

Sekretaris CEO
Siti Nadia · Selesai · 540.9k Kata
Pendahuluan
Bab 1
Wanita berambut cokelat sepunggung yang memakai gaun biru seatas lutut itu meletakkan gelas wiskinya ke atas meja konter bar dengan agak kasar. Perbuatannya itu berhasil membuat Elanor, sahabatnya yang duduk di sebelah kirinya, tersentak kaget dan langsung menatapnya dengan kening berkerut.
Haley menghela napas panjang, kemudian menatap pramusaji yang berdiri di belakang konter bar, mengisyaratkan pada pramusaji itu untuk menuangkan wiski lagi ke gelasnya.
"Biar aku tebak, kau pasti belum mendapatkan pekerjaan, makanya terlihat sangat muram begini. Benar, kan?" tebak Elanor, yang pada akhirnya membuat Haley hanya bisa menghela napas lagi, meratapi nasibnya sendiri.
"Hei, Haley, bukankah kemarin kau bilang padaku kalau hari ini kau ada jadwal interview?" tanya Elanor. Wanita berambut pendek itu menepuk-nepuk bahu Haley, sebagai upaya untuk sedikit memberi hiburan.
"Ya, memang. Seminggu yang lalu aku dihubungi oleh pihak Lawrence Company, dan siang tadi aku mengikuti interview di sana," ujar Haley.
Elanor manggut-manggut, "Well, that's great! Lawrence Company adalah perusahaan teknologi yang sangat besar dan cukup ternama di negeri ini. Ketika pihak mereka menghubungimu untuk mengikuti proses interview, itu artinya kau memang dianggap memiliki potensi besar. Lalu, setelah tadi siang mengikuti interview di sana, mengapa sekarang kau malah terlihat tertekan seperti ini? Apa mereka langsung menolakmu?”
“Tidak, sih. Jika aku diterima, pihak HRD Lawrence Company akan menghubungiku dan memberi kabar. Tapi jika tidak, ya begitulah...” desis Haley.
“Ya sudah, bersabarlah menunggu kabar dari pihak mereka. Aku yakin, kali ini kau pasti akan berhasil dan bisa mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan,” kata Elanor untuk menyemangati.
Haley menatap Elanor dan tersenyum tipis pada karibnya itu. Elanor adalah putri bungsu dari seorang pemilik hotel bintang lima di New York yang punya cabang di berbagai negara bagian di sekitaran New York. Tidak mengandalkan nama orang tuanya ataupun memanfaatkan harta yang dimiliki keluarganya, Elanor tetap bekerja keras hingga sekarang dia telah berhasil menjadi jurnalis di salah satu stasiun televisi Amerika.
Elanor kerap kali pergi ke luar kota, mendatangi berbagai negara bagian di seluruh Amerika Serikat, bahkan hingga pergi ke luar negeri untuk menjalani tugasnya sebagai seorang jurnalis.
Kalau disuruh untuk jujur, sebenarnya Haley merasa agak iri pada karibnya itu. Mereka sudah berteman dekat sejak masih sekolah, dan saat kuliah pun mereka semakin dekat karena berada di universitas yang sama meski berbeda jurusan, Elanor jurusan Jurnalistik, sedangkan Haley jurusan Bisnis dan Manajemen.
Mereka berdua sama-sama berumur 25 tahun, tapi nasibnya dan nasib Elanor sungguh berbanding terbalik. Pada usia yang memang sudah seharusnya mulai merintis kesuksesan, Haley malah berada di atas batu yang sama dan tidak pernah berpindah posisi sedikitpun sejak tiga tahun yang lalu setelah lulus dari kuliah.
Hingga detik ini, Haley belum memiliki pekerjaan tetap meski pada masa kuliah ia sempat magang di beberapa perusahaan ternama. Hidupnya masih bergantung pada kedua orang tua, bahkan biaya makan dan untuk membayar biaya sewa apartemen pun ia masih mengharap pemberian dari orang tuanya.
Namun, untungnya saja kedua orang tuanya tidak pernah mengeluh ataupun protes, tapi justru selalu merangkul dan mendukung Haley untuk berjuang lebih keras lagi agar segera mendapat pekerjaan yang dia inginkan di kota metropolitan yang cukup keras seperti New York.
Sedangkan Elanor, dia sudah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan, ditambah lagi sudah bertunangan dengan seorang pengusaha muda yang tentunya dapat menjanjikan masa depan pernikahan yang cemerlang untuk Elanor.
Akan tetapi, Haley tidak dibutakan oleh rasa cemburu atas kesuksesan Elanor, justru ia merasa sangat kagum dan begitu bangga karena memiliki sahabat sehebat Elanor. Keiriannya pada Elanor sekadar ia jadikan sebagai motivasi untuk terus berjuang mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan minatnya.
Jujur saja, mengadu nasib sebagai pengangguran di New York adalah hal yang sangat berat. Ayah dan ibunya adalah bankir investasi di perusahaan yang cukup ternama di Amerika Serikat, dan hal itu jelas dapat mendeskripsikan bahwa tidak sulit bagi mereka untuk memberikan segalanya pada Haley, putri semata wayang mereka.
Akan tetapi, Haley sadar diri bahwa dirinya sudah berusia 25 tahun dan tidak mau terus-menerus menyusahkan kedua orang tuanya. Mau jadi apa ia jika terus menganggur dan hanya bergantung pada kekayaan yang dimiliki ayah dan ibunya? Ia tidak mau hanya duduk diam dan berharap akan ada seorang pria kaya raya yang mendatanginya dan menikahinya.
“Omong-omong, di Lawrence Company, kau melamar di posisi apa?” tanya Elanor.
“Well, di sana sedang membuka lowongan pekerjaan untuk menjadi kandidat sekretaris CEO dan sekretaris Wakil Direktur. Kalau Tuhan mau memberikan keajaiban, aku harap aku diterima menjadi sekretaris CEO Lawrence Company. Kabulkan doaku, Tuhan!” tutur Haley sambil menatap ke atas dengan wajah memelas, berharap Tuhan mau mengasihaninya.
“Hebat! Aku yakin, kau pasti akan diterima, Haley. Aku percaya padamu,” kata Elanor.
Haley tersenyum padanya, “Terima kasih. Semoga saja.”
Hingga dua jam kemudian, mereka asyik minum-minum dan mengobrol banyak hal. Sudah hampir satu bulan mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Haley sibuk mencari pekerjaan, sementara Elanor sibuk dengan pekerjaannya sebagai jurnalis, sehingga mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel.
Hingga ketika malam semakin larut dan Haley sudah menghabiskan hampir enam gelas wiski, Haley merasa kalau tubuhnya sudah mulai goyah terhadap keseimbangan kesadaran dan mulai mabuk.
Elanor berniat mengajak Haley untuk segera pulang sebelum Haley membuat kekacauan di dalam bar, sebab Elanor tahu betul kalau Haley akan bertingkah ‘gila’ saat sedang mabuk.
Namun, kandung kemih Haley keburu penuh dan membuatnya butuh pergi ke toilet dulu sebelum pulang.
Jadilah akhirnya, Haley pun turun dari kursinya dan berjalan melewati keramaian yang terjalin di seluruh penjuru bar, mengingat waktu tengah malam hampir tiba.
“Haley! Toiletnya bukan di sana!” Elanor berteriak ketika melihat Haley berjalan ke arah barat, yang mana Haley baru sadar kalau itu adalah arah menuju pintu keluar. Suara Elanor yang berteriak pada Haley seolah berusaha mengalahkan alunan musik di dalam bar yang menggema cukup keras.
Meski sudah sedikit lunglai karena pengaruh alkohol yang sejak tadi ia minum, tapi Haley masih bisa mendengar suara karibnya itu. Maka, ia pun memutar langkahnya dan berjalan ke arah timur seperti yang diberitahu Elanor.
Langkahnya terhenti ketika ia melewati sebuah meja yang terletak di sudut bar. Karena pandangannya sudah sedikit mengabur, ia memicingkan kedua matanya saat melihat ada sesuatu yang sangat menarik di sana.
Haley sendiri harus mengakui bahwa kalau sedang mabuk, ia kerap kali kehilangan akal. Ia akan melakukan apapun, bertingkah sesuka hati, dan tidak tahu malu. Memang tidak salah jika Elanor kerap menyebut Haley ‘gila’ jika sedang mabuk.
Jadi, ketika ia merasa tertarik pada seorang pria tampan berdasi merah dan berperawakan maskulin yang sedang duduk sendirian di meja tersebut, Haley yang sudah mulai mabuk pun merasa tergoda, dan jiwa gatalnya meronta-ronta. Kandung kemihnya mendadak kosong, seolah ada penyedot air yang sudah mengosongkannya sehingga ia tidak lagi ingin kencing.
Akhirnya, dalam kondisi setengah mabuk, Haley mendatangi meja itu dan menghampiri pria berdasi merah yang sedang menenggak vodka di sana.
“Hei,” panggil Haley.
Pria itu menenggak vodkanya dengan gelas shot, lalu menatap Haley dengan kedua alis terangkat.
“You want another shot?” Haley bertanya padanya, mencoba untuk menggodanya.
Pria itu terdiam. Kedua mata birunya yang tajam bak elang itu menatap Haley dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sesaat kemudian, sembari memandangi gelas shot yang masih dia pegang, dia membalas ucapan Haley, “What kind of shot?”
“Love shot!” seru Haley sambil memberikan tanda hati dengan kedua tangannya.
Pria itu bergeming, menatap Haley dengan tatapan tajam dan dingin. Sementara itu, Haley yang memang sudah menggila, tertawa terbahak-bahak dan tidak malu sama sekali di hadapan pria tampan tersebut.
“That was nice,” kata pria itu dengan wajah tanpa ekspresi, “Siapa namamu?”
Dengan girang, Haley menjulurkan tangan kanannya, mengajak pria itu untuk berjabat, “Haley.”
Pria berparas dingin itu menatap uluran tangan Haley. Dia tidak menyambut tangan gadis itu untuk berjabat, tapi justru hanya menatapnya saja.
“Koreksi jika aku salah, Nona Haley,” kata pria tersebut.
Haley terdiam menatap pria itu dengan kedua matanya yang mengerjap beberapa kali.
“Kau Haley Gwendelyn Walter, salah satu kandidat yang melamar menjadi sekretaris CEO di Lawrence Company. Benar, bukan?”
“Y-ya, benar,” jawab Haley dengan terbata, “Bagaimana kau bisa tahu?”
Pria itu mengeluarkan secarik kartu nama berwarna hitam dari saku jasnya, kemudian memberikannya pada Haley.
Haley pun menerima kartu nama tersebut dan mulai membacanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat di sana tertulis JUSTIN CHRISTOPHER LAWRENCE sebagai FOUNDER & CEO.
"Aku Justin Lawrence, CEO dari Lawrence Company," kata pria itu.
Haley hanya diam karena masih terkejut.
“Well, karena kebetulan aku bertemu denganmu di sini, lebih baik aku saja yang langsung memberitahumu agar pihak HRD tidak perlu menghubungimu lagi.”
Haley terdiam menatap pria bernama Justin itu sambil mengatup bibirnya rapat-rapat.
“Mulai hari Senin, kau sudah harus datang ke kantor dan bekerja untukku.”
Bersambung.....
Bab Terakhir
#520 Bab 520
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#519 Bab 519
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#518 Bab 518
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#517 Bab 517
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#516 Bab 516
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#515 Bab 515
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#514 Bab 514
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#513 Bab 513
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#512 Bab 512
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025#511 Bab 511
Terakhir Diperbarui: 10/31/2025
Anda Mungkin Suka 😍

Lahir Kembali Dengan Tangan Master
Bapak Ryan
Dia mendekat dengan ekspresi gelap dan lapar,
begitu dekat,
tangannya meraih wajahku, dan dia menekan tubuhnya ke tubuhku.
Mulutnya mengambil milikku dengan rakus, sedikit kasar.
Lidahnya membuatku terengah-engah.
"Kalau kamu tidak ikut denganku, aku akan meniduri kamu di sini." Dia berbisik.
Katherine menjaga keperawanannya selama bertahun-tahun bahkan setelah dia berusia 18 tahun. Tapi suatu hari, dia bertemu dengan seorang pria yang sangat seksual, Nathan Ryan, di klub. Dia memiliki mata biru paling menggoda yang pernah dia lihat, dagu yang tegas, rambut pirang keemasan, bibir penuh, sempurna, dan senyum yang luar biasa, dengan gigi yang sempurna dan lesung pipit yang sialan itu. Sangat seksi.
Dia dan dia memiliki malam yang indah dan panas...
Katherine berpikir dia mungkin tidak akan bertemu pria itu lagi.
Tapi takdir punya rencana lain.
Katherine akan mengambil pekerjaan sebagai asisten seorang miliarder yang memiliki salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan dikenal sebagai pria yang menaklukkan, otoritatif, dan sangat menggoda. Dia adalah Nathan Ryan!
Apakah Kate bisa menahan pesona pria yang menarik, kuat, dan menggoda ini?
Baca untuk mengetahui hubungan yang terombang-ambing antara kemarahan dan hasrat yang tak terkendali.
Peringatan: R18+, Hanya untuk pembaca dewasa.
Kecintaan Satu Malam
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Mantan Istri yang Tak Terlupakan
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Ayah Sahabat Terbaikku
Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.
Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.
Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?
Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
Mami, Papi Memintamu Kembali
Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya!
Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan?
“Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?”
KEHAMILAN MANTAN ISTRI MILYARDER
Beberapa bulan kemudian Miselia mendapati dirinya hamil. Tiba-tiba Evan kembali datang dan mendeklarasikan jika Miselia adalah miliknya. Tetapi, Miselia yang kini menjadi ahli waris menolak kedatangan Evan, sang mantan suami.
Akankah CEO yang penuh teka-teki itu memenangkan cintanya kembali atau kebencian akan menang pada akhirnya?
Kesayangan CEO
Dia adalah kaisar gelap yang ditakuti semua orang, dikabarkan kejam dan kejam, dan tegas, tetapi dia hanya memanjakannya tanpa hukum.
Suatu hari, reporter bertanya: "Nyonya Lu, apakah Anda memiliki sesuatu yang perlu ditakuti?"
Gu Mengmeng tidak meneteskan air mata di wajahnya.
Dia hanya takut pada dua hal sekarang.
Pertama, cium suamimu!
Kedua, suami tercinta setelah mematikan lampu!
Cinta Terburu-buru Sang CEO
Pengantin Pengganti
Arga, laki-laki baik yang seharusnya adalah Kakak ipar kepada Mentari, tetapi justru menjadi suami. Seketika menjelma sebagai sosok dingin tak tersentuh. Dia tidak pernah ikhlas dengan kenyataan bahwa Samantha hilang dan digantikan oleh Mentari. Tak sehari pun waktu berlalu tanpa bayang mantan calon istrinya, tidak sekalipun memandang Mentari seperti sosok seharusnya. Tidak pernah ada cinta.











