Tiga tahun setelah pernikahan tanpa cinta itu berjalan—
“Julian… kalau aku hamil, kamu bakal gimana?” tanyaku, masih menggenggam sisa harapan yang bahkan aku sendiri tahu konyol.
Dia menghentak lebih keras, lalu semuanya berakhir dengan panas yang meledak di antara pahaku.
“Kamu? Ngandung pewarisku?” tawanya dingin, tajam seperti pecahan es. “Anak pembantu nggak akan pernah pantas bawa darah Sterling.”
Namaku Elena—anak perempuan seorang pembantu yang cukup bodoh untuk jatuh cinta pada Julian Sterling.
Dia pewaris kejam yang menikah denganku bukan karena sayang, tapi karena dendam.
“Kamu itu cuma pelacur penggali duit,” bisiknya, rendah, menusuk. “Serius kamu kira aku bisa cinta sama orang kayak kamu?”
Dia memakaiku sesuka hati. Menghancurkanku pelan-pelan. Membuatku merangkak minta sisa-sisa belas kasihan, sementara dia dengan santainya memamerkan cinta pertamanya keluar-masuk rumah kami, seperti aku cuma perabot.
Malam itu, aku berdiri di atas jembatan, menatap air gelap di bawah sana.
Aku sudah kehilangan segalanya. Ibuku. Harga diriku. Bahkan kemauanku untuk bertahan.
Lima tahun kemudian, di sebuah mal yang penuh sesak—
Tangan kecil putriku menarik lengan seorang pria asing.
“Mister, bisa bantu aku cari mommy? Aku kesasar.”
Pria itu membeku. Tatapannya turun ke wajah Lila, seolah dunia mendadak berhenti berputar.
“Nama kamu siapa, sayang?” Suaranya terdengar retak, seperti menahan sesuatu yang terlalu berat.
“Lila! Kalau om namanya siapa?”
Rahangnya mengeras. Ada sesuatu di matanya yang seperti runtuh.
“Julian.”
Beberapa menit kemudian, dia berjalan ke arahku sambil menggandeng tangan Lila. Wajahnya pucat, nyaris tanpa warna, seolah darahnya ditarik habis.
“Elena.”
Namaku di bibirnya terdengar seperti rasa sakit.
Aku bahkan belum sempat mengeluarkan suara ketika dia sudah menutup jarak. Kedua lengannya melingkar di tubuhku dengan kekuatan putus asa, seakan kalau dia melepas, aku akan hilang lagi.
“Ya Tuhan… kamu hidup. Aku kira—” suaranya pecah. “Aku minta maaf… aku benar-benar minta maaf—”
Dia menunduk, bibirnya mencari bibirku.
Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku.
Tamparannya menggema, nyaring, memantul di tengah keramaian mal.
“Permisi?” Aku mundur, dingin, lalu menarik Lila ke belakangku. “Tolong jaga sikap, Pak. Kita saling kenal memang?”