melarikan diri. Dalam perjalanannya mencari ayahnya yang hilang, dia bertemu dengan triplet mafia paling berbahaya di dunia yang ternyata adalah pembunuh yang dia temui sebelumnya. Tapi dia tidak mengetahuinya...
Ketika kebenaran terungkap, dia dibawa ke klub BDSM milik triplet tersebut. Camilla tidak punya jalan untuk melarikan diri, triplet mafia itu akan melakukan apa saja untuk menjadikannya budak mereka.
Mereka bersedia berbagi dirinya, tapi apakah dia akan tunduk pada ketiganya?












